CEO Stops The Time

CEO Stops The Time
BAB 43. Bertengkar


__ADS_3

Dimas yang mendengar suara Edo segera bangun dan duduk di sofanya. Dimas pun segera memberi perintah kepada Edo yang dijawab dengan anggukan tanda mengerti.


"Selidiki apa saja yang dilakukan Arabella hari ini!" perintah Dimas dengan ekspresi serius dan mata yang menatap tajam ke arah Edo.


"Baik, Tuan muda." dijawab Edo sambil menganggukkan kepalanya tanda mengerti.


Dimas yang melihat ke arah luar pun terdiam sebentat dan berfikir ulang tentang waktu yang telah diputar.


'Aku tidak bisa membiarkan Clara bahagia untuk semua yang telah dilakukannya. Dia harus mendapatkan balasannya.' ucap Dimas dalam hati yang kemudian melihat ke arah Edo kembali.


Edo yang memiliki firasat bahwa dirinya tidak akan bisa tidur dengan nyenyak malam ini hanya bisa pasrah.


"Dan persiapkan semua bukti perselingkuhan Clara dan sepupu tersayangku, Heru!" perintah Dimas sambil tersenyum sinis.


"Siap laksanakan!" jawab Edo dengan tegas yang kemudian keluar dari Apartemen setelah mendapatkan izin dari Dimas.


Dimas yang melihat hari sudah menjelang sore merasa jika sudah saatnya untuk kembali pulang dan menenangkan Arabella yang sedang marah.


Sementara itu, di Kediaman Arthama Jaya, Arabella yang mengurung diri di dalam kamar tidak membuka pintu kamarnya saat seorang Pelayan datang mengetuk-ketuk pintu kamarnya berulang kali.


Pelayan yang merasa cemas dan khawatir akan keadaan Arabella segera pergi menemui Pak Antoni dan menceritakan semua yang terjadi.


Pak Antoni yang mendengarnya tidak tau harus melakukan apa hingga akhirnya Pak Antoni memerintahkan Pelayan itu untuk tetap menunggu di depan pintu kamar Arabella dan bersiap jika tiba-tiba Arabella memanggilnya.


Pak Antoni pun segera pergi menunggu ke pulangan Dimas karena Pak Antoni sangat yaki jika saat ini Dimas telah diperjalanan pulang dan telah mengetahui semua yang terjadi di Kediaman Arthama Jaya.


Tak lama kemudian, suara mobil pun datang dan memasuki parkiran Kediaman Arthama Jaya. Pak Antoni segera menghampiri Dimas dan memberikan salam selamat datang lalu mengikutinya dibelakang seperti biasanya.


Namun tidak disangka Dimas yang baru datang langsung menanyakan keadaan Arabella dan memotong ucapan selamat datang dari Pak Antoni.


"Selamat da..." ucap Pak Antoni yang terpotong sambil membungkukkan tubuhnya yang tiba-tiba membuat Pak Antoni mengangkat kepalanya ke atas.


"Dimana Arabella?" tanya Dimas dengan terburu-buru sambil meregangkan dasinya.


"Nona Muda sedang ada dikamarnya." jawab Pak Antoni dengan raut wajah yang bingung sambil berjalan mengikuti Dimas dari belakang.

__ADS_1


"Ada apa? Katakan!" perintah Dimas yang berpura-pura tidak mengetahui masalah yang terjadi yang kemudian duduk di ruang kerjanya.


Pak Antoni yang bingung cara menjelaskan masalah yang terjadi kepada Dimas pun menghembuskan nafs dan mengatakan semua yang dikatakan oleh Pelayan Ria kepada Dimas.


"Nona Arabella tadi siang pergi keluar bersama kedua pelayan pribadinya lalu saat kembali Nona Arabella mengunci pintu kamarnya dan tidak membiarkan seorangpun masuk ke dalam." ucap Pak Antoni dengan ekspresi serius.


"Pelayan Ria mengatakan jika Nona Arabella bertemu dengan Nona Clara secara kebetulan dan Nona Clara mengatakan sesuatu yang membuat Nona Arabella marah." terang Pak Antoni lagi.


Dimas yang telah mengulang waktu untuk yang kedua kalinya sudah mengetahui apa yang akan dikatakan olrh Pak Antoni.


'Sepertinya apapun yang dikatakan Pak Antoni akan sama persis dengan yang dikatakannya di masa lalu. ucap Dimas dalam hati sambil memegang dagunya daj tangan satunya di saku.


"Baiklah. Siapkan makan malam untu Arabella ke kamarnya dan jika dia masih menolak makan maka tunggu saja. Aku akan segera kesana!" perintah Dimas dengan sorot mata yang tajam.


