
Dimas dan Arabella yang telah berada di loby Hotel Royal Heaven tidak menyangka jika pertunjukan yang dinantikan ternyata telah terjadi di depan matanya.
"Ada apa ini? Kenapa berisik sekali?k tanya Arabella yang bingung sambil melihat kerumunan orang yang sedang berjalan menuju keluar Hotel.
"Pertunjukannya telah dimulai! Lihatlah!" ucap Dimas dengan ekspresi wajah yang tenang serta sorot mata yang tajam sambil menunjuk ke seseorang.
"Clara!" teriak Arabella yang terkejut dengan mata dan mulut yang terbuka lebar sambil melihat kondisi Clara yang sangat mengenaskan.
"Itu benar dia! Semuanya telah berakhir sekarang!" ucap Dimas sambil menundukkan kepala dan merangkul pinggul Arabella.
Arabella yang melihat Clara dalam kondisi yang sangat memperihatinkan merasa ada perasaan iba dan kasihan yang muncul.
Arabella yang tidak ingin melihat Clara dalam kondisi seperti itu lebih lama lagi memilih untuk pulang karena tidak memiliki suasana hati yang baik setelah melihat semuanya.
"Ki-kita pulang saja. Aku merasa tidak sehat." ucap Arabella dengan terbata-bata sambil melihat ke arah bawah dan tak berani menatap mata Dimas.
Dimas yang mengerti perasaan Arabella pun memutuskan untuk menuruti keinginannya untuk keluar dari sana.
"Baiklah. Ayo kita keluar dari sini!" ucap Dimas sambil tersenyum lembut dan memegang tangan Arabella dengan sangat hati-hati lalu menuntunnya keluar dari Hotel Royal Heaven.
Arabella yang mendengar perkataan Dimas pun mengangguk setuju dan berjalan mengikuti arahan Dimas dan masuk ke dalam mobil.
Arabella yang merasa kasihan pada Clara akhirnya baru sadar jika mereka tidak kembali ke Kediaman Arthama Jaya.
"I-ini bukan menuju ke rumah?" ucap Arabella dengan ekspresi wajah yang bingung sambil melihat ke arah Dimas yang sedang menyetir mobil.
"Ah, kenapa kau yang menyetir mobil? Kemana sopirnya?" tanya Arabella lagi yang bingung dengan wajah terkejut.
"Aku menyuruhnya pulang. Aku lihat kau sangat terbebani dengan semua yang terjadi padanya karena itu aku akan membawamu pergi untuk menjernihkan fikiran dan menenangkan hatimu." ucap Dimas sambil tersenyum dengan wajah tampannya.
"Jangan khawatir semua akan baik-baik saja. Itu sudah sepantasnya yang dialaminya. Ingat jika bukan dia maka saat ini kau lah yang akan mengalami hal itu!" ucap Dimas dengan nada yang rendah dan tatapan penuh kasih sayang sambil membelai rambut Arabella.
__ADS_1
Arabella yang mendengar perkataan Dimas tidak bisa berkata apapun lagi dan hanya bisa diam dan melihat pemandangan di luar.
Dimas yang melihat Arabella tidak terlalu tertekan lagi pun memfokuskan pandangannya ke depan.
"Kau mungkin berfikir jika aku adalah pria yang kejam tapi yakinlah aku hanya melakukan itu kepada musuhku. Aku tidak bisa hanya duduk diam dan melihat orang yang telah membuatmu menderita bahagia." ucap Dimas dengan ekspresi wajah yang serius dan tegas dengan sorot mata yang tajam menatap jalanan yang ada di depannya.
Di saat semua orang sibuk dengan berita kejatuhan Clara, Orangtua Clara yang mengetahui nasib putrinya yang sedang dalam masalah menjadi sangat cemas dan khawatir.
"Apa? Clara tersandung kasus asusila!" teriak Ibu Ckara dengan ekspresi wajah yang sedih dan bingung dengan suara yang tinggi.
"Suamiku! Kau harus menolong putri kita! Dia putri kita satu-satunya!" ucap Ibu Clara dengan ekspresi wajah yang siap menangis sambil memohon kepada suaminya dengan nada rendah dan putus asa.
Ayah Clara yang merupakan pebisnis handal dan memiliki banyak uang dan aset melakukan berbagai cara dengan uang yang dimilikinya untuk menyelamatkan reputasi Clara dengan cara memblokir semua berita yang menjelekkan Clara.
"Jangan khawatir. Aku akan menanganinya segera!" ucap Ayah Clara dengan ekspresi wajah yang serius.
"Sekretaris Hong, segera suap semua media untuk tidak memberitakan hal buruk tentang putriku. Bayar mereka berapapun yang mereka mau bila perlu ancam mereka dengan kekuasaan kita!" ucap Ayah Clara dengan nada bicara yang tinggi dan ekspresi wajah yang serius.
