CEO Stops The Time

CEO Stops The Time
BAB 62. Lamaran


__ADS_3

Arabella yang terus berjalan di bawah lampu dan di atas karpet merah akhirnya harus berjalan melewati Heru dan kedua orang tuanya.


Arabella yang melihat Heru yang terus memandangnya merasa sangat tidak nyaman dan bahkan kenangan dimana saat Arabella mendapati mayat kedua orang tuanya yang telah tiada.


"Ayah, Ibu, tunggu saja. Aku akan membuat mereka membayar atas perbuatannya pada kalian!" ucap Arabella dalam hati sambil mengepal tangannya dengab sangat keras dengan sorot mata yang tajam menuju ke atas panggung dan mengabaikan tatapan mata yang penuh kerinduan dari Heru.


Sementara itu, Bu Selena yang melihat Arabella berjalan ke arahnya langsung membuang wajah seolah sedang mengibarkan perang dan Arabella yang melihat sikap Bu Selena secara sepintas tidak mempermasalahkannya sama sekali karena dari awal Arabella sudah menganggap Heru dan kedua orang tuanya adalah musuh utamanya yang harus dihancurkan.


"Hmm! Gadia kampung!" sindir Bu Selena dengan tatapan mata yang merendahkan sambil memalingkan wajah dengan dua tangan yang bersilang di dada.


Arabella yang tidak ingin memperdulikan orang-orang yang toxic menurutnya tetap berjalan lurus sambil mengabaikan tatapan wanita-wanita muda yang juga hadir disana menuju ke arah Dimas.


Semua wanita muda yang mengidolakan Dimas dan berharap bisa menjadi Nyonya Arthama Jaya merasa jika wanita yang datang beegaun biru putih itu adalah saingan terberat mereka sehingga tanpa sadar tatapan permusuhan dan tidak suka langsung diberikan kepada Arabella yang ternyata telah sampai di depan Dimas.


"Siapa wanita ini?"


"Aku tidak tau! Aku merasa sangat tidak menyukainya!"


"Aku juga sama! Aku merasa dia harus disingkirkan!"


Dimas yang melihat Arabella telah berdiri di depannya langsung mengulurkan tangan dan membantu Arabella untuk dapat berdiri di sampingnya.


Dimas yang melihat Arabella telah berdiri di sampingnya pun tidak mau melepaskan genggaman tangannya meski hanya sebentar saja.


"Kau akan selamanya menjadi milikku!" ucap Dimas dalam hati dengan senyum lembut di wajahnya.


Edo yang mengerti perannya disana langsung mengambil mic yang ada di tangan Dimas dan menyerahkan seikat bunga mawar berwarna kuning kepada Dimas.


"Tap! Tap!"


"Srak!"


"Syut!"

__ADS_1


Dimas akhirnya melepaskan tangan Arabella dan membiarkannya berdiri menghapnya lalu Dimas dengan sigap langsung bergerak mengambil bunga itu dan mengeluarkan sebuah kotak beludru kecil berwarna merah dari dalam saku celananya.


"Syut!"


Dimas pun segera berlutut dengan satu kaki sambil melihat ke arah Arabella sambil memegang seikat bunga mawar kuning di tangan kirinya dan setu buah kotak beludru berwarna merah yang isinya adalah sebuah cincin berwarna putih yang bertahtakan berlian yang sangat langka yang hanya ada tiga di seluruh dunia di tangan satunya.


"Tak!"


Arabella yang tidak menyangka jika Dimas akan melamarnya di depan semua orang menjadi sangat kaget hingga matanya terbuka lebar dengan dua tangan yang diletakkan di bibirnya untuk menutupi mulutnya yang juga terbuka karena tidak bisa menahan keterkejutannya.


"Bu-bukankah ini hanya akan jadi Acara Pengumuman Pertunangan tapi kenapa malah jadi Dimas yang melamarku?" ucap Arabella dalam hati dengan ekspresi wajah yang terkejut dengan wajah yang memerah karena malu.


Arabella yang terdiam dengan sikap Dimas yang tiba-tiba merasa ada yang salah dengan jantungnya yang terus berdetak dengan sangat kencang bahkan perasaan bahagia yang tidak bisa diungkapkannya.


"Dag! Dig! Dug!"


"A-ada apa denganku? Kenapa wajahku panas sekali dan perasaan apa ini?" tanya Arabella dalam hati yang masih tidak tau tentang perasaannya yang sesungguhnya kepada Dimas.


Dimas yang melihat wajah Arabella yang memerah dan sikapnya yang tidak biasa pun memutuskan untuk mengatakan semua yang ada di dalam hatinya selama ini.


