
Happy Reading 🌹🌹
Gabriel langsung keluar dari mobil yang dikendarai Sky begitu saja, tanpa satu patah katapun.
Sky hanya menghela nafas dan menjalankan kembali mobilnya menuju hotel dimana sang istri sudah menunggunya.
"El, darimana?" Tanya Kristal menghentikan langkahnya.
"Rumah Sakit, Daniel kembali drop Mah." Jawab Briel jujur.
"Apa." Ucap Kristal lirih.
"Sudah ada Mama Ambar yang menunggu Daniel disana, Mama jika ingin ke Rumah Sakit tunggu Gabriel mandi dulu sebentar." Kata Gabriel yang langsung berjalan menuju kamarnya.
Kristal bergegas pergi menuju kamar Kakek Kristoff.
"Ayah." Panggil Kristal dengan nafas memburu.
"Ada apa, Kris." Tanya Kakek Kristoff.
"Da--- Daniel masuk Rumah Sakit." Ucap Kristal yang sudah menitikan air mata.
Kakek Kristoff langsung berdiri, "Ayo cepat ke Rumah Sakit." Ucap Kakek Kristoff yang langsung berjalan cepat melewati Kristal.
Kristal berlari kecil untuk mengikuti langkah Kakek Kristoff.
"Kakek, mau kemana?" Tanya Gabriel yang baru saja turun dari dalam kamar.
"Rumah Sakit, Daniel masuk Rumah Sakit." Jawab Kakek Kristoff panik.
"Tenanglah, Kek. Ayo Gabriel antar keRumah Sakit. Disana sudah ada Mama Ambar yang menunggu." Jelas Briel memeluk tubuh sang kakek agar sedikit tenang.
Kakek Kristoff menghela nafasnya lega, merasa beruntung ternyata keluarga angkat sang cucu begitu baik terhadap dirinya maupun sang cucu Daniel.
"Apa kita jadi berangkat ke Korea malam ini, Ayah?" Tanya Kristal dengan wajah sedih.
"Mau tidak mau, kita harus berangkat hari ini." Jawab Kakek Kristoff pelan.
"Mama jangan khawatir, Mama Ambar akan menjaga Daniel selama kita tinggalkan disini untuk menjalani pengobatan." Jelas Gabriel kepada keduanya.
"Apakah tidak merepotkan?" Tanya Kristal.
"Tidak, Mah. Mama Ambar malah senang dapat merawat Daniel karena Gabriel ikut dengan Mama ke Korea." Jawab Gabriel jujur.
Kristal mengangguk, "Baiklah, ayo kota kerumah sakit dulu. Antarkan Mama dan Kakek untuk melihat Daniel dan berbicara dengan Mama Ambar." Ucao Kristal kepada Gabriel.
"Ayo." Jawab Gabriel.
__ADS_1
Ketiganya berjalan keluar rumah, dan segera masuk ke dalam mobil yang sebelumnya sudah Gabriel keluarkan dari dalam garasi.
Selama diperjalanan menuju Rumah Sakit hanya ada keheningan, hingga akhirnya Kakek Kristoff memulai pembicaraan.
"Malam ini, bukahkan gadis bar-bar itu bertunangan?" Tanya Kakek Kristoff.
"Siapa, Ayah. Rose?" Tanya Kristal yang duduk di kursi belakang.
"Iya, kembang mawar itu." Jawab Kakek Kristoff.
"Kenapa, Ayah memanggilnya gadis bar-bar? Rose anak yang manis." Ucap Kristal membela Rose.
"Cih, manis apanya. Kamu tidak tahu bagaimana pertama kali kami bertemu." Kata Kakek Kristoff berdecih.
"Bukankah dia sangat manis, Ayah." Jawab Kristal dengan tersenyum.
"Siapa pria yang bertunangan dengannya?" Tanya Kakek Kristoff.
"Dave, ya namanya Dave. Pria yang membuat Rose patah hati hingga pergi ke Korea." Jawab Kristal jujur.
"Sudah membuat patah hati, masih kembali bersama. Bahkan sekarang bertunangan?" Ucap Kakek Kristoff dengan suara yang sedikit kesal.
"Namanya juga cinta, Yah." Jawab Kristal apa adanya.
"Itu bukan cinta, jika cinta kenapa menyakitinya." Ucap Kakek Kristoff menjawab dengan logika.
"Berarti Ayah menyakiti Mama itu juga bukan cinta, Kek?" Tanya Gabriel yang sejak tadi hanya diam.
Kristal yang melihat wajah pias sang Ayah hanya terkekeh geli dibelakang.
