CEO Stops The Time

CEO Stops The Time
BAB 155. Interogasi Informan


__ADS_3

Sementara itu, Ketua Ma yang telah telah bersembunyi di sekitar Lapangan Pesawat Terbang telah bergerak dengan cepat menangkap orang mencurigakan yang terekam di CCTV dan membawanya ke Markas Badan Inteligent Khusus.


“Katakan padaku! Siapa orang yang telah mengirimmu?” tanya Ketua Ma dengan ekspresi wajah yang kejam dan sangar dan nada suara yang serak dengan aura yang mengintimidasi.


Meskipun Ketua Ma terus bertanya dan memukul tubuhnya dengan cambuk tapi pria tersebutmtidak mau mengeluarkan sepatah katapun dan memasang wajah yang dingin di hadapan.


Lalu tiba-tiba pintu ruang interogasi tersebut terbuka, Dimas yang telah berpindah dari Kediamannya menuju Markas Badan Inteligent Khusus setelah mengetahui informan Keluarga Heru sudah tertangkap.


Pria tersebut menjadi sangat terkejut saat melihat Dimas yang berdiri di hadapannya dengan wajah yang dingin dan aura yang sangat kuat.


“Ka-kau! Bukankah kau sudah naik Pesawat? Bukankah seharusnya kau sudah meninggalkan Kota ini?” tanya pria yang sedang terikat itu pada penglihatannya dengan ekspresi wajah yang terkejut dan nada suara yang gagap.


“Terkejut? Apakah kau pikir semudah itu untuk menjebakku?” sindir Dimas dengan ekspresi wajah yang merendahkan dengan tatapan mata yang tajam.


“Sekarang katakan padaku, apakah Pamanku dan Heru yang sudah merencanakan semua ini?” tanya Dimas dengan nada suara yang dingin dengan ekspresi wajah yang penasaran.


“Aku tidak akan pernah mengatakan apapun padamu jadi lebih baik bunuh saja aku!” ucap pria yang tubuhnya terikat dengan sangat kuat di atas sebuah kursi kayu di bawah sebuah lampu yang sangat terang.


“Hmmm! Membunuhmu? Maaf saja aku tidak akan melakukan seperti yang kau inginkan!” gumam Dimas dengan senyum sinis di wajahnya dan tatapan mata yang merendahkan.

__ADS_1


“Kau lebih memilih kehilangan nyawa dari pada mengatakan kebenarannya. Sungguh anjing yang sangat setia tapi jangan khawatir aku punya cara yang sangat bagus untuk membuatmu membuka mulut!” ucap Dimas dengan ekspresi wajah yang dingin dan senyum jahat diwajahnya.


Dimas yang sangat paham permainan di dunia gelap baik di Kehidupannya yang lalu maupun yang sekarang pun sangat mengerti cara mengatasi orang-orang seperti pria yang sedang duduk dihadapannya yaitu dengan menggunkan kelemahan terbesarnya.


Dimas yang memanggil Ketua Ma untuk masuk kembali pun sebuah amplop cokelat yang ada di tangannya dengan wajah yang dingin lalu membiarkan Ketua Ma menutup pintu dan meninggalkannya berdua bersama Informan Keluarga Heru.


“Apa kau tau apa isi amplop coklat ini?” tanya Dimas dengan senyum sinis dan ekspresi wajah yang serius.


“Hmmm, kau pasti tidak tau karena itu aku pasti akan menunjukkannya padamu dengan senang hati!” ucap Dimas dengan senyum yang jahat dengan tatapan mata merendahkan.


Dimas yang membuka sebuah amplop cokelat yang ada di tangannya dan menunjukkan selembar kertas foto yang terbagi dua yang berisi tentang beberapa anak kecil yang sedang bermain bersama teman-temannya di bagian atas dan foto tentang seorang anak wanita sedang berjalan bersama Ibunya dengan senyum yang bahagia.


“Tidak! Tolong jangan!” teriak pria itu dengan ekspresi wajah yang terkejut dan khawatir di saat bersamaan dengan nada suara yang tinggi.


“Jangan? Kenapa? Bukankah kau adalah orang jahat? Bukankah orang jahat memang seharusnya menerima balasan untuk kejahatannya?” sindir Dimas dengan ekspresi wajah yang sinis.


“Ya! Ya! Ya! Pak Bambang dan Tuan Muda Heru yang telah memerintahkan saya memberikan informasi jika Tuan Muda Dimas telah pergi menaiki Pesawat!” ucap Pria yang terikat itu dengan suara yang sangat keras dengan ekspresi wajah yang takut, cemas, dan khawatir di saat bersamaan dengan keringat yang mengalir sangat banyak ke wajahnya.


“Tolong! Tolong jangan sakiti putri dan istriku! Mereka tidak bersalah! Tolong hukum saja aku! Aku bersedia menerima hukuman apapun!” ucap pria tersebut sambil berlinang air mata dengan ekspresi wajah yang sangat menyesal dan tatapan mata yang putus asa dan sedih.

__ADS_1


Dimas yang sudah merasakan berada diantara kematian satu kali pun kehilangan rasa simpati ataupun kasihan kepada pria yang ada di depannya saat ini.


“Hmmm!” gumam Dimas dengan suara yang rendah dengan ekspresi wajah yang dingin dan tatapan mata yang tajam dan merendahkan.


“Ketua Ma!” panggil Dimas dengan nada suara yang datar yang langsung membuat Ketua bergerak masuk ke dalam ruangan tersebut.


“Apa perintahmu Tuan Muda?” tanya Ketua Ma dengan ekspresi wajah yang patuh dengan kepala yang menunduk ke bawah.


“Eksekusi pria ini dan juga seluruh keluarganya! Buat seolah kejadian itu adalah kecelakaan yang tidak disengaja! Lalu tinggalkan kepalanya untuk nanti dikirim kepada Keluarga Pamanku tersayang!” ucap Dimas dengan senyum yang jahat dan aura yang menegangkan.


Sementara itu, Pria yang terikat menjadi semakin gelisah setelah mendengar keputusan Dimas dan mengutuk keputusannya yang menerima bayaran dari Keluarga Heru.


“Tidak! Jangan sakiti Putri dan Istriku! Tolong!”


“Kumohon ampuni Keluargaku Tuan Muda! Jangan sakiti mereka!”


“Aku bersalah Tuan Muda! Hukum saja aku!”


 #Bersambung#

__ADS_1


__ADS_2