Cinta Pertama Membawa Luka

Cinta Pertama Membawa Luka
Kami Bertemu Pria yang Mirip Denganmu


__ADS_3

Happy Reading 🌹🌹


Kakek Kristoff dan Robby telah selesai menandatangani berkas kerjasama antara dua perusahaan tersebut.


"Terima kasih, Tuan. Mohon maaf jika kedua pimpinan perusahaan tidak dapat menghadiri rapat hari ini." Ucap sang sekertaris sopan karena merasa tidak enak hati.


"Sama-sama, semoga kerjasama ini dapat membawa perusahaan keduanya semakin maju." Jawab kakek Kristoff.


"Terima kasih. Mari, Saya antarkan." Ucap sang sekertaris.


Kakek Kristoff dan Robby keluar ruang rapat dengan sang sekertaris.


"Sekali lagi, Terima kasih Tuan." Ucap sekertaris Sky sebelum kakek Kristoff dan Robby masuk kedalam mobil.


"Ya." Jawab kakek Kristoff dengan tersenyum tipis.


Robby segera membuka pintu mobil untuk kakek Kristoff dan dirinya duduk di depan bersama sopir pribadi yang di tugaskan oleh Gabriel hari lalu.


Roda mobil mulai berputar meninggalkan area depan perusahaan Gandratama, terlihat sang sekertaris menghela nafasnya lega karena dapat melalui pertemuan penting hari ini.


.


.


.


"Bagaimana, Robby?" Tanya kakek Kristoff dengan membuang pandangannya keluar.


"Tuan, kita harus segera ke Rumah Sakit." Jawab Robby cepat.


"Baiklah." Kata kakek Kristoff.


"Tolong antarkan kami ke Rumah Sakit, cepat." Ucap Robby pada sopir yang tengah menyetir.


Sang sopir segera berbelok arah karena jalan menuju Rumah Sakit berlawanan dengan arah apartemen.


Selama di perjalanan Robby terus bedoa, "Ya Tuhan, sebenarnya rahasia apa yang di sembunyikan oleh Nyonya Kristal." Gumam Robby dalam hati.


Robby setiap tiga puluh menit mendapatkan laporan dari para bodyguard, bahkan belum ada tiga puluh menit ponsel roby terus bergetar.


Banyak foto dan pesan singkat yang Robby terima, dimana Kristal menangis bahkan bersujud di depan pria asing.


Robby terus memantau, bahkan meminta bodyguard mereka menyamar sebagai pegawai maupun cleaning servis di Rumah Sakit.


Terlihat Robby tengah mencoba menggabungkan puzzle yang dia terima hari ini.


Sama halnya dengan kakek Kristoff, diamnya kakek Kristoff tengah berfikir apa hubungan Kristal dengan Gabriel.


Ya, ketika akan menunggu kedatangannya hari ini. Robby membisikkan informasi dimana melihat sang menantu tengah bersama beberapa pria termasuk Gabriel.

__ADS_1


Gabriel... Daniel


Apa yang sedang di lakukan sang menantu di negara ini.


Kakek Kristoff juga tengah mencari jawaban, tapi tidak menemukannya.


"Tuan, kapan Anda mulai menjadi sopir di perusahaan Gandratama?" Tanya Robby tiba-tiba.


"Emm, mungkin sekitar lima tahun." Jawab sang sopir.


"Anda berarti kenal dengan Tuan Gabriel?" Tanya Robby lagi.


"Tentu saja, siapa yang tidak tahu pria kaku dan dingin itu." Jawab sang sopir jujur.


Sudut bibir Robby berkedut, ingin sekali tertawa tapi kali ini sedang dalam misi. Misi mengorek informasi sebanyak mungkin tentang pria yang berwajah sama dengan Daniel.


"Oh, Tuan Gabriel apakah memiliki keluarga?" Tanya Robby lagi.


"Tentu saja, Tuan Gabriel adalah anak kedua dari Tuan Agung pemilik perusahaan Gandratama. Anak pertama adalah Tuan Sky dan yang kedua Tuan Gabriel." Jawab sang sopir jujur karena dia sejak masuk ke perusahaan sudah tahu hal tersebut.


"Jadi kedua saudara tersebut yang menjalankan perusahaan?" Ucap Robby lagi.


"Benar, Tuan. Tuan Sky sebagai CEO dan Tuan Gabriel sebagai asisten sekaligus orang yang paling di percaya oleh Tuan Agung." Jelas sang sopir.


Robby menaikkan sebelah alisnya, "Kenapa bukan Tuan Sky, bukankah sebagai CEO seharusnya menjadi orang di percaya oleh Ayahnya." Tanya Robby yang sangat penasaran.


