CEO Stops The Time

CEO Stops The Time
BAB 183. Setitik Harapan


__ADS_3

Waktu pun berlalu, Edo yang telah mencoba meminta bantuan Kapolri untuk bisa masuk dan bertemu Dimas tidak menyangka jika hal itu tidak bisa dilakukan karena Kapolri menolak permintaan Edo mentah-mentah.


Edo yang tidak masuk ke dalam Penjara pun menjadi sangat kesal dan pergi menuju Markas Badan Intelligent Khusus.


“Sial! Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa Tuan Muda bisa ditahan di dalam Kantor Polisi?” tanya Edo dengan ekspresi yang bingung dengan wajah yang kesal sambil mengacak rambutnya hingga berantakan.


Ketua Ma yang datang melihat Edo berteriak-teriak tidak jelas pun menjadi takut untuk melapor lalu saat Ketua Ma memutuskan untuk menunda laporannya, Edo ternyata melihatnya duluan.


“Ketua Ma! Apa yang kau lakukan? Bukankah kau ingin bertemu denganku? Kenapa kau kembali lagi?” tanya Edo dengan nada suara yang bingung dan tatapan mata yang penasaran.


Ketua Ma yang tidak menghindar lagi pun maju ke depan dan menarik nafas panjang sebelum menyerahkan laporan yang ada di tangannya


Edo yang melihat amplop yang ada di tangan Ketua Ma pun mengambilnya dengan terburu-buru dan membaca isinya dengan seksama.


“Bagaimana mungkin semua ini terjadi? Ini seperti ...” ucap Edo yang tidak bisa melanjutkan kata-katanya lagi lalu menatap Ketua Ma dengan wajah yang bingung.


“Benar, Bos. Kami pun sudah menyadari jika ini bukanlah kebetulan tapi seperti sebuah penangkapan yang telah direncanakan dengan matang dan Tuan Muda telah masuk ke dalam jebakan itu sejak Tuan Muda memutuskan untuk tetap pergi meskipun tau jika Supirnya mengalami kecelakaan dan Tuan Muda mendapatkan Supir Pengganti!” ucap Ketua Ma dengan mata yang tajam dan nada suara yang tegas dan jelas.


“Apakah kau menemukan bukti kapan Narkoba itu dimasukkan ke dalam mobil?” tanya Edo dengan ekspresi wajah yang penasaran.


“Tidak! Aku tidak menemukan apapun bahkan CCTV yang ada di Kediaman Tuan Muda tidak menunjukkan ada orang yang mencurigakan!” ucap Ketua Ma dengan ekspresi wajah yang bersalah sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


Edo yang mendengar jawaban Ketua Ma pun menjadi sangat kesal dan menggerpak meja yang ada di depannya dengan sangat keras untuk meluapkan emosinya.


“Tunggu! Meskipun aku tidak menemukan hal yang mencurigakan tapi CCTV yang ada di tempat parkir mobil tiba-tiba tidak ada gambar hari ini pukul lima pagi dan kembali berfungsi pada pukul setengah enam pagi!” ucap Ketua Ma dengan ekspresi wajah yang serius.


“Jadi maksudmu CCTV itu sengaja dimatikan pada pukul itu untuk menutupi identitas orang yang telah memasukkan Narkoba ke mobil yang akan dibawa Tuan Muda!” ucap Edo yang mengutarakan spekulasinya kepada Ketua Ma dengan pandangan yang terbuka lebar seolah menemukan secercah cahaya.


“Benar sekali Bos tapi saat saya melihat CCTV di pukul sebelum dan sesudah CCTV yang dimatikan hidup kembali, saya tidak menemukan orang-orang yang mencurigakan ataupun bersikap mencurigakan!” ucap Ketua Ma yang lagi-lagi memasang wajah yang kecewa.

__ADS_1


Edo yang tidak menyangka jika semua hal buruk terjadi pada Dimas tiada hentinya pun merasa jika kepalanya terasa sangat sakit.


“Hah! Kepalaku sakit sekali!” gumam Edo dengan wajah yang kesakitan dan kelelahan sambil memijat kepalanya yang sangat pusing.


“Teruskan penyelidikanmu! Bayar Hacker yang terbaik dan kembalikan kamera CCTV yang rusak itu! Kita harus bergerak cepat untuk bisa mengeluarkan Tuan Muda dari dalam Penjara!” ucap Edo dengan mata yang tajam dengan ekspresi wajah yang dingin dan serius.


Edo yang dapat mengendalikan Stasiun Televisi dan beberapa Media Sosial tidak menyangka jika beberapa akun gosip ternyata luput dari pengawasan Edo sehingga tanpa pikir panjang memposting berita Dimas Artahama Jaya yang tertangkap Polisi karena membawa Narkoba di dalam mobilnya.


Arabella yang sedang bermain handphone pun tiba-tiba melihat berita tentang Dimas pun menjadi sangat terkejut.


“Apa? Berita apa ini? Tidak mungkin! Dimas tidak mungkin melakukan itu! Dimas tidak mungkin membawa ataupun memakai Narkoba! Ini pasti berita bohong!” ucap Arabella dengan ekspresi wajah yang tidak percaya tapi dengan nada suara yang tidak tenang.


