
Ria yang berharap dapat mengulur waktu sedikit lemah untuk membuat Arabella dapat kabur ternyata tidak disangka jika dirinya sangat lemah sehingga dalam waktu lima menit Ria sudah terbaring di lantai dengan wajah dan tubuh yang memar karena dipukul serta ranting yang dipegang itu telah patah menjadi tiga bagian.-
"Maafkan aku, Nona. Aku harap Nona dapat selamat!" ucap Ria dalam hati dengan senyum getir di wajahnya.
Namun tak tidak disangka, Ria sayup-sayup mendengar suara anjing berlari ke arahnya yang kemudian perlahan semakin lama semakin terdengar dengan jelas.
Ria yang tidak menyangka Arabella ternyata kembali bahkan tidak terduga datang dengan membawa dua ekor anjing yang mengejarnya dibelakang dengan sangat cepat sehingga membuat Ria semakin khawatir dan takut.
"Nona!" teriak Ria yang cemas melihat Arabella dikejar dua ekor anjing bersamaan sambil berusahan berdiri.
"Ria!" teriak Arabella melihat Pelayan Pribadinya yang terluka karena mencoba menolongnya dengan suara lemah.
"Aku yang sudah berusaha lari sekuat tenaga tapi malah dihalang oleh dua ekor anjing. Aku bahkan tidak bisa menghubungi Dimas karena sinyal yang buruk. Aku harap pesanku dapat masuk dan titik GPS keberadaanku dapat diterima Dimas." ucap Arabella dalam hati sambil berlari ke arah Ria yang mencoba berdiri dengan tubuh yang dipenuhi luka dengan ekspresi sedih dan kecewa di saat bersamaan.
Ria yang sangat lemah tidak bisa mengatakan apapun lagi dan hanya bisa bersandar di pelukan Arabella.
"Srak!"
Arabella yang marah karena dirinya yang lemah tidak bisa melakukan apapun dengan keadaan yang sedang menjadi sangat buruk.
"Aku tidak bisa melakukan apapun karena aku tidak punya basis pelatihan bela diri tapi mereka..." ucap Arabella dalam hati sambil melihat ke arah sebuah pohon besar dan tinggi tidak jauh darinya dengan tatapan marah dan kebencian yang mendalam.
Arabella yang tau ada dua orang yang telah dibayar dan ditugaskan untuk menjaganya hanya duduk diam menonton pertunjukan hingga membuat Pelayan Pribadi yang sangat royal padanya membuat Arabella menjadi murka.
"Apa kalian hanya akan tetap menonton? Lalu melihat aku dan pelayanku mati baru kalian mau bergerak!" teriak Arabella yang marah dengan sangat keras hingga suaranya bergema di antara semak-semak yang ada disekitar lalu mengambil sebatang ranting tajam dan meletakkannya dilehernya.
Seketik itu juga kedua Bodyguard yang hanya menonton keluar berdiri di antara Arabella dan Ria dan juga dua preman dan dua ekor anjing.
"Srak!"
"Nona muda jangan salah paham. Kami tidak memiliki niat seperti itu!" ucap salah satu Bodyguard dengan senyum lembut dan tatapan penuh perhatian yang langsung dibalas dengan air ludah oleh Ria yang sudah muak.
"Cuih!"
"Pelayan rendahan!" geram salah seorang Bodyguard yang marah dengan tatapan mata yang tajam seolah siap membunuh orang.
__ADS_1
Arabella yang melihat Ria ingin membalas perkataan dua bodyguard itu langsung menahannya dan diam-diam menyerahkan handphone miliknya kepada Ria yang berisikan rekaman suara percakapan mereka.
Ria yang mengerti maksud Arabella pun diam mengikuti permainan Arabella dan langsung menyimpan handphone itu ke dalam tubuhnya secara diam-diam sambil bersembunyi dibelakang Arabella.
"Sruk!"
"Srak!"
"Aku tidak tau apakah kedua Bodyguard ini dapat di andalkan atau tidak tapi kau harus menyimpan baik-baik handphoneku dan menyerahkannya pada Dimas jika hal buruk terjadi!" bisik Arabella dengan suara rendah yang akhirnya hanya bisa di dengar keduanya.
Hingga akhirnya perkelahian antara Preman dan Bodyguard pun terjadi. Arabella dan Ria yang berencana kabur saat kesempatan itu terjadi ternyata dihadang oleh dua ekor anjing yang berjaga di depan dan belakang mereka.
"Guk! Guk! Guk!"
