CEO Stops The Time

CEO Stops The Time
BAB 139. Rencana Buka Usaha


__ADS_3

Dimas sebenarnya tidak ingin Arabella pindah ke rumah orangtuanya tapi Dimas juga tidak bisa terus menerus menahan Arabella untuk terus tinggal bersamanya padahal belum sah menikah.


Dimas yang terpaksa harus mengizinkan Arabella pun menarik nafas panjang sambil mengajukan beberapa syarat yang harus diterima Arabella jika benar-benar ingin pindah.


"Baiklah. Kau boleh pindah ke rumah orangtuamu dengan syarat kau harus membawa du orang pelayan pribadi dan beberapa bodyguard bersamamu." ucap Dimas dengan ekspresi wajah yang serius sambil menatap mata Arabella dengan seksama.


"Tidak masalah. Aku malah merasa sangat senang jika kau mengirim beberapa orang untuk membantuku." ucap Arabella dengan ekspresi wajah yang bahagia dengan senyum yang lebar.


"Membantumu apa?" tanya Dimas dengan eskpresi wajah yang bingung dengan nada suara yang penasaran.


"Agh, aku belum memberitaumu tentang ini. Aku punya rencana ingin berjualan makanan." ucap Arabella dengan ekspresi wajah yang canggung dan malu dengan wajah yang memerah dengan satu tangan menggaruk pipinya yang tidak gatal.


"Makanan?" tanya Dimas lagi dengan ekspresi wajah yang bingung dengan alis yang naik ke atas dan dahi yang mengkerut menandakan keanehan.


Arabella yang tidak ingin Dimas salah paham dengannya pun menjelaskan dan menjawab semua pertanyaan Dimas dengan tenang satu per satu.


"I-iya. Aku merasa tidak nyaman jika tidak memiliki uang di tangan jadi aku putuska untuk membuka usaha makanan untuk memenuhi kebutuhanku." ucap Arabella dengan kepala tertunduk dan ekspresi wajah yang pilu menatap tangannya yang saling bertautan.

__ADS_1


"Jika kau mau aku bisa memberikan uang sebanyak yang kau mau tapi aku yakin kau pasti tidak akan menerimanya dan akan sangat marah padaku, bukan?" ucap Dimas yang mengemukakan pendapatnya dengan ekspresi wajah yang sedih.


"Kenapa tidak kembali bekerja di kantor daripada harus membuka usaha makanan?" tanya Dimas dengan ekspresi wajah yang penasaran.


"Hmmm, aku merasa tidak nyaman jika kembali bekerja di kantormu sekarang apalagi semua orang sudah mengetahui statusku sebagai Tunanganmu." ucap Arabella dengan ekspresi wajah yang canggung sambil mencuri pandang pada Dimas yang ada di depannya.


"Aku tidak mau ada orang yang mendekatiku untuk mendapatkan keuntungan darimu di kantor. Lagipula memiliki Toko makanan adalah cita-citaku sejak kecil. Aku ingin mewujudkannya sekarang." ucap Arabella dengan senyum tipis sambil mengingat kenabgan dirinya bersama kedua orangtuanya yang telah tiada.


"Hah! Sepertinya aku tidak akan bisa mengubah keputusanmu lagi jadi aku putuskan untuk mendukungmu. Jika ada yang kau butuhkan kau bisa mengatakannya padaku kapanpun." ucap Dimas sambil mengambil nafas panjang dengan ekspresi wajah yang serius dan tatapan lurus ke depan ke arah Arabella.


Arabella yang mendengar perkataan Dimas pun merasa jika itu adalah kesempatan yang bagus pun langsung mengatakan yang dibutuhkannya.


"Promosi? Apakah seperti artis dan selegran yang mempromosikan barang dagangan milik orang lain?" tanya Dimas dengan ekspresi wajah yang bingung sambil menatap wajah Arabella.


"Benar sekali tapi kau tidak perlu melakukannya sama persi seperti mereka. Kau hanya perlu promosi seadanya saja." ucap Arabella dengan ekspresi wajah yang kaku karena khawatir Dimas akan merasa tertekan dengan permintaannya.


Di saat Arabella dengan antusias yang tinggi menceritakan usaha yang ingin dijalankannya, Clara yang sedang dalam keadaan sulit menjadi semakin terpuruk.

__ADS_1


"Dokter! Dokter! Tolong! Tolong!" teriak Clara dengan ekspresi wajah yang sangat cemas dengan nada suara yang sangat keras dengan air mata yang siap mengalir ke pipinya.


Clara yang terus berada di sisi Ayahnya sejak dinyatakan terkena penyakit kanker pun tidak menyangka jika kondisi ayahnya yang awalnya stabil menjadi buruk.


Dokter yang datang dengan sangat cepat setelah dipanggil Clara pun langsung mengusir Clara keluar karena merasa akan mengganggu mereka dalam melakukan tindakan pertolongan.


"Maaf, Nona. Anda tidak bisa berada di sini. Anda harus menunggu diluar dan biarkan kami yang mengurus pasien!" ucap seorang Perawat dengan ekspresi wajah yang datar dan kalimat yang sopan dan terlihat buru-buru.


"Ta-tapi... Ayah!" ucap Clara yang mencoba untuk menolak diusir keluar sambil terus memanggil ayahnya agar segera sadar.


Clara yang merasa sangat sedih dan kesepian disana pun mengambil handphonenya dan mencoba menghubungi Ibunya tali ternyata nomornya tidak aktif sehingga membuat Clara menjadi sangat cemas.


Dalam kondisi yang seperti itu, Clara menghubungi Asisten Pribadi Ayahnya untuk mencari tau keberadaan Ibunya.


Namun sebelum Clara berhasil menelpon, Asisten Pribadi Ayah Clara ternyata telah berada di sana memberikan sebuah berita yang mengejutkan.


#Bersambung#

__ADS_1


Berita apa yang akan diterima oleh Clara? Kabar baik ataukah buruk? tebak jawabannya di kolom komentar ya..


__ADS_2