
Happy Reading🌹🌹
Obrolan Ambar dan Bulan terus berlanjut, sedangkan Kristal hanya diam dan mendengarkannya saja.
"Duh, maaf ya Kristal. Kami kalau sudah mengobrol suka lupa daratan." Ucap Ambar tidak enak hati.
"Tidak apa-apa, aku suka mendengarkan kalian bercerita." Jawab Kristal halus.
"Iya, apalagi anak temanku sedang melamar kekasihnya." Ucap Bulan memberitahu Kristal.
"Pasti keluarganya sangat bahagia." Jawab Kristal lagi.
"Tentu saja, aku juga bahagia. Dave tidak menganggu menantuku lagi." Kata Ambar dengan terkekeh pelan.
"Dave, aku kenal Dave. Tapi tidak tahu apakah ini Dave yang sama." Ucap Kristal jujur.
"Benarkah, coba lihat. Apakah pria ini?" Tanya Bulan kepada Kristal dengan menunjukkan foto Dave Danuarta pembisnis hiburan nomor satu.
Kristal melebarkan kelopak matanya, "Iya benar, ini Dave. Berarti dia akan menikah dengan Rose? Zia Rose Amanda." Tanya Kristal kaget.
"Rose, sahabat Putri?" Tanya Ambar kepada Bulan.
"Iya." Jawab Bulan dengan menganggukkan kepala.
Kristal bahagia dan kaget, bahagia akhirnya Rose dapat bersatu dengan pria yang dulu membuat gadis itu lari ke Korea hingga akhirnya bertemu dengannya.
Kaget, kenapa Rose tidak memberitahukan kabar bahagia ini kepadanya.
Kristal mendongak, terlihat Gabriel tengah berdiri di dekat pintu. Ketika bertatapan dengan Kristal langsung saja Gabriel pergi melangkahkan kakinya.
Kristal hanya menaikkan sebelah alisnya, melihat wajah Gabriel yang tidak bersahabat tersebut.
"Kenapa dengan El, apakah dia marah kepadaku?" Gumam Kristal.
"Semuanya, aku pamit kebelakang sebentar ya." Ucap Kristal yang sudah beranjak dari duduknya.
"Mau kenapa, Kris?" Tanya Bulan.
"Ambil minum sebentar." Jawab Kristal berbohong.
Bulan dan Ambar mengangguk, Kristal mulai berjalan meninggalkan kedua wanita yang kembali asik bercerita.
Terlihat, langkah kaki Kristal berjalan mengitari mansion Gandratama mencari Gabriel. Hingga langkahnya terhenti di taman belakang.
Gabriel yang sedang duduk di kursi taman dengan menatap bintang di gelapnya malam, menolehkan kepalanya karena mendengar seseorang melangkah mendekat.
"Mama." Ucap Briel.
Kristal tersenyum dan ikut bergabung Gabriel duduk di bangku besi taman belakang.
"Kenapa malam-malam diluar sendiri?" Tanya Kristal pelan.
"Hanya mencari angin." Jawab Gabriel singkat.
"Benarkah?" Tanya Kristal penuh selidik.
Gabriel hanya diam dengan menganggukkan kepalanya sebagai jawaban iya.
"Apa kamu mencintai Rose?" Tanya Kristal tiba-tiba.
__ADS_1
Gabriel menoleh sesaat ke arah Kristal dan membuang pandangannya kembali menengadah menatap bintang di langit.
"Tidak." Jawab Gabriel singkat.
"Apa kamu yakin." Tanya Kristal lagi.
"Ya." Jawab Gabriel semakin singkat.
Kristal mengelus surai hitam Gabriel dengan lembut, menatap wajah pria yang berada didepannya hanya dari samping.
"El, jika kamu mencintai seseorang. Utarakan perasaanmu sebelum penyesalan itu datang. Cobalah memperjuangkan cintamu." Ucap Kristal pelan.
"Gabriel tidak akan pernah merusak dongeng seseorang, hanya untuk membangun dongeng Briel sendiri." Jawab Briel pelan.
Kristal terharu mendengar jawaban Gabriel, Kristal meneluk tubuh putra pertamanya tersebut. Menepuk pelan untuk menyalurkan kekuatan.
Di balik punggung Kristal, Gabriel menitikan setitik air mata dari mata dinginnya.
"Kenapa, Mama dan Gabriel berpelukan sendiri." Ucap Daniel yang datang berjalan menghampiri keduanya.
Kristal melepaskan pelukannya dan menatap Daniel dengan senyumnya.
"Sini, sayang." Panggil Kristal.
Daniel langsung duduk di pangkuan Kristal dan memeluk tubuh kecil sang Mama.
Gabriel hanya mendengus kesal, "Dasar bocah."
