CEO Stops The Time

CEO Stops The Time
BAB 110. Ketakutan Shaha II


__ADS_3

Shaha yang sudah mendapatkan pelajaran dari sikapnya berubah menjadi lebih sopan dan tidak lagi bersikap sombong dan arogan di dalam Apartemen Clara namun dibalik itu semua Shaha menyimpan rasa dendam dan sakit hati yang besar terhadap semua perilaku Clara.


"Aku adalah orang yang masih tergolong baru di dunia ini dan aku masih belum mengenal banyak orang-orang hebat di dunia hiburan. Aku harus bersabar dan mencari celah nantinya untuk membalas Clara." ucap Shaha dalam hati dengan tangan terkepal sambil memegang penah dan selembar buku catatan kecil.


Clara yang sudah merasa baikan setelah menghajar Shaha pun mencoba menghadapi kenyataan lagipula sampai detik ini tidak ada apapun yang terjadi.


"Aku merasa lebih baik sekarang. Sepertinya anak baru ini bagus juga." ucap Clara dalam hati sambil melihat ke arah Shaha yang sedang duduk di depannya sambil mengutak-atik handphone dan buku kecil yang ada di depannya.


"Aku harus maju dan mencari jalan keluar untuk mengalahkan Arabella dan sepertinya Dimas masih memiliki hati padaku buktinya dia masih tidak bertindak setelah mengetahui bahwa aku pelaku dari semua kekacauan yang terjadi." ucap Clara dalam hati lagi dengan penuh percaya diri sambil meletakkan satu tangan di dagunya seolah sedang berfikir.


Saat Clara sedang memikirkan cara untuk membalas Arabella tiba-tiba ponselnya berbunyi dan mengagetkan dirinya yang sedang melamun.


"Kring! Kring! Kring!" suara handphone berbunyi.


"Ya ampun, aku harus mengganti nad deringku. Aku benar-benar terkejut karenanya. Siapa yang menghubungiku di jam segini?" tanya Clara dalam.hati dengan ekspresi wajah yang penuh dengan rasa penasaran.


"Hah, Sutradara Bramasta!" ucap Clara dengan spontan sambil melihat nama yang tertera di layar handphonenya.


"Hallo, Sutradara! Apa ada sesuatu yang terjadi sehingga anda menghubungiku?" tanya Clara tanpa basa-basi sambil meletakkan handphone itu di samping telinganya dengan wajah yang malas.


"Agh, kau selalu seperti biasanya, berbicara langsung ke pokok permasalahan dan aku suka itu. Baiklah, aku akan langsung ke intinya." ucap Sutradara Bramasta sambil tertawa riang dengan senyum percaya diri.


"Kau tidak ada partner untuk datang ke Acara Penghargaan Internasional, bukan? Bagaimana jika kau datang bersamaku? Lagipula aku adalah Sutradara yang cukup terkenal." ucap Sutradara Bramasta dengan nada yang penuh percaya diri dan senyum pasti di wajahnya.


"Datang ke Acara Penghargaan bersamamu? Kenapa kau fikir aku akan setuju?" tanya Clara dengan nada yang dingin dan ekspresi wajah yang kesal.


Shaha yang duduk bersebrangan dengan Clara mendengar apa yang dikatakan Clara memiliki ide yang bagus untuk meningkatkan jumlah tawaran kerja untyk Clara ke depannya.


"Apakah itu Sutradara Bramasta yang terkenal itu? Jika Sutradar itu datang bersama Nona Clara maka akan banyak sekali wartawan yang meliput dan membicarakan mereka dan itu akan membuat Nona Clara mendapatkan banyak tawaran pekerjaan. Nona Clara harus menyetujui ini!" ucap Shaha dalam hati dengan mata yang telah berubah berbentuk uang dengan senyum misterius di bibirnya.

__ADS_1


Shaha yang tidka ingin kehilangan kesempatan pun segera merebut handphone Clara dan mengiyakan penawaran Sutradara Bramasta lalu menutup teleponnya sehingga membuat Clara menjadi marah.


"Srak!"


"Tu-tuan Sutradara, apakah anda ingin menjadi Partner Nona Clara dalam Acara Penghargaan Internasional itu tentu saja bisa. Tuan Sutradara bisa datang besok dan menjemput Nona di Apartemennya dan saya akan mengirimkan alamat dan jamnya." ucap Shaha dengan terburu-buru dengan satu tarikan nafas yang membuat wajahnya menjadi merah dan berkeringat di sekujut tubuhnya.


"Benarkah? Baiklah kalau begitu tapi aku bicara dengan siapa ini?" tanya Sutradara Bramasta dengan nada sopan dengan ekspresi wajah yang bahagia.


"Saya Shaha, Manager baru, Nona Clara!" ucap Shaha dengan penuh percaya diri dengan senyum senang di wajahnya.


