
Clara yang menyadari jika dirinya hanya seorang diri dan tidak ada seorangpun yang akan membantu ataupun menyemangatinya pun menjadi depresi.
“Ayahku sudah tiada dan Ibuku pun pergi meninggalkanku sendiri! Perusahaan Keluargaku sudah hancur dan begitu pula dengan karirku yang sudah tamat! Aku yang tidak memiliki harta ataupun uang sepesenpun, bagaimana aku bisa menjalani hidup ini?” tanya Clara dengan nada suara yang pilu dengan ekspresi wajah yang putus asa sambil berdiri di depan balkon kamar Ayah dan Ibunya sendirian.
“Aku bahkan sedang mengandung anak dari Pria yang aku sendiri tidak tau siapa ayahnya!” gumam Clara dengan nada suara yang terdengar sangat menyedihkan dengan ekspresi wajah yang sangat depresi dengan tawa yang tiba-tiba menghiasi wajahnya.
Clara yang berdiri di depan balkon sendirian dengan tatapan mata yang kosong tiba-tiba memegang perutnya.
“Nak, aku tidak menginginkanmu bukan karena aku membencimu tapi karena aku tidak akan pernah bisa menerima keberadaanmu di dalam hidupku!” gumam Clara dengan nada suara yang pilu dengan air mata yang jatuh ke pipinya.
“Aku bukanlah orang yang baik. Aku tidak akan bisa menjadi orangtua yang baik untukmu!” gumam Clara pada dirinya sendiri sambil terus mengelus-elus perutnya.
Clara yang merasa hidupnya hampa pun memejamkan matanya sambil meneteskan air mata terakhir lalu membukanya dengan tatapan mata yang tajam seolah telah membuat keputusan.
Clara yang berjalan masuk ke dalam kamar kembali pun membuka laci kanan di samping tempat tidur Ibunya dan mengambil sebotol obat dan membuka tutupnya.
Clara yang tidak ingin hidup lagi pun memutuskan untuk mati bersama dengan anak yang ada di dalam kandungannya.
“Aku tidak akan bisa melahirkanmu jadi lebih baik kita mati bersama!” ucap Clara dengan nada suara yang tegas dengan ekspresi wajah yang penuh percaya diri sambil menelan puluhan Pil Tidur yang ada di dalam botol obat yang ada di tangannya dalam sekali telan dan memasukkan air ke dalam mulutnya untuk memastikan semua pil itu tertelan semua.
Clara yang meminum banyak sekali Pil Tidur tiba-tiba merasakan kepalanya sangat sakit dan seluruh tubuhnya kehilangan keseimbangannya.
“Agh! Kepalaku!” gumam Clara dengan suara yang lirih sambil memegang kepalanya yang terasa sangat sakit hingga tanpa sadar menjatuhkan gelas air yang ada di atas meja kecil.
Clara yang tidak bisa menahan rasa sakitnya lagi dan juga telah kehilangan kekuatan tubuhnya pun akhirnya terjatuh ke lantai dengan mata yang perlahan terpejam hingga akhirnya tidak merasakan apapun lagi.
__ADS_1
Semua orang yang mendengar adanya suara orang yang jatuh dan gelas yang pecah pun bergegas ke sumber suara dan melihat Clara yang sedang terbaring di lantai dalam posisi yang tidak wajah dengan botol dan beberapa pil obat di sekitarnya.
Asisten Pribadi Ayah Clara yang belum pergi meninggalkan Kediaman Clara langsung mengangangkat Clara dan membawanya ke Rumah Sakit tapi sayangnya ternyata nyawa Clara tidak tertolong lagi.
Clara yang sedang mengandung pun dinyatakan meninggal bersama dengan bayinya hingga akhirnya berita Clara yang meninggal karena bunuh diri pun menjadi Berita Utama di seluruh Televisi, Surat Kabar, dan Berita Online.
Arabella yang sedang membuat beberapa makanan di dapur tiba-tiba menjadi sangat terkejut dengan berita yang disampaikan Ria padanya.
“Nona! Nona! Nona! Ada kabar gembira!” teriak Ria dengan sangat keras dengan ekspresi wajah yagn bahagia sambil berlari dengan langkah besar menuju Arabella.
“Kabar gembira? Kabar gembira apa? Apakah ada yang ingin memesan makanan dalam jumlah yang banyak?” tanya Arabella dengan ekspresi wajah yang polos dengan tatapan mata yang penasaran dan ekspresi wajah yang bingung.