Arabella yang mencoba mengabaikan berita itu ternyata tidak bisa tenang sebelum mendapatkan jawaban yang pasti sehingga Arabella pun memutuskan untuk pergi ke Perusahaan Dimas.


“Aku tidak bisa diam saja. Aku harus pergi ke Kantor dan melihat Dimas sedang bekerja dengan mata dan kepalaku sendiri!” ucap Arabella dengan dengan tekad yang kuat.


“Aku tidak boleh ketahuan jika aku tidak mempercayainya. Aku akan datang dengan berpura-pura membawakan makan siang untuknya!” ucap Arabella dengan senyum yang licik.


Setelah persiapan selesai, Arabella pun pergi menuju Perusahaan Arthama Jaya dengan wajah yang sedikit cemas dan khawatir.


“Aku yakin itu adalah berita hoaks dan untuk membuktikannya aku harus melihat Dimas secara langsung. Ayo Bel! Kamu pasti bisa! Semangat!” ucap Arabella yang mencoba menyemangati dirinya sendiri dengan senyum yang kaku.


Arabella yang telah siap pun masuk ke dalam mobil dan bergerak menuju perusahaan dengan bekal yang terus ditangannya.


Arabella yang telah tiba pun berjalan dengan langkah yang sangat cepat menuju ruangan Dimas tanpa menghiraukan pandangan penasaran pegawai yang melihatnya datang.


Arabella yang langsung naik ke lantai tertinggi menuju Ruangan Dimas dengan menggunakan Lift Khusus tidak mendapatkan teguran dari siapapun karena tidak ada seorangpun yang berani melakukan itu mengingat status Arabella yang merupakan Tunangan Dimas dan Calon Istri Dimas.


Arabella yang berdiri di depan pintu Ruangan Dimas bekerja pun menarik nafas yang panjang lalu membuka pintu dan masuk dengan mata tertutup karena tidak siap dengan situasi yang terburuk.

__ADS_1


Arabella yang telah menetapkan hatinya pun membuka matanya secara perlahan dan tidak menemukan jejak keberadaan Dimas ataupun tanda-tanda jika Dimas telah sampai di Kantor.


“Aku harus kuat! Dalam hitungan ketiga, aku akan membuka mata. Satu! Dua! Tiga!” ucap Arabella dalam hati dengan ekspresi wajah yang telah membulatkan tekad.


“Dimas! Aku datang membawakanmu bekal makan siang!” ucap Arabella dengan nada suara yang ceria dan senyum yang lebar.


“Dimas! Dim! Dimas!” panggil Arabella berulang kali dengan pandangan yang tidak berhenti bergerak mengelilingi seluruh ruangan dengan ekspresi wajah yang cemas dan nada nada suara yang khawatir.


Lalu saat pikiran buruk mulai masuk ke dalam pikiran Arabella tiba-tiba Icha, Sekretaris Pribadi Dimas, masuk ke dalam dan menemui Arabella.


“Nona, apakah anda mencari Tuan Muda?” tanya Icha dengan nada suara yang bersahabat dan senyum yang lembut serta ekspresi wajah yang bingung.


Arabella yang akhirnya sadar pun berbalik arah dan menatap Icha lalu menganggukkan kepala sebagai jawaban dari pertanyaannya.


“Tuan Muda tidak datang ke kantor sejak pagi dan saya pun tidak tau Tuan Muda ada dimana. Saya sudah menghubungi Pak Edo tapi nomor Pak Edo tidak bisa dihubungi.” Jelas Icha dengan nada suara yang terdengar jujur dan ekspresi wajah yang bingung.


Arabella yang mendengar jawaban Icha pun merasa kehilangan kekuatan tangannya sehingga membuat bekal makanan yang dibawaknya jatuh ke lantai.


Arabella yang merasa jika seluruh tubuhnya menjadi sangat lemas pun tidak menyangka jika kakinya pun sampai tidak sanggup berdiri hingga membuatnya hampir jatuh ke lantai.


Icha yang melihat Arabella yang terlihat sangat pucat pun menjadi sangat cemas dan menangkap tubuh Arabella lalu membantunya duduk di sofa.


Namun saat Icha sudah hampir sampai di Sofa, Arabella kembali mendapatkan kekuatan tubuhnya. Arabella yang menyadari jika dirinya harus mencari informasi mengenai keberadaan Dimas pun langsung pergi meninggalkan Icha yang terus memanggilnya dari belakang dengan wajah yang khawatir.


Arabella yang tidak memikirkan orang lain pun terus berlari hingga ke tempat parkir lalu meminta Sopir membawanya ke Kediaman Dimas sambil terus mencoba menghubungi nomor telepon Edo.


“Tidak! Tidak boleh ada hal buruk lagi yang terjadi padamu! Kau harus baik-baik saja! Harus, Dim!” gumam Arabella dengan ekspresi wajah yang telah berubah sangat pucat dengan tatapan mata yang khawatir.


#Bersambung#

__ADS_1


Apakah Arabella pada akhirnya akan mengetahui kenyataan bahwa Dimas di Penjara? Apa yang akan dilakukan Arabella untuk membantu Dimas? Siapakah orang yang menjadi dalang dari semua ini? Yang tau jawabannya tebak di kolom komentar ya...


__ADS_2