CEO Stops The Time

CEO Stops The Time
BAB 177. Firasat Buruk Arabella


__ADS_3

Edo yang telah membawa Dimas ke Rumah Sakit pun membawa Dimas menuju ke Ruang Gawat Darurat untuk segera di rawat.


Dimas yang telah kehilangan banyak tenaga ternyata tidak bisa bergerak lagi sehingga hanya bisa menurut perkataan Edo dan juga Para Dokter yang menanganinya dan tertidur dengan tenang di atas ranjang rumah sakit.


Sementara itu, Arabella yang tiba-tiba memiliki firasat yang buruk karena lagi-lagi foto Dimas yang ada di atas meja tiba-tiba terjatuh. Arabella yang khawatir pun mencoba menghubungi Dimas.


“Ada apa ini? Kenapa telponnya tidak aktif?” tanya Arabella pada dirinya sendiri dengan ekspresi wajah yang cemas dan sikap yang tidak tenang.


Ria yang selalu berada di samping Arabella pun ikut menjadi panik saat melihat Arabella yang cemas dengan keadaan Dimas sehingga mencoba untuk menenangkan Arabella.


“Tuan Muda mungkin sedang rapat makanya handphonenya tidak aktif, nona!” ucap Ria yang mencoba berpikir positif sambil terus menatap Arabella yang terus bergerak kesana kemari karena merasa tidak tenang.


“Tidak! Itu tidak mungkin! Dimas tidak pernah mematikann handphonenya bahkan saat rapat sekalipun. Aku yakin pasti ada hal buruk yang terjadi!” ucap Arabella dengan ekspresi wajah yang penuh keyakinan dan nada suara yang tegas.


Arabella yang tidak ingin hanya diam dan menunggu berita dari Dimas pun mengambil tasnya dan kunci mobil dan pergi menuju ke rumah Dimas.


“Nona! Anda mau kemana? Anda tidak bisa pergi keluar sendiri! Itu berbahaya Nona!” ucap Ria dengan ekspresi wajah yang serius sambil meregangkan tangannya mencoba untuk menahan Arabella.


“Nona! Anda tidak bisa pergi sendiri paling tidak anda harus pergi membawa satu bodyguard dan ini demi keamanan anda!” ucap Ria lagi dengan sikap yang tidak pantang menyerah dengan tatapan mata yang tajam.


“Menyingkirlah, Ria!” ucap Arabella lagi yang tidak ingin mengikuti perkataan Ria sambil mendorong Ria pelan untuk menyingkir dari hadapannya.


“Saya mohon Nona! Saya hanya mencemaskan anda! Saya mohon Nona! Tolong!” ucap Ria dengan ekspresi wajah yang memelas dengan air mata yang siap jatuh kapanpun.


“Minggir! Aku tidak ingin ditemani siapapun. Aku ingin pergi sendiri!” ucap Arabella yang tidak perduli dengan Ria yang terus memohon padanya.

__ADS_1


Arabella yang tidak ingin diikuti siapapun pun pergi sendiri mengendarai mobilnya tanpa membawa bodyguard tapi meskipun begitu Bodyguard yang berasal dari Badan Inteligent Khusus pun diam-diam mengikuti Dimas dengan cara yang berbeda.


“Maafkan aku Ria! Aku tidak ingin ada seorangpun menggangguku ataupun menghalangiku untuk mencari tau keberadaan Dimas karena hatiku merasa sangat tidak tenang!” ucap Arabella dengan suara yang rendah sambil duduk di dalam mobilnya.


Arabella yang tidak menyadari bahwa dirinya telah diikuti pun terus bergerak membawa mobil dengan kecepatan tinggi menuju ke Kediaman Dimas.


“Tunggu aku, Dimas! Semoga kau baik-baik saja!” ucap Arabella dengan doa yang tulus dari dalam hatinya yang terdalam dengan ekpsresi wajah yang cemas dan khawatir.


Sementara itu, Edo yang telah melihat Dimas tertidur dengan damai pun memutuskan untuk kembali ke Kediaman dan mengambil beberapa barang yang akan dibutuhkan Dimas selama di Rumah Sakit setelah melihat Ketua Ma datang melapor.


“Apakah semuanya telah kau bereskan?” tanya Edo dengan ekspresi wajah yang serius setelah meninggalkan ruangan Dimas dan berpindah ke ruangan lainnya untuk memberikan Dimas ketenangan.


“Jangan khawatir, Bos! Tidak akan ada masalah dan aku pun sudah mencari informasi mengenai orang-orang itu tapi kami tetap tidak menemukan apapun!” ucap Ketua Ma dengan ekspresi wajah yang sedih sambil menggelengkan kepala dengan lesu.


