
Arabella dan Dimas yang telah sampai di Villa dimana Dimas pernah menyelamatkan Arabella dari tangan Heru pun mengajak Arabella untuk bersantai di teras sambil duduk menikmati pantai di malam hari.
"Minumlah susu cokelat ini dan pakailah selimut yang tebal karena itu akan membuatmu hangat. Udara dingin tidak baik untuk kesehatan." ucap Dimas dengan kata-kata yang lembut dan penuh perhatian serta sorot mata yang senduh penuh dengan kekhawatiran.
Arabella yang melihat perlakuan Dimas padanya hanya tersenyum dan mengambil meniman itu lalu meminumnya.
Dimas yang mengerti jika Arabella membutuhkan waktu untuk bedamai dengan hatinya dan menyadari kenyataan bahwa tidak semua orang pantas dimaafkan.
"Sebaiknya aku bersabar dan menunggu sampai Bella mau bicara lebih dulu." ucap Dimas dalam hati sambil duduk memandang langit pantai di samping Arabella tanpa berbicara apapun.
Arabella yang menyukai ketenangan itu pun ikut diam menikmati suasana dan indahnya pantai di malam hari.
Di sisi lain, Clara yang berfikir jika hari ini dirinya akan mendapatkan penghargaan dan menaikkan reputasinya tidak menyangka jika hal buruk itu pun terjadi.
Clara yang masih tidak sadar dan dalam kondisi terkejut hanya bisa diam di dalam mobil yang dibawa oleh Shaha sambil melihat pemandangan di luar kaca mobil dengan kondisi menyedihkan.
Shaha yang melihat Clara menghadapi masalah yang begitu berat merasa sangat senang dan bahagia.
"Ternyata rencana yang dibuat oleh Nona itu sangat bagus buktinya Clara yang kejam dan tanpa perasaan ini ternyata bisa juga masuk dalam jebakanku." ucap Shaha dalam hati sambil tersenyum sinis dengan tatapan merendahkan ke arah Clara yang masih dalam kondisi terguncang.
Perasaan benci dan amarah yang dimiliki Shaha terhadap Clara ternyata sangatlah besar hingga membunuh perasaan empati dan kasihan yang ada pada hatinya.
"Kau telah mencoba untuk membunuh ayahku dengan menghentikan pengobatannya dan sekarang aku akan menghancurkanmu hingga ke titik terendahmu." ucap Shaha dalam hati dengan sorot mata yang tajam sambil memegang erat kemudi setir mobilnya.
Shaha yang mengendarai mobil sampai ke Apartemen Clara tidak menyangka jika wartawan dan media telah lebih dulu sampai di Apartemen Clara.
"Wartawan ini kerjanya sangat cepat. Mereka bahkan mendahului mobilku dan sampai lebih dulu di sini." ucap Shaha dengan suara rendah sambil menghentikan mobilnya lalu melihat wartawan yang telah bergerak mengerubungi mobil yang ditumpanginya dengan Clara.
Shaha yang kesulitan untuk keluar dari mobilnya apalagi masuk ke dalam Apartemen pun menyerah dan menghubungi pihak keamanan Apartemen untuk membantunya dapat masuk ke dalam Apartemen dengan selamat.
"Hah, dengan orang sebanyak ini tidak akan ada kesempatan bagiku dapat masuk ke dalam Apartemen dan membuat hidup Clara lebih hancur lagi." ucap Shaha dalam hati sambil mendesah panjang.
__ADS_1
Setelah lima menit telepon dimatikan, beberapa orang yang berseragam keamanan datang dan mengetuk kaca mobil lalu membantu Shaha dan Clara keluar dari sekelompok wartawan yang telah menunggu sejak tadi.
"Tokk! Tokk!" suara pintu kaca mobil yang diketuk dari luar.
"Akhirnya datang juga. Nona, ayo kita keluar sekarang. Petugas Keamanan sudah sampai dan kita bisa masuk ke dalam Apartemen." bujuk Shaha kepada Clara yang merasa ketakutan dengan banyaknya wartawan yang berkumpul sambil memegang tangan Clara mencoba memberi semangat dan motivasi.
"Hmmm, baiklah." ucap Clara dengan sedikit pasrah sambil bergerak membuka pintu mobilnya.
Clara yang telah membuka pintu mobil membuat semua wartawan yang telah berkumpul dan menunggu menjadi semakin ganas dalam mencari berita yang seketika membuat Clara menjadi terkejut.
"Lihat! Clara Pricilia sudah keluar mobil!"
"Cepat ambil gambarnya yang banyak! Jangan sampai kita lewatkan satu angkle pun."
"Apa yang terjadi dengan anda bersama dengan tiga pria di dalam ruang VIP?"