“Tidak! Bukan itu, Nona! Ayo tebak lagi, Nona.” Desak Ria dengan ekspresi wajah yang bahagia dengan senyum cerah yang tidak bisa lepas dari bibirnya.
“Apa? Aku tidak tau berita gembira apa yang kau maksud? Apakah ini tentang Dimas?” tanya Arabella lagi yang tidak memiliki pikiran apapun tentang berita yang akan disampaikan Ria padanya.
“Hmmm! Nenek Lampir? Clara?” ucap Arabella yang mencoba menebak julukan yang diberikan Ria pada seseorang yang sangat dibencinya.
“Tentu saja Nona Clara siapa lagi kalau bukan Nona Clara yang Seorang Nenek Lampir!” ucap Ria dengan ekspresi wajah yang kesal dan marah dengan tatapan mata yang tajam saat mengingat semua hal buruk yang dialaminya karena rencana jahat Clara untuk memebuat Arabella dinodai.
Arabella yang mengetahui jika Clara sedang dalam keadaan yang sulit dan bahkan berduka karena telah kehilangan Ayahnya pun tidak bisa menebak berita apa lagi yang terjadi pada Clara.
“Berita baik tentang Clara? Berita baik apa?” tanya Arabella yang bingung tatapan mata yang penasaran dengan alis yang naik ke atas.
“Nona Clara telah meninggal. Dia meninggal karena bunuh diri dengan meminum puluhan obat tidur dalam sekali minum!” ucap Ria dengan ekspresi wajah yang sangat bahagia karena merasa sangat senang akhirnya orang yang membuatnya sengsara dan orang yang telah merusak hubungan Tuan dan Nonanya telah benar-benar menghilang dari muka bumi ini.
__ADS_1
“Apakah Nona tau? Ada berita yang lebih mengejutkan lagi ternyata Nona Clara meninggal bersama dengan bayi yang sedang dikandungnya!” ucap Ria dengan nada suara yang sinis dengan tatapan mata yang seperti seorang penyampai berita televisi yang biasa menyampaikan berita buruk tentang artis-artis yang bermasalah.
“A-apa?” teriak Arabella yang terkejut dengan mata yang terbuka lebar dengan tangan yang tanpa sadar menutup mulutnya.
“Clara!” ucap Arabella yang tiba-tiba merasa kasihan dan sedih dengan meninggalnya Clara terlepas dari semua kesalahan yang telah dilakukan Clara padanya.
****
Keesokan harinya, Berita tentang kematian Clara telah menyebar ke seluruh Indonesia bahkan hingga sampai ke seluruh Dumia.
Meskipun tidak ada seorangppun yang menyukai sikap dan sifat Clara tapi semua orang merasa kasihan kepada Clara yang harus memilih bunuh diri bersama dengan bayi yang dikandungnya.
Dimas yang tidak ingin datang ke Pemakaman Clara akhirnya datang bersama dengan Arabella setelah semua orang pergi dan tidak ada lagi orang yang ada di sekitar Makam.
“Aku memaafkan semua yang kau lakukan padaku di kehidupan yang lalu tapi aku tidak bisa memaafkan semua yang kau lakukan pada Arabella di kehidupan ini! Semoga kau tenang di sana!” ucap Dimas dalam hati dengan ekspresi wajah yang dingin dan tatapan mata yang tajam.
Arabella yang juga tidak bisa mengatakan apapun di depan Makam Arabella hanya meletakkan setangkai bunga mawar putih sebagai tanda bahwa dirinya telah ikhlas dengan semua yang telah terjadi di masa lalu.
Dimas dan Arabella yang telah berada di dalam mobil untuk kembali ke Rumah Arabella membuat Arabella yang masih belum percaya dengan kematian Clara pun hanya duduk di dalam mobil.
Dimas yang melihat hal itu pun menjadi khawatir dan mencoba mencairkan suasana.
“Jangan dipikirkan lagi. Biarkan dia tenang di sana! Dia sudah mendapatkan hukuman atas semua kejahatannya di dunia ini!” ucap Dimas dengan nada suara yang datar dan tanpa ada rasa simpati.
“Aku mengerti.” Ucap Arabella yang dapat memahami alasan dari dinginnya sikap Dimas atas kematian Clara.
__ADS_1
“Jangan khawatir aku baik-baik saja!” ucap Arabella yang tersenyum dengan lembut sambil menatap Dimas dengan wajah yang ceria.
#Bersambung#