CEO Stops The Time

CEO Stops The Time
BAB 18. Pemukulan


__ADS_3

Icha pun pergi ke ruangan Edo dan membawakan beberapa berkas yang menjadi urusan Edo. Lalu, saat Icha ingin memasuki ruangan Dimas tiba-tiba ada suara yang sangat gaduh di lantai dasar. Icha yang merasa tidak perlu turun tangan karena telah ada orang lain yang bertugas mengurusi masalah ini pun melanjutkan pekerjaannya dan masuk ke dalam ruangan Dimas.


Icha pun meletakkan beberapa berkas milik Edo di atas meja lalu kembali ke ruangannya tapi tiba-tiba Dimas yang sedang fokus bekerja merasa terganggu dengan orang-orang yang terlihat kular-kilir kesana kemari dan tak hanya itu Dimas yang memiliki pendengaran yang sangat sensitif juga mendengar keributan di lantai bawah.


Ketika Dimas melihat Icha berada di dalam ruangan itu, Dimas pun memerintahkan Icha untuk memeriksa apa yang terjadi lalu membereskan masalah yang terjadi. Dimas tidak memerintahkan Edo untuk bergerak menyelesaikan masalah itu karena menurut Dimas masalah yang terjadi di lantai bawah tidak memerlukan orang yang lebih berkuasa lagi untuk dapat menyelesaikan masalah itu.


Icha yang sebenarnya ingin menyelesaikan pekerjaannya yang menumpuk karena Dimas memerintahkannya menunda semua jadwal meetingnya menjadi sangat kesal. Icha pun turun ke lantai bawah dengan wajah yang penuh emosi dan siap melampiaskan kekesalannya pada orang-orang yang membuat keributan di lantai bawah.


Sementara itu, Pelukis wajah yang telah membuat janji bertemu dengan Dimas di kantornya akhirnya dapat sampai juga dengan kecepatan yang dia bisa tapi ketika Pelukis wajah itu ingin masuk dirinya dicegah oleh securty yang berjaga.


Security itu menanyakan alasan kedatangan pelukis wajah itu ke Perusahaan Arthama Jaya. Pelukis wajah pun menjelaskan bahwa dirinya memiliki janji bertemu dengan Dimas Arthama Jaya, CEO perusahaan Arthama Jaya sekaligus Pewaris Tunggal Perusahaan itu.


Security pun melihat penampilan Pelukis Wajah yang tidak seperti orang yang sangat penting bahkan terlihat seperti orang biasa saja membuat Security itu menjadi curiga dan tidak percaya akhirnya Security itu bertanya ke Resepsionis tentang kebenarannya dan Resepsionis yang memang tidak mengetahui pun langsung mengatakan tidak sehingga membuat Security itu mengusir Pelukis wajah keluar karena merasa Pelukis wajah itu telah berbohong dan membuang waktunya dengan percuma.


Pulikis wajah yang tidak terima dituduh telah berbohong dan diusir dengan paksa pun marah-marah sehingga membuat beberapa Security yang berjaga di sudut lain datang membantu untuk mengamankan Pelukia Wajah itu.


Pelukis Wajah yang merasa berhutang budi dan berhutang nyawa pada Dimas ingin sekali meninggalkan Perusahaan itu setelah melihat perlakuan Security di Perusahaan itu yang sangat tidak sopan terhadap tamu.


Namun, Pelukis wajah itu tidak mau menyerah dan tidak mau ditangkap oleh Security sehingga membuat keributan bahkan sampai terjadi perkelahian di lantai dasar yang menarik perhatian banyak karyawan.


Icha yang telah sampai di lantai dasar melihat banyak sekali karyawan yang berkerumunan di lantai dasar seperti melihat sesuatu yang menarik sehingga membuat Icha kesal dan memarahi mereka semua lalu memerintahkan semuanya kembali bekerja.


Icha yang melihat Pelukis Wajah yang dipukuli oleh Security dan bahkan tangannya dipelintir seperti seorang penjahat menjadi semakin marah karena Pelukis Wajah itu adalah Tamu Pribadi yang telah ditunggu oleh Dimas sampai menunda banyak sekali pekerjaan.


"Hentikan semua ini!" teriak Icha yang marah.


Setelah mendengar teriakan dari Icha semuanya tiba-tiba berhenti bergerak dan tidak ada satu pun yang berani membantahnya.


"Lepaskan dia!" perintah Icha.


"Ta-tapi bu.. Dia ini..." ucap Security yang menangkap.

__ADS_1


"Diam! Lepaskan dia!" perintah Icha.


Security itu pun melepaskan Pelukis Wajah itu dan Icha segera pergi menemui Pelukis Wajah kemudian memeriksa keadaan Pelukis Wahah itu lalu meminta maaf kelalaiannya dalam melaksanakan tugas.


