CEO Stops The Time

CEO Stops The Time
BAB 112. Rumah Sakit A


__ADS_3

Shaha yang melihat kepergian Clara dan Asisten Rumah Tangga pun segera bergegas pergi ke Rumah Sakit untuk menemui Keluarganya.


"Aku harus segera pergi menyelamatkan ayah." ucap Shaha dalam hati sambil bergegas bangun dari tempatnya lalu menghapus air matanya dan keluar dari Apartemen Clara.


Shaha yang sangat mengkhawatirkan keselamatan ayahnya pun tanpa fikir panjang langsung naik taksi dan pergi menuju ke Rumah sakit.


"Ayah! Aku datang!" ucap Shaha yang langsung masuk ke dalam ruangan rumah sakit tempat ayahnya dirawat dengan nafas yang tidak beraturan.


Namun, tanpa diduga Shaha yang telah tiba di Rumah Sakit baru mendapatkan kabar jika ayahnya telah pindah ke Rumah Sakit lain yang akhirnya membuat Shaha kebingungan dan cemas di saat bersamaan.


"Ayah! Ayah! Ibu! Adik! Dimana kalian?" tanya dan panggil Shaha berulang kali sambil bolak-balik masuk ke dalam ruangan dan kamar mandi untuk memastikan keberadaan keluarganya.


"Apakah anda Nona Shaha?" tanya seorang pria paruh baya yang juga memakai seragam pasien dengan hati-hati.


"Iya, Saya Shaha. Apa bapak melihat ayah, ibu dan adik saya? Merek ada di ruangan ini." ucap Shaha dengan ekspresi wajah yang cemas dengan keringat yang terus mengalir di dahinya.


"Iya, saya melihatnya. Saya dengar mereka pindah ke rumah sakit lain. Oh ya, ada seorang wanita muda dan cantik yang datang membawa orangtua anda pergi. Dia membayar saya untuk menyerahkan surat ini kepada anda." ucap pria paruh baya itu dengan jujur dan tanpa ada rasa curiga sedikit pun.


"Surat!" ucap Shaha dengan mengulang kata itu dengan ekspresi wajah yang bingung sambil mengulurkan tangan mengambil surat dari tangan pria paruh baya itu.


"Terima kasih pak." ucap Shaha setelah menerima surat itu dan menundukkan kepala tanda hormatnya.


"Sama-sama. Kalau begitu saya permisi dulu ya, nak." ucap Pria paruh baya itu dengan santai lalu berbalik dan pergi dengan tenang meninggalkan Shaha sendiri di depan pintu.


Shaha pun masuk kembali ke dalam ruangan dan membaca surat yang ada ditangannya dengan seksama.


***Untuk Nona Shaha


Orangtua dan adikmu sudah aman saat ini. Mereka ada di Rumah Sakit A di ruangan Violet. Anda bisa melihat dan memastikan keadaan mereka sendiri.


Jika anda ingin tau siapa saya dan alasan saya membantu anda. Anda bisa ke Toko Bungga Rossa dan tunjukkan segel yang ada di surat ini kepada pelayan disana***.


Shaha yang telah membaca surat itu segera keluar ruangan dan pergi menuju ke Rumah Sakit A menemui keluarganya.


Shaha yang baru saja sampai tidak sengaja bertemu dengan adik perempuannya dan tanpa disadarinya. Shaha pun langsung berlari memeluk adiknya dan menangis.

__ADS_1


"Sheila!" panggil Shaha dengan sangat keras sambil berlari dan memeluk adiknya dengan snagat erat.


"Huuhh.. Huuhhh.." suara tangisan Shaha dengan sangat keras hingga membuat Sheila pun memeluk balik Shaha.


"Kakak jangan menangis. Ayo, aku akan mengajak kakak untuk bertemu ayah dan ibu." ucap Sheila dengan lembut dan penuh dengan rasa kasih sayang sambil tersenyum bahagia.


Shaha yang mendengar apa yang dikatakan Sheila pun melepaskan pelukannya dan mengangguk tanda setuju.


Shaha pun pergi bersama adiknya untuk menemui ayah dan ibunya yang sedang menunggu kedatangan Shaha.


Ketika sampai di dalam ruangan, Shaha langsung memeluk ayahnya yang sedang berbaring di atas tempat tidur dengan selang yang ada di dalam hidungnya.


"Ayah! Maafkan anakmu yang tidak berbakti ini! huuhh... Huhhhh...Huuhhh.." ucap Shaha sambil menangis dengan air mata yang mengalir deras ke pipinya.


"Ayah baik-baik saja. Jangan khawatir." ucap ayah Shaha sambil membelai rambut Shaha dengan lembut dan nada bicara yang lembut.


Shaha yang telah merasa lebih baik pun merawat ayahnya hingga Ayahnya pun tertidur dan Shaha pun mencari tau apa yang terjadi satu jam sebelumnya.


