Cinta Pertama Membawa Luka

Cinta Pertama Membawa Luka
Kejanggalan Sebuah Foto


__ADS_3

Happy Reading🌹🌹


Kakek Kristoff hanya duduk diam dengan mendengarkan pembicaraan Daniel dan Robby.


Hingga, bibirnya tiba-tiba mengatakan sesuatu.


"Tapi, kakek dan Robby bertemu pria yang sangat mirip denganmu." Kakek Kristoff menyela pembicaraan keduanya.


Daniel dan Robby berhenti tertawa, kedua wajah tersebut langsung berubah menjadi datar karena senyum di bibir mereka sirna.


Daniel mengerjabkan kedua matanya cepat, berarti Mamanya sudah bertemu saudara kembarnya.


Atau, bagaimana. Membuat Daniel bingung.


"Benar apa yang di katakan kakek Kristoff, kami bertemu pria yang seperti pinang dibelah dua denganmu. Seperti tidak ada celah perbedaannya, hanya mungkin sifatnya saja." Jelas Robby kepada Daniel.


"Ya, bahkan dia dengan tegas menolak berdekatan dengan Kakek." Ucap kakek Kristoff.


Kakek Kristoff teringat di saat Gabriel tidak tertarik jika dirinya ingin menjadi dengat dengan pria muda itu.


"Bukankah seharusnya para asisten maupun sekertaris berlomba-lomba dekat dengan kolega mereka, tetapi pria itu sungguh lebih dingin dibandingkan dirimu." Jelas Robby.


"Kalian bertemu dimana?" Tanya Daniel dengan jantung yang berdebar cepat.


"Dia asisten di perusahaan Gandratama, orang kepercayaan dari Ayahnya sendiri." Jawab Robby jujur.


"Ayah?" Beo Daniel.


"Hemm, dia putra kedua dari Tuan Agung pemilik perusahaan Gandratama dan memiliki seorang kakak bernama Sky." Jelas kakek Kristoff.


Daniel menjadi lesu, bahkan bola matanya dengan liar melihat kesegala arahndi ruangan rawat inap tersebut.


Mungkinkah salah orang, seharusnya saudaranya itu yatip piatu tidak memiliki seorang Ayah dan Ibu. Apalagi sekelas konglomerat seperti keluarga Gandratama.


Daniel menghela nafasnya pelan, ya mungkin hanya sekedar mirip. Bukankah ada tujuh orang di dunia ini mirip dengan kita.


Teringat percakapan antara Robby dan dirinya yang baru saja terjadi, Daniel meyakini jika Daniel salah satu dari ke tujuh orang tersebut.


.


.


.


Robby dan kakek Kristoff telah kembali ke apartemen setelah menemui Daniel dan mengobrol hal-hal kecil.

__ADS_1


Kini keduanya tengah duduk di ruang tamu, dan di hadapan mereka sudah terdapat banyak foto yang dicetak oleh bodyguard.


Kakek Kristoff terlihat mengamati dengan serius dan teliti, bahkan kakek Kristoff memisahkan foto-foto yang akan menjadi petunjuk berikutnya.


"Bukankah ini Rumah Sakit dimana Daniel dirawat?" Tanya kakek Kristoff dengan menunjuk salah satu gambar.


Robby mengambilnya dan berubah jadi pandangan yang serius.


"Benar, Tuan." Jawab Robby.


"Ini adalah Gabriel, apakah ini Sky dan ini Agung ayahnya?" Tunjuk kakek Kristoff karena sebelumnya belum pernah bertemu dengan kedua pria tersebut.


"Benar, Tuan. Mereka adalah Tuan Agung dan Tuan Sky." Jawab Robby asistennya.


Robby mengeluarkan informasi dan data dari keluarga Gandratama, hanya ada foto dan nama mereka.


"Kenapa hanya foto dan nama saja?" Tanya kakek Kristoff heran.


"Hanya ini yang dapat kami temukan, Tuan." Jawab Robby jujur.


Kakek Kristoff berfikir, mereka memang keluarga konglomerat mungkin untuk melindungi keluarga seperti dirinya. Menyembunyikan informasi apapun di luar sana.


"Bagaimana penyelidikan tentang Kristal?" Tanya kakek Kristoff.


"Nyonya, terakhir terlihat di rumah sakit sore ini, Tuan dan di antarkan ke rumah gadis yang ada di CCTV ini lagi." Jawab Robby menjelaskan.


"Tidak mungkin jika Kristal ingin menjadi orang ketiga dalam keluarga Gandratama bukan?" Tanya kakek Kristoff pelan.


"Tidak mungkin, Tuan." Jawab Robby cepat.