"Nona, sepertinya kita harus menunggu sampai dua bodygurd yang tidak berguna itu selesai dan bala bantuan datang." ucap Ria dengan nada serius sambil melihat ke arah anjing yang menjaga mereka dan perkelahian yang ada di depan mata.
"Kau benar. Kita harus bisa bertahan." ucap Arabella dengan senyum optimis sambil menguatkan satu sama lain.
"Meskipun tidak ada yang membantu, Nona harus selamat meskipun harus berkorban!" ucap Ria dalam hati sambil melihat ke arah Arabella yang masih berdiri memapahnya di samping.
Sementara itu, pertarungan yang terjadi masih berlangsung tapi tidak berjalan seimbang yang menyebabkan kedua Bodyguard yang bertugas melindungi Arabella terjatuh dan pingsan tak sadarkan diri karena dua orang teman Preman datang membantu sehigga menjadi 4 vs 2.
"Bugh!"
"Brak!"
"Agh!"
"Sial! Kenapa semua menjadi seperti ini?" gumam salah seorang Bodyguard yang sedang bertarung sambil mengelap darah yang keluar dari mulutnya.
"Bang!"
Keempat preman yang mendapatkan kemenangan besar memilih meninggalkan dua bodyguard yang berlagak kuat tapi ternyata lemah lalu Preman-preman itu pun berjalan perlahan dengan senyum bahagia menuju ke arah Arabella dan Ria.
"Tap! Tap! Tap!"
__ADS_1
Ria dan Arabella yang melihat dua orang Bodyguard yang kalah menjadi panik dengan keringat yang mengalir ke dahi dan pipi keduanya.
"Deg! Deg! Deg!" suara detak jantung yang berdebar dengan sangat kencang.
Ria yang menyadari jika situasi telah berubah menjadi semakin buruk mendorong Arabella menjauh saat keempat preman itu berlari mendekat ingin menangkap keduanya.
"Maafkan saya, Nona!" ucap Ria dengan suara rendah sambil mendorong Arabella ke arah berlawanan dengan keras.
"Agghhh!" teriak Arabell yang jatuh.
Ria yang membuat dirinya menjadi korban langsung ditangkap oleh Preman dan menjadi sandera untuk menangkap Arabella.
"Tidak akan ada yang akan menolong lagi! Jadi sebaiknya kau menyerah Nona jika tidak ingin pelayan cantikmu ini terbunuh!" ancam salah seorang preman yang berhasil menangkap Ria.
"Jangan lakukan apapun padanya. Aku akan ikut kalian!" ucap Arabella yang berjalan maju menyerahkan dirinya ke arah Preman.
Preman itu pun langsung bergerak menangkap Arabella dan menepati janjinya melepaskan Ria lalu memukul tengkuk lehernya hingga membuat Ria perlahan kehilangan kesadarannya.
"Ria!" teriak Arabella memanggil Ria yang terjatuh ke tanah dengan sangat keras dengan ekspresi cemas dan takut.
"Simpan handphoneku dan berikan pada Dimas!" ucap Arabella dengan gerakan bibir saat keempat Preman tidak melihat hingga akhirnya Ria kehilangan kesadarannya dan terbaring di tanah sendiri.
Arabella pun dibawah oleh preman-preman dengan tangan terikat, mulut yang ditutup dengan lakban hitan serta mata yang tertutup kain gelap hingga Arabella hanya bisa mendengar suara disekitarnya dan terus berjalan dengan cara dituntun tanpa tau dibawa dirinya akan dibawa pergi kemana.
Arabella yang tidak tau apa yang telah terjadi hingga akhirnya dirinya harus mengalami penculikan sebanyak dua kali. Arabella pun menjadi takut kembali saat sekilas kenangan tentang penculikan terdahulunya terlintas hingga banyak sekali pertanyaan yang terus berputar dikepala Arabella tanpa mendapatkan jawaban pasti.
"Siapa mereka sebenarnya? Kenapa mereka mengincarku? Apa mereka adalah orang yang dikirim oleh musuhku atau musuh Dimas? Kemana mereka akan membawaku pergi? Semoga saja Ria dapat selamat dan cepat mendapat bantuan." ucap Arabella dalam hati berulang kali bertanya dan mencari jawaban pada dirinya sendiri dengan keringat yang terus mengalir ke seluruh tubuhnya dengan detak jantung yang berdetak sangat cepat karena perasaan takut dan khawatir yang semakin besar seiring waktu terus berjalan.
"Dimas, tolong aku!" ucap Arabella dalam hati dengan hati yang tak menentu dengan perasaan sedih.
#Bersambung#
Jangan Lupa Like, Komen dan Vote ya..
😊😍😘
__ADS_1
Terima kasih