Daniel hanya menjulurkan lidahnya saja, seakan mengejek sang Kakak.
"Sirik, kenapa kamu disini. Masuk sana dicari Kak Sky dan Kak Putri." Ucap Daniel mengusir Gabriel.
"Tidak ada yang salah, karena mereka lebih tua dari kita." Jawab Daniel enteng.
"Mah, jujur saja dengan Gabriel. Siapa yang lahir lebih dulu. Aku atau Daniel?" Tanya Gabriel dengan mimik wajah serius.
"Jelas, Daniel-lah. Gabriel itu lahir satu jam setelah Daniel, benarkan Mah?" Daniel menyela ucapan Gabriel dengan mengedip-ngedipkan kedua matanya cepat ke arah Kristal.
Gabriel yang melihat mata Daniel, segera menutup mata kembarannya dengan kesal.
Briel langsung beranjak dari duduknya, berlalu dari hadapan Kristal dan Daniel.
Daniel terkekeh namun tawanya langsung berhenti ketika melihat tubuh saudara kembarnya hilang ke dalam mansion.
"Ada apa, Mah?" Tanya Daniel serius.
"Tidak ada, El." Jawab Kristal mengacak rambut Daniel pelan.
Daniel merapikan rambutnya kembali rapi setelah di rusak oleh Kristal.
"Apa karena gadis pendek itu?" Tanya Daniel kepada Kristal.
"Mama kurang tahu, El. Sudah ayo kembali masuk, jangan memikirkan masalah percintaan Kakakmu." Ucap Kristal yang penepuk pantat Daniel.
Daniel berdecak kesal, "Wanita memang membuat susah saja, seharusnya aku sudah curiga sejak gadis bar-bar itu muncul dihadapanku." Gumam Daniel dengan memajukan bibirnya.
Sedangkan di kediaman Amanda.
Rose semakin mengurung diri di dalam kamarnya, memikirkan apakah sudah tepat keputusannya.
__ADS_1
Rose gelisah memikirkan acara pertunangannya dengan Dave Minggu depan.
Rose akhirnya memutuskan untuk menelfon sahabatnya, Putri.
Satu panggilan tidak terjawab.
Dua panggilan tidak terjawab.
Tiga panggilan langsung kena sentak.
"Apa kau tidak tahu waktu!" Seru Sky di sebrang telfon.
Rose menjauhkan ponsel dari telinganya, "Kenapa pria kejam yang mengangkatnya sih." Gerutu Rose dengan wajah masam.
"Apa! Pria kejam, awas kau gadis pendek. Jangan menganggu pasangan suami istri di malam hari, pamali." Omel Sky di sebrang telfon.
Rose langsung mematikan sambungan telfonnya.
"Iya pamali, pamali telfon Putri malam-malam yang ngangkat suaminya." Oceh Rose dengan kembali merebahkan tubuhnya.
Sedangkan di mansion, Sky meletakkan ponsel istrinya dengan serampangan.
"Kenapa, Mas?" Tanya Putri.
"Apa kamu tidak bisa menular tambah sahabatmu itu, sayang." Ucap Sky dengan mengambil kopi buatan Putri.
"Mas pikir barang. Kenapa?" Jawab Putri dengan menepuk lengan suaminya.
Sky menceritakan bagaimana Rose mengatainya pria kejam, dengan bersungut-sungut.
Putri tergelak mendengar cerita sang suami, "Oh, astaga. Kamu memang pria kejam sayang." Jawab Putri dan mencium pipi Sky.
Sky semakin masam wajahnya, padahal Sky sudah menjadi bapackabel untuk anaknya.
"Apa kalian tidak ada tempat lain untuk bermesraan?" Tanya Gabriel yang baru saja datang.
Putri masih tertawa mengingat Rose menjawab ucapan Sky, "Tidak, Briel. Apa kamu tahu Sky baru bertengkar dengan Rose." Ucap Putri dengan terkekeh.
"Sudahlah, jangan dibahas lagi sayang. Kesal sekali aku." Kata Sky dengan bersedekap dada.
Putri hanya terkekeh geli.
"Memang kenapa?" Tanya Gabriel kepo.
Sky langsung menutup mulut Putri agar tidak menceritakan kepada Gabriel.
"Rahasia, jika kamu mau tahu tanya saja sendiri." Jawab Sky dengan wajah mengejek.
"Cih, kekanakan." Ucap Briel berdecih.
"Oh, ya. Ada apa kalian memanggilku?" Tanya Gabriel.
Sky dan Putri langsung menyudahi pembicaraan mereka, serius melihat ke arah Gabriel.
"Bagaimana keputusanmu Briel, apa kamu ingin pergi ke Korea?" Tanya Putri pelan.
...🐾🐾...
__ADS_1
Jangan lupa VOTE, dukung terus untuk novel ini 😘