CEO Stops The Time

CEO Stops The Time
BAB 138. Rencana Kembali


__ADS_3

Arabella yang sangat suka memasak mempunyai mimpi untuk memiliki Toko Makanan sendiri yang menjual makanan yang dibuat menggunakan resep darinya.


Arabella yang memutuskan untuk mengejar mimpinya pun meminta izin kepada Dimas untuk dapat pindah ke rumah orangtuanya dalam waktu cepat.


“Hmmm, aku harap Dimas menyukai kue buatanku. Aku ingin dia senang dan memberiku izin untuk kembali ke rumah orangtuaku!” gumam Arabella sambil melihat sebuah kue yang telah jadi di depan matanya dengan senyum yang lebar.


Arabella yang sangat mengetahui jika Dimas adalah orang yang sukses pun memutuskan untuk membawakan kue buatannya ke dalam Ruang Kerja Dimas.


“Masuklah!” ucap Dimas dengan nada suara yang cuek dan dingin dan ekspresi wajah yang datar dengan mata yang masih fokus dengan pekerjaannya.


Arabella yang merasa tidak nyaman karena mengganggu Dimas bekerja pun berniat untuk kembali tapi perkataan Dimas langsung membuatnya membatalkan niatnya.


“Bel! Apakah kau kemari ingin memberikanku kue itu?” tanya Dimas yang langsung menghentikan pekerjaannya dan memfokuskan dirinya pada Arabella.


“Hmmm, iya tapi sepertinya kau sedang sangat sibuk sekarang. Aku akan kembali lagi nanti hingga pekerjaanmu selesai.” Ucap Arabella dengan senyum kaku dan canggung sambil melihat makanan yang ada di tangannya dan Dimas secara bergantian.


“Tidak akan ada habisnya jika kau bicara soal pekerjaan. Aku akan selalu sibuk karena pekerjaan akan selalu ada. Oleh karena uitu, aku bisa mengambil waktu istirahat kapapun bahkan aku bisa menghentikan semua pekerjaanku hanya untuk bersamamu.” Ucap Dimas dengan senyum yang terlihat sangat tampan sambil berjalan ke arah Arabella dan mengambil nampan makanan dari tangannya lalu meletakkannya di atas meja.


“Kenapa kau diam saja? Kemarilah! Kita makan kue ini bersama-sama.” Ucap Dimas dengan senyum yang lembut dan tatapan mata yang menunjukkan isi hatinya sebenarnya.

__ADS_1


“Agh! I-iya.” Ucap Arabella yang akhirnya tersadar dari lamunannya dengan ekspresi wajah yang kaku sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.


Arabella pun duduk dengan manis di samping Dimas sambil menyerahkan sepotong kue kepada Dimas dengan tatapan mata yang menunggu respon.


“Hmmm, lucu sekali ekspresinya. Aku jadi ingin makan orangnya bukan kuenya!” gumam Dimas dengan nada suara yang sangat rendah dengan senyum yang penuh perhatian.


Dimas yang makan kue tersebut pun menjadi sangat terkejut dengan rasa yang ada di dalamnya hingga tanpa sadar memberikan komentar yang jujur.


“Ini enak sekali! Kue apa ini?” tanya Dimas dengan ekspresi bingung dan nada suara yang penasaran sambil melanjutkan memasukkan makanan satu per satu ke dalam mulutnya.


“Hmmm! Itu adalah Kue Brownis Lumer. Kau pasti belum pernah memakannya karena kau selalu makan dengan sendok Diamond.” Ucap Arabella dengan ekspresi wajah yang pahit seolah mengingat semua yang di alaminya saat masih kecil saat kedua orangtuanya masih utuh.


Arabella yang mendengar pujian dari Dimas pun menjadi sangat senang dan malu di saat bersamaan sehingga mmebuat Arabella hampir melupakan rencanya itu.


“Kue ini sangat enak. Terima kasih untuk makanannya.” Ucap Dimas dengan ekspresi wajah yang bahagia sambil mengambil tisu lalu mengelapnya di mulutnya.


“Hmmm, Dim! Ada yang ingin tanyakan?” ucap Arabella dengan ekspresi wajah yang bingung dan galau dengan wajah yang memerah dengan tatapan mata semua orang yang tertuju padanya.


“Katakan saja. Aku mendengarkan!” ucap Dimas dengan ekspresi wajah yang santai dan nada suara yang terdengar sangat tegas.

__ADS_1


“Hmmm, sekarang Clara sudah bukan ancaman lagi. Aku sangat berharap jika aku bisa melakukan sesuatu yang sangat aku senangi.” Ucap Arabella dengan ekspresi wajah yang penuh harap sambil menggenggam tangan Dimas.


“Katakanlah. Apa yang ingin kau lakukan?” tanya Dimas dengan ekspresi wajah yang datar dan tidak boleh.


“Aku ingin pindah dari sini secepat mungkin karena aku rasa tidak akan ada ancaman lagi nantinya.” Ucap Arabella yang sedang mencoba membujuk Dimas untuk setuju dengan kepala tertunduk ke bawah dengan ekspresi wajah yang dilema.


“Kau benar! Untuk sementara ini tidak akan ada yang mencoba untuk mencelakaimu karena baik Clara atau Heru sedang dalam situasi dan kondisi yang terpojok!” ucap Dimas dengan senyum jahil yang menunjukkan keperkasaannya.


“Apa maksudmu dengan terpojok, Dima?” tanya Arabella dengan ekspresi wajah yang bingung dan penasaran di saat bersamaan.


“Clara sedang dalam masalah besar karena baik karir mau kehidupannya pasti akan tamat!” ucap Dimas dengan senyum jahil yang membuat Arabella terpesona hingga pipinya menjadi merah” ucap Dimas dengan nada suara yang mengatakan kejujuran dan sesuai dengan kata hatimu.


“Selain itu Heru dia pergi ke Amerika untuk sementara waktu untuk menghindari pandangan orang tentang dirinya mengenai kasus perselingkuhan antara dirinya dan Clara.” Ucap Dimas lagi yang melanjutkan pembicaraannya dengan sikap yang dingin.


Arabella yang mendengar perkataan Dimas menjadi sangat lega dan kemudian lanjut dengan kelancaran rencananya.


“Hmmm, apakah aku boleh kembali ke Kediaman orangtuaku secepatnya.” Ucap Arabella dengan ekspresi wajah yang tida berhenti bahagia.


Dimas yang tidak mengatakan apapun setelah menjelaskan semuanya hanya diam saja di tempatnya dan Arabella yang tidak punya tujuan pun menjadi bimbang.

__ADS_1


#Bersambung#


__ADS_2