"Apakah masalah seksual anda yang menyebabkan kandasnya hubungan anda dengan Pewaris Perusahaan Arthama Jaya Group?"
Clara yang melihat banyaknya wartawan yang mengajukan pertanyaan merasa sangat tidak nyaman. Shaha yang melihat ekspresi wajah Clara yang menjadi pucat merasa sangat senang.
"A-Aku..." ucap Clara dengan terbata-bata dengan ekspresi wajah yang pucat dan mata yang lelah.
Namun, Shaha yang ingin memiliki image sebagai Manager yang baik dan profesional pun berjalan mendekati Clara lalu memberikan pernyataan yang dapat diterima oleh semua wartawan dan media yang telah menunggu lama.
"Maaf! Kami membutuhkan waktu untuk mengkonfirmasi yang terjadi dan akan melakukan konferensi pers dalam waktu dekat." ucap Shaha dengan suara yang tegas dan penuh percaya diri.
Shaha pun menuntun Clara untuk masuk ke dalam Apartemennya dengan bantuan Keamanan yang memberi jarak keduanya untuk dapat bergerak.
Setelah sampai di depan pintu Apartemen, Shaha pun membuka pintu lalu menguncinya.
Shaha pun membawa Clara yang masih terlihat terkejut masuk ke dalam kamarnya dan meninggalkannya sendiri disana.
__ADS_1
"Kau harus segera mandi dan mengganti pakaianmu. Aku akan membuatkanmu makanan. Kau pasti belum makan apapun bukan?" ucap Shaha sambil berjalan membelakangi Clara menuju ke pintu sambil tersenyum sinis dengan tatapan merendahkan.
"Kau mungkin masih sangat syok dengan semua yang terjadi dan begitu pula denganku. Aku tidak akan memaksamu menceritakannya sekarang tapi aku harap setelah kau mandi dan menghabiskan makanmu maka kau akan mengatakan semuanya padaku. Kita akan cari solusinya bersama-sama." ucap Shaha sambil berdiri di depan pintu lalu melirikkan pandangannya ke arah Clara yang masih duduk menatap dinding yang kosong.
"Kau adalah artisnya dan aku adalah managernya. Jika kau hancur maka aku pun akan kehilangan pekerjaanku jadi jangan khawatir, aku akan membantumu keluar dari jalan buntu ini demi keuntungan kita bersama." ucap Shaha dengan nada serius dan senyum sinis.
Shaha pun menutup pintu dan membiarkan Clara sendiri. Shaha yang tidak berfikir untuk benar-benar untuk membantu Clara pun telah memutuskan untuk menjadi protagonis untuk kisah hidup Clara.
"Aku tidak ingin hanya menjadi penonton tapi aku ingin protagonis. Aku ingin menjadi seorang pahlawan yang menghukum penjahat wanita yang kejam dan sombong." ucap Shaha dalam hati sambil berdiri di belakang pintu kamar Clara yang telah tertutup denga tawa yang tidak bersuara.
Shaha pun masuk ke dapur lalu menyiapkan makanan dan minuman khusus untuk Clara.
"Hmmm, mie instan dan juga susu hangat spesial yang sengaja disiapkan untukmu Clara. Semoga kau positif hamil!" ucap Shaha dalam hati sambil meletakkan mie yang telah diberi obat penyubur dan susu untuk wanita yang siap hamil dengan tawa misterius dan tatapan mata yang dingin sedingin es.
Sementara itu, Clara yang mendengar perkataan Shaha pun merasa jika hidupnya tidak sehancur itu karena masih ada orang lain yang mau menemaninya disaat seperti ini.
Clara yang tiba-tiba mengingat kejadian yang menimpanya beberapa jam yang lalu pun merasa tubuhnya terasa sangat kotor dan penuh dengan noda.
Clara yang sangat tidak nyaman dengan tubuhnya pun berlari masuk ke dalam kamar mandi dan menghidupkan air shower lalu mengguyur seluruh tubuhny dengan air.
Clara yang tidak bisa merasa jika dirinya dapat bersih meski telah tersiram air beberapa menit bahkan dengan air sabun yang telah habis banyak pun mulai frustasi.
"Aarrrgghhhh!" teriak Clara yang kesal dengan dirinya yang telah kotor karena telah dinodai tiga pria dalam waktu bersamaan dan bodohnya pada saat itu dirinya ternyata menikmati sentuhan itu.
"Kotor! Semuanya kotor! Tidak! Huuhhh... Huhhh...!" ucap Clara yang terduduk di bawah guyuran air sambil menangis dengan tersedu-sedu.
#Bersambung#
Jangan lupa Like, Komen dan tekan Love ya..
Terima kasih
__ADS_1