CEO Stops The Time

CEO Stops The Time
BAB 68. Kemenangan Dimas


__ADS_3

Semua Anggota yang telah bergerak langsung melakukan serangan dadakan hingga membuat pertempuran antara orang-orang yang telah dibayar oleh Heru serta Asistennya dengan Badan Inteligen Khusus milik Dimas pun tak terelakkan lagi.


“Syat!”


“Syut!”


“Bang!”


“Bugh!”


“Apa-apa ini? Kak Tio, kita diserang!” teriak salah seorang yang telah dibayar oleh Heru dengan ekspresi wajah yang terkejut dengan mata dan mulut yang terbuka lebar serta keringat yang terus mengalir ke dahinya.


“Kita harus mundur! Nyawa lebih penting daripada uang!” Ucap Tio yang merupakan Ketua dari Anggota Geng dengan wajah yang cemas dan terkejut setelah melihat orangg-orang yang menyerangnya memiliki kemampuan berkelahi di atas mereka bahkan mereka memiliki jumlah dua kali lipat dari jumlah mereka saat ini.


“Bugh!”


“Agh!”


Saat Tio dan Anggota Gengnya yang lain mencoba untuk mundur Edo yang telah berada di antara Anggota Badan Inteligen Khusus yang menjadi Kelompok Kedua segera menghadang orang-orang yang mencoba kabur sehingga membuat Anggota Geng tersebut terkepung di berbagai sisi dan tak memiliki jalan keluar lain selain bertarung.


“Sial! Kita sudah dikepung!” ucap Tio dengan keringat yang mengalir ke dahi dan pipinya dengan wajah yang gelap sambil melihat ke arah sekelilingnya.


“Jangan biarkan siapapun lolos! Bantai semuanya!” ucap Edo dengan nada tinggi dari balik Earphonenya dengan sorot mata yang tajam dan senyum licik di wajahnya.


“Baik!” teriak semua Anggota Badan Inteligen Khusus bersamaan dengan sorot mata yang tajam seperti singa yang siap menerkam mangsanya yang telah terjebak dalam perangkapnya.


Dikarenakan jumlah dari pihak Dimas dau kali lebih bayak menyebabkan pertempuran antara kedua Kelompok terjadi dengan sangat singkat dan tidak menyebabkan banyak kegaduhan sehingga orang-orang yang berada di sekitar Hotel ataupun di dalam Hotel tidak ada yang menyadari ada sesuatu yang ganjal di tempat lain.


“Bang!”


“Syut!”


“Bugh!”


Satu per satu orang-orang yang telah dibayar Heru jatuh ke tanah dengan wajah dan tubuh yang penuh dengan luka dan tak jarang terdengar suara tulang yang retak selama pertarungan.

__ADS_1


 “Bugh!”


“Brak!”


“Agh!”


Pak Antoni yang melihat Pertarungan dari layar Monitor CCTV merasa ketegangan yang sama yang terjadi di tempat kejadian.


“Habisi mereka semua! Berani-beraninya mereka mencoba mengganggu Acara Pertunangan Tuan Muda!” ucap Pak Antoni dalam hati dengan wajah yang tegang dengan keringat yang mengalir ke pipinya sambil menggerak-gerakkan tangannya juga seolah sedang memukul seseorang padahal hanyamemukul angin.


Pak Antoni yang tidak ingin melewatkan orang-orang yang mencoba menghancurkan Acara Dimas segera melihat kembali ke arah Layar Monitor CCTV dan mencari jika ada Kelompok lain yang telah berjaga menghancurkan Acara Pertuangan Dimas tapi ternyata Pak Antoni tak menemukan apapun dan langsung melaporkannya kepada Edo.


“Edo! Apa kau mendengarku?” tanya Pak Antoni yang sedang duduk di depan layar Monitor CCTV dengan wajah yang legah.


“Aku mendengarmu! Ada apa?” tanya Edo dengan wajah yang serius dan nada yang berat sambil melihat ke pertempuran yang telah berakhir karena perbedaann jumlah yang sangat terlihat.


“Semua aman terkendali dan tidak ada lagi Kelompok yang sedang bersembunyi mencoba mengganggu Acara Tuan Muda, tapi aku melihat ada pergerakan aneh dengan Pak Bambang dan Bu Selena yang keluar dari ruang Acara dengan wajah yang masam!” ucap Pak Antoni dengan nada serius dan sorot mata yang tajam sambil meliihat ke arah Monitor CCTV.


“Aku mengerti! Aku akan segera menyelidikinya!” ucap Edo dengan tangan yang diletakkan di dalam saku celananya dengan mata yang tajam.


“Byur!”


“Agh!”


