
Happy Reading 🌹🌹
Waktu terus berjalan.
Dave setiap hari memakan makanan yang di titipkan Rose kepada resepsionisnya, perkembangan hubungan mereka sedikit lebih maju.
Dave mulai membalas pesan dari Rose meskipun hanya sekedar satu huruf atau satu kalimat saja.
"Kak Dave, apakah bisa kita bertemu? Ada yang ingin aku bicarakan." Pesan Rose kepada Dave.
Dave menanyakan kepada resepsionis apakah ada titipan makan siang untuknya hari ini?
Resepsionis menjawab tidak ada titipan apapun dari gadis kecil itu.
"Katakan saja." Balas Dave kepada Rose.
"Tidak bisa Kak, kita harus bertemu. Kita akan makan siang juga." Balas Rose menolak permintaan Dave.
"Baiklah, kirimkan saja alamatnya." Balas Dave to the point.
"Baiklah, akan aku share lokasinya." Balas Rose dengan di tambahkan emotikon hati.
Dave hanya membaca tanpa membalasnya, sepertinya kebiasaan Dave masih sama tapi Rose sudah senang meskipun Dave masih banyak bersikap acuh kepadanya.
Telihat gadis cantik sudah duduk di satu meja restoran mewah, terlihat beberapa kali dia mengaca dan juga merapikan rambutnya.
"Huft, oh Rose. Jangan membuat malu, kamu pasti bisa." Ucap Rose kepada dirinya sendiri.
Cukup lama Rose menunggu hingga akhirnya sepatu pantofel mendekat ke arah mejanya, "Maaf lama." Ucap Dave yang sudah menarik kursi dan mendudukinya.
"Eh, tidak kak." Jawab Rose tersenyum.
Lagi-lagi, matanya harus melihat tanda merah di leher Dave. Kali ini hanya satu tidak banyak seperti kemarin, Rose mencoba menguatkan hatinya.
Rose mencintai pria di depannya, dia akan menerima masa lalu Dave.
Ya, sebelum Dave menemui Rose. Lagi-lagi sekertarisnya menggoda dan akhirnya Dave jatuh dalam permainanan panas cukup lama.
"Kita pesan dulu saja kak, aku sudah lapar." Ucap Rose menutupi rasa sedihnya.
Dave hanya mengangguk, dia juga mulai membuka buku menu dan memanggil pelayan.
Tidak membutuhkan waktu lama, makanan yang mereka pesan sudah tersaji di hadapan mereka masing-masing.
Mereka makan dengan suasana hening, dan hanya suara dentingan sendok dan garpu. Juga beberapa suara pengunjung yang ada di restoran tersebut.
"Apa yang ingin kamu katakan?" tanya Dave memulai pembicaraan mereka.
Dave melihat Rose sudah menyelesaikan makanannya, dan melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Dave harus segera kembali ke kantor.
__ADS_1
"Apa Kak Dave sudah move on dari Putri?" Tanya Rose to the point.
Dave menatap lekat kearah Rose, "Sampai kapanpun Putri memiliki posisi tersendiri di dalam hatiku." Jawab Dave dingin dan tegas.
Rose tertegun sesaat, "Ya, maksudku bukan untuk membuat Kak Dave melupakan Putri. Hanya... hanya saja aku menyukai Kak Dave." Ucap Rose di kalimat terakhir dengan suara lirih.
"Tidak mungkin aku menjalin hubungan dengan orang terdekat dengan Putri, kamu paham maksudku." Jawab Dave dengan wajah dinginnya.
"Tapi Kak, namanya jodoh kita tidak tahu. Tolong berikan aku kesempatan Kak jika memang Kak Dave bukan jodohku. Aku tidak akan mengejar kakak lagi." Ucap Rose dengan penuh harap kepada Dave.
"Usia kita terpaut jauh Rose, kamu bukan typeku." Jawab Dave cepat.
"Aku akan berubah untuk menjadi type yang Kakak inginkan." Ucap Rose cepat.
Dave menyunggingkan senyum miringnya, "Apa kamu yakin Rose? Kamu tahu, aku habis bercinta sebelum kesini. Lihat leherku, apa kamu yakin dapat memenuhi wanita idamanku." Kata Dave panjang lebar dengan menunjukkan tanda biru keunguan di lehernya.
Rose menelan ludahnya susah payah, pikirannya traveling membayangkan yang tidak-tidak. Tetapi Rose yakin dapat menjerat Dave dan membuat pria itu bucin akut seperti suami Putri tanpa harus menyerahkan kesuciannya.