“Meskipun begitu, kami dapat mengambil kesimpulan bahwa orang-orang yang mencoba mencelakai Tuan Muda adalah orang-orang yang sangat terlatih dan juga terorganisir seperti berasal dari Sebuah Organisasi sama seperti kami!” ucap Ketua Ma dengan wajah yang tegas dan ekspresi percaya diri.


“Jangan khawatir, Bos! Saya akan menjaga Tuan Muda dengan taruhan nyawa!” ucap Ketua Ma dengan kepercayaan diri yang kuat.


Edo yang telah meninggalkan Rumah Sakit pun akhirnya sampai di Kediaman Dimas. Edo yang tidak tau barang yang dibutuhkan Dimas pun memanggil Pak Antoni datang.


Pak Antoni yang mengetahui bahwa Edo mencarinya pun langsung menemuinya secara langsung. Edo yang tidak bisa menyembunyikan berita besar ini sendirian pun menceritakan semuanya kepada Pak Antoni.


“Aku ingin kau menyiapkan semua barang yang dibutuhkan Tuan Muda selama di Rumah Sakit!” ucap Edo dengan ekspresi wajah yang sedih dengan tatapan mata yang layu.


Pak Antoni yang mendengarkan kabar buruk dari Edo pun menjadi sedikit panik dan cemas karena bagi Pak Antoni, Dimas telah seperti anaknya sendiri.

__ADS_1


“Tunggu! Rumah Sakit? Apa maksudmu Pak Edo?” tanya Pak Antoni dengan ekspresi wajah yang bingung dan tatapan mata yang penasaran.


“Tuan Muda Dimas mengalami kecelakaan mobil yang menyebabkan mobilnya meledak dan saat Tuan Muda Dimas berhasil selamat dari ledakan ada beberapa orang menyerang!” ucap Edo dengan ekspresi wajah yang tidak bisa dibaca dengan tangan yang terkepal erat karena menahan kesal.


“Lalu apakah Tuan Muda baik-baik saja?” tanya Pak Antoni dengan ekspresi wajah dan nada suara yang cemas dan khawatir di saat bersamaan.


“Saat ini Tuan Muda sedang terbaring di Rumah Sakit karena mengalami luka yang sangat banyak saat mencoba menyelamatkan diri dari kecelakaan mobil!” ucap Edo dengan ekspresi wajah yang kecewa dan sedih pada dirinya sendiri karena tidak bisa datang lebih awal.


Namun saat keduanya sedang berbicara satu sama lain tentang yang terjadi pada Dimas, Arabella yang telah sampai di Kediaman Dimas ternyata berdiri di balik tembok dan mendengar percakapan keduanya.


Arabella yang mendengar jika dirinya tidak boleh diberi tau pun membuat Arabella menjadi sangat kesal dan meluapkan kemarahannya kepada Edo.


“Apa maksud ucapanmu Edo? Kenapa aku tidak boleh tau mengenai semua ini?” tanya Arabella dengan ekspresi wajah yang marah dan kesal di saat bersamaan.


“No-Nona!” ucap Edo dengan nada suara yang gagap dengan ekspresi wajah yang terkejut dengan mata yang terbuka lebar.


Arabella yang tidak terima dengan perkataan Edo pun berjalan mendekat dan mempersempit jarak di antara mereka dan menekan Arabella.


“Apakah aku sudah tidak dianggap lagi makanya kalian memutuskan untuk tidak memberitauku masalah ini? Apakah kalian hanya menganggapku sebagai vas bunga yang cantik yang akan hancur jika mendengar bertita buruk?” ucap Arabella dengan suara yang keras dengan ekspresi wajah yang kecewa dan air mata yang akhirnya jatuh ke lantai.


“No-Nona! Saya tidak bermaksud begitu tapi Tuan Muda yang tidak ingin Nona karena Tuan Muda tidak ingin Nona menjadi cemas dan khawatir!” ucap Edo yang mencoba membela tindakannya.


“Hah! Tidak ingin aku cemas! Tidak ingin khawatir! Apakah kalian pikir aku tidak akan cemas dan khawatir jika aku tidak mendapatkan kabar apapun dari Dimas?” tanya Arabella dengan nada suara yang sinis dan tatapan mata yang tajam.


Edo yang tidak melawan kata-kata Arabella pun memutuskan untuk memberitau semuanya kepada Arabella dengan cara bicara yang berbeda dan Arabella yang mengetahui semuanya pun membuat keputusan yang mengejutkan Edo dan Pak Antoni.

__ADS_1


“Baik! Aku ingin kau antarkan aku ke Rumah Sakit sekarang!” ucap Arabella dengan ekspresi wajah yang serius dengan tatapan mata yang tajam.


#Bersambung#


__ADS_2