
Wakil Ketua yang menyadari bahwa Ketua Ma telah berada dalam kondisi yang tidak baik pun menepuk pundaknya dengan sangat keras.
“Jangan menyerah! Semua belum berakhir! Tuan Muda masih ada di Kediaman itu sendirian! Kita tidak bisa berhenti disini dan meratapi kegagalan ini. Kita harus maju dan mengubahnya menjadi kemenangan!” ucap Wakil Ketua dengan suara yang keras.
“Kita tidak boleh membiarkan pengorbanan Rekan kita sia-sia. Kita harus bisa menyelesaikan misi ini dan menyelamatkan Tuan Muda Dimas dan Nona Arabella!” ucap Wakil Ketua yang berdiri dengan tegap di hadapan Anggota yang lain yang masih berurai air mata.
Ketua Ma yang menyadari tanggungjawab dan tugasnya pun menghapus air matanya dan berdiri kembali lalu menghubungi Edo yang sedang ada di Perusahaan.
“Maaf, Bos! Kami mendapatkan masalah besar dan kami membutuhkan bantuan anda sekarang!” ucap Ketua Ma dengan ekspresi wajah yang serius dengan tatapan mata yang tajam.
“Masalah? Baik! Aku mengerti. Katakan yang kalian butuhkan! Aku akan membantu sebisa mungkin!” ucap Edo dengan nada suara yang tegas dengan ekspresi wajah yang berubah serius.
“Kirimkan 3 Mobil Truk besar ke Jalan XXX segera! Dan aku akan memberitau Bos yang terjadi di dalam perjalanan!” ucap Ketua Ma yang sadar jika dirinya tidak bisa menutupi kegagalannya dengan sempurna.
Edo yang mendengar permintaan Ketua Ma pun mengerutkan alisnya lalu melakukan semua yang diminta oleh Ketua Ma sambil mendengarkan semua yang telah terjadi.
__ADS_1
Edo yang berpikir bahwa kali ini mereka akan menang tidak menyangka jika Heru telah membuat rencana yang sangat bagus yang akhirnya membuat Edo menjadi kesal lalu memukul meja yang ada di depannya.
Edo yang sangat ingin pergi menyusul Ketua Ma harus menahan diri karena tidak bisa meninggalkan Perusahaan begitu saja sehingga membuatnya menjadi sangat kesal.
Edo yang tidak ingin kehilangan Dimas pun mengirimkan sepuluh Bodyguard bersamaan dengan tiga mobil truk untuk memastikan Dimas akan berhasil selamat.
Di sisi lain, Arabella yang akhirnya tersadar dari tidur panjangnya setelah mendengar suara orang bertengkar pun menjadi sangat terkejut melihat Dimas sedang bertarung dengan puluhan orang.
“Dimas!” panggil Arabella dengan suara yang sangat keras dengan mata yang terbuka lebar dengan ekspresi wajah yang cemas dan khawatir.
“Aku sudah menyerahkan tubuhku jadi lepaskan Arabella sekarang!” teriak Dimas dengan suara yang keras dengan ekspresi wajah yang pilu menatap Arabella yang menangis untuknya.
Heru yang melihat hal itu pun menjadi marah dan kesal lalu berjalan mendekati Dimas lalu menendang dadanya dengan sangat keras.
“Apakah kau pikir pukulan itu cukup? Tidak! Aku ingin kau mati!” ucap Heru dengan ekspresi wajah yang dingin dengan senyum yang jahat.
__ADS_1
Arabella yang mendengar perkataan Heru pun menjadi takut dan khawatir di saat bersamaan yang akhirnya mengatakan sesuatu yang membuat Pak Bambang marah.
“Tidak! Jangan! Jangan sakiti Dimas! Sakiti aku saja!” ucap Arabella dengan air mata yang mengalir ke pipinya dengan ekspresi wajah yang sedih.
“Plak!” sebuah tamparan keras pun mendarat di pipi Arabella yang membuat mata dan mulut Arabella terbuka lebar karena terkejut
“Wanita rendahan sepertimu lebih baik diam! Kau tidak pantas mengucapkan apapun disini! Lebih baik kau nikmati saja yang pertunjukannya dan tunggu giliranmu tiba!” ucap Pak Bambang dengan nada suara dan ekspresi wajah yang dingin yang membuat Arabella langsung berhenti menangis dan bergetar ketakutan.
Dimas yang mendengar perkataan Pak Bambang pun menjadi marah dan kesal lalu berdiri dan mencoba meraih Pak Bambang tapi ditahan oleh Bodyguard yang lebih cepat menangkap tubuh Dimas
“Hentikan! Lepaskan tanganmu dari wajahnya!” teriak Dimas dengan suara yang keras dan mata yang memerah karena marah.
“Aaaarrggghhh! Lepas! Lepaskan aku!” teriak Dimas yang berontak mencoba melepaskan diri dari ikatan Bodyguard-Bodyguard yang menangkapnya.
#Bersambung#
__ADS_1
Hmmm, Dimas sudah terpancing emosi dan tidak bisa berpikir jernih. Apakah Dimas dapat menyelamatkan Arabella? Tunggu BAB selanjutnya ya