CEO Stops The Time

CEO Stops The Time
BAB 143. Kehamilan Clara


__ADS_3

Clara yang ditinggal meninggal Ayah dan Ibunya berharap jika semua yang terjadi padanya adalah sebuah mimpi buruk yang tidak benar-benar tenjadi tapi rasa sakit saat dirinya memukul dirinya sendiri membuat Clara sadar jika semuanya adalah nyata.


“Ayah! Ibu! Kenapa kalian tinggalkan Clara sendiri? Ibu kemana kau pergi? Bawa Clara bersamamu!” gumam Clara dengan ekspresi wajah yang sedih dengan air mata yang terus mengalir ke pipinya dengan sangat deras.


Clara yang membaca surat yang ditinggalkan Ibunya sebelum kepergiannya membuat Clara menjadi hancur dan seakan dunia benar-benar tidak berpihak padanya Clara juga mendapatkan kabar kematian Ayahnya.


“Ibu! Ayah yang sudah menghianatimu tapi kenapa kau juga meninggalkanku? Apa salahku?” ucap Clara dengan air mata yang terus mengalir dengan nada suara yang terdengar sangat pilu sambil membelai foto Ibunya di dalam bingkai foto keluarga.


“Jangan tinggalkan Clara sendiri! Clara tidak mau sendiri!” ucap Clara lagi yang kemudian memeluk foto kedua orangtuanya di dadanya sambil terus menangis hingga merasa sangat lelah dan akhirnya tertidur.


Keesokan paginya, Clara yang terus berada di dalam kamarnya dan menolak bertemu siapapun akhirnya harus membuka pintu kamarnya saat mendengar Asisten Pribadi Ayahnya datang untuk mengantarkan surat pengunduran dirinya.


“Paman! Apa maksud paman dengan surat ini? Apakah Paman juga akan meninggalkan Perusahaan ini?” tanya Clara dengan nada suara yang sedikit tinggi dengan tatapan mata kekecewaan yang terlihat di matanya.


“Maafkan saya, Nona. Saya tidak bisa menjalankan tugas saya lagi dengan sangat baik. Saya tidak punya pilihan lain, Nona. Harap Nona mengerti.” Ucap Asisten Pribadi Ayah Clara dengan sangat sopan dengan kepala tertunduk dengan ekspresi wajah yang terlihat sangat tidak berdaya melawan keadaan.


“Apakah Paman telah mendapatkan pekerjaan lain?” tanya Clara dengan nada suara yang rendah dengan ekspresi wajah yang kecewa.

__ADS_1


“Ya, Nona. Saya sudah mendapatkan pekerjaan baru. Maafkan saya, Nona. Saya adalah Seorang Kepala Keluarga yang juga memiliki Seorang Istri dan Anak yang harus saya beri makan.” Ucap Asisten Pribadi Ayah Clara dengan ekspresi wajah yang sangat sedih.


Clara yang mendengar alasan dari Pria Paruh Baya yang berdiri di depannya itu pun menjadi tertegun dan tidak mengatakan apapun lagi.


“Keluarga? Aku juga pernah memiliki Keluarga yang utuh tapi sekarang.... tidak lagil!” ucap Clara dalam hati sambil berbalik arah menetaskan air mata di pipinya.


“Jika seperti itu maka aku tidak punya hak untuk melarang Paman untuk pergi. Aku harap Paman mendapatkan kenyamanan di tempat yang baru dan semoga Keluarga Paman akan sehat selalu!” ucap Clara dengan niat yang tulus sambil buru-buru menghapus air mata di wajahnya yang kemudian berbalik arah dengan senyum yang lembut.


“Terima kasih banyak, Nona. Saya harap Nona juga dapat sehat selalu. Saya sudah meletakkan beberapa dokumen penting di dalam Ruang Kerja Pribadi Tuan Besar dan Nona bisa melihatnya nanti.” Ucap Asisten Pribadi dengan nada suara yang terdengar sangat peduli dengan tatapan mata simpati akan nasib Clara di masa depan.


Clara yang jatuh pingsan langsung diangkat ke dalam kamarnya dan tanpa pikir panjang membuat Mantan Asisten Pribadi Ayahnya menghubungi dokter.


Clara yang kehilangan kesadarannya secara tiba-tiba akhirnya terbangun setelah mendengar suara orang yang sedang berbicara di sampingnya sambil melihat atap kamarnya dengan tatapan mata yang kosong.


“Aku jatuh pingsan! Baik tubuh maupun kepalaku rasanya sangat sakit!” ucap Clara dalam hati dengan ekspresi wajah yang sangat pucat.


Dokter yang melihat Clara yang telah sadar pun langsung memberikan selamat yang membuat Clara yang seharusnya bahagia dengan kabar tersebut pun menjadi sangat terkejut.

__ADS_1


“Selamat Nona Clara, anda positif hamil. Jaga kandungan anda baik-baik karena di awal kehamilan Ibu yang tidak sehat akan sangat rentan kehilangan bayinya!” ucap Dokter dengan senyum lembut yang bagaikan petir di siang hari bagi Clara.


Clara yang tidak bisa mengatakan apapun hanya terdiam di atas tempat tidurnya dan mengabaikan Dokter dan Mantan Asisten Pribadi Ayahnya yang pamit pulang padanya.


“A-aku hamil! Tidak! Aku tidak mau hamil!” teriak Clara dengan sangat keras dengan ekspresi wajah yang terlihat sangat depresi sambil melemparkan beberapa bantal yang ada di dekatnya.


Clara yang tidak menginginkan anak yang ada di dalam kandungannya pun tanpa sadar terus memukul perutnya berulang kali dengan harapan agar anak yang ada di dalam kandungannya menghilang.


“Menghilanglah! Menghilanglah anak sialan! Aku tidak ingin hamil!” teriak Clara dengan sangat keras yang terus memukul perutnya dengan sekuat tenaga hingga membuat tangannya sakit sendiri.


“Aku tidak mau hamil! Aku ingin karirku kembali! Aku ingin kehidupanku yang dulu kembali!” teriak Clara dengan ekspresi wajah yang sangat sedih dengan air mata yang tidak berhenti keluar sambil berdiri bersandar di sudut tembok yang akhirnya perlahan terduduk dalam posisi memeluk lututnya dengan tatapan mata yang kosong.


“Aku tidak mau hamil!” ucap Clara lagi dengan nada suara yang pelan dan perlahan sambil menatap kamarnya sudah sangat berantakan dengan berbagai barang yang terjatuh ke lantai.


#Bersambung#


Apa yang akan dilakukan Clara selanjutnya ya setelah mengetahui jika dirinya sedang hamil muda? Jawab di kolom komentar ya..

__ADS_1


__ADS_2