"Tapi percayalah perasaanku padamu itu tulus apa adanya. Aku selalu merasa jika kau adalah takdirku. Aku mencintaimu!" ucap Dimas dengan wajah memerah saat mengatakan tentang perasaannya yang telah lama dipendamnya.


"Maukah kau menjadi istriku, satu untuk selamanya, baik di masa lalu, sekarang dan juga nanti?" tanya Dimas sambil melihat ke arah mata Arabella yang hanya berdiri diam mematung di depannya.


"Jika kau menerimanya maka ambillah cincin ini tapi jika kau tidak mau. Maka ambillah bunga mawar kuning ini. Bunga mawar kuning adalah lambang persahabatan jadi meskipun kau tidak bisa menjadi milikku tapi aku akan selalu berada di sisimu walau hanya sebatas sahabat!" ucap Dimas dengan senyum yang pasrah seolah sudah siap menerima semua jawaban Arabella.


Arabella yang mengerti maksud Dimas setelah apa yang terjad beberapa hari kemarin. Arabella yang sangat mengerti jika saat ini Dimas tidak ingin memaksanya untuk menjalani hubungan yang penuh keterpaksaan dan Dimas hanya ingin Arabella memilih bersamanya tulus dari hatinya.


"A-aku ..." ucap Arabella yang terputus sambil terdiam dengan tangan yang berada di tengah antara bunga mawar kuning dan juga cincin.


Sementara itu, Heru yang mendengar semua yang dikatakan Dimas menjadi sangat marah hingga membuat Heru menggenggam cangkir yang ada di tangannya dengan sangat erat hingga melukai tangannya sendiri.


"Kau tidak boleh menerimanya Arabella! Kau hanya boleh menjadi milikku! Menjadi milik Heru Arthama Jaya dan bukan Dimas!" ucap Heru dalam hati yang terbakar dengan api cemburu sehingga membuat ekspresi wajahnya menjadi gelap.

__ADS_1


"Jika aku tidak bisa memilikimu maka tak seorang pun bisa memilikimu juga, termasuk Dimas. Aku akan mendapatkanmu meski harus dengan melakukan cara kotor!" ucap Heru lagi dalam hati dengan sorot mata yang tajam yang terus memandang ke arah Dimas dan juga Arabella.


Arabella yang masih berdiri tidak merasakan keteguhan hatinya menjadi goyah bahkan semakin yakin untuk terus maju hidup bersama dengan Dimas.


"Aku tidak tau apa yang terjadi tapi hatiku berkata jika aku akan sangat menyesal jika mengambil bunga mawar kuning!" ucap Arabella dalam hati dengan sorot mata yang tajam dan ekspresi wajah yang serius.


Arabella perlahan mengambil sekotak cincin yang ada di tangan kanan Dimas dengan senyum cerah dan lembut sambil berkata, "Aku mau menjadi istrimu di kehidupan lalu, sekarang dan nanti."


Dimas yang mendengar perkataan Arabella langsung berdiri dan melempar bunga mawar kuning ke belakang yang langsung di tangkap dengan cepat oleh Edo yang ternyata telah bersiap dengan semua kemungkinan yang ada.


"Sruk!"


"Tak!"


Dimas pun meraih tangan Arabella dan memasangkan cincin dengan berlian di atasnya di jari manis Arabella yang ada di sebelah kanan dengan senyum cerah yang membuat wajah Dimas yang sudah tampan menjad semakin tampan.


Dimas yang sangat bahagia mengetahui jika Arabela telah memutuskan untuk terus bersamanya dengan sepenuh hatinya tanpa ada paksaan langsung memeluk Arabella di depan semua orang yang membuat Arabella menjadi sangat terkejut.


Sikap dingin yang selalu ditunjukkan Dimas selama ini kepada semua orang menjadi hancur seketika. Semua orang akhirnya mengetahui jika Dimas Arthama Jaya tidaklah memiliki hati sedingin es karena meski bersama Clara, Dimas tidak pernah menunjukkan sisi lainnya dan hal itu sangat berbeda dengan saat ini.


Semua orang melihat Dimas sebagai Pria yang penuh dengan kehangatan dan cinta terutama kepada wanita yang sangat dicintainya hingga membuat semua wanita muda yang datang berteriak histeris.


"Aagghh!"


"Aarrgghhh! Tuan Muda Dimas!"


Dimas yang mendengar semua orang berteriak dan melihatnya tidak ingin memikirkan apapun dan hanya fokus dengan kebahagiaannya saat ini.


Meskipun begitu ternyata masi ada orang yang tidak menyukai kebahagiaan Dimas dan Arabella sehingga terus memberikan tatapan tajam setajam pisau belati.


#Bersambung#


Jangan Lupa Like, Komen dan Vote ya..

__ADS_1


😊😍😘


Terima kasih


__ADS_2