
"Apakah ada informasi tentang keberadaan Arabella?" tanya Heru dengan mata yang tajam seperti elang dengan ekspresi wajah yang dingin.
"Maaf, Tuan Muda. Saya tidak mendapatkan informasi apapun sepertinya semua akses informasi tentang Nona Arabella telah diblokir seseorang!" ucap Mike dengan kepala tertunduk tanpa ekspresi.
"Itu pasti Perbuatan Dimas! Sial!" ucap Heru yang marah lalu melempar gelas minuman yang ada di sampingnya ke dinding hingga pecah.
"Brak!"
"Temukan keberadaan Arabella berapapun biayanya. Aku juga ingin kau melakukan sesuatu di Acara Akuisisi Perusahaan A malam ini. Buatlah kekacauan yang besar!" perintah Heru dengan senyum liciknya sambil melihat ke pecahan gelas yang berserakan di lantai.
"Akan saya laksanakan, Tuan Muda." ucap Mike dengan sorot mata yang tajam dan tanpa ekspresi.
"Jangan lupa bayar beberapa orang bilaperlu sekelompok orang untuk membuat kerusuhan di tempat Acara! Aku ingin lihat bagaimana cara Dimas menyelesaikan masalah ini." ucap Heru dengan ekspresi wajah yang gelap dan senyum yang licil sambil meminum dari gelas yang lain.
"Saya akan mengurusnya seperti yang Tuan muda inginkan." ucap Mike dengan patuh tanpa ada bantahan sama sekali.
Setelah mengatakan apa yang ingin dikatakannya, Heru pun bersiap pergi ke kantor Arthama Jaya Group dan menyelesaikan pekerjaannya sebagai salah satu pemegang Saham disana.
Di lain tempat, Dimas yang sedang mengganti pakaiannya untuk Acara Akuisisi Perusahaan dan Pengumuman Pertunangannya memakai Jas yang memiliki warna yang senada dengan Arabella di dampingi oleh Pak Antoni.
"Anda terlihat sangat tampan, Tuan Muda. Tuan Besar dan Nyonya pasti sangat bahagia melihat Tuan Muda bisa menemukan pujaan hatinya." ucap Pak Antoni dengan mata yang berkaca-kaca.
"Tentu saja. Mereka pasti sangat bahagia disana" ucap Dimas dengan senyum di wajahnya sambil memakai Jas dibantu oleh Pak Antoni.
"Jika Tuan Besar dan Nyonya masih hidup, beliau pasti akan sangat menyukai Nona Arabella. Jika bukan karena kecelakaan yang mendadak itu mungkin saat ini Tuan Besar dan Nyonya masih bersama kita." ucap Antoni lagi yang langsung mengusap matanya yang berlinang air mata dengan senyum tulus di wajahnya.
"Mereka sudah tenang disana, kita hanya bisa mengirimkan doa." ucap Dimas menenangkan Pak Antoni yang sudah mulai bersedih.
"Benar kecelakaan! Kecelakaan yang terjadi saat aku masih kecil..." ucap Dimas dalam hati dengan wajah tanpa ekspresi.
__ADS_1
"Tuan Muda! Tuan Muda! Tuan Muda!" panggil Pak Antoni berkali-kali saat melihat Dimas melamun dengan fikiran yang kosong.
"Klik!"
"Ah, iya!" jawab Dimas yang tersadar kembali dari lamunannya.
"Apakah Tuan Muda sakit?" tanya Pak Antoni yang tiba-tiba memasang wajah cemas dan khawatir akan kondisi Dimas.
"Aku baik-baik saja. Sepertinya aku hanya sedikit kelelahan." ucap Dimas yang berusaha membuat Pak Antoni tenang dan tidak khawatir lagi padanya.
"Ayo, kita keluar dan temui Arabella!" ajak Dimas kepada Pak Antoni hingga akhirnya keduanya pun berjalan ke arah pintu menuju kamar Arabella.
Kamar Arabella yang tidak terlalu jauh dari kamar Dimas hanya membutuhkan waktu paling lama 5 menit dalam perjalanan santai sehingga membuat Dimas dan Pak Antoni tanpa sadar telah ada di dalam kamar Arabella.
Arabella yang sedang memakai Makeup terlihat sangat menikmati hal itu hingga membuat Dimas puas. Arabella yang menyadari jika ada orang yang datang langsung berbalik dan melihatya.
"Dimas! Apakah itu kau?" tanya Arabella yang langsung berbalik arah melihat Dimas berada.
"Srak!"
"Sruk!"
