
Happy Reading 🌹🌹
Mobil yang ditumpangi Gabriel telah sampai dibasement, setelah selesai berbelanja langsung saja Gabriel membawa Kristal pulang ke apartemen miliknya.
Terlihat Gabriel berjalan kebelakang kap mobil untuk mengambil koper Kristal yang cukup besar tersebut.
"Biar, Tente saja yang bawa." Ucap Kristal pelan.
"Baiklah." Briel menyerahkan koper kepada Kristal.
Segera Gabriel mengambil tas belanjaan mereka dan tidak lupa makanan yang sudah dibelinya di tempat makan tadi.
Keduanya berjalan beriringan dengan tangan penuh bawaan mereka masing-masing.
Ting
Terdengar bunyi lift yang baru saja pintunya terbuka, memberi jalan kepada orang lain yang akan keluar.
Setelah lift kosong barulah Gabriel dan Kristal berjalan masuk.
"Lantai berapa, Briel?" Tanya Kristal kepada Gabriel yang terlihat kesusahan membawa barang belanjaan.
"23." Jawab Briel singkat.
Segera jari Kristal terulur memecet tombol 23, dimana unit apartemen Gabriel berada.
Tidak membutuhkan waktu lama, lift telah sampai dilantai yang mereka tuju.
Gabriel berjalan lebih dahulu dengan di ikuti Kristal dibelakangnya.
Terlihat Gabriel berjongkok untuk meletakkan belanjaan mereka ke lantai, karena kartu akses kunci apartemen berada didalam saku celananya.
Tidak mungkin jika Briel menyuruh Kristal untuk mengambilnya, salah-salah Kristal mengetahui sesuatu yang selalu disembunyikan Gabriel dengan rapat.
"Silahkan masuk, Tan." Ucap Briel dengan membukakan pintu apartemennya selebar mungkin.
Kristal tersenyum lembut, "Terima kasih." Jawab Kristal.
Kristal masuk terlebih dahulu dengan menyeret kopernya, kemudian Gabriel menyusulnya masuk dengan membawa belanjaan sampai dua kali baru menutup pintu apartemen.
"Untuk malam ini, Tante tidur dulu dikamarku. Karena kamar satunya belum Gabriel bersihkan." Ucap Briel dengan mengambil air dingin didalam kulkas.
"Tante tidur di sofa dulu tidak apa, Gabriel." Tolak Kristal halus.
"Tidak apa Tante, Briel lebih sering lembur di ruang tengah." Jawab Briel tidak menerima penolakan.
"Apakah kamu sering lembur bekerja?" Tanya Kristal lagi.
Gabriel mengangguk dan menaruh air putih dingin yang masih berada didalam kemasan.
"Duduk saja, Tan. Anggap saja rumah sendiri, maaf apartemenku memang kecil." Ucap Briel kepada Kristal.
__ADS_1
Kristal mengangguk dan mendudukkan bobot tubuhnya disofa hitam tersebut.
"Apartemenmu sangat nyaman, Briel. Kamu hanya tinggal sendiri, bagaimana dengan orang tuamu?" Tanya Kristal gugup.
"Orang tuaku berada dimansion utama, aku hanya ingin mandiri dari mereka. Meskipun akhirnya tidak dapat mandiri, karena Mamaku terkadang sering berkunjung kemari." Jawab Gabriel panjang lebar.
Sepertinya baru kali ini Gabriel menjawab pertanyaan dari orang asing sepanjang itu.
Jantung Kristal berdenyut nyeri, apakah Gabriel bukan Elbaracknya. Tapi... wajah itu sangat mirip dengan Daniel.
"O... oh, benarkah. Orang tuamu pasti sangat menyayangimu." Ucap Kristal yang berusaha tersenyum meskipun terasa pahit.
"Sangat." Ucap Gabriel singkat.
Briel langsung kembali kedapur untuk menyiapkan makan malam. Gabriel tidak ingin terlihat lemah didepan orang lain.
Kristal hanya diam, menyelami perasaannya.
"Aku harus lebih banyak mengorek tentang Gabriel, perasaan seorang Ibu tidak pernah salah, aku yakin dia adalah Elbarack." Tekad Kristal dalam hati.
Kristal beranjak dari duduknya dan menghampiri Gabriel yang tengah memanaskan masakan.
"Bersihkan dirimu, Gabriel. Biar Tante yang menyiapkan ini semua." Ucap Kristal pelan.
Gabriel menyerahkan peralatan masaknya kepada Kristal, dan berjalan menuju kamarnya untuk mandi.