"Hubungi juga pengacara terkenal dan bayar dengan sejumlah uang yang besar. Aku ingin dia membersihkan nama putriku!" ucap Ayah Clara lagi dengan sekretarisnya dengan tatapan mata yang tajam.
"Tuan! Gawat keuangan kita telah dibekukan oleh Pemerintah. Kita tidak bisa menggunakan sepeserpun uang untuk menyuap wartawan ataupun membayar pengacara karena semua aset kita telah disita oleh Pemerintah!" ucap Sekretaris Ayah Clara dengan wajah yang cemas dan bingung.
"Apa yang telah terjadi?" tenya Ayah Clara dengan wajah yang bingung dan keringat yang mengalir ke dahinya.
"Sepertinya ada yang mengadukan kita ke KPK tentang tindakan yang illegal yang dilakukan Perusahaan sehingga membuat Pemerintah turun tangan." ucap Sekretaris dengan wajah yang serius sambil terus memegang tablet yang ada di tangannya.
"Tuan! Gawat! Semua Saham Perusahaan turun drastis!Semua investor menarik semua dana yang ada di Perusahaan kita. Perusahaan kita dalam keadaan krisis menuju kebangkrutan!" ucap Asisten Pribadi Ayah Clara dengan ekspresi wajah yang cemas dan takut terlihat jelas di wajahnya.
"Apa? Jangan bercanda dalam keadaan seperti ini!" teriak Ibu Clara yang hanya berdiri diam mendengar semua masalah yang datang bertubi-tubi dalam waktu yang bersamaan.
"Hubungi semua Dewan Pengawas dan minta mereka untuk melakukan Rapat Darurat untuk menyelamatkan Perusahaan!" ucap Ayah Clara dengan suara bergetar dengan wajah yang panik sambil melihat ke arah Sekretaris dan Asisten Pribadinya.
__ADS_1
"Semua Dewan Pengawas telah memblokir nomornya dan bahkan nomornya sudah tidak bisa dihubungi sejak Berita Nona Clara tersebar!" ucap Asisten Pribadi dengan wajah yang sedih sambil memegang kepalanya yang terasa sangat sakit.
Ayah Clara yang mendengar bahwa Perusahaan milik Keluarganya selama ini hancur ditangan Putri yang sangat disayanginya menjadi sangat terkejut hingga terjatuh.
Ibu Clara yang melihat suaminya terjatuh karena syok berat pun mencoba menangkap tubuh suaminya yang dalam keadaan sakit sambil memegang dadanya dengan sangat erat.
"Aaarrggghhhh!" teriak Ayah Clara dengan sangat keras dengan mata dan mulut yang terbuka lebar sambil memegang dadanya yang terasa sangat sakit.
"Suamiku!" teriak Ibu Clara dengan ekspresi wajah yang cemas sambil memegang tubuh Suaminya dengan erat.
"Cepat siapkan mobil dan angkat Tuan ke Rumah Sakit!" teriak Ibu Clara dengan sangat ekspresi takut dan keringat yang terus mengalir ke dahi dan pipinya.
"Suamiku bertahanlah! Kita akan segera sampai di Rumah Sakit!" ucap Ibu Clara sambil terus membelai rambut suaminya yang sedang ada di dalam pangkuannya.
"Maafkan Ibumu, Clara, yang tidak bisa membantumu kali ini karena perusahaan dan ayahmu dalam keadaan kritis. Semoga kau bisa melaluinya sendiri." ucap Ibu Clara dalam hati sambil meneteskan air mata.
Di tempat lain dengan suasana yang ceria, Edo yang terus memantau semuanya dari dalam kamar mandi Apartemennya pun akhirnya melihat berita yang sudah ditunggu-tunggunya.
Edo yang melihat beberapa media memberikan berita siaran langsung eksklusif menjadi sangat senang terutama saat melihat Clara dalam kondisi yang sangat tragis.
"Ini adalah akhir yang aku inginkan. Hahaha... Rasakan itu! Kenapa juga kau harus berselingkuh dan mengganggu Tuan Mudaku yang sudah begitu baik padamu!" ucap Edo dengan tawa yang sangat keras.
Edo yang sangat puas dengan hasil kerja Alexa segera mengambil handphonenya dan menghubungi bagian keuangan untuk segera mentransfer sejumlah uang untuk Alexa.
"Halo. Segera transfer uang ke rekening Alexa dengan jumlah tiga kali lipat dari gajinya sekarang juga!" perintah Edo dengan suara yang ceria dan ekspresi wajah yang gembira.
Di sisi lain, Alexa yang sedang menyetir mobilnya tiba-tiba mendapatkan pesan di layar ponsel.
"Sepertinya bonusku telah cair. Waktunya bersenang-senang malam ini." ucap Alexa dengan suara yang keras dan ekspresi wajah yang bahagia sambil memutar lagu yang dengan suara keras.
#Bersambung#
__ADS_1
Jangan lupa Like, Komen dan tekan Love ya
Terima kasih