CEO Stops The Time

CEO Stops The Time
BAB 53. Pembalasan Siti I


__ADS_3

Sementara itu, Siti yang terikat merasa jika seluruh tubuhnya menjadi mati rasa dan tidak bisa mengendalikannya hingga dirinya kehilangan kesadaran setelah kedatangan seseorang.


Saat terbangun, Siti berada di dalam sebuah kamar yang sangat dikenalnya. Siti pun langsung berdiri dari tempat tidurnya dan langsung terjatuh karena tidak memiliki tenaga apapun.


"Bruk"!


"Prang!"


Namun saat itu juga ada seseorang yang datang, Orang itu memakai baju kaos berwarna merah dan celana jins hitam longgar sambil membawa sepiring makanan dan segelas susu.


"Klak!" suara pintu.


"Tap!"


"Aku akan membantumu berdiri!" ucap seorang pria yang baru saja datang.


"Wahyu!" teriak Siti yang sangat terkejut dengan mata dan mulut yang terbuka lebar dengan ekspresi tak percaya karena dapat bertemu dengan kekasihnya.


"Benar! Ini aku!" ucap Wahyu dengan lembut.


"Tu-tunggu! Bagaimana aku bisa ada disini? Apa kau yang menyelamatkanku dari Tuan Muda?" tanya Siti yang sangat penasaran dengan apa yang terjadi.


"Tuan muda apa? Aku menemukanmu di pinggir jalan dengan pakaian yang sangat kotor." jawab Wahyu yang terkejut dengan pernyataan Siti.


"Bagaimana mungkin? Apa Nona Arabella benar-benar melepaskanku begitu saja dan merasa iba dengan teriakan dan air mataku?" ucap Siti dalam hati dengan tangan diletakkan di dagunya seolah sedang berfikir.


"Apa jangan-jangan Nona Arabella mengatakan hal itu padaku karena ada Tuan Muda dan Nona Arabella takut jika Tuan Muda maran? Ya, benar! Pasti seperti itu!" gumam Siti sambil mengangguk-anggukkan kepalanya beberapa kali sambil melihat ke lantai.


"Tik! Tik! Tik!" suara jentikan jari.


"Sayang, apa kau sakit?" tanya Wahyu dengan penuh perhatian dan tatapan lembut.


"Ah, i-iya. Aku baik-baik saja. Hehehe..." ucap Siti melihat ke arah berlawanan dengan raut wajah yang aneh, dan dengan senyum yang dipaksakan sambil menggaruk kepalanya yang tidK gatal.


"Baiklah, habiskan makanamu lalu istirahatlah." ucap Wahyu dengan senyum lembut sambil beranjak bangun dari kursinya dan ingin segera pergi.

__ADS_1


"Tu-tunggu. Sayang, aku mau mandi. Apa aku bisa meminjam handuk dan pakaian ganti? Sejujurnya aku sudah sangat tidak nyaman." tanya Siti dengan malu-malu dengan pipi yang memerah seperti tomat sambil memainkan ujung rambutnya.


"Tentu saja. Aku akan segera kembali membawa yang kau butuhkan" ucap Wahyu yang kemudian berjalan di depan menuntun Siti menuju kamar mandi yang ada di rumah itu.


Lima menit kemudian, Wahyu pun datang membawa sebuah handuk pakaian yang kebesaran dimilikinya dan menyerahkan semua itu kepada Siti.


Siti pun menerimanya dengan senang hati lalu langsung berlari menuju kamar mandi dan membersihkan dirinya hingga benar-benar bersih.


Setelah merasa dirinya telah kembali hidup, Siti pun pergi mencari keberadaan Wahyu dan menemuinya Namun tak disangka, Siti melihat Wahyu telah berpakaian dengan sangat rapi dan bersiap untuk pergi.


"Apakah kau ingin pergi?" tanya Siti yang bingung melihat Wahyu telah memakai Jas dan berpenampilan tidak biasa dengan malu-malu dari balik pintu kamar wahyu.


"Ah, sayang! Kau sudah selesai mandi rupanya. Aku ingin pergi ke Club malam yang ada di Tengah Kota, aku dengar akan ada Seorang Bos besar datang dan aku ingin mencari keberuntungan dengannya mungkin saja aku bisa bekerja dengannya lalu menghasilkan banyak uang." ucap Wahyu dengan penuh semangat yang berapi-api dengan mata yang berbinar dengan penuh harapan.


"Apa? Bos Besar! Aku juga harus datang, mungkin saja aku juga akan beruntung lalu menjadi seperti Nona Arabella."ucap Siti dalam hati sambil tersenyum licik dengan tangan di dagu seolah sedang berfikir.


