CEO Stops The Time

CEO Stops The Time
BAB 103. Fikiran hidup atau beban hidup


__ADS_3

Edo yang telah mendapatkan obat yang diminta Dimas pun segera naik ke atas dan mencoba masuk ke dalam  Apartemen tapi tak disangka ternyata Apartemen itu pun terkunci.


“Akhirnya obatnya sudah aku dapatkan dan itu artinya aku bisa beristirahat dengan tenang!” ucap Edo sambil membawa sebuah kantong obat dengan ekspresi wajah bahagia dengan senyum cerah.


“Tap! Tap! Tap!” suara langkah kaki.


"Tok! Tok! Tok!" suara ketukan pintu.


"Tuan Muda." panggil Edo yang sudah berdiri di depan pintu Apartemen sambil membawa obat untuk Arabella.


“Klak!” suara pintu.


“Kenapa pintunya terkunci?” ucap Edo secara spontan dengan ekspresi wajah yang bingung tapi segera sadar setelah beberapa menit dan memukul kepalanya sendiri.


“Plak!" tepuk jidat.


Edo yang sudah mengerti apa yang terjadi memilih pasrah karena dirinya sempat mendengar apa yang dikatakan Dokter Simons dan memilih untuk turun kebawah lalu tidur di dalam mobil yang menyala semalaman.


“Hah, sepertinya malam ini akan menjadi malam yang sangat panjang untuk Tuan Muda dan Nona Arabella. Aku tidak seharusnya ada di sini karena ini adalah Area Orang Dewasa jadi lebih baik aku pergi saja.” Ucap Edo


dalam hati dengan ekspresi wajah yang pasrah sambil berbalik arah berjalan menuju parkiran mobil.


“Sepertinya malam ini aku akan tidur di dalam mobil. Semoga


besok tubuhku tidak kaku dan sakit semua.” Gumam Edo dengan ekspresi wajah yang


pilu sambil bergerak membenarkan posisi kursi agar nyaman untuk ditiduri.


Keesokan paginya, Edo yang tidak bisa tidur dengan nyenyak


telah terbangun saat matahari telah mulai muncul karena dirinya parkir di area


terbuka dan bukan di dalam tempat parkir Apartemen.


“Hah, pukul berapa ini? Matahari sudah mulai naik ke atas.


Hoaamm!” ucap Edo sambil menggerak-gerakkan pinggangnya ke kanan dan ke kiri


dengan tangan di angkat ke atas dengan mulut terbuka karena masih mengantuk.


“Sepertinya aku tidak akan mau lagi tidur di dalam mobil.


Pinggang dan pundakku terasa sangat sakit sekali.” Ucap Edo dalam hati dengan

__ADS_1


nada menggerutu sambil memijat pundaknya yang sudah sangat kaku dan mati rasa


dan menggerakkan pinggangnya ke kiri dan ke kanan.


"Krak! Krak!"


Edo yang sudah tidak bisa tidur lagi pun menyalakan mobilnya dan pergi membeli sarapan pagi yang cukup banyak untuk Dimas dan Arabella.


"Broommm!"suara mobil.


“Aku sudah tidak bisa tidur lagi apalagi matahari ini benar-benar sangat menyilaukan. Aku hanya bisa pergi dan mencari tempat sarapan pagi yang enak. Cacing yang ada di dalam perutku sebentar lagi pas akan mendemo.” Gumam Edo dengan ekspresi wajah yang sedih dan sangat kurut.


Edo pun pergi ke sebuah Restoran cepat saji yang menyediakan menu sarapan pagi yang cukup enak di lidah. Edo pun mengantri lalu membeli cukup banyak makanan.


“Sepertinya jumlah makanan yang aku pesan sudah cukup banya karena sebagian besar makanan ini pasti akan dimakan Tuan Muda Dimas dan Nona Arabella." ucap Edo sambil mengangkat makananya yang ada di tangannya sambil menggerutu.


Arabella yang sudah kehabisan energi karena bertempur semalaman! Hahaha...” ucap Edo sambil tertawa dalam hati dengan nada rendah sambil mengambil beberpa makan dalam jumlah banyak sekaligus dengan ekspresi wajah tanpa ekspresi dan buru-buru.


Edo yang telah selesai berbelanja pun bergegas pergi dan naik kembali Ke Apartemen Dimas dan mengetuknya dengan cukup pelan.


“Tap! Tap! Tap!” suara langkah kaki.


“Tok! Tok! Tok!” suara pintu diketuk.


Edo yang sudah mengedor pintu sebanyak tiga mulai merasa resah karena Dimas tidak menjawab panggilannya sama sekali tapi Edo yang tidak ingin menunggu di luar lagi pun mencoba peruntungannya dan berharap jika Dimas


akan menjawab panggilannya kali ini.


