
Happy Reading 🌹🌹
Terlihat mobil yang di tumpangi Rose berhenti di sebuah apotek.
"Nona, Saya keluar sebentar." Ucap sang bodyguard.
"Iya, beli obat yang lengkap." Ucap Rose.
Segera bodyguard keluarga Amanda keluar untuk membeli obat luka.
"Oh, iya. Kita belum kenalan. Kenalkan Zia Rose Amanda biasa di panggil Rose, Nyonya siapa?" Tanya Rose yang mengulurkan tangannya.
"Panggil saja Kristal, jangan panggil Nyonya. Saya bukan orang penting apalagi kaya, panggil saja Tante." Ucap Kristal dengan menerima uluran tangan gadis yang menolongnya.
"Baiklah, Tante Kristal." Ucap Rose menyetujui permintaan Kristal.
Tidak berselang lama, bodyguard sudah membuka pintu mobil dengan satu plastik obat-obatan di dalamnya.
"Langsung ke apartemen saja, nanti kita pesan makan lewat online." Intruksi Rose kepada bodyguard.
"Baik, Nona." Segera bodyguard menjalankan mobil menuju apartemen yang sudah di siapkan oleh Surya.
Tidak membutuhkan waktu lama, mobil yang membawa Rose dan Kristal telah sampai di apartemen area elit disana.
Setelah memarkirkan mobilnya, segera bodyguard turun dari mobil dan membukakan pintu untuk Rose.
"Cepat gendong Tante Kristal." Ucap Rose yang mengambil plastik berisi obat tersebut.
"Tidak perlu, Tante bisa berjalan sendiri." Tolak Kristal halus.
"Duh, tidak apa-apa Tante. Lebih cepat lebih baik." Jawab Rose tidak menerima penolakan.
Akhrinya Kristal pasrah, dirinya di gendong oleh bodyguard dengan badan yang kekar dan wajah sangar tersebut.
Ting
Kini Rose dan rombongan telah sampai di lantai unit apartemen miliknya.
Rose mengikuti langkah sang bodyguard, karena Rose belum tahu unit nomor berapa.
"Nona, kuncinya ada di saku samping kanan Saya." Ucap bodyguard tersebut.
Rose melongo, "Cepat turunkan Tante Kristal, jangan memanfaatkan kesempatan." Gerutu Rose.
Sang bodyguard hanya memasang cengir kudanya, segera menurunkan Kristal dengan pelan dan merogoh saku celana untuk mengambil kunci milik majikannya.
Segera Kristal di dudukan di salah satu sofa yang ada di apartemen Rose.
Rose segera berlari ke arah kamar mandi untuk mengambil air.
"Mau memakai apa, tidak ada gayung maupun mangkok." Gumam Rose dalam hati.
Rose berjalan ke arah Kristal dan bodyguard, pandangan Rose teralih di plastik apotek.
Segera Rose berjalan mendekat dan mengeluarkan semua isinya.
"Nona, mau kemana?" Tanya sang bodyguard yang melihat Rose pergi ke dalam kamar mandi.
__ADS_1
Tidak membutuhkan waktu lama, Rose keluar dengan sekantong plastik.
"Non...a." Ucap bodyguard tercengang.
"Tante masukkan kakinya kedalam plastik ini." Ucap Rose yang sudah duduk di lantai.
"Tidak perlu Rose, Tante bisa ke kamar mandi." Tolak Kristal tidak enak hati.
"Tidak apa-apa, cepat Tan. Tanganku pegal, lagipula di dalam kamar mandi pasti juga licin." Jawab Rose memaksa.
Dengan perlahan Kristal memasukkan sebelah kakinya yang sedikit bengkak tersebut ke dalam plastik berisi air.
Rose dengan pelan membersihkan kaki tersebut sebelum di beri obat.
Sedangkan bodyguard yang melihatnya segera undur diri untuk mencari minimarket terdekat.
Kristal melihat ke arah Rose yang masih membersihkan kakinya, "Apakah kamu punya kekasih?" Tanya Kristal lembut.
"Tidak, aku baru saja di campakkan. Bukan, tapi aku mencampakkannya." Jawab Rose dengan tersenyum getir.
Tangan Kristal terulur mengelus rambut pirang panjang Rose, "Tante yakin, pria yang menyakitimu akan menyesal." Ucap Kristal pelan.
Rose tidak menjawab, Rose hanya dapat tersenyum kecut mendengar ucapan dari Kristal.
"Percuma menyesal sekarang, nasi sudah menjadi bubur. Luka yang ditorehkan sudah membuat hati ini hancur berkeping-keping." Gumam Rose dalam hati.
"Sudah selesai." Ucap Rose yang mengeluarkan kaki Kristal dan di letakkan di atas handuk kecil yang ada di dalam apartemen.
"Terima kasih." Jawab Kristal penuh haru.
Rose dengan telaten memberikan obat di kaki Kristal, bahkan Kristal sering memejamkan matanya karena menahan rasa ngilu di kakinya.
"Terima kasih, Tante sudah membuatmu kerepotan." Jawab Kristal.
"Tidak... tidak... justru Rose yang berterima kasih karena Tante bukan orang jahat. Jika orang jahat pasti Tante akan meminta tanggung jawab, emmm mungkin minta mobil yang Rose gunakan atau uang ratusan juta." Jelas Rose