CEO Stops The Time

CEO Stops The Time
BAB 90. Izin


__ADS_3

Arabella yang telah berada di dalam kamarnya sambil bersandar di atas sofa pun mencoba menghungi Dimas dengan perasaan was-was.


"Srak!"


"Kring! Kring! Kring!" suara telepon berbunyi.


"Ada apa, bel?" tanya Dimas dibalik telepon dengan senyum lembut dan nada penuh perhatian di depan semua orang yang menghadiri rapat.


Orang-orang yang melihat perubahan sifat Dimas yang drastis semakin meyakinkan mereka untuk tidak membuat Arabella marah atau membenci mereka karena itu pasti akan berakibat buruk pada diri mereka sendiri nantinya.


"Tuan Muda sangat berbeda!"


"Aku merasa sepertinya matahari sudah terbit dari arah yang berlawanan!"


"Apa dunia akan segera tamat?"


Saat suara-suara rendah dari orang-orangnya mulai mengganggu telepon pertama dari Arabella, Dimas langsung meminta Arabella menunggu sebentar dan menyelesaikan rapat itu sesegera mungkin.


"Bel, bisa kau tunggu sebentar?" tanya Dimas dengan nada rendah dengan senyum bahagia sambil memberikan tatapan sinis ke arah orang-orang yang ada di depannya sehingga membuat suhu ruangan menjadi turun drastis.


"Ah, baiklah." jawab Arabella dengan wajah yang bingung dengan sikap yang patuh menunggu Dimas memulai pembicaraan kembali.


Dimas pun menutup teleponnya dengan tangan lalu melihat ke arah orang-orang yang sedang duduk dengan patuh dengan kepala tertunduk di depannya dengan mata elang.


"Rapat kali ini selesai sampai disini. Jika ada hal penting yang ingin disampaikan temui saya di ruangan. Kalian boleh bubar!" ucap Dimas dengan ekspresi kesal karena diganggu sambil berbicara dengan nada tinggi dan beberapa penekanan di beberapa kata dengan senyum sinis dan sorot mata yang tajam.


Semua orang yang merasa ingin mempertahankan posisi dan pekerjaan mereka bergegas kembali ke tempat kerja masing-masing dan dalam waktu lima menit ruangan itu pun menjadi kosong tanpa ada seorang pun kecuali Dimas bahkan Edo yang selalu bersama Dimas ikut pergi karena tidak ingin menjadi nyamuk dalam hubungan percintaan Tuannya.


"Hah, keputusan tepat aku pergi dari ruangan itu. Jika tidak aku pasti akan menjadi nyamuk!" gumam Edo dengan ekspresi wajah lelah sambil berjalan dengan santai dengan tangan di letakkan di belakang kepala.

__ADS_1


Dimas yang melihat tak ada seorang pun disana bergegas melihat handphonenya kembali.


"Bel!" panggil Dimas dengan ekspres wajah bahagia dan senang dengan senyum lembut dan nada bicara yang penuh perhatian.


"Ah, Dimas!" gumam Arabella yang terkejut saat Dimas tiba-tiba memanggil namanya.


"Hmmm, apa urusanmu sudah selesai? Maafkan aku yang sudah mengganggumu." ucap Arabella dengan perasaan bersalah dan dengan ekspresi wajah yang sedih serta mata senduh.


"Apa yang kau bicarakan? Aku tidak merasa terganggu, sama sekali tidak! Aku justru sangat senang karena kau menghubungiku duluan." ucap Dimas dengan penuh ketegasan dengan perasan bahagia.


"Hmmm, apa kau merindukanku? Makanya kau menghubungiku secepat ini padahal pagi tadi kita baru saja sarapan pagi bersama." ucap Dimas dengan pedenya dengan tawa bahagia.


"Aduh, kenapa Dimas jadi orang yang sangat narsis? Bagaimana aku menjawabnya? Aku menghubunginya karena ingin minta izin pergi dan bukan karena merindukannya. Jika kau mengatakan sejujurnya aku yakin Dimas pasti akan kecewa dan marah. Hah, sepertinya aku harus berbohong! Oh Tuhan, ampunilah aku!" ucap Arabella dalam hati sambil tersenyum kaku sambil menggaruk-garuk pipinya yang tidak gatal.


"Bel! Bel!" panggil Dimas dengan ekspresi cemas dan khawatir dengan keringat yang mengalir di pipinya.


"Apa kau masih disana? Apa kau baik-baik saja?" tanya Dimas berulang dengan ekspresi wajah khawatir dan nada suara yang bergetar.


"Syukurlah. Ah, kau pasti sangat kangen padaku makanya kau sampai gagap saat aku bilang aku kangen." ucap Dimas dengan penuh percaya diri dan senyum bahagia di wajahnya.


"I-iya dan aku kesepian disini!" ucap Arabella dengan nada rendah dan ekspresi wajah sedih yang dibuat-buat yang membuat Dimas menjadi tidak tega.


