
Arabella yang merasa kuat saat di dalam Ruangan tersebut tiba-tiba merasakan kakinya menjadi sangat lemas dan tak bisa berjalan hingga akhirnya terpaksa menerima bantuan dari Dimas.
"Tap! Tap! Tap!" suara langkah kaki.
"Arg!" erang Arabella yang bersandar di lorong dengan satu tangan dan tangan lainnya menyentuh kakinya.
"Ka-kau! A-apa yang kau lakukan?" tanya Arabella yang gagap setelah digendong oleh Dimas dengan mendadak.
"Diam saja! Berpura-puralah tertidur jika tidak ingin ketahuan lemah dihadapan Pelayan yang lain nantinya!" ucap Dimas yang seolah sangat mengenal kepribadian Arabella dengan posisi tegap dengan sorot mata yang tajam lurus ke depan.
"Ah! Terima kasih." ucap Arabella dengan nada rendah sambil menenggelamkan kepalanya ke dalam pelukan Dimas.
"Terima kasih karena tidak bertanya!" ucap Arabella dalam hati dengan wajah memerah.
Dimas dan Arabella pun sampai di kamar Arabella. Arabella yang berpura-pura tertidur pun digulingkan di atas ranjang.
"Srak!"
"Syut!"
"Kau pergilah! Arabella sudah tertidur!" perintah Dimas dengan nada rendah tanpa menatap wajah Ria sambil memakaikan selimut ke tubuh Arabella.
"Permisi, Tuan Muda." ucap Ria dengan sopan sambil menundukkan kepala dan berjalan keluar dari kamar Arabella.
Saat hanya tinggal Arabella dan Dimas di dalam kamar itu, Arabella langsung membuka matanya dan menarik tangan Dimas yang ingin pergi.
"Tidurlah! Ini sudah larut!" jawab Dimas dengan lembut dengan senyum hangat sambil mengelur rambut Arabella.
__ADS_1
"Apa kau tidak akan bertanya apa yang aku bisikkan pada Siti?" tanya Arabella dengan ekspresj wajah yang bingung sambil melihat ke sisi yang lain.
"Tidak!" ucap Dimas dengan nada yang meyakinkan dan sorot mata yang tegas menatap Arabella.
"Apakah kau akan marah jika aku ingin Siti menderita atau jika au ingin di-dia... meninggal?" tanya Arabella lagi dengan ragu-ragu dengan sorot mata yang meminta ingin dimengerti.
"Tidak! Aku percaya padamu!" jawab Dimas dengan penuh percaya diri.
"Kenapa? Kenapa kau begitu percaya padaku? Bukankah aku wanita yang jahat karena ingin menyakiti orang lain? Bukankah seharusnya kau marah padaku atau mungkin membenciku?..." ucap Arabella yang terpotong karena Dimas meletakkan satu jarinya di bibir Arabella.
"Kau bukan wanita jahat, kau hanya membela dirimu dan menuntut keadilan. Masalah apapun yang ingin kau lakukan padanya itu adalah hakmu karena kau lah korbannya bukan aku. Aku tidak akan mengadilimu, aku akan selalu ada disisimu." ucap Dimas dengan nada lembut dan penuh perhatian dan sorot mata yang mengisyaratkan ketulusan dari semua yang dikatakannya.
Arabella yang tersentuh dan tidak menyangka jika ada seseorang yang akan selalu di sampingnya, seseorang yang tidak akan menganggapnya jahat meski seluruh dunia mengatakannya jahat, seseorang yang sangat mencintainya.
Arabella pun tanpa sadar memeluk Dimas dengan erat dan meneteskan air mata. Dimas pun hanya diam membalas pelukan dan membiarkan Arabella merasa lega dengan tangisannya.
“Aku ingin Siti merasakan yang aku rasakan. Aku ingin dia kehilangan reputasinya dan dibenci oleh semua orang, Tidak! Aku ingin dia dibenci se-Indonesia sepertiku.” Ucap Arabella dengan ekspresi wajah yang marahsambil menggenggam tangannya dengan sangat erat karena harus menahan gejolak emosinya.
“Aku tidak ingin nyawanya. Aku hanya ingin dia merasakan yang aku rasakan!” ucap Arabella lagi dengan nada yang tinggi dan emosi hingga membuat urat-urat di wajahnya keluar.
