
Bu Selena yang telah menunggu kabar tentang kematian Arabella sejak semalam menjadi sangat cemas karena orang-orang yang telah diperintahkannya itu tidak menghubunginya sama sekali.
Bu Selena pun memanggil Kepala Pelayannya dan memerintahkannya untuk mencari tau apa yang telah terjadi.
Setelah beberapa jam berlalu, Kepala Pelayan itu pun mendapatkan informasi yang sangat mengejutkan hingga membuat Bu Selena menjadi semakin khawatir dan juga cemas.
"Bagaimana hasilnya?" tanya Bu Selena tidak sabar.
"Kabar buruk, Nyonya. Kedua orang itu telah meninggal tanpa jejak." ucap Kepala Pelayan.
"Tanpa jejak? Apa maksudmu?" tanya Bu Selena.
"Ketika saya sampai di tempat eksekusi, saya tidak menemukan kedua orang itu tapi saat saya melihat rekaman CCTV yang telah saya letakkan secara tersembunyi. Saya menemukan ini Nyonya." ucap Kepala Pelayan sambil memberikan sebuah rekaman.
Bu Selena pun mengambil rekaman itu lalu memutarnya. Seiring berjalannya waktu rekaman itu diputar, raut wajah Bu Selena berubah dari yang awalnya tersenyum senang lalu bingung dan kemudian takut dan cemas.
"Tidak mungkin! Bagaimana ini bisa terjadi?" teriak Bu Selena berdiri dari tempat duduknya.
"Saya juga tidak tau, Nyonya." ucap Kepala Pelayan takut.
"Wanita ini benar-benar tidak bisa melihat pria yang berkuasa. Dia tidak hanya menggoda Putraku tapi juga menggoda Dimas. Ini tidak bisa dibiarkan. Cepat cari tau keberadaan wanita itu dan cari tau apa hubungan wanita itu dengan keponakanku Dimas!" perintah Bu Selena.
"Akan segera saya laksanakan, Nyonya." ucap Kepala Pelayan.
Setelah mendapatkan perintah dari Bu Selena, Kepala Pelayan itu pun segera pergi meninggalkan Bu Selena sendiri.
Bu Selena yang kesal pun menghancurkan vas bunga yang ada di depannya sehingga membuat beberapa pelayan datang menemuinya. Bu Selena yang melihat kedatangan pelayan segera memerintahkan mereka untuk membersihkan kekacauan yang baru saja dibuatnya.
Kemudian Bu Selena pun pergi ke kamar Heru. Bu Selena ingin melihat apa yang sedang dilakukan oleh Heru sekarang dan Bu Selena ingin menunjukkan kepada Heru tentang keburukan yang dimiliki oleh Arabella.
Setibanya di kamar Heru, Bu Selena langsung mendapatkan hormat dari Bodyguard yang berjaga tapi dengan sikap angkuh Bu Selena mengabaikannya dan memerintahkan kedua Bodyguard itu untuk membuka pintu.
Bu Selena memerintahkan kedua Bodyguard itu untuk tetap berjaga dan tidak mengendorkan pengawasan mereka. Lalu Bu Selena pun masuk dan berjalan dengan sangat anggun sendirian.
Ketika berada di dalam, Bu Selena bertanya pada Pelayan yang bertugas melayani Heru tentang keadaannya dan tak lama kemudian Heru pun terbangun dari tidurnya setelah diberi obat tidur oleh Dokter.
"Kau sudah bangun, Putraku sayang." ucap Bu Selena.
"I-ibu!" teriak Heru.
__ADS_1
"Tentu saja ini Ibu." ucap Bu Selena lembut.
Setelah mengkonfirmasi bahwa wanita yang duduk di samping tempat tidurnya adalah Bu Selena. Heru pun segera bangun dan menggenggam tangan Bu Selena dan memohon.
"Aku mohon, Bu. Tolong jangan sakiti Bella. Ini semua salahku jadi tolong jangan biarkan dia mengalami kejadian buruk itu. Aku mohon, Bu." ucap Heru memelas.
Bu Selena yang datang dengan perasaan khawatir dengan keadaan Heru langsung berubah ekspresi menjadi marah setelah mendengar perkataan Heru yang masih saja mencemaskan Arabella.
Bu Selena yang marah pun menepis tangan putranya, Heru lalu berdiri dan membelakangi Heru.
"Ternyata kau masih belum bisa berfikir jernih, Heru. Kau akan tetap berada di dalam kamar ini hingga kau sadar dengan kesalahanmu!" ucap Bu Selena tegas.
Heru yang melihat Bu Selena yang marah dan berencana pergi dan mengurungnya lagi. Heru segera bangun dan bersujud pada Bu Selena.
"Tidak Ibu... Ku mohon tidak!" teriak Heru.
Bu Selena yang melihat Heru yang melakukan sesuatu hal yang tidak pernah dilakukannya menjadi semakin marah karena Bu Selena tau jika Heru melakukan itu untuk Arabella, wanita yang menurutnya tidaklah selevel drajat dan statusnya dengan dirinya.
