
Namun saat Edo akan segera keluar, Dimas yang belum mendengar apa yang terjadi pada Keluarga dari pereman yang memiliki niat menodai wanitanyapun memanggil Edo kembali dan menanyakan hasil kerjanya.
“Tunggu!” panggil Dimas yang langsung menghentikan langkah kaki Edo dan bergegas bebalik arah lalu berjalan maju menuju ke arah Dimas.
“Apa Tuan Muda memiliki tugas lain?” tanya Edo dengan ekspresi wajah yang bingung dengan ekspresi wajah seperti orang bodoh.
“Aku tidak memiliki tugas lain untuk tapi bagaiamana hukuman dari keempat penculik yang berani menyentuh wanitaku?” tanya Dimas sambil berbalik arah menatap ke luar jendela dengan dua tangan terkepal erat dengan sorot mata memerah karena menahan amarah.
“Jika saat itu aku tidak datang tepat waktu atau aku datang terlambat mungkin saat ini mereka pasti telah bersenang-senang dengan tubuh Arabella. Aku tidak akan mengampuni mereka dengan mudah.” Ucap Dimas dengan penyesalan yang terlihat di wajahnya dengan sorot mata yang tajam.
“Tuan Muda tidak perlu khawatir, keempatnya besok akan segera di kebiri dan untuk keluarga mereka berempat semua wanitanya sudah menjadi seperti orang gila karena di gilir oleh beberapa orang yang tidak dikenal dan untuk pria dari keluarga mereka mengalami luka serius yang sulit disembuhkan serta pereman yang memiliki rumah saat ini telah kehilangan asetnya karena dilahap si jago merah. Tuan Muda tidak perlu khawatir karena masalah ini telah terjadi dengan perhitungan yang matang dan tak akan ada informasi yang bocor.” Ucap Edo dengan ekspresi wajah yang datar dan tanpa belas kasihan sambil tersenyum sini.
“Bagus. Aku puas dengan hasil kerjamu. Kau boleh pergi sekarang.” Ucap Dimas dengan senyum puas sambil melirik ke arah Edo yang beranjak pergi.
“Hah, aku tidak ingin menjadi musuh Tuan Muda. Aku tidak ingin hidup bagaikan di neraka.” Ucap Edo dalam hati sambil memeluk dirinya sendiri dengan tubuh mengigil.
Setelah kepergian Edo, Ruang Kerja Dimas berubah menjadi sangat suram dan aura dingin menyelimuti setiap sudut ruang serta memberikan kesan horor.
Dimas yang menyimpan amarah yang sangat mendalam karena mengetahui bahwa Clara sebagai orang yang menjadi dalang dari penculikan Arabella merasakan ketidakmampuannya dalam menjaga Arabella dan Dimas pun berjanji pada dirinya sendiri akan memberi Clara pelajaran yang tidak akan dapat dilupakannya.
“Sepertinya semua peringatanku selama ini hanya dianggap sebagai angin lalu dan sepertinya aku juga terlalu lembut padanya. Aku akan memberikanmu hadiah yang tidak akan kau lupakan Clara dan nantikanlah saat itu tiba.” Ucap Dimas dengan senyum menyeramkan dengan dua tangan diletakkan di dalam saku celananya sambil berdiri melihat ke arah luar jendela.
Dimas yang sendiri pun memanggil Pak antoni datang menemuinya dan tak lama kemudian Pak Antoni datang dengan mengetuk pintu dengan sopan.
__ADS_1
“Tok! Tok! Tok!” suara ketukan pintu.
“Masuklah!” perintah Dimas dengan nada datar dan tanpa ekspresi sambil berbalik tubuh membelakangi Pak Antoni yang telah ada di dalam ruangan.
“Tuan Muda, apa anda memanggil saya?” tanya Pak Antoni dengan ekspresi wajah yang bingung dengan sikap patuh seperti biasa.
“Ya, tentu saja. Aku ingin memberimu satu tugas penting.” Ucap Dimas dengan ekspresi wajah yang serius sambil berbalik melihat ke arah Pak Antoni sambil berjalan mendekat.
“Tuan Muda bisa memberikan saya perintah apapun.” Ucap Pak Antoni dengan ekspresi datar sambil menundukkan kepalanya sedikit lalu bediri tegap kembali.