Robby berfikir, jika Kristal berniat mencari suami yang tak kalah dengan keluarga Kristoff mungkin sudah sejak dulu Kristal menikah lagi. Begitulah pemikiran Robby.


Kakek Kristoff sekali lagi melihat foto Kristal yang tertangkap kamera keluar dengan Gabriel.


Hingga kedua mata kakek Kristoff melebar, "Robby, segera selidiki informasi apapun di Rumah Sakit terkait dengan Gabriel. Jangan sampai kecolongan dan ketahuan, kita harus mengetahuinya lebih dulu." Perintah kakek Kristoff dengan tegas.


"Baik, Tuan." Robby segera menghubungi para bodyguard yang sudah mereka sebar.


Segera para bodyguard bergerak setelah mendapatkan perintah dari atasannya.


Kakek Kristoff hanya diam, hingga akhirnya bersuara.


"Bagaimana jika, Gabriel ada anak Kristal." Ucap kakek Kristoff.


"Bagaimana mungkin, jika Nyonya Kristal memiliki dua anak. Bagaimana cara Nyonya Kristal selama ini menyembunyikan keberadaannya di dunia ini." Jawab Robby yang tidak percaya.

__ADS_1


Kakek Kristoff hanya diam, memang ada benarnya apa yang dikatakan oleh Robby.


Bagaimana cara Kristal selama ini menyembunyikannya jika saat itu Kristal juga sibuk mengurus Daniel di mansion.


Pandangan kakek Kristoff hanya tertuju di satu foto, bagaimana wajah Kristal yang begitu mengkhawatirkan Gabriel di gambar itu.


"Sebenarnya apa yang sedang kamu cari di negara ini, Kristal." Ucap kakek Kristoff dalam hati.


Kakek Kristoff akhirnya memutuskan untuk lebih lama berada di negara tersebut, dan menyerahkan urusan perusahaan kepada Robby.


Robby tidak dapat menolak, mengingat usia dari atasannya dan kesehatan Daniel yang sedang menurun.


Robby sering bertolak dari Jakarta ke Korea, begitu juga sebaliknya.


Setiap bertemu dengan Stevan maupun Eve, Robby hanya diam seribu bahasa dan melalui mereka begitu saja.


Seperti hari ini.


"Dimana Ayah, kenapa hanya kamu yang pulang?" Tanya Stevan pada Robby.


Robby hanya mengangguk dan melewati tubuh Stevan juga, tetapi Stevan mencekal pergelangan tangan Robby.


Robby berhenti dan melihat tangan Stevan saja.


"Ingat, kamu hanya asisten Ayahku. Aku adalah anaknya, jadi kamu juga harus menjawab apa yang aku tanyakan." Ucap Steva dengan emosi.


"Benar, Anda adalah anaknya. Tetapi saya bekerja di bawah Tuan Kristoff sebagai pimpinan perusahaan. Jika Anda ingin saya menghormati Anda, jadilah pimpinan perusahaan Kristoff." Kata Robby telak.


Robby sudah yakin jika pemimpin selanjutnya adalah Daniel atau saudari kembar dari Stevan.


Mengingat bagaimana kacaunya perusahaan ketika di pimpin Stevan kalau itu, saat itu sang ayah yang masih hidup membantu memperbaiki perusahaan.


"Kenapa kamu menanyakan pertanyaan yang bodoh, tentu saja hanya aku yang pantas memimpin perusaah Kristoff." Ucap Daniel dengan ponggah.


"Masih ada Tuan Daniel dan Nyonya Stevani. Anda jangan lupa, Tuan." Kata Robby lagi dan berlalu meninggalkan Stevan sendiri.


Stevan menatap punggung Robby dengan tajam, Eve keluar dari persembunyiannya dan mengelus lengan sang suami.


"Dengar sendiri kamu sayang, kamu tidak akan berguna di keluarga Kristoff jika tidak menjadi pemimpin perusahaan. Karena itu, kita harus memiliki perusahaan agar Robby dan Daniel menurut denganmu." Ucap Eve dengan mulut racunnya.


"Benar, aku tidak bisa terus di pandang sebelah mata seperti ini oleh Ayah dan anakku sendiri." Kata Stevan yang mulai terhasut lagi.


"Bagaimana, jika kita mendekati para pemilik saham perusahaan Kristoff dulu. Untuk mencari dukungan?" Tanya Eve dengan memberi saran kepada Stevan.


"Benar, aku akan menghubungi keluarga Kim. Karena dia pemegang saham terbesar kedua setelah Ayah." Ucap Stevan dengan semangat.

__ADS_1


Eve tersenyum lebar, otak cerdasnya yang selalu memanfaatkan situasi membuat Stevan selalu. menurut dengan ucapannya.


...🐾🐾...


__ADS_2