"Apa Tuan Muda dan Nona masih tidur? Apa mereka benar-benar melakukannya semalaman sehingga tidak bisa diganggu pagi ini!  Hah!" ucap Edo sambil mendesah pelan dengan ekspresi wajah yang bingung dan dilema.


"Apa aku ketuk lagi ya pintunya? Tapi jika Tuan Muda terbangun dan marah karena aku mengganggu tidur nyenyaknya. Bagaimana? Aku bisa dalam masalah nanti?" gumam Edo lagi sambil berbicara dengan dirinya dengan tangan diletakkan di dagu seolah sedang berfikir.


"Hah, kita serahkan saja pada yang di atas dan keberuntunganku. Jika harus kena marah maka terima saja. Aku lelah harus berada di luar tanpa kejelasan." ucap Edo dengan nada menggerutu dan pasrah dengan ekspres wajah yang penuh keyakinan.


"Tok! Tok! Tok!" suara ketukan pintu.


“Tuan Muda, saya datang membawa obat dan juga sarapan.” Ucap Edo dengan nada yang sedikit keras dan tinggi dengan ekspresi wajah yang datar.


Sementara itu, Dimas yang membantu Arabella menghilangkan efek obat perangsang pun akhirnya dapat tertidur di atas sofa dengan wajah kelelahan. Dimas yang tertidur dalam beberapan tanpa disadari terbangun setelah mendengar apa yang dikatakan Edo.


“Hah, kepalaku sakit sekali. Sepertinya aku benar-benar kelelahan.” Gumam Dimas dengan ekspresi wajah yang kelelahan dan mata yang sayup.


"Ini sudah pagi, sepertinya aku ketiduran dan pantas saja Ed berisik sekali di luar. Dia pasti semalaman tidur di luar menungguku membuka pintu." ucap Edo dengan nada rendah sambil melihat ke arah jendela yang telah mulai terang karena masuknya cahaya matahari dari celah-celah.

__ADS_1


Dimas yang merasa kasihan dan iba pun bangun dari sofanya dan berjalan menuju ke arah pintu lalu membukanya dan melihat Edo yang sedang terduduk membelakangi pintu hingga terjatuh.


“Tap! Tap! Tap!” suara langkah kaki.


“Klak!” suara pintu terbuka.


“Bugh!” suara Edo yang terguling ke belakang.


“Aduh!” teriak Edo dengan spontan hingga terbaring di lantai dan berada tepat di bawah kaki Dimas.


Edo yang senang melihat Dimas yang sudah bangun segera bangun dan berdiri lalu menyerahkan obat untuk Arabella dan tak lupa juga memberikan sarapan pagi untuk Dimas dan Arabella.


“Tuan Muda!” ucap Edo yang bahagia dengan senyum cerah sambil bergerak bangun dan langsung berdiri lalu membersihkan tubuhnya yang kotor akibat terjatuh ke belakang.


“Ada apa kau datang sambil berteriak dengan sangat keras.” Ucap Dimas dengan ekspresi wajah yang dingin dan sorot mata yang tajam sambil meliha Dimas.


“Aku kemari membawakan pesanan obat untuk Nona Arabella yang Tuan Muda perintahkan aku untuk menebusnya.” Ucap Edo sambil mengeluarkan kantong berwarna merah dengan obat-obat yang ada di dalam resep.


“Aku juga sudah membelikan sarapan pagi untuk Tuan Muda dan Nona Arabella tapi... Apa Nona masih tidur?” ucap Edo dengan nada bingung lalu menanyakan apa yang ingin ditanyakannya sesungguhnya.


“Itu bukan urusanmu!” ucap Dimas dengan ekspresi wajah yang serius dan dingin tanpa ada tanda-tanda senyum di wajahnya.


Dimas yang tidak ingin menjawab pertanyaan Edo pun langsung menutup pintu dengan sangat keras ke arah wajah.


“Prak!” suara pintu terbanting dengan sangat keras.


“Aduh!” teriak Edo yang merasa kesakitan sambil memegang hidungnya yang terkena pintu.


“Tuan Muda, jangan tutup dulu pintunya. Ada yang ingin saya sampaikan Tuan Muda.” Ucap Dimas dengan ekspresi wajah yang sudah sangat kelelahan.


Dimas yang malas meladeni Edo pun memilih mengabaikan Edo hingga tidak terdengar lagi suara apapun. Dimas pun kembali ke kamar dan melihat kondisi Arabella.


“Sepertinya keputusan yang aku ambil semalam adalah yang terbaik dan syukurlah Arabella sudah merasa jauh lebih baik.” Ucap Dimas dengan ekspresi wajah lega sambil tersenyum lembut dan mengelus-elus rambut Arabella


dengan hati-hati.


#Bersambung#


Jangan Lupa Like, Komen dan Vote ya..


😊😍😘


Terima kasih

__ADS_1


__ADS_2