"Sudah, jangan menggoda Kakekmu." Ucap Kristal menegur Gabriel.
Gabriel hanya mengangguk tanpa berkata apapun, sedangkan Kakek Kristoff mencebik. kesal karena ulah sang cucu.
"Jadi, sekarang kamu akan datang ke acara gadis itu?" Tanya Kakek Kristoff kepada Gabriel.
"Tidak." Jawab Gabriel singkat.
"Kenapa?" Tanya Kakek Kristoff yang memang tidak tahu perihal perasaan Gabriel.
"Untuk apa?" Tanya Gabriel balik.
"Kakek bertanya, El. Kenapa malah balik bertanya." Kesal sang Kakek.
"Datanglah, El. Bagaimanapun karena Rose akhirnya Mama dapat bertemu denganmu." Ucap Kristal halus.
Gabriel hanya diam dan fokus menyetir.
__ADS_1
"Iya benar, meskipun gadis itu menyebalkan untuk Kakek. Tapi berkat gadis itu kita akhirnya dapat berkumpul dan kakek dapat mengetahui keberadaanmu Gabriel." Timpa sang Kakek menyetujui ucapan sang menantu.
"Datanglah, El. Meskipun hanya sebentar saja, setelah itu kita akan langsung ke bandara dan bertolak ke Korea." Ucap Kristal lagi.
"Baiklah." Jawab Gabriel singkat.
Kakek Kristoff menepuk pundak sang cucu, "Sampaikan salam dari Kakek." Ucapnya.
Gabriel mengangguk, tanpa terasa kini sudah sampai di depan Rumah Sakit.
"Mama dan Kakek yang akan masuk, kamu datanglah ke acara Rose. Kami hanya sebentar, karena jadwal penerbangan juga sudah dekat." Ucap Kristal sebelum turun dari dalam mobil.
"Baik, Mah. Nanti Gabriel jemput lagi." Jawab Gabriel.
"Tidak perlu Briel, nanti Mama dan Kakek akan pulang menggunakan taxi saja. Kami hanya sebentar." Ucap Kristal kepada Gabriel.
Mobil yang dikendarai Gabriel bergerak meninggalkan area Rumah Sakit, dan menuju tempat acara pertunangan Rose.
Gabriel mengendarai mobil dengan suasana hening, tidak ada alunan musik maupun siulan. Hanya suara angin dan beberapa kendaraan yang Briel lewati.
Hingga mobil Gabriel masuk ke area hotel bintang lima, dan memarkirkan mobilnya di tempat yang masih kosong.
Sejenak Gabriel diam di dalam mobil tanpa melakukan apapun, hanya menatap lurus kedepan.
Klek
Suara pintu mobil terbuka, Gabriel turun dari mobil dengan membenarkan jasnya. Memang dari awal Gabriel sudah berniat untuk datang ke acara Rose tanpa sepengetahuan siapapun.
Gabriel berjalan dengan memasukkan kedua tangannya kedalam saku celana berbahan kain, terlihat tubuh tegap dengan garis wajah yang tegas berjalan menuju ballroom tempat acara diselenggarakan.
Sudah banyak tamu yang hadir, Gabriel mengedarkan pandangan kesegala penjuru, hingga tatapannya terhenti kepada Rose yang tengah menyapa beberapa tamu dengan Dave.
Gabriel kembali meneruskan jalannya dan duduk di salah satu kursi paling belakang. Sengaja tidak berbaur dengan para kolega yang sebagian besar Gabriel kenal.
Gabriel menatap dengan intes setiap prosesi acara, bagaimana ekspresi dan gerak gerik gadis yang ada didepan panggung bersama tunangannya.
Bahkan ketika kedua insan tersebut berciuman diatas panggung, hingga acara dansa dimulai.
Gabriel cukup puas melihat semuanya, segera Briel beranjak dari kursi dan berjalan keluar meninggalkan ballroom seorang diri.
Briel berjalan dengan membawa perasaannya sendiri, dia tinggalkan segenggam do'a untuk Rose dan Dave yang tengah berbahagia di dalam sana.
Tanpa Gabriel sadari, kini telah sampai didepan mobilnya. Segera Briel membuka kunci dan masuk kedalam mobil.
Kepala Briel bertumpu pada stir mobil, kemeriahan didalam ballroom berbanding terbalik dengan keheningan didalam mobil Gabriel.
Tanpa permisi, air mata Gabriel luruh dari mata tajamnya hingga menes membasahi stir mobilnya.
__ADS_1
Air mata Gabriel terus mengalir, bahkan tangisan yang tanpa suara menjadi isakan lirih.
...🐾🐾...