"Aku tidak akan hidup mewah jika bersamanya, aku tidak mau hidup miskin selamanya. Meskipun dia telah membantuku, aku akan membalasnya nanti dengan memberinya banyak uang jika berhasil menarik hati Bos Besar itu." ucap Siti lagi dalam hati dengan senyum sinis dan sorot mata yang merendahkan sambil melihat ke arah Wahyu yang sedang bersiap-siap pergi.


"Aku juga ingin pergi. Aku akan sangat bosan di sini sendiri. Aku mohon ajak aku." ucap Siti yang berjalan masuk ke dalam kamar dan berjalan medekati Wahyu dengan hanya memakai baju kemeja putih yang kebesaran.


Tak butuh waktu lama, Wahyu yang telah siap langsung pergi dari rumahnya dan mengendarai sepeda motornta dengan Siti yang terus melihatnya dari balik jendela rumah.


"Sial! Aku tidak akan kehilangan kesempatan berharga ini. Aku harus datang ke sana. Tapi .. Bagaimana caranya?" ucap Siti yang sedang berfikir sambil melihat ke sekeliling mencari sesuatu yang dapat dipakai olehnya.


Siti pun berjalan menuju lemari pakaian Wahyu dan mencari sesuatu yang menurutnya dapat berguna tapi tidak menemukan apapun namun tiba-tiba Siti melihat sebuah kotak beludru berwarna emas yang ada di tempat yang sangat bawah dan tersudut di dalam lemari.


Siti pun mengambil kotak tersebut dengan sedikit usaha lalu membukanya dan sangat terkejut dengan apa yang ada di dalamnya.


"Srak!"


"Syut!"


"Ah! Akhirnya bisa diambil juga!" gumam Siti dengan eskpresi wajah yang kesal karena harus menunduk dan terkena sarang laba-laba hanya karena ingin mengambil sebuah kotak.


"Klak!"

__ADS_1


"I-ini... Ini adalah gaun malam. Bahkan ada sepatunya juga!" teriak Siti dengan ekspresi wajah terkejut dan gembira di saat bersamaan.


Tanpa fikir panjang, Siti pun mengambil Gaun itu dan memakainya lalu bersiap untuk berangkat menyusul Wahyu.


Waktu berjalan dengan cepat, Siti yang telah siap telah sampai di sebuah Club Malam yang jika dilihat sangat besar dan juga mewah.


Siti datang dengan memakai Gaun berwarna merah hati dengan sepatu berwarna merah hati dan hitam dengan make up yang cukup berani membuat Siti tidak lagi terlihat seperti Pelayan Keluarga Arthama Jaya tapi seorang Gadis Muda dengan latar belakang Keluarga yang Kaya Raya.


"Tap! Tap! Tap!" suara langkah kaki.


Siti yang telah sampai tidak diizinkan masuk karena tidak memiliki undangan menjadi sangat kesal dan mulai memikirkan banyak cara untuk dapat masuk namun tak ada yang berhasil.


"Tolong, tunjukkan undangannya, Nona!" ucap salah satu Bodyguard yang berjaga di depan pintu.


"Aku lupa membawanya. Namun aku sudah datang, jadi bisakah aku masuk" ucap Siti dengan senyum menawan dan berharap dua Bodyguard yang berjaga mau mempersilahkannya masuk.


"Maaf, Nona. Anda tetap tidak bisa masuk jika tidak ada undangan." ucap Bodyguard yang berjaga dengan ekspresi wajah yang tajam dan menyeramkan.


"Sial! Aku tetap tidak masuk jika tidak ada undangan. Seharusnya aku mencuri undangan Pacar payahku itu!" ucap Siti dalam hati dengan ekspresi wajah yang kesal.


Saat Siti kebingungan karena tidak bisa masuk tiba-tiba ada seorang Pria Tua dengan tubuh gemuk datang dan menawarkan bantuan.


"Tap! Tap! Tap!" langkah kaki.


"Nona cantik ini datang bersamaku, apakah dia masih membutuhkan Undangan untuk masuk?" tanya seorang Pria dengan tubuh gemuk yang berjalan ke arah Siti lalu merangkul pinggul Siti dan mencubitnya dengan genit.


"Sial! Pria gendut ini mencari keuntangan dariku!" ucap Siti dalam hati dengan ekspresi kesal yang tidak bisa ditunjukkan.


"Tentu saja!" ucap Siti sambil tersenyum manis sambil menutupi setengah wajahnya dengan kipas yang dipegangnnya.


"Maaf, Tuan Agio. Tentu saja Tuan dan Nona boleh masuk." ucap kedua Bodyguard dengan bergantian dengan perubahan sikap yang begitu drastis. Keduanya langsung memasang wajah hormat dan menundukkan kepala.


"Ayo, Nona cantik. Kita masuk ke dalam." ucap Tuan Agio dengan senyum yang dikelilingi dengan fikiran kotor sambil melihat ke tubuh Siti seolah sedang melihat mangsa dengan mata yang berbinar cerah.


#Bersambung#

__ADS_1


__ADS_2