Cinta Pertama Membawa Luka

Cinta Pertama Membawa Luka
Mengurung Buaya


__ADS_3

Happy Reading 🌹🌹


Matahari terlihat kembali ketempat praduannya, membuat langit yang bersemburat orange menjadi gelap.


"Briel, kamu mau kemana?" Tanya Kristal yang tengah menyiapkan makan malam.


"Keluar sebentar, Mah." Jawab Briel dengan mengambil sepatunya.


Stevani yang duduk dengan memakan gorengan meneliti penampilan keponakannya dengan intens.


"Kenapa memakai pakaian seperti itu, apa kamu ingin kencan?" Tanya Stevani.


"Kakak akan pergi ke apartemen Rose?" Tanya Daniel.


"Rose?" Ulang Kristal dan Stevani.


"Memang siapa Rose? Apa kekasih Gabriel?" Tanya Stevan yang sejak tadi mendengarkan.


"Bukan Ayah." Jawab Daniel jujur.


Gabriel mendelik kesal mendengarkan jawaban Daniel.


"Ap---apa, Daniel tidak salah kok." Ucap Daniel terbata karena takut ditatap Ganbriel.


Kakek Krisroff dan Robby hanya mendengarkan pembicaraannya saja tanpa niat untuk berkomentar.


"Ajak Rose datang kesini." Ucap Kristal halus.


Seperti biasa, Gabriel hanya berdehem saja jangankan untuk mengajaknya untuk berbicara dengannya saja mungkim Rose tidak akan mau.


"Briel pergi dulu." Pamit Gabriel.


Terdengar suara pintu apartemen tertutup sedangkan semua orang hanya melihat kepergian Gabriel hingga hilang dari balik pintu.


"Memang gadis pendek itu ada di negara ini?" Tanya Kakek Kristoff kepada Kristal.


"Iya Ayah, Kristal dengar dia kuliah disini." Jawab Kristal dengan meletakkan masakan dimeja makan.


"Kenapa dia tidak datang ke acara pertunangan Daniel?" Tanya Kakek Keistoff.


"Datang Kek, Rose langsung pulang." Jawab Daniel.


"Sudah ayo cepat makan, Stevani sudah lapar." Ucap Stevani.


Sedangkan Gabriel kini sudah masuk kedalam mobil dan mulai meninggalkan gedung apartemen.


Sepanjang perjalanan Gabriel terlihat berfikir akan berbuat apa dengan Rose dan pria tersebut, dari lagak-lagaknya buaya itu akan menyatakan cinta kepada Rose.


"Tidak! Jauhkan pikiran burukmu Gabriel." Gumamnya dengan menggelengkan kepala.


Tidak membutuhkan waktu lama, mobil Gabriel terhenti didepan gedung apartemen Rose sebrang jalan.


Lampu mobil dimatikan menunggu keluarnya Rose, terlihat jemarinya mengetuk-ngetuk stir mobil dengan menggigit bibirnya gemas.


Kedua matanya menatap tajam kearah basement apartemen, terlihat mobil berwarna putih berhenti disana. Tidak berselang lama Rose keluar dengan mengenakan dress.


"Akan aku robek baju itu." Geram Gabriel yang kesal.


Gabriel kesal kenapa Rose tidak menggunakan kaos dan celana jeans seperti biasanya, apa-apa itu menggunakan dress dengan berpenampilan feminim sungguh membuat jiwa Gabriel ingin memasukkanya didalam karung saja.


Lamunan Gabriel buyar karena mobil berisi buaya dan kelinci itu pergi dari apartemen, segera Gabriel menjalankan mobil dan membuntuti kemana perginya Rose.


Tubuh Gabriel terus bergerak untuk melihat kearah depan agar tidak kehilangan mobil putih tersebut.


"Ck, mau dibawa pergi kemana gadisku." Omel Gabriel.


Mobil Gabriel terus menerus mengikuti mobil Jin, hingga mobil tersebut berbelok ke arah restoran mewah.

__ADS_1


Gabriel memarkirkan mobilnya bersebelahan dengan mobil Jin, beruntung mobil Gabriel tidak dikenali oleh Rose.