Setelah mendengar penjelasan dari Ibu dan Adiknya, Shaha menjadi semakin marah dan membenci Clara dan perasaan ingin membalas perbuatan Clara berkali-kali lipat semakin besar.


"Clara! Ini semua karena! Aku bersumpah jika aku tidak bisa membalasmu maka aku tidak akan bisa hidup dengan tenang di kehidupan ini." ucap Shaha dalam hati dengan ekspresi wajah marah dan emosi dengan tangan yang terkepal sangat erat hingga melukai telapak tangannya sendiri.


"Aku harus menemui orang itu dan berterima kasih padanya. Aku akan membalas kebaikannya dan jika dia meminta melakukan apapun, aku pasti akan melakukannya meski nyawaku taruhannya karena dia telah menyelamatkan orang-orang yang sangat aku sayangi." ucap Shaha dalam hati sambil berjanji pada dirinya sendiri dengan ekspresi bahagia sambil melihat ke keluarganya yang saat ini telah selamat dan baik-baik saja.


Shaha yang melihat jika waktu untuk bertemu dengan penolongnya tinggal 2 jam lagi. Shaha pun memutuskan untuk segera pergi dan datang lebih awal.


Tak butuh waktu lama, dalam setengah jam Shaha pun telah sampai di Toko yang menjadi tempat bertemu mereka.


Shaha yang tau jika dirinya datang terlalu cepat pun bersabar untuk menunggu kedatangan Alexa.


Sementara itu, Alexa yang sedang berada di salon kecantikan untuk merubah warna rambut dan mengubah wajah dengan makeup tiba-tiba mendapatkan telepon dari salah satu bawahannya.


"Selamat sore Nona." salam Bawahan Alexa dengan sangat sopan dari balik telepon.


"Katakan ada apa?" tanya Alexa yang merasa terganggu karena sedang merasakan nikmatnya dipijat.

__ADS_1


"Nona, tamu anda telah datang di Toko Bunga." ucap Bawahan Alexa dengan tenang dan tanpa ekspresi di wajahnya.


"Ini baru pukul 2 siang dan dia sudah datang. Sepertinya targetku kali ini sangat mudah dipancing." ucap Alexa sambil tersenyum senang sambil mengelus dagunya sendiri.


"Biarkan saja dia menunggu dan jangan lupa berikan teh dan cemilan untuknya." perintah Alexa dengan ekspresi wajah yang tidak peduli.


Alexa yang tidak ingin diganggu lagi pun mematikan teleponnya dan melanjutkan kembali tritmennya dengan perasaan bahagia.


Sementara itu, Bella yang berancana akan pergi berkencan dengan Dimas pun langsung mengganti pakaiannya dan berdandan dengan sangat cantik dengan dibantu pelayan yang lain.


Setelah satu jam berlalu, Arabella pun telah siap dengan kemeja garis-garis berwarna biru tua dan celana jins serta sepatu kets berwarna putih dan tas berwarna merah membuat Arabella terlihat sangat cantik dengan paduan makeup yang simple dan elegaan.



Arabella yang telah melihat wajahnya sendiri dibalik kaca merasa tidak percaya dengan hasil dari mahakarya dari pelaya-pelayannya.


"Apakah ini benar aku?" tanya Arabella dalam hati sambil menyentuh wajahnya yang terlihat sangat berbeda.


Pelayan-pelayan yang melihat hasil kerja kerasnya pun merasa sangat puas bahkan tak henti-hentinya memuji kecantikan Arabella hingga membuat Arabella merasa pujian itu sedikit berlebihan.


"Nona, anda terlihat sangat cantik. Saya yakin Tuan Muda pasti akan semakin jatuh cinta pada Nona."


"Tuan Muda juga pasti tidak akan bisa melepaskan pandangannya dari Nona."


"Aarrrrgghhh!" teriakan iri dari pelayan yang mendandani Arabela.


"Agh, baikah. Sepertinya aku harus keluar sekarang. Dimas pasti sedang menungguku sekarang." ucap Arabella dengan senyum canggung sambil memegang tengkuk lehernya.


Arabella pun keluar dari kamarnya dan berjalan santai menuju ke ruang tamu dan Arabella melihat Dimas yang sedang terduduk santai di atas kursi sambil memainkan handphonenya yang membuat Arabella menjad penasaran.


"Agh, apakah Dimas sudah menunggu lama? Aku harap dia tidak akan marah." ucap Arabella dalam hati sambil berjalan menuju ke ruang tamu.


"Ah, bukankah itu Dimas? Apa yang sedang dilakukannya? Dia terlihat serius sekali. Aku jadi penasaran." ucap Arabella dengan ekspresi wajah yang penasaran sambil menyentuh pipinya.


#Bersambung#

__ADS_1


Jangan lupa like, komen dan tekan Love.


terima kasih


__ADS_2