
Dimas yang tidak ingin melihat Pak Bambang pun memilih mengabaikannya lalu pergi meninggalkannya bersama Arabella.
Dimas yang tidak ingin membuat Arabella yang telah datang kecewa pun membalkan semua janjinya beberapa jam ke depan.
"Batalkan semua jadwalku beberapa jam ke depan!" perintah Dimas kepada Edo yang berada di belakangnya dengan nada suara yang datar sambil merangkul pinggang Arabella.
"Baik!" ucap Edo dengan singkat yang langsung menggerakkan jari-jari tangannya membatalkan semua jadwal Dimas satu per satu.
Arabella yang merasa tidak nyaman dirangkul di depan Edo pun mencoba untuk melepaskan diri tapi tidak bisa karena Dimas tidak ingin melepaskan dirinya dengan mudah.
"Sebaiknya kau diam saja jika tidak ingin penyamaran ini diketahui semua orang!" bisik Dimas di balik telinga Arabella dengan suara nafas yang pelan yang cukup membuat wajah Arabella memerah.
Arabella yang masuk ke dalam ruangan Dimas menjadi sangat tidak nyaman terutama dengan kejadian yang baru saja terjadi.
__ADS_1
"Apa ada yang ingin kau katakan?" tanya Dimas dengan ekspresi wajah yang datar sambil duduk di sofa dengan Arabella yang masih berdiri di depan Dimas.
"A-aku tidak tau apa yang telah terjadi. Semua terjadi dengan begitu cepat hingga aku tidak tau harus melakukan apa!" ucap Arabella dengan nada suara yang bergetar takut dengan ekspresi wajah bersalah dengan kepala tertunduk.
Dimas yang mendengar penjelasan Arabella pun hanya bisa menghela nafas panjang dan tidak bisa menyalahkan Arabella yang tidak bisa bergerak cepat menghadapi hal sulit yang dialaminya.
"Aku harus melatih Arabella agar hal ini tidak terjadi lagi. Aku tidak ingin diriya ditintas orang lain." ucap Dimas dalam hati dengan tatapan mata yang melemah.
"Baiklah. Aku mengerti tapi aku tidak ingin kau terluka. Jika aku tidak ada disana. Apakah kau tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi padamu nantinya jika kau diam saja?" tanya Dimas dengan ekspresi wajah yang tegas.
"Aku tidak ingin kau terluka atau sakit jika perlu biar aku saja yang merasakannya!" ucap Dimas dengan nada suara yang rendah dengan ekspresi wajah yang sedih.
Arabella yang mendengar perkataan Dimas pun hanya mengatakan maaf dan berjanji agar Dimas tenang.
__ADS_1
"Maaf! Aku tidak bermaksud membuatmu khawatir. Aku hanya ingin mengantarkan ini padamu." ucap Arabella dengan ekspresi wajah yang sedih sambil menunjukkan kotak makanan yang dibawahnya.
"Aku tidak tau jika hal ini akan terjadi. Aku hanya tidak ingin menarik perhatian orang-orang dengan kedatanganku tapi sepertinya aku malah membuat semua orang lebih tertarik dengan keberadaanku." ucap Arabellea dengan ekspresi wajah yang sedih dengan nada suara yang rendah.
"Maaf dan aku janji hal ini tidak akan terjadi lagi. Aku tidak ingin membuatmu dalam khawatir padaku seperti ini." ucap Arabella dengan ekspresi wajah yang sedih dengan air mata yang menetes ke pipinya.
"Jangan menangis. Aku mengerti. Aku tidak marah padamu. Aku hanya ingin kau mengerti jika hidupmu tidak bisa seperti dulu lagi. Kau tidak bisa menghindari tatapan orang tentangmu." ucap Dimas memberikan nasehat kepada Arabella dengan nada suara yang lembut.
"Kau adalah Tuananganku, Dimas Arthama Jaya, dan Istriku di masa depan. Kau punya kekuatan untuk menghadapi semua orang." ucap Dimas dengan ekspresi wajah yang serius dan tatapan mata yang tajam.
"Aku mengerti dan aku akan mengingatnya selalu." ucap Arabella dengan tatapan mata yang tajam dan ekspresi yang menunjukkan keyakinan yang kuat.
Setelah mengatakan hal itu, Dimas pun mencoba menikmati makanan yang dibawakan Arabella khusus untuknya dengan ekspresi wajah yang bahagia.
__ADS_1
#Bersambung#