"Ya, Tuan Muda." ucap Pak Antoni denga satu tangan di dada lalu mundur keluar dari ruang kerja Dimas.


Butler yang telah berada di luar ruangan, memanggil salah satu pelayan dan memerintahkan koki membuatkan makanan lezat untuk Arabella.


"Segera siapkan makanan lezat untuk Nona Arabella!" perintah Pak Antoni dengan wajah serius.


Dalam sekejap dapur berubah menjadi tempat perang karena sibuk menyiapkan makan malam khusus untuk Arabella.


Setelah selesai, Ria pun membawa makanan itu ke depan kamar Arabella. Ria yang mengetuk pintu berulang kali tidak mendapatkan respon apapun bahkan tidak ada ucapan Arabella yang dijawabnya.


"Tok...Tok...Tok..." suara pintu.


"Nona, ini saya Ria. Nona, tolong buka pintunya. Saya membawakan makan malam kesukaan Nona." bujuk Ria dibalik pintu kamar Arabella.


Ria yang tidak mendapat respon pun mengalah dan berdiri diam menunggu Arabella membuka pintu.


Namun tiba-tiba Dimas datang dan mengejutkan Ria yang sedang berdiri sambil menundukkan kepala.


"Apakah Bella tidak membuk pintunya?" tanya Dimaa dengan nada datar dan dengan kedua tangan berada di saku celananya.


"Ya, Tuan Muda." jawab Ria dengan cepat sambil menundukkan kepala dan tidak berani mengangkat kepalanya.

__ADS_1


Dimas yang sudah memperkirakan semua yang terjadi hanya bisa menghela nafas lalu memerintahkan Ria pergi dari sana.


"Kau boleh pergi!" ujar Dimas sambil menoleh ke arah lain.


"Terima kasih, Tuan Muda." jawab Ria dengan nada yang rendah.


Setelah kepergian Ria, Dimas mencoba mengetuk pint7 beberapa kali tapi tetap tidak ada jawaban sama seperti waktu beluk diputar.


Dimas yang sudah mengalami kejadian yang sama tidak ingin membuat kesalahan yang sama dan memilih untuk berbicara dengan lembut lalu bersabar menunggu hingga amarah Arabella meredah dengan sendirinya.


'Sepertinya aku harus mengalah!'ucap Dimas dalam jati dengan mata senduh.


"Bel, bisa kau buka pintunya sebentar? Jika kau ada masalah, kau bisa katakan padaku. Jangan berdiam diri di kamar sendiri dan menyiksa dirimu sendiri dengan tidak makan apapun." ucap Dimas dengan lemah lembut.


"Apakah kau tidak memikirkan kedua orang tuamu yang ada di surga? Bagaimana perasaan mereka saat melihatmu dari jauh yang sedang menyiksa dirinya." bujuk Dimas yang berharap agar Arabella luluh.


"Baiklah, aku tidak akan memaksamu cerita tapi setidaknya makanlah makanan ini. Apa kau tidak merasa kasihan kepada orang-orang yang telah susah payah membuatkan makanan ini untukmu? Apakah kau tidak merasa sedih dengan semua orang yang cemas dengan keadaanmu?" tanya Dimas lagi dengan suara lirih.


"Jika kau tidak ingin bicara atau bertemu denganku sekarang. Aku tidak masalah, aku akan menunggumu disini sampai kau mau memakan makananmu." ucao Dimas yang telah terduduk bersandar di pintu kamar Arabella dengan satu kaki di tekuk dan yang lainnya dibiarkan lurus.


Arabella yang mendengar perkataan Dimas menjadi dilema. Arabella ingin keluar dan mengambil makanannya tapi tidak ingin bertemu Dimas untuk saat ini.


Arabella pun berjalan ke arah jendela dan memandang ke arah luar dan tiba-tiba hujan turun dengan sangat deras hingga suara petir menyambar.


Arabella yang ketakutan pun memilih masuk dan duduk di atas tempat tidurya lalu menutup kembali tirai jendela kamarnya.


Beberapa jam berlalu tapi hujan yang terjadu tidak mengalami tanda-tanda akan redah ataupun berhenti.


Arabella yang tidak percaya dengan semua yang dikatakan Dimas mecoba mengintip ke luar dan bertapa terkenjutnya Arabella saat mendapati kenyataan yang ada.


#Bersambung#


*Note*


Maafkan Author yang sudah sangat lama tidak aktif tai akan dipastikan mulai bulan ini jadwal updatenya akan diusahakan teratur..

__ADS_1


Terima kasih kepada semua Reader, selalu dukung Author ya..


__ADS_2