"Bukankah ada Ria yang menjadi pelayanmu yang akan menemanimu." ucap Dimas menegaskan tugas Ria sebagai Pelayan Pribadi Arabella.


"Iya, kau benar. Ria memang selalu disini menemaniku dan tidak pergi dari sisiku tapi aku merasa sangat bosan melakukan hal yang sama terus berminggu-minggu." ucap Arabella dengan ekspresi dan nada bicara yang sedih.


"Ah, Arabella pasti ingin pergi keluar. Wajar saja dia pasti merasa sangat bosan jika harus berada di Rumah terus tapi apa tidak apa-apa membiarkannya keluar?" tanya Dimas dalam hati dengan kebingungan yang terbaca jelas di setiap garis wajah Dimas.


"Dim, apa boleh aku keluar? Aku tidak akan pergi lama dan jauh. Aku hanya akan pergi ke Taman yang ada di sekitar sini. Aku merasa sangat bosan dan fikiranku menjadi buntu." ucap Arabella dengan ekspresi wajah yang sedih dan nada bicara yang rendah lalu dibut semenderita mungkin agar Dimas merasa iba.

__ADS_1


"Hah, sepertinya kau benar-benar membutuhkan refreshing apalagi kau mengalami banyak tekanan yang disebabkan oleh Clara!" ucap Dimas sambil menghela nafas panjang dengan ekspresi wajah pasrah.


"Baiklah. Aku mengizinkanmu pergi tapi kau harus membawa Pelayan Pribadimu dan dua orang Bodyguard untuk berjaga-jaga karena aku tidak mau hal buruk terjadi padamu. Apa kau mengerti?" tanya Dimas dengan keputusan mutlak yang tidak bisa dinegosisasi lagi dengan ekspresi wajah yang serius dan tanpa ekspresi.


"Hmmm, apa harus membawa Bodyguard?" tanya Arabella yang mengulangi ucapan Dimas dengan ekspresi dan nada bicara yang kecewa.


"Aku tidak ingin pengunjung Taman yang lain menjadi takut dengan adanya dua orang Bodyguard yang berjaga dengan wajah seram tanpa ekspresi dan pakaian hitam-hitam. Aku tidak mau menjadi pusat perhatian orang-orang." ucap Arabella lagi yang mencoba bernegosiasi dengan Dimas tentang keputusannya karena Dimas tidak ingin menyerah sebelum berperang.


"Tidak bisa. Aku tidak ingin hal buruk terjadi padamu. Apa kau lupa dengan hal buruk yang pernah terjadi padamu dulu!" ucap Dimas dengan nada tegas seolah tidak menerima saran apapun dan ekspresi wajah yang cemas dan khawatir di saat bersamaan.


"Aku tentu masih ingat tapi aku tidak ingin menjadi pusat perhatian orang-orang. Aku ingin menikmati hidup menjadi orang biasa meskipun aku tau jika statusku tidak mengizinkanku melakukan itu." ucap Arabella yang kecewa dengan nada sedih dengan mata senduh.


"Arabella terlahir dari kalangan orang biasa dan itu sangat berbeda dengan kehidupan masa lalunya yang seorang Anggota Keluarga Bangsawan. Dia masih membutuhkan waktu untuk beradaptasi dan aku tidak bisa memaksanya." ucap Dimas dalam hati dengan dengan dua tangan diletakkan di dagu seolah sedang berfikir keras.


"Hah, baiklah. Kau akan izinkan pergi berdua bersaman Pelayanmu tapi masalah dua orang bodyguard jangan khawatir mereka tidak akan membuatmu menjadi pusat perhatian." ucap Dimas dengan nada lembut dan penuh perhatian dan senyum misterius.


"Maksudnya?" tanya Arabella yang bingung sambil memiringkan kepalanya sedikit dengan pandangan mata ke atas seolah sedang mencerna setiap perkataan Dimas.


"Aku akan tetap mengirim dua orang Bodyguard untuk menjagamu tapi tidak disampingmu. Mereka akan berjaga dari jauh dan jika sesuatu hal buruk terjadi mereka akan langsung membantu. Aku jamin tidak akan ada seorangpun yang akan menyadari jika mereka adalah Bodyguard yang aku kirim untuk menjagamu." ucap Dimas dengan penuh perhatian.


"Ah, baiklah kalau begitu. Aku setuju." ucap Arabella dengan perasaan bahagia dengan nada ceria yang terlihat jelas di wajahnya.


Setelah mencapai tujuannya Arabella pun mematikan teleponnya dan memanggil Ria.


"Baiklah. Sudah diputuskan jika sore ini Nona akan pergi ke Taman untuk jalan-jalan jadi aku akan membantu Nona mengganti pakaian." ucap Ria dengan nada bahagia sambil berbalik arah mengambil pakaian ganti Arabella dengan penuh semangat dan ekspresi wajah yang ceria.


#Bersambung#


Jangan Lupa Like, Komen dan Vote ya..

__ADS_1


😊😍😘


Terima kasih


__ADS_2