"Yakin Kak, akan aku coba. Berikan aku kesempatan." Ulang Rose lagi.
"Baiklah kita akan mencoba hubungan ini tiga bulan, jika kamu tidak memenuhi kriteriaku. Maka jangan pernah mendekatiku lagi." Jawab Dave tegas.
Dave mengambil keputusan dengan memberi Rose waktu tiga bulan lamanya, karena Dave yakin jika Rose semakin ditolak maka akan semakin gencar mendekati dirinya.
Rose menganggukkan kepalanya cepat, bibirnya tertarik ke atas membuat lengkungan sempurna di bibir indahnya.
"Ya, Kak." Jawab Rose sedikit tidak rela, dia membayangkan jika wanita itu mendekati Dave lagi.
Dave mendekat dan mencuri kecupan di bibir Rose, "Sebagai perkenalan." Dave kemudian berlalu dari hadapan Rose yang tengah membeku di tempatnya.
"Oh my goddddd!!!!!!" Jerit Rose dari dalam hatinya.
Rose menepuk-nepuk nepuk pipinya dengan perasaan yang bahagia dan juga malu secara bersamaan.
Dave mencium bukan ralat mengecup bibirnya di tengah restoran yang banyak pengunjung ini.
Segera Rose keluar dari restoran tersebut, dan segera mengendarai mobilnya menuju mansion Sky. Rose sudah tidak sabar menceritakan semuanya kepada sahabatnya.
Sedangkan Dave, merutuki dirinya karena mencium bibir Rose di tempat umum.
"Oh, Dave. Matilah kau, apa yang kau lakukan. Bisa-bisanya mencium bibir itu lagi." Ucap Dave frustasi dengan memijat pangkal hidungnya.
...🐾🐾...
Rose mengendarai mobilnya dengan suka cita, hingga mobil yang Rose kendarai telah sampai di kediaman Wiratama.
Dengan langkah riang, Rose berlari dan memeluk Putri dengan erat hingga membuat Putri terbatuk-batuk.
"Apa kamu mau membunuhku Rose." Sungut Putri dengan melepas paksa pelukan dari sahabatnya.
__ADS_1
Rose tersenyum kikuk dengan menggaruk rambutnya yang tidak gatal.
"Kamu tidak akan membunuhmu, tetapi juga bayiku karena tergencet oleh tubuhmu itu." Putri masih mengomel.
Kini Rose sudah duduk bersama Putri di ruang tamu mansion Gandratama.
"Ada apa Rose?" Tanya Putri membuka pembicaraan.
"Aku jadian dengan Pak Dave." Jawab Rose gemas dengan memukul-mukul pinggir sofa.
"Kalian pacaran?" Tanya Putri memastikan.
Rose mengangguk dengan cepat, terlihat senyum secerah mentari pagi. Mata yang berbinar bagaikan ada cahaya cinta di dalam matanya.
"Selamat Rose, aku ikut bahagia untuk kalian." Ucap Putri dengan memeluk Rose.
Langkah seseorang terhenti mendengar percakapan kedua gadis tersebut, sedetik kemudian orang tersebut melanjutkan langkah kakinya menuju suatu ruangan.
Wajah Rose berubah menjadi pias, dia teringat ucapan Dave ketika di restoran.
Putri yang melihat perubahan wajah sahabatnya menjadi heran, baru saja dia terlihat seperti wanita paling bahagia di dunia sedetik kemudian terlihat nelangsa.
"Ada apa Rose, ceritakan." Ucap Putri penuh penekanan dan menggenggam erat tangan Rose.
"Anu.. emm... apa aku bisa menjadi wanita dewasa Put?" Cicit Rose lirih.
"Bukankah kita sudah dewasa Rose." Ucap Putri dengan wajah polosnya.
"Bukan itu maksudku Put," Rose semakin gelisah menjelaskan kepada Putri.
Putri menaikkan sebelah alisnya, " Usia kita hampir dua puluh tahun. Tentu saja kita sudah dewasa Rose." Ucap Putri dengan pemikirannya.
"Apa kamu ingat wanita yang bersama Pak Dave di cafe tempo hari. Maksudku menjadi wanita dewasa yang seperti itu, berpakaian modis dan sexy, memakai make up dan gincu merah merekah, memakai Haighils kemanapun aku pergi." Jawab Rose panjang lebar dengan menatap lekat wajah Putri.
"Apa kamu ingin menjadi wanita itu agar Kak Dave melihatmu Rose?" Tanya Putri serius.
...🐾🐾...
Yang berjuang
Yang diperjuangkan
Yang menunggu nasib
__ADS_1