
Arabella yang awalnya kehilangan kesadarannya setelah mencium aroma wewangian tiba-tiba tersadar dengan kepala yang terasa sangat berat.
“Agh, kepalaku!” gumam Arabella sambil memegang kepalanya yang terasa sangat pusing sambil berbaring di atas tempat tidur dengan mata yang masih tertutup.
Arabella yang tiba-tiba tersadar dengan apa yang telah terjadi padanya mendadak bangun dan melihat ke sekeliling dan menyadari jika dirinya berada di tempat yang sangat asing.
“Dimana aku? Agh! Kepalaku pusing sekali.” Gumam Arabella sambil memegang kepalanya dengan satu tangan sambil berusaha bangun dari tempat tidur.
Arabella yang tau jika dirinya tidak boleh bersantai dan diam di tempat itu pun menguatkan tekatnya untuk dapat bediri dan berjalan keluar dari tempat itu tapi tidak disangka setelah dua langkah berjalan Arabella merasakan ada hal yang berbeda yang terjadi padanya.
“Aku harus bisa pergi dari sini.” Gumam Arabella dengan suara rendah dan tertatih-tatih dengan wajah yang terlihat gelap.
“Tap! Tap!” langkah kaki“Agghh!” teriak Arabella yang langsung terjatuh ke lantai dalam posisi terduduk sambil bersandar di samping tempat tidur dengan ekspresi wajah kepanasan.
“Apa yang terjadi pada tubuhku? Kenapa aku merasa tubuhku sangat panas?” ucap Arabella sambil memegang bajunya dengan sangat kuat seolah menahan diri dari hawa panas dan tidak nyaman yang berasal dari dalam tubuhnya.
Saat Arabella sedang berasa untuk berdiri dan mencoba pergi dari ruangan itu tiba-tiba pintu kamar itu pun terbuka sehingga membuat Arabella membeku di tempat dengan ekspresi wajah terkejut dengan keringat yang mengalir ke pipinya.
“Krak!”
“Wah, sepertinya kucing manisku sudah sadar.” ucap Ketua Pereman dengan nada mengejek sambil melihat ke tubuh Arabella dengan pemikiran yang tidak baik sehingga membuat Arabella menjadi sangat tidak nyaman.
“Tutup matamu! Jangan coba-coba memikirkan hal yang tidak-tidak!” teriak Arabella dengan nada keras dengan refleks menutupi bagian dadanya dengan kedua tangannya dengan ekspresi wajah yang jijik dan merendahkan.
“Kenapa jika aku memikirkan hal yang tidak-tidak? Lagipula malam ini kau akan menemaniku sampai aku puas. Jadi jangan melawan dan nikmati saja.” Ucap Ketua Pereman itu dengan nada rendah dan dengan tatapan mata yang tidak biasa sambil terus berjalan perlahan menuju Arabella.
“Tidak! Jangan mendekat! Aku akan berteriak dan semua orang akan datang!” ancam Arabella dengan ekspresi wajah ketakutan seakan ingin mengeluarkan air mata.
“Kau bisa berteriak sesuka hatimu malam ini bahkan kau boleh berdesah dengan sangat keras karena tidak akan ada seorangpun yang akan mendengarmu. Kau ingin tau kenapa? Itu semua karena kamar ini kedap suara! HAHAHA...” ucap Ketua Pereman dengan gerakan tubuh yang terlihat semakin bersemangat dengan ekspresi bahagia dengan tawa yang sangat lebar yang membuat Ketua Perampok itu semakin ingin mempermainkan Arabella.
“Tidak! Tolong! Tolong! Tolong!” teriak Arabella berulang kali tapi tidak ada jawaban apapun seolah semua yang dikatakan oleh Ketua Pereman seolah apapun yang dikatakannya itu benar adanya yang membuat wajah Arabella semakin gelap karena takut.
Arabella yang merasakan panas tubuhnya semakin lama semakin panas dan tidak terkendali membuat kedua kakinya menjadi lemas dan tidak bisa bergerak.
__ADS_1
“Kakiku mati rasa!” ucap Arabella dalam hati sambil memegang kakinya yang sudah kehilangan rasa dengan ekspresi wajah kesakitan sambil menatap tajam ke arah Ketua Pereman yang sedang berjalan perlahan ke arahnya.
Arabella yang tidak ingin kehilangan kesuciannya di tangan Pereman itu pun memilih terus berusaha sekuat tenaga meskipun harus melukai dirinya sendiri.
“Aku harus bisa bergerak. Aku mohon bergeraklah kaki!” teriak Arabella dalam hati dengan air mata yang perlahan jatuh dari pelupuk matanya dengan ekspresi wajah yang sedih.
Perlahan tapi pasti jarak antara Arabella dan Ketua Perampok itu pun semakin dekat sehingga membuat keyakinan Arabella untuk berjuang semakin kuat sehingga Arabella yang tidak sengaja melihat ada sebuah gunting di atas sebuah meja di dekat jendela .
“Aku harus bisa keluar dari sini!” ucap Arabella dalam hati sambil mengedarkan pandangan matanya ke sekeliling dengan ekspresi wajah yang takut, cemas, dan khawatir yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata.