Security yang telah memukul dan tidak percaya perkataan Pelukis wajah itu menjadi sangat terkejut dengan perlakuan Icha dan menjadi takut serta khawatir kalau dirinya telah melakukan kesalahan.


"Apa bapak baik-baik saja?" tanya Icha.


"Saya baik-baik saja, Nona." ucap Pelukis Wajah.


"Baguslah. Bapak bisa pergi ke toilet sebentar untuk membersihkan tubuh terlebih dahulu. Saya akan menunggu bapak disini dan mengantar bapak menemui Pak Dimas." ucap Icha.


"Terima kasih, Nona." ucap Pelukis wajah.


Icha pun memberi arahan tentang arah toilet yang ada di lantai dasar itu. Lalu, setelah Pelukis wajah itu tidak terlihat lagi Icha pun menoleh ke arah semua Security dan karyawan-karyawan yang ada terlibat. Icha sangat kesal dan marah karena tidak ada yang bisa melakukan pekerjaannya dengan baik sehingga membuatnya harus membereskan semua masalah yang telah ditimbulkan.


"Apa ada yang bisa jelaskan apa yang telah terjadi dengan bapak itu? Apa bapak itu tidak menjelaskan alasan kedatangannya kemari?" tanya Icha dengan nada datar dan wajah yang sangat suram.


"Ma-maafkan kami, Bu. Kami tidak tau jika bapak itu benar-benar tamu yang ditunggu oleh Pak Dimas." ucap salah satu satpam.


"Ma-maafkan kami, Bu." ucap semuanya bersamaan.


Icha yang merasa sangat kesal dengan kelakuan semuanya pun membuat keputusan untuk memecat semuanya. Icha tidak ingin masalah ini sampai terdengar di telinga Dimas.


"Segera menghadap HRD dan ambil uang gaji lalu pesangon kalian. Mulai besok kalian tidak perlu lagi bekerja di Perusahaan ini." ucap Icha tegas.


Icha yang telah melihat kedatangan Pelukis Wajah pun segera berbalik dan memasang wajah tersenyum. Lalu, Icha mengantar Pelukis Wajah itu menemui Dimas di ruangan kerjanya.


Tokkk...Tokkk...Tokkk


(Suara pintu)

__ADS_1


"Masuk!" perintah Dimas.


"Siang, Pak. Ini tamu yang anda tunggu telah datang. Apa saya persilahkan masuk sekarang?" tanya Icha sopan.


"Ya, Bawa dia masuk sekarang!" perintah Dimas.


"Baik, Pak." ucap Dimas.


Icha pun membawa Pelukis wajah itu masuk lalu Icha pun kembali ke ruang kerjanya dan menyelesaikan pekerjaannya yang belum selesai tapi sebelum itu Icha pun melaporkan apa yang terjadi di lantai bawah.


"Ini Tamu yang Pak Dimas tunggu. Apa ada lagi yang bisa saya lakukan, Pak?" tanya Icha.


"Tidak. Kau boleh kembali bekerja." ucap Dimas.


"Baik, Pak. Namun sebelum itu, saya ingin melaporkan bahwa keributan yang terjadi barusan karena ada kesalahpahaman antara Security, resepsionis dan Tamu Pak Dimas. Saya telah memerintahkan mereka untuk mengirimkan surat pengunduran dirinya karena telah menyebabkan Tamu Pak Dimas terluka karena dipukuli." ucap Icha datar.


"Apa? Dipukuli? Kerja bagus! Kau bisa kembali sekarang." ucap Dimas.


Dimas yang tidak ingin memberikan belas kasihan kepada karyawan yang telah lalai dalam bekerja sehingga Dimas hanya membiarkan saja jika karyawan itu dipecat. Lalu, Dimas pun memerintahkan Edo untuk membuka lowongan pekerjaan untuk menggantikan posisi karyawan ya


g kosong. Setelah mendapatkan perintah, Edo pun keluar dari ruangan itu dan meninggalkan Dimas dan Pelukis wajah berdua saja.


"Saya tidak suka berbasa-basi. Jadi langsung saja keintinya. Katakan padaku, apa benar kau melihat wajah wanita yang pernah kau lukis itu?" tanya Dimas langsung.


"Ya, Tuan Muda. Saya sungguh-sungguh melihatnya. Saya melihatnya sedang terkurung di dalam Penjara." ucap Pelukis wajah.


"Apa!" teriak Dimas yang langsung berdiri.


#**Bersambung#


Jangan Lupa Tekan LIKE, KOMEN, VOTE..

__ADS_1


🥰😍😘😚


Terima kasih**


__ADS_2