"Baiklah. Aku menunggu kabarmu, Nona Manager!" ucap Sutradara Bramasta dengan senyum licik.


"Sialan! Manager Baru ini benar-benar lancang! Dia tidak hanya langsung merebut handphoneku bahkan mencoba menjualku kepada Si Tua Bangka itu! Sepertinya hukuman yang kemarin terlalu ringan untuknya." ucap Clara dalam hati dengan ekspresi wajah yang memerah karena menahan amarah sambil menggenggam erat tangannya hingga membuat telapak tangannya menjadi sakit karena tajamnya kuku Clara.


Clara yang tidak tahan lagi langsung merebut handphonenya lalu melemparkannya ke dinding dan menapar Shaha dua kali di pipi kanan dan kirinya.


"Syuh!"


"Plak! Plak!" suara tamparan pipi.


"Ka-kau!" teriak Shaha dengan terbata-bata dengan nada yang keras dan eskpresi wajah terkejut dengan tindakan Clara dengan mata melotot tajam.


"Sepertinya kau tidak mendapatkan pelajaran dari apa yang sudah terjadi tadi pagi! Sekarang kau berani menjualku demi ketenaran dan uang!" ucap Clara dengan nada sarkastik dan sorot mata yang tajam dan ekspresi wajah yang penuh dengan kemarahan.


"Kau hanyalah rakyat jelata yang tidak memiliki kekuatan ataupun kekuasaan apapun dan kau berani bersikap sombong di depanku!" ucap Clara yang telah berdiri di depan Shaha sambil mencengkram pipi Shaha dengan sangat keras.


"Jika aku tidak memberimu pelajaran yang benar kali ini, kau pasti akan berulah lagi seperti saat ini." ucap Clara lagi dengan senyum jahat sambil berbisik perlahan di telinga Shaha.


Clara yang sangat marah dengan perbuatan Shaha tidak bisa mentoleransi perbuatannya sehingga Clara pun mengambil cip nomor handphonenya dan meletakkannya di handphone miliknya yang lain.

__ADS_1


"Srak!"


Clara yang sangat kesal karena tidak bisa membalas Arabella memilih untuk memberikan pelajaran kepafa Shaha yang akhirnya membuat Shaha bersujud dan menyembah di kaki Clara dengan tangisan yang tiada hentinya.


"Karena aku tidak bisa membuat Arabella hancur maka kau yang akan menggantikan tempatnya merasakan hancur yang sebenarnya." ucap Clara dalam hati sambil tersenyum senang sambil memainkan layar handphonenya.


Clara yang telah memulihkan nomor yang ada di handphone barunya pun segera menghubungi seseorang.


"Lakukan eksekusi pertama." ucap Clara dengan nada sedang dan ekspresi wajah yang dingin sambil menatap Shaha yang masih terduduk di lantai.


Tak butuh waktu lama, layar handphone Shaha pun berbunyi dan Shaha yang mendapatkan telepon dari ibunya merasakan firasat yang sangat buruk sambil menatap wajah Clara.


"Kring! Kring! Kring!"


"I-ibu!" gumam Shaha dengan suara rendah sambil melihat ke layar handphonenya dengan ekspresi wajah bimbang dan terkejut.


"Deg!"


"Kenapa menatapku? Angkat saja, mungkin saja itu penting!" ucap Clara dengan santai sambil mengangkat kedua tangannya sambil tersenyum sinis.


Shaha pun mengangkat panggilan telepon itu sambil terus menatap wajah Clara dan saat mendengar apa yang dikatakan ibunya seketika itu juga seluruh tubuh Shaha menjadi lemah hingga handphonenya terlepas dari genggaman.


"Sha, Shaha... Bagaimana ini? Apa yang telah terjadi? Kenapa semua perawatan dan pengobatan ayahmu dihentikan? Kita bahkan diusir dari rumah sakit dan ibu juga mendengar bahwa Keluarga kita telah di blacklist dari semua Rumah Sakit jadi ayahmu tidak akan bisa mendapatkan perawatan lagi!" ucap Ibu Shaha dengan tangisan yang tiada hentinya diiringi dengan suara tangisan lainnya dari balik layar telepon.


"Tak!"


"No-nona! Nona saya salah! Saya benar-benar bersalah. Saya mohon Nona jangan hukum keluargaku, anda boleh melakukan apapun padaku tapi saya mohon nona tolong izinkan ayah mendapatkan perawatannya." ucap Shaha sambil bersujud di bawah kaki Clara dengan tangisan yang membuat air ingusnya keluar.


Clara yang tidak pernah memiliki rasa prihatin ataupun belas kasihan kepada siapapun menatap tajam ke arah Shaha seolah melihat seekor semut yang dapat dihancurkan kapanpun.

__ADS_1


#Bersambung#


__ADS_2