Sedangkan Kristal, dengan cekatan dan telaten menyiapkan makan malam pertamanya dengan sang anak.
Bibir Kristal bergetar, mengingat Kristal hanya mendapatkan kesempatan untuk memasak dan makan bersama dengan Elbarack hingga berumur 4/5 tahun.
Setelah selesai memanaskan semua masakan, segera Kristal menyajikannya diatas meja makan.
"Kurang nasi, dimana nasinya." Ucap Kristal.
Kristal membuka semua lemari yang ada didapur, Kristal menemukan banyak mie instan dan juga nasi instan.
Terasa miris, apakah El tidak memperhatikan kesehatannya. Semakin menambah sayatan didalam hati Kristal.
Kristal mengambil dua nasi instan dan dimasukkannya kedalam microwave. Hanya membutuhkan waktu lima sampai tujuh menit nasi instan tersebut sudah siap disajikan.
Terlihat Gabriel sudah mengenakan baju santainya dengan rambut yang masih terlihat lembab.
"Duduklah, Briel." Ucap Kristal.
Gabriel duduk di sofa menurut saja kepada Kristal, sedangkan Kristal mengambil handuk yang ada ditangan Gabriel.
Briel kaget, karena Kristal akan mengeringkan rambutnya.
"Kenapa?" Tanya Kristal heran.
"Aku bisa sendiri." Ucap Briel dingin.
__ADS_1
Seumur hidupnya, hanya Mama Ambar yang mengeringkan rambutnya, menyentuh tubuhnya yang telanjang, dan mungkin mengetahui burung perkututnya.
"Baik, maafkan Tante." Ucap Kristal merasa bersalah dan sedih.
Gabriel tidak menjawab, Briel membawa langkah kakinya menuju meja makan yang ada didapur.
Kristal mengikutinya dan menyerahkan satu piring nasi instan dihadapan Gabriel.
"Maaf, Tante hanya dapat menemukan itu." Ucap Kristal pelan.
"Tak apa." Jawab Briel singkat.
Keduanya melakukan makan malam dengan suasana hening, hanya ada dentingan sendok yang terdengar.
Sesekali Kristal melirik Gabriel yang duduk didepannya. Terlihat, Gabriel dengan wajah datar dan tenang memakan makanannya.
Gabriel telah selesai makan terlebih dahulu, dan langsung membawa piringnya ke wastafel.
"Biarkan disitu saja, Briel. Nanti Tante cuci." Ucap Kristal melarang Gabriel.
Gabriel mengangguk dan berjalan meninggalkan Kristal makan sendiri, sedangkan Gabriel menuju ruang tengah untuk menonton TV.
Kristal memperhatikan gerak-gerik Gabriel, beruntung ruangan tengah dan tempat makan tidak terhalang apapun. Membuat Kristal leluasa menatap Gabriel dari belakang.
...🐾🐾...
Dikediaman Amanda.
Terlihat Rose hanya mengaduk-aduk makannya saja dengan sesekali menghela nafas kasar.
"Kamu kenapa, Rose?" Tanya Ayah Nugroho.
"Rose bosan, rumah ini jadi sepi tidak ada Tante Kristal." Jawab Rose dengan wajah tidak bersemangat.
Ayah Nugroho hanya menggelengkan kepalanya pelan, "Sejak dulu juga seperti ini, Rose. Cepat makan jangan dibuat mainan." Ucap Ayah Nugroho.
Rose mendengus sebal, dengan malas-malas Rose memasukkan nasi kedalam mulutnya.
"Ayah, tidak ingin menikah lagi?" Tanya Rose pelan.
Ayah Nugroho menghentikan gerakan tangannya, "Apa kamu ingin memiliki Ibu sambung?" Tanya Ayah Nugroho balik kepada Rose.
Rose terdiam, dalam hatinya sangat ingin tetapi apakah nanti Ibu tirinya akan sebaik Bundanya dulu. Atau justru seperti di sinetron-sinetron.
"Jangan bicarakan hal yang tidak penting lagi, Rose. Kita sudah bahagia hidup berdua beberapa tahun belakangan ini." Ucap Ayah Nugroho kembali.
Rose menganggukkan kepalanya lemah, hingga dering ponselnya membuat Rose harus pergi menjauh dari sang Ayah.
"Angkat saja." Ucap Ayah Nugroho.
"Em... Rose duluan ya, Ayah." Pamit Rose kepada Ayahnya.
__ADS_1
Rose segera mengambil ponsel miliknya dan berjalan keluar mansion, karena di ponselnya tertera nomor kekasihnya Dave yang tengah memanggil.
...🐾🐾...