“Pa-Pak!” ucap salah satu Penjaga CCTV dengan wajah yang basah dan ekspresi wajah yang terkejut sambil melihat ke arah Pak Antoni yang sedang berdiri di depannya.


“Kalian berdua hampir saja menyebabkan Perusahaan Arthama Jaya Group dalam masalah besar jika saya tidak datang ke ruangan ini segera!” ucap Pak Antoni dengan wajah yang marah setelah berfikir tentang seriusnya masalah yang terjadi jika Dimas tidak memerintahkan dirinya dan Edo segera mencari tau apa yang telah direncanakan Heru dan Orang tuanya yang selama ini hanya berdiam diri tanpa pergerakan.


“Kalian berdua akan dipecat dan tidak akan mendapatkan uang pesangon ataupun uang tunjangan. Kalian berdua dipecat secara tidak hormat! Jadi pergi dari sini sekarang!” teriak Pak Antoni yang marah dengan mata yang melotot sambil menunjuk arah pintu keluar.


Kedua orang tersebut sangat terkejut dengan apa yang didengarnya dan mencoba meminta pengampunan dan keringanan tapi Pak Antoni yang tidak membutuhkan karyawan yang tidak loyal dan pemalas langsung memerintahkan Bodyguard yang masih berjaga untuk menarik paksa keduanya keluar dari dalam Hotel.


“Pa-Pak! Ka-kami mohon maafkan kami! Ka-kami sangat menyesal!” ucap keduanya secara bergantian dengan wajah memelas dan air mata yang mengalir sambil bersujud di hadapan Pak Antoni.


“Kalian ingin keluar sendiri atau diusir dari sini!” teriak Pak Antoni yang telah merasa geram hingga membuat urat-urat nadi di dahinya keluar.

__ADS_1


“Pa-Pak! Ma-maafkan kami!”


“Ma-maafkan kami!”


“Usir mereka keluar dari sini!” teriak Pak Antoni kepada dua Bodygauard yang berada di dalam ruangan denga sorot mata yang jijik yang ditunjukkan ke kedua orang yang baru saja dipecatnya.


Pak Antoni yang merasa sangat lelah dengan yang terjadi padahal dirinya hanya melihat ke layar Monitor CCTV. Pak Antoni pun keluar dari dalam Ruang CCTV dan memerintahkan dua Bodyguard yang berjaga di luar pintu untuk masuk dan menggantikan Posisi dua Penjaga yang baru saja dipecat untuk sementara waktu.


“Masuk! Awasi layar Monitor CCTV dan jika kalian menemukan sesuatu yang aneh segera laporkan!” perintah Pak Antoni sambil melihat kedua Bodyguard dengan ekspresi wajah yang serius dan sorot mata yang tajam dan tanpa senyum.


“Laksanakan!” ucap keduanya bersamaan sambil bergerak masuk ke dalam Ruang CCTV dengan patuh dengan wajah tanpa ekspresi.


Pak Antoni yang telah menyelesaikan tugasnya segera pergi menemui Dimas dan melaporkan hasil kerjanya bersama dua Bodyguard yang tersisa.


Sementara itu, Edo yang melihat jika orang-orang yang telah dipilihnya dan dibayarnya dengan sangat mahal dapat berhasil melewati krisis Perusahaan merasa sangat bangga dan puas.


Edo yang tidak ingin memberikan hukuman yang ringan untuk orang-orang yang telah berencana menghancurkan Acara Pertunangan Dimas langsung memberi perintah untuk mengikat semuanya dan membawanya ke Markas Badan Inteligen Khusus dengan cepat dan rapi.


“Ikat mereka semua dan bawa ke markas!” ucap Edo yang berjalan ke arah Ketua Ma dengan suara rendah dan sorot mata yang tajam sambil melihat ke arah Ketua Ma.


“Baik, Bos!” ucap Ketua Ma yang langsung berjalan ke arah Anggotanya yang lain yang sedang berada di sekitar musuh.


Dalam waktu singkat semua orang telah berpindah tempat ke dalam mobil dengan tubuh terikat tertumpuk dengan luka di seluruh tubuh.


Edo pun memberi perintah untuk sisa anggota yang lain untuk tetap berada di Hotel dan menyamar sebagai Bodyguard dan berjaga di berbagai sisi lalu mencari tau siapa yang menjadi dalang dari semua ini.


Edo yang telah menyelesaikan tugasnya dengan sangat baik bergegas kembali ke Ruang Acara dan melaporkan hasilnya kepada Dimas sambil memastikan Acara Pertunangan Dimas dan Arabella berjalan dengan lancar dan tanpa ada gangguan.


#Bersambung#


Jangan Lupa Like, Komen dan Vote ya..


😊😍😘


Terima kasih

__ADS_1


__ADS_2