“Kirim orang untuk menjebak Clara di Acara Penghargaan Internasional dan buat dia kehilangan kendali akan dirinya seperti yang dilakukannya pada Arabella. Aku ingin dia merasakan bagaimana jika dirinya mengalami apa yang ingin dia lakukan pada Arabella. Jangan lupa biarkan semua orang dan media mengetahui perbuatannya. Aku ingin dia hancur sehancurnya.” Ucap Dimas dengan ekspresi wajah yang marah dan sorot mata yang tajam seperti elang dengan tangan terkepal sangat erat.
“Segera saya laksanakan Tuan Muda.” Ucap Pak Antoni dengan ekspresi wajah yang datar sambil berbalik keluar Ruangan meninggalkan Dimas sendiri.
“Hapus bukti jika Clara terlibat dalam masalah ini di kepolisian dan jangan sampai berita penculikan dan rencana pemerkosaan Arabella tesebar karena reputasi Arabella baru membaik dan aku tidak ingin Arabella dihina lagi.” Ucap Dimas dengan ekspresi wajah yang datar.
“Baiklah Tuan Muda tapi Tuan Muda mengapa Nona Clara dibebaskan dari hukuman penjara?” tanya Pak Antoni yang bingung dengan pupil mata yang membesar seolah menunjukkan rasa penasarannya yang tinggi.
“Karena hukuman penjara jauh terlalu baik untuknya. Diam harus merasakan hidup menderita dan berjuang untuk nyawa kecilnya yang tidak seberapa itu.” Sindir Dimas dengan senyum mengejek dengan ekspresi wajah yang puas.
“Jika itu yang Tuan Muda ingin maka akan segera saya laksanakan.” Ucap Pak Antoni yang mengerti tujuan utama Dimas yang ingin Arabella kehilangan pekerjaannya sebagai Model lalu dibenci masyarakat karena perbuatannya yang tidak pantas dan masih harus berjuang mencari sesuap nasi untuk kelangsungan hidupnya dan bagi Clara yang selalu hidup enak dan serba ada itu adalah neraka yang sesungguhnya.
Pak Antoni yang sudah mengetahui tugasnya pun pergi keluar dari Ruang Kerja Dimas dan meninggalkan Dimas yang masih berdiri sendiri di depan jendela dengan pandangan yang kosong.
__ADS_1
Sementara itu, Arabella yang telah berada di kamar Ria melihat kondisinya yang di balut perban karena tulangnya yang patah membuat Arabella menjadi sangat sedih.
“Maaf! Maafkan aku!” ucap Arabella dengan ekspresi wajah yang sedih dan mata yang memerah dan bersiap untuk menangis tapi langsung ditahan oleh Ria.
“Ti-tidak. Tidak ada yang perlu dimaafkan Nona. Saya sangat senang Nona baik-baik saja.” Ucap Ria dengan senyum lembut di wajahnya sambil menggenggam tangan Arabella dengan sangat erat.
“Saya sangat mencemaskan Nona dan syukurlah Nona dapat kembali kemari dengan selamat. Saya merindukan Nona.” Ucap Ria dengan tulus dan nada yang rendah serta air mata yang menetes karena perasaan haru yang menggebu-gebu.
“Aku juga sangat bersyukur kau dapat segera ditemukan dan langsung mendapatkan perawatan. Kau harus berjanji akan memakan obatmu tepat waktu agar bisa tetap melayaniku.” Ucap Arabella dengan senyum lembut sambil memeluk Ria dengan longgar karena takut membuat Ria kesakitan.
“Tentu saja Nona. Nona tidak perlu khawatir. Saya pasti akan segera sembuh.” Ucap Ria dengan senyum bahagia sambil melihat Arabella dan akhirnya keduanya pun tertawa bersama.
Arabella yang tidak ingin mengganggu waktu istirahat dan penyembuhan Ria pun memilih keluar dan kembali ke kamarnya.
Namun, Arabella yang merasa jika beberapa hari ini bukanlah hari yang tenang. Dalam hati kecilnya, Arabella berharap agar masa dimana roda kebahagiaan akan berputar ke arahnya secepatnya.
“Hidup ini tidak akan terus berputar di waktu yang sama dan pasti akan ada masanya aku akan mendapatkan kebahagiaanku. Semoga waktunya tidak lama lagi.” gumam Arabella dengan ekspresi wajah yang optimis sambil terbaring di atas ranjang dengan tangan terbentang lebar sambil meliha ke arah langit-langit kamarnya.
Bersambung
Jangan Lupa Like, Komen dan Vote ya..
🥰😊😍😘
__ADS_1
Terima kasih