"Bangunlah, Heru. Apa kau tidak malu dengan tindakanmu ini? Apa kau lupa siapa dirimu?" teriak Bu Selena marah.
Heru pun segera bangun setelah mengetahui jika Bu Selena tidak jadi pergi.
"Aku tau, Bu tapi aku tidak bisa melihat wanita yang aku cintai disakiti. Aku awalnya hanya ingin membalas kejahatanku dengan cara bersikap baik padanya tapi akhirnya aku sadar jika aku benar-benar telah jatuh cinta padanya. Jadi aku mohon, Bu. Demi diriku. Demui Putramu ini, Bu. Tolong, jangan sakiti Bella!" ucap Heru dengan wajah memelas.
"Aku tau dia pasti marah dan kecewa padaku, Bu tapi aku yakin dia pasti memiliki perasaan padaku sama seperti diriku yang juga punya perasaan padanya." ucap Heru percaya diri.
"Bodoh! Wanita itu tidak mencintaimu. Wanita itu bahkan telah memiliki pria lain di sisinya." ucap Bu Selena.
"Apa? Tidak mungkin! Aku sudah mencari tau sebelumnya. Bella tidak dekat dengan pria manapun dan satu-satunya pria yang dekat dengannya saat ini hanya aku!" teriak Heru memastikan.
"Benarkah? Kalau begitu bagaimana dengan rekaman ini?" tanya Bu Selena.
Heru yang penasaran dengan rekaman yang dimaksud oleh Bu Selena segera mengambil rekaman itu dan memutarnya.
Heru pun segera memutar rekaman itu dan setelah melihat isinya, Heru menjadi sangat marah.
"Apa-apaan ini? Bagaimana bisa ada Dimas disana?" tanya Heru.
"Apa kau sadar sekarang? Wanita itu bukanlah wanita baik-baik. Dia tidak hanya merayumu tapi juga merayu sepupumu. Wanita yang miskin sepertinya pasti akan melakukan berbagai cara untuk mendaptkan pria kaya agar mereka terbebas dari kemiskinan." ucap Bu Selena.
__ADS_1
"Itu tidak mungkin. Bella bukan wanita seperti itu. Ibu pasti salah." ucap Heru.
"Terserah padamu. Percaya atau tidak itu urusanmu." ucap Bu Selena.
Bu Selena yang tidak ingin berdebat lagi dengan Heru pun memilih untuk pergi lalu memerintahkan Bodyguard yang berjaga untuk terus mengawasi Heru.
Sementara itu, Heru yang masih terkejut setelah melihat rekaman itu pun terduduk di atas ranjangnya.
"Bagaimana mungkin? Tidak! Ini pasti tidak benar." ucap Heru kesal.
"Tapi bagaimana jika rekaman itu sungguhan? Lagipula video itu pastinya akan sangat sulit untuk direkayasa." gumam Heru.
"Tidak! Aku tidak bisa membiarkan Dimas mendapatkan Arabella. Arabella harus menjadi milikku bagaimanapun caranya." ucap Heru penuh tekad.
Heru yang selama ini selalu menjadi nomor dua setelah Dimas membuatnya memiliki perasaan dendam dan ingin memiliki semua yang dimiliki Dimas bahkan Heru selalu berusaha untuk menghancurkan Dimas.
Sementara itu, Clara yang telah mencba berusaha melupakan Dimas dan Heru secara bersamaan mulai larut dalam pekerjaannya tapi tiba-tiba Clara yang sedang beristirahat setelah selesai dengan sesi pemotretannya dengan salah satu majalah internasional tiba-tiba mendapatkan panggilan dari seseorang yang dikenalnya.
Orang itu adalah seorang pelayan yang bekerja di Kediaman Dimas. Orang itu bernama Siti. Siti sengaja disuap oleh Clara untuk memata-matai Kediaman Dimas dengan imbalan akan dijadikan Pelayan Pribadi Clara saat menjadi Nyonya Dimas Arthama Jaya.
"Ada apa kau menghubungiku?" tanya Clara malas.
"Maafkan saya Nona jika mengganggu anda tapi ada sesuatu yang harus saya laporkan." ucap Siti.
"Kau tidak perlu melaporkan apapun padaku. Aku sudah tidak perduli lagi dengan mereka." ucap Clara kesal.
"Ti-tidak! Jangan dimatikan dulu Nona. Saya mohon dengarkan saya dulu Nona." ucap Siti memohon.
"Baiklah. Cepat katakan. Informasi apa yang ingin kau sampaikan?" tanya Clara ketus.
"Saat ini Tuan Muda membawa seorang wanita untuk tinggal di Kediamannya." ucap Siti.
"Wanita? Siapa?" tanya Clara penasaran.
'Dimas membawa wanita lain ke dalam Kediamannya. Ini aneh sekali. Siapa wanita itu? Jangan-jangan Dimas sengaja mencari-cari kesalahanku agar bisa putus dariku hanya untuk bersama wanita ini. Ini tidak bisa dibiarkan!' ucap Clara dalam hati.
#**Bersambung#
Jangan Lupa Tekan LIKE, KOMEN, VOTE..
__ADS_1
🥰😍😘😚
Terima kasih**