"Karena Tuan Sky lebih banyak bermain-main selama ini, dan Tuan Gabriel yang selalu menghadiri pertemuan penting ketika Tuan Sky tidak ingin menghadirinya." Jawab sang sopir.


Mungkin Kristal hanya sedang berlibur disini dan tidak sengaja bertemu dengan ketiga pria asing tersebut. Tapi, bagaimana dengan foto Kristal yang bersujud di depan pria tadi.


Robby menjambak rambutnya didalam pikirannya saja, karena merasa tidak menemukan jalan keluar dari cerita sopir dan bukti-bukti dari bodyguard.


.


.


.


Di Rumah Sakit.


Kedua mata Daniel terbuka dengan perlahan, terlihat kedua matanya mengerjab untuk menyesuaikan cahaya.


Daniel terbangun karena sayup-sayup terdengar suara wanita yang sangat Daniel kenal, Kristal.


Apakah Mamanya sudah ketemu dan sekarang ingin menemuinya?


Tapi, kenapa sejak tadi tidak ada yang masuk kedalam ruangannya.


Ingin sekali Daniel, turun dari brangkar dan berjalan keluar guna memastikan jika pendengarannya tidak salah.

__ADS_1


Apalah daya, untuk membuka kedua matanya saja sudah membuatnya lelah. Terlebih, beberapa alat pemeriksaan yang menempel di tubuhnya.


Daniel hanya terdiam dengan menatap langit-langit ruangannya, hingga suara pintu terbuka.


Daniel langsung menoleh ke arah sumber suara, terlihat kakek Kristoff dan Robby masuk dengan membawa beberapa kantong plastik.


"Kalian sudah datang?" Tanya Daniel berasa basi.


"Sudah, kami hanya menandatangani perjanjian saja." Jawab Robby yang membuka plastik di atas meja.


Daniel hanya mengangguk paham, "Apa, kakek dan Kak Robby belum makan?" Tanya Daniel lagi yang melihat kotak styrofoam.


"Kami melewatkan sarapan hari ini, agar cepat segera menemanimu El." Kali ini yang menjawab kakek Kristoff.


Raut wajah Daniel berubah menjadi muram, seharusnya hari ini Daniel dapat mencari keberadaan Mamanya dan sang Kakek dapat menyelesaikan pekerjaannya dengan tenang.


"Maafkan, El." Ucap Daniel lirih.


Kakek Kristoff beranjak dari duduknya dan berjalan mendekat ke arah sang cucu.


"Jangan meminta maaf, El. Justru kakek yang meminta maaf kepadamu. Kakek belum dapat menemukan keberadaan Mamamu." Jawab kakek Kristoff pelan.


"Kakek sudah mencari ke rumah gadis pendek yang dulu datang ke mansion?" Tanya Daniel mengingatkan.


"Sudah, kami tidak menemukannya disana. Bahkan para bodyguard sudah kami sebarkan untuk meninjau kediaman gadis itu." Jelas kakek Kristoff kepada Daniel.


Wajah Daniel semakin sendu, setelah mendengarkan jawaban dari sang kakek.


Jika tidak berada di rumah Rose, lalu dimana keberadaan Mamanya. Apakah Mamanya kabur bersama saudara kembarnya dan hidup bahagia tanpa dirinya.


Memikirkannya sudah membuat Daniel lelah.


"El, apa kamu percaya jika manusia memiliki 7 kembaran di dunia ini?" Tanya Robby tiba-tiba.


"Huh, lalu jika bertemu salah satunya makan usia kita semakin pendek." Ucap Daniel sedikit mendengus.


Robby tergelak, "Mungkin benar, jika bertemu ke tujuh kembaran kita di dunia ini berarti nyawa kita habis." Jawab Robby dengan terkekeh.


"Kakak masih percaya hal seperti itu?" Tanya Daniel.


"Tidak tahu, bukankah itu seperti sebuah mitos saja." Ucap Robby menggunakan penalaran.


"Bukan mitos, tetapi memang salah. Jika bertemu kembaran tujuh orang. Berarti kucing setiap menitnya akan tergeletak di jalanan." Kata Daniel panjang.


"Apa hubungannya dengan kucing?" Tanya Robby heran.


"Tentu, bukankah kucing semuanya berwajah sama. Yang membedakan hanya bulu dan bentuk tubuhnya saja." Jelas Daniel.


Robby tergelak mendengar jawaban Daniel, bahkan Robby membayangkan jika kucing tergeletak mati tiap menitnya di dunia ini.

__ADS_1


"Tapi, kakek dan Robby bertemu pria yang sangat mirip denganmu." Kakek Kristoff menyela pembicaraan keduanya.


...🐾🐾...


__ADS_2