Rose dan Jin berjalan beriringan masuk kedalam restoran, Gabriel mengenakan masker dan topi yang sudah disiapkan didalam mobil.


"Aku tidak akan ketahuankan." Ucap Gabriel pelan dengan berkaca menggunakan kaca spion tengah.


Suara pintu mobil tertutup, Gabriel berjalan menuju restoran.


"Maaf, apakah Tuan suda melakukan reservasi?" Tanya pelayan sopan.


Gabriel kelabakan, "Sudah atas nama Rose." Jawab Gabriel sembarangan.


"Tunggu sebentar saya cek dulu." Ucap pegawai.


Terlihat pegawai retoran mengoperasikan komputer untuk mencari nama Rose disana.


"Mohon maaf, tidak ada nama Rose disini Tuan." Jawab sang pegawai.


Gabriel melihat pemandangan didalam hingga seorang wanita mengangkat tangannya dan Gabriel langsung melambaikan tangannya juga.


"Itu teman saya, sudah melambaikan tangan ke saya." Ucap Gabriel menunjuk ke arah wanita yang melihat ke arahnya.


"Baiklah, silahkan masuk Tuan dan tolong lepaskan topi juga masker Anda." Jawab pegawai.


"Oke nanti aku lepas, aku sedikit flu jadi menggunakan masker." Ucap Gabriel beralasan.


Segera Gabriel berjalan dan melambaikan tangannya lagi entah kesiapa, Gabriel menoleh ke belakang melihat sang pegawai beruntung pegawai tersebut sudah kedatangan tamu lagi.


"Sial, kemana buaya itu. membawa gadisku." Gerutu Gabriel.


Gabriel berjalan menunduk dengan kepalanya menoleh ke kanan dan ke kiri, tidak memperdulikan pandangan para tamu yang melihat heran ke arahnya.


Disisi lain Rose merasa takjub dengan tempat makan yang di boking oleh Jin. Terlihat satu meja didekat danau buatan dengan dikelilingi lilin.


Tidak lupa bunga-bunga mawar yang berada dipinggir kolan tersebut.


"Apa kamu suka?" Tanya Jin dengan tersenyum lembut.


"Tidak juga, Kakak meminta pegawai disini untuk menyiapkan semuanya." Jawab Jin dengan tsrsenyum hingga memperlihatkan lesung pipinya.


"Oh my bisakah aku pingsan saat ini juga, kenapa Kak Jin sangat tampan!" Jerit Rose dalam hati.


"Ayo." Jin mengulurkan tangannya untuk membantu Rose berjalan di tengah hamparan kelopak bunga mawar.


Rose menerima uluran tangan tersebut dan berjalan berdua beriringan menuju meja makan.


Sedangkan Gabriel terlihat bersembunyi dibalik pohon dengan mengamati keduanya.


"Akan aku patahkan tangan itu." Kesal Gabriel.


Terlihat Jin memundurkan kursi untuk diduduki oleh Rose, Jin memperlakukan Rose layaknya tuan putri malam ini.


"Ini sangat indah Kak." Ucap Rose dengan mengedarkan pandangannya menyapu seluruh pemandangan yang ada didepannya.


"Aku lega jika kamu menyukainya." Jawab Jin dengan perasaan bahagia yang membuncah.


Seorang waiters datang dengan menuanggan red wine kedalam gelas kristal yang sudah disediakan.


"Mohon ditunggu makanannya." Ucap waiters dengan sopan.


Jin dan Rose mengangguk tanpa bersuara, Rose masih terkesima dengan kejutan yang dibuat oleh Jin.


"Cih, hanya begini saja sudah membuat wajahmu memerah. Jangankan bunga mawar, aku bahkan mampu membelikanmu satu kebun bunga mawar." Ucap Gabriel menggerutu karena melihat wajah Rose tersipu-sipu.


Tidak lama kemudian makan malam Rose dan Jin telah sampai, terlihat dua porsi steak sudah disajikan didepan mereka.


"Sekamat menikmati." Ucap waiters.

__ADS_1


"Terima kasih." Jawab Rose dengan tersenyum senang.


