CEO Stops The Time

CEO Stops The Time
BAB 135. Pertemuan dengan Clara


__ADS_3

Dimas yang telah siap pun duduk di atas sofa sambil memegang layar pintarnya yang besar menunggu kedatangan Arabella.


"Tuan Muda, saya mendapatkan kabar bahwa Clara dan Ibunya telah ada di Kantor sekarang." ucap Edo yang berdiri di samping Dimas dengan nada bicara yang datar dan wajah tanpa ekspresi.


"Aku mengerti. Kau pergi dan siapkan mobil. Kita akan segera pergi setelah Bella selesai berdandan." ucap Dimas dengan nada suara yang dingin dengan tatapan mata yang tajam.


"Baik, Tuan Muda." ucap Edo sambil menundukkan kepala dengan satu tangan ada di dada lalu berjalan pergi menjauh.


Arabella yang baru saja sampai melihat Edo yang merupakan orang kepercayaan Dimas pergi menjadi sangat penasaran.


"Kenapa Edo pergi?" tanya Arabella ketika sampai di hadapan Dimas dengan ekspresi wajah yang penasaran yang membuat Dimas merasa tidak senang.


"Lalu kenapa?" tanya Dimas nada suara yang dingin dengan ekspresi wajah yang datar dengan tatapan mata yang tajam.


Arabella yang mendapatkan jawaban sinis dari Dimas pun tidak bisa menahan tawanya saat menyadari Dimas yang salah paham dengan pertayaannya.


"Hahaha... Apa kau cemburu?" tanya Arabella dengan ekspresi wajah hang cerah sambil menggoda Dimas yang sedang serius.


"Ayolah. Jangan memandangku seperti itu. Aku hanya penasaran dan tidak punya niat lain karena bisanya Edo selalu ada di sisimu dan saat dia pergi aku khawatir ada suatu masalah yang terjadi." ucap Arabella dengan ekspresi wajah yang jujur dengan senyum yang tulus.


Dimas yang mendengar bahwa Arabella mengkhawatirkannya pun tersenyum cerah lalu menarik Arabella duduk di pangkuannya.


"Di-dimas! Apa yang kau lakukan? Lepaskan aku! Ini masih pagi dan bagaimana jika ada seseorang yang melihat!" ucap Arabella yang gagap dengan ekspresi wajah yang panik yang membuat Dimas semakin senang menggodanya.


"Hmmm, biarkan saja mereka melihatnya. Aku tidak peduli yang penting kau ada di sisiku." ucap Dimas dengan ekspresi wajah yang nakal dengan senyum yang cerah yang membuat wajahnya yang tampan semakin tampan.


"Hmmm, kau yang tidak peduli tapi aku peduli." ucap Arabella yang kesal sambil mendorong bahu Dimas dengan keras lalu melarikan diri dengan dua tangan bersilang di depan dada.

__ADS_1


"Hahaha... Baiklah. Maafkan aku. Sepertinya Edo sudah mamanaskan mesin mobil. Kita harus pergi sekarang karena Clara dan Ibunya sudah ada di Perusahaan." ucap Dimas dengan wajah yang datar dan tatapan mata yang mengerikan saat menyebut nama mantan kekasihnya sambil berdiri di depan Arabella.


Arabella yang mengingat tujuan utama dirinya bertemu Dimas di pagi hari pun langsung menganggukkan kepala dan menggapai uluran tangan Dimas menuju ke mobil.


Dimas dan Arabella yang telah mencapai batas kesabarannya pun pergi menemui Clara dan memberinya pelajaran terakhir serta dengan tujuan membeberkan semua kejahatan Clara selama ini kepada orangtuanya yang tidak bisa mendidiknya dengan baik.


Dalam waktu singkat, Dimas yang menyetir mobil sendiri pun sampai di Perusahaannya dan berjalan masuk menggunakan lift khusus.


"Apakah kita akan menemuinya bersama?" tanya Arabella yang merasa gugup dengan ekspresi wajah yang tertekan.


"Rilekskan dirimu. Jika kau tidak sanggup, aku akan menemuinya sendiri mewakili dirimu." ucap Dimas yang telah berada di dalam lift dengan nada suara yang cemas dan tatapan mata yang khawatir.


"Tidak! Aku ingin bertemu dengannya langsung. Aku ingin melihat wajah orang yang telah merencakan hal yang sangat keji itu padaku." ucap Arabella yang langsung mengubah ekspresi wajahnya dengan penuh keyakinan dan percaya diri.


"Baiklah. Lakukan apapun sesukamu. Aku yang akan bertanggungjawab nanti. Aku akan membereskan semuanya untukmu." ucap Dimas sambil mengelus kepala Arabella dengan lembut yang langsung mendapatkan anggukan percaya diri dari Arabella.


Di dalam sebuah ruangan yang minimalis, Clara dan Ibunya yang sedang menunggu kedatangan Dimas mulai merasakan perasaan was-was dan cemas hingga membuat Clara berjalan bolak balik di dalam ruangan seperti sedang menyetrika.


"Dim..." ucap Clara yang langsung berbalik saat mendengar suara pintu terbuka dengan ekspresi wajah ceria yang langsung berubah datar saat melihat Arabella yang juga hadir di samping Dimas.