"Apa yang ingin kau katakan? Aku belum selesai makeup dan menata rambutku." ucap Arabella yang merasa terganggu dengan sikap Dimas sambil memasang wajah kesal.
"Aku ingin kita pergi terpisah. Aku akan datang lebih awal dan kau akan datang bersama Pak Antoni. Lalu saat aku akan mengumumkan Pertunangan maka saat itu lah kau datang." ucap Dimas dengan ekspresi wajah yang serius dan sorot mata yang tajam dengan dua tangan berada di dalam saku celananya.
"Aku tidak ingin Heru ataupun Paman serta Bibiku tau tentang keberadaanmu dulu karena jika mereka tau maka rencana ini pasti akan batal dan mungkin kau akan dalam bahaya!" ancam Dimas dengan ekspresi wajah cemas dan khawatir dengan nada serius.
"Aku mengerti. Aku akan menuruti kata-katamu!" ucap Arabella dengan senyum lembut dan dengan sorot mata yang sayu.
__ADS_1
"Bagus! Aku merasa tenang setelah mendengarnya." ucap Dimas yang awalnya sangat khawatir dengan kondisi Arabella.
Arabella yang juga ingin mengatakan sesuatu langsung menghentikan Dimas yang ingin keluar dari kamarnya.
"Hm! Dimas. Aku juga ingin mengatakan sesuatu." ucap Arabella tiba-tiba dengan malu-malu sambil melihat ke bawah.
"Katakanlah. Aku mendengarkannya." ucap Dimas yang langsunh duduk di sofa yang tersedia di dalam Kamar Arabella dengan dua tangan berada di saku sambil melihat ke arah Arabella.
"Hmm, aku ingin kembali ke Rumah Orang Tuaku. Aku tidak bisa tinggal disini lebih lama paling tidak sampai kita benar-benar menikah." ucap Arabella dengan wajah memerah dengan sikap yang canggung.
"Meskipun kita tinggal di kamar yang berbeda dan semua pelayan mengetahuinya tapi orang luar tidak mengetahui itu. Aku tidak ingin dikatakan sebagai wanita yang tidak benar karena sudah tinggal di rumah Pria sebelum menikah." ucap Arabella dengan wajah memerah dan dengan malu-malu sambil berbalik tubuh dan menutup wajahnya dengan tangan karena malu.
"Aku mengerti. Kau akan pindah setelah acara pertunangan ini selesai tapi kau akan pindah bersama dua Pelayan Pribadimu serta beberapa penjaga. Aku tidak ingin kejadian buruk saat kau diculik terulang kembali." ucap Dimas dengan nada rendah dan tatapan wajah yang sedih serta mata yang senduh.
"Baiklah." ucap Arabella yang senang karena dapat kembali ke rumah dimana banyak sekali kenangan indah dirinya dengan kedua orang tuanya sebelum Heru membunuh keduanya.
Setelah selesai bicara, Dimas pun pergi meninggalkan Arabella sendiri dengan Pak Antoni yang berjaga di depan pintu menunggu Arabella selesai bersiap-siap sementara Dimas pergi mengendarai mobilnya sendiri.
Dalam waktu setengah jam, Dimas pun sampai di Hotel Arthama Group. Pelayan yang bertugas menyambut tamu langsung berlari menyambut kedatangan Dimas dan langsung mengambil kunci mobil lalu memarkirkan mobil Dimas di tempatnya.
Dimas yang datang langsung disambut oleh Edo yang telah menunggunya sedari tadi. Edo yang menjadi Master untuk kesuksesan acara ini melaksanakan tugasnya dengan sangat baik dan terorgansir.
Dimas dan Edo pun berjalan masuk ke Loby dan naik menggunakan Lift pribadi menuju Ruang Acara yang diadakan di lantai 99 dimana itu adalah Ruangan yang sangat besar dan megah dengan aksesoris yang mahal serta berkelas.
"Tap! Tap! Tap!"
"Apakah semua berjalan dengan lancar?" tanya Dimas yang terus berjalan menuju ruang Acara dengan wajah tanpa ekspresi dan sorot mata yang tajam dengan dua tangan berada di dalam saku celananya.
Dimas yang datang langsung menjadi pusat perhatian semua orang karena semua mata langsung tertuju pada Dimas.
__ADS_1
Semua relasi kerja Dimas yang datang bersama anak perempuan mereka tidak mau ketinggalan mendekati Dimas dan mencoba memperkenalkan putri-putri mereka kepada Dimas sambil mencoba peruntungan menjadi calon mertua dari Penerus Arthama Jaya Group yang memiliki kekayaan yang sangat banyak.
#Bersambung#