Jin terlihat memotong daging dengan lebih cepat sedangkan Rose seperti pada wanita umumnya memotong daging dengan perlahan agar saus tidak terciprat kemana-kaman.


Jin meletakkan garpu dan pisau kemudian mengangkat piringnya dan mengambil piring milik Rose.


"Eh, kak." Rose kaget karena pirungnya melayang.


Jin tersenyum melihat wajah lucu Rose, "Makanlah." Ucap Jin.


Wajah Rose langsung merona seketika, menikmati wajah Rose yang malu-malu hiburan tersendiri bagi Jin.


Dengan tersenyum senang, Jin mulai memotong dan menyuapkan daging kedalam mulutnya.


Keduanya sibuk makan sama halnya dengan Gabriel yang sibuk mengamati, hingga kedua nata Gabriel mendelik karena Jin menyuapi steak untuk Rose.


Rose yang awalnya kaget menerimanya dengan swnang hati, terlihatwajah Rose yang tersenyum karena perlakukan Jin yang membuatnya meleleh.


Hingga Jin bangun dari duduknya dan sedikit membungkuk ke arah Rose, Gabriel yang berada dipersembuanyian sudah tidak dapat menahannya lagi.


"Sial, buaya itu ingin mencium maduku." Umoat Gabriel hingga dirinya mendapatkan batu cukup besar dilemparkannya kearah danau.


Plung.


Terdengar suara benda benda jatuh kedalam danau, hingga membuat Rose menoleh ke arah danau.


Jin berdehem untuk menetralkan detak jantungnya yang sudah menggila.


"Ah, maaf Rose. Ada noda di damoing bibirmu." Ucap Jin.


Segera Rose mengambil serbet makan yang berada di pangkuannya dan menyeka bibirnya dengan oelan.


"Ah, terima kasih Kak." Ucap Rose kikuk.


"Ekhm, emm Kakak ke toilet dulu sebentar." Ucap Jin kepada Rose.


Jin segera bangkit dari duduknya dan berjalan meninggalkan Rose aendirian, sedangkan Gabriel mengikuti kemana Jin pergi.


Terlihat tubuh Jin yang masuk ke dalam toilet laki-laki, Gabriel berjalan masuk seperti biasanya agar tidak menimbulkan kecurigaan.


Melihat sekeliling dengan bersiul, tidak ada orang lain lagi setelah memerika beberapa bilik kamar mandi.


Kepala Gabriel menyembul keluar mengecek adakah yang akan masuk kedalam toilet laki-laki.


Briel mengambil alat pel yang berada di pojok ruangan dan mulai melintangkan didepan pintu bilik kamar mandi Jin.


Terlihat senyum devil Gabriel keluar tanpa rasa beersalah, Briel berjalan den mengambil tulisan toilet sedang diperbaiki yang tergantung di toilet perempuan.


Masa bodoh jika para wanita tidak akan bisa menyentor kotoran mereka maupun mencuci tangan mereka terpenting, buaya harus dikandangkan dulu.


Rose terlihat sesekali melihat jam yang berada di ponselnya, cukup lama Jin pergi kekamar mandi.


"Kenapa Kak Jin lama sekali." Ucap Rose pelan.


Hingga suara sepatu mendekat, Rosesegera mendongak karena menunggu lama.


"Ka---"


Ucapan Rose terhenti karena yang menghampirinya bukan Jin melainkan Gabriel.


"Kenapa? Apa kamu berharap pria itu yang datang." Ucap Gabriel datar dan dingin.


Rose hanya melengos saja tidak ingin melihat wajah itu terlalu lama, "Pergilah Kak." Usir Rose pelan.


Gabriel langsung mendekal pergelangan tangan Rose hingga membuat gadis itu berdiri dari duduknya.


"Lepaskan Kak." Ucap Rose dengan meringis karena merasa panas.

__ADS_1


Gabriel tidak menggubrisnya tanpa berkata apapun Gabriel menyeret Rose dan pergi dari restoran tersebut, Rose berjalan dengan sedikit berlari karena langkah Gabriel yang lebar berbeda dengannya yang kesusahan mengimbangi karena mengenakan sepatu hak tinggi.


...🐾🐾...


__ADS_2