"Ka-kau! Kenapa kau di sini?" tanya Clara yang langsung menunjukkan perasaan tidak sukanya dengan tatapan mata yang penuh dengan kebencian sambil menunjukkan telunjuknya ke arah Arabella.


Arabella yang mendapatkan pernyataan yang tidak menyenangkan itu pun tidak takut sama sekali bahkan langsung memasang wajah percaya diri.


"Lalu kenapa? Kenapa aku tidak boleh di sini? Aku adalah Tunangannya Dimas dan kami akan segera menikah. Aku tidak bisa membiarkan calon suamiku dirayu oleh ular berbisa sepertimu!" ucap Arabella dengan berani mengingat semua hal buruk yang dialaminya karena Clara.


"Ka-kau! Kau hanya wanita rendahan yang telah merebut Dimas dariku! Kau adalah seorang p*****r!" ucap Clara yang langsung menghina Arabella dengan kata yang sangat kasar.

__ADS_1


"Plak!" suara tamparan yang langsung mendarat di wajah Clara yang membuat semua orang yang ada terkejut termasuk Edo dan beberapa staf karyawan lain yanh juga mengintip dari pintu yang masih belum tertutup dengan rapat.


"Kau menghinaku dengan kata-kata seperti itu lalu bagaimana denganmu yang memiliki hubungan lain dengan Heru saat masih bersama Dimas bahkan sampai keluar masuk hotel bersama." ucap Arabella dengan sangat keras sambil meminta bukti foto kepada Edo.


"Kau bahkan sudah benar-benar seperti wanita penghibur yang menggunakan tubuhnya memuaskan nafsu pria lain yang tidak lain adalah saingan kekasihmu dalam Hak Waris!" teriak Arabella sambil melemparkan puluhan bukti foto perselingkuhan Clara dengan Heru di berbagai tempat seperti di kolam renang, pantai, restoran bahkan kamar dan lobi hotel.


Semua orang yang mendengar pernyataan itu pun menjadi terkejut tapi tidak bisa membantah setelah melihat puluhan foto yang berserakan di lantai tak terkecuali Ibu Clara yang kehilangan keseimbangannya hingga terduduk kembali di sofanya.


Clara yang menolak kenyataan mencoba membela dirinya di hadapan semua orang sambil berlari ke arah Dimas dengan harapan Dimas mempercayai kebohongan kecilnya.


"Tidak! Itu tidak benar! Semuanya fitnah! Foto itu semuanya editan!" teriak Clara dengan ekspresi wajah yang telah putus asa tapi dengan sedikit harapan di matanya.


Dimas yang tidak ingin disentuh oleh Clara langsung mendorong Clara menjauh saat Clara mencoba menggapai tangannya yang langsung di tangkap bodyguard agar Clara tidak terluka karena Dimas tidak mau Clara menggunakan lukanya untuk membalik keadaan.


"Hentikan kebohonganmu! Aku sudah mengetahui semuanya atau apa kau ingin aku menyewa satu stasiun televisi untuk memutar adegan panas dan suara erangan kenikmatan kau dan sepupuku tersayang yang sedang menikmati surga dunia.?" tanya Dimas dengan senyum yang sinis dan licik dengan ekspresi wajah yang bahagia.


"Tidak!" teriak Clara sangat keras yang langsung menusuk gendang telinga dua bodyguard yang masih memegang tubuh Clara.


Clara yang merasa karirnya telah hancur pun merasa semakin terancam setelah mendengar perkataan Dimas.


"Kau telah salah bermain api di belakangku Clara! Aku yang hanya akan mempelakukan orang sebagaimana memperlakukanku. Sebagai wanitaku, aku selalu menjadikanmu Ratu. Aku memberikanmu semuanya dan mewujudkan impian terbesarmu bahkan aku yang dalam bayangan selalu membantu bisnis keluargamu tapi sebagai musuh. Aku juga bisa menghancurkanmu hingga tak bersisa!" ucap Dimas dengan tatapan mata yang kejam dan ekspresi wajah yang dingin.


"Ti-tidak! Aku mengaku salah. Aku menyadari kesalahanku. Aku mohon maafkan aku." ucap Clara yang melepaskan tubuhnya dari bantuan dua bodyguard dan langsung berlari menyentuh kaki Dimas yang langsung ditariknya mundur.


"Aku mengaku salah. Ayo kita mulai lagi semuanya dari awal. Aku berjanji tidak akan mengulangi kesalahan yang sama. Aku yakin kau pasti masih mencintaiku bukan? Kau melakukan semua ini untuk membuatku sadar dan kembali padamu, bukan?" tanya Clara dengan ekspresi wajah yang terlihat seperti terkena gangguan jiwa.


"Masih mencintaimu? Hahaha... Itu hanya ada dalam ilusimu saja!" ucap Dimas yang tertawa dengan sangat keras dengan senyum sinis menatap tajam Clara.

__ADS_1


"Wanita yang aku cintai adalah Dia dan bukan dirimu. Kau bahkan belum menyadari kesalahan terbesarmu dan kau berani datang kemari bersama Ibumu untuk meminta bantuanku. Jangan bermimpi!" ucap Dimas yang langsung merangkul pinggang Arabella ke pelukannya dan menatap tajam dengan tatapan merendahkan ke arah Clara dan Ibunya secara bergantian.


#Bersambung#


__ADS_2