“Jika itu yang kau inginkan maka aku kau akan mendapatkankeadilan yang kau inginkan.” Janji Dimas sambil mengelus rambut Arabella dengan lembut sambil tersenyum lembut.
“Terima kasih.” Ucap Arabella sambil tersenyum bahagia.
“Sekarang istirahatlah dan kau akan melihat hasilnya besok.” Ucap Dimas dengan penuh keyakinan dan wajah yang serius serta sorot mata yang tajam.
Arabella pun kembali ke dalam kamarnya dan akhirnya tertidur setelah menarik selimutnya sementara Dimas kembali ke ruang kerjanya dan memanggil Edo untuk segera datang menemuinya.
__ADS_1
Tak butuh waktu, Edo yang datang memakai piyama langsung datang menemui Dimas di waktu tengah malam. Edo yang datang dengan tergesa-gesa bahkan lupa memakai sendal dan datang dengan telanjang kaki.
Dimas yang melihatnya tidak bisa menahan tawa di tengah malam. Edo yang ditertawakan oleh Tuannya pun hanya bisa mengadu emosi.
“Puft! Hahaha...” tawa Dimas.
“Tuan Muda! Apa kau tidak bisa memintaku datang dengan manusia? Apa Tuan Muda lupa ini pukul berapa? Sekarang pukul 2 pagi.” Teriak Edo yang kesa karena diganggu oleh Dimas saat sedang istirahat di Apartemennya yang nyaman.
“Itu bukan salahku. Itu tugasmu untuk selalu datang saat aku memanggilmu. Kau sudah menikmati semua fasilitas yang aku berikan. Ingat itu!” ucap Dimas yang tidak ingin disalahkan oleh Edo dengan sorot mata yang sinis sambil meletakkan kedua tanggan bersilang di dada.
“Dan tidak bisakah kau mengganti pakaianmu dulu dan memakai sendal. Kau itu seorang Pria tulen atau ...” ucap Dimas yang terdiam sebentar sambil melihat penampilan Edo yang memakai Piyama berwarna merah muda dengan penutup mata berwarna merah muda dengan motif kelinci imut dengan tubuh besar dan otot-otot yang terlihat jelas.
Dimas yang sangat terhibur dengan tindakan Edo seakan tidak bisa berhenti tertawa namun Dimas pun langsung sadar dan mengendalikan dirinya.
“Puft!”
“Baiklah, sudah cukup tertawanya. Aku ingin kau menghubungi Kekasih Siti dan bayar dia dengan jumlah uang yang sangat banyak untuk menghancurkan reputasi Siti lalu jangan lupa bantu dia agar masalah itu menjadi heboh sehingga se-Indonesia mengetahuinya dan menghujatnya.” Ucap Dimas dengan senyum sinis dan sorot mata yang tajam sambil melihat ke arah luar jendela.
“Tuan Muda ingin melepaskannya begitu saja. Bukankah Tuan Muda ada rencana untuk menghabisinya?” tanya Edo yang tiba-tiba tidak mengerti jalan fikiran Dimas yang berubah dengan ekspresi wajah yang bingung dan penuh
dengan pertanyaan.
"Bukankah kematian adalah hukuman yang paling ringan untuknya. Jika dia masih hidup dan menderita seumur hidupnya bukankah itu adalah hal yang sangat bagus. Dia harus merasakan bagaimana rasanya dibenci oleh satu Indonesi!” ucap Dimas dengan senyum sinis sambil melihat ke arah Edo dengan wajah licik dan penuh dengan teka-teki.
Edo yang mendengar apa yang dikatakan Dimas langsung merasakan jika bulu yang ada di seluruh tubuhnya berdiri hingga membuat Edo menjadi merinding.
“Aku tidak menyangka jika Tuan Muda adalah orang yang sangat kejam. Dia bahkan memikirkan cara untuk membalas orang dengan hukuman dua kali lipat, Eh, tidak! Bahkan mungkin sepuluh kali lipat karena orang itu harus menanggung akibat perbuatannya seumur hidup.” Ucap Edo dalam hati dengan ekspresi wajah yang takut dan gelap sambil melihat ke lantai.
__ADS_1
Bersambung