“Tu-tungu.. Bukankah itu gunting? Aku harus mendapatkannya sebelum Ketua Pereman ini mengambilnya dan menghilangkan kesempatanku untuk bebas.” Ucap Arabella dalam hati dengan sorot mata yang fokus melihat ke arah gunting itu berada.
Arabella yang tidak ingin menyerah pun tanpa fikir panjang segera mengerahkan seluruh kekuatannya ke kaki dan sekuat tenaganya untuk melompat lalu mengambil benda itu
“Satu... Dua... Tiga...” hitung Arabella dalam hati yang langsung mencoba bangun dan menumpukkan kekuatannya ke kakinya dalam posisi membungkuk lalu Arabella pun melompat dengan sangat tinggi hingga akhirnya mendapatkan apa yang menjadi incarannya.
“Agh!” teriak Arabella dengan sangat keras sambil mengambil gunting dan menggenggamnya dengan sangat erat di depannya seolah menganggap gunting itu sebagai senjata perlindungannya
“Jangan coba-coba mendekat jika tidak aku bisa saja menusukmu dengan gunting ini! Ucap Arabella dengan berteriak dengan sangat keras sambil memegang senjata dengan sangat keras lalu mengarahkannya ke Ketua Pereman.
“Gunting kecilmu itu tidak akan membuatku takut. Kau harus pasrah dan menerima nasibmu!” ucap Ketua Pereman itu dengan teriakan yang keras sambil tertawa riang.
Ketua Pereman itu pun berlari dengan sangat kencang ke arah Arabella dan memukul tangan Arabella dengan sangat keras sehingga gunting itu pun terjatuh ke lantai.
“Plak!”
“Tang!”
Arabella yang kehilangan senjatanya mencoba memukul Ketua Pereman itu tapi tidak memiliki dampak apapun bahkan Arabella ditarik paksa dan dilemparnya dengan sangat keras ke atas tempat tidurnya.
“Agh! Tidak!” teriak Arabella yang dilempar ke atas ranjang dengan paksa dengan ekspresi wajah ketakutan dan cemas sambil bergerak mundur menjauh dari Ketua Pereman.
“Berhentilah melawan dan nikmati saja malam ini. Aku akan menjami kau pasti akan merasa sangat puas dan merasa sedang berada di surga.” Ucap Ketua Pereman sambil menggerak-gerakkan tangannya dengan tawa yang sangat keras dan wajah yang sangat senang seolah menikmati ekspresi Arabella yang terus berubah-ubah.
__ADS_1
Ketua Pereman yang tidak tahan lagi ingin menikmati tubuh Arabella pun melompat ke atas tubuh Arabella dan menangkap kedua tangannya.
“Kau tidak akan bisa lari lagi sekarang dan nikmati saja malam ini!” ucap Ketua Pereman dengan sorot mata yang penuh dengan fikiran kotor dan tawa keras yang membuat Arabella merinding ketakutan.
“Tidak!” teriak Arabella yang mencoba menolak takdirnya dengan air mata yang akhirnya mengalir ke pipinya tanpa bisa ditahan lagi.
Arabella yang tidak ingin kehilangan Mahkota yang sangat dijaga olehnya begitu saja terus mencoba meronta dan melarikan diri tapi genggaman tangan Ketua Pereman itu sangatlah keras bahkan Ketua Pereman itu dengan paksa menarik pakaian Arabella hingga setengah bagian leher hingga tangan tersobek.
“Sraaakkk!” suara baju yang tersobek panjang.
Arabella yang tidak rela harus melayani nafus bejat Ketua Pereman pun mengerahkan seluruh kekuatan ke kaki kanannya lalu menendangnya dengan sangat keras hingga genggaman tangan yang mencengkram tangan Arabella terlepas.
“Arrgghhh!” teriak Ketua Pereman dengan sangat keras yang langsung jatuh terbaring ke ranjang seolah sedang merasakan kesakitan yang tidak terkira.
Arabella yang merasa memiliki kesempatan untuk kabur pun segera bangun dan beranjak untuk pergi dari tempat tidur itu tapi Ketua Pereman yang marah tidak ingin melepaskan Arabella begitu saja.
“Ini kesempatanku. Aku harus bisa keluar sekarang atau tidak sama sekali!” ucap Arabella dalam hati dengan sedikit harapan kebebasan Arabella pun bergerak dengan sangat cepat turun dari tempat tidur.
Ketua Pereman yang marah pun melihat ke arah Arabella yang mencoba kabur lalu menarik rambut Arabella dengan sangat keras hingga akhirnya Arabella kehilangan keseimbangan.
“Mau lari kemana kau, b**ch!” teriak Ketua Pereman dengan sangat keras dengan mata merah karena amarah dan menahan sakit dibagian *********** yang baru saja ditendang Arabella dengan sangat keras.
Ketua Pereman itu pun lalu menampar wajah Arabella dengan sangat keras dan menghinanya dengan kata-kata yang sangat kasar.
“Beraninya kau menyakitiku b**ch. Rasakann ini!” teriak Ketua Pereman dengan wajah merah dan marah dengan mata melotot tajam seakan bola matanya akan keluar dari tempatnya.
“Plak!” suara tamparan yang sangat keras.
#Bersambung#
Jangan Lupa Like, Komen dan Vote ya..
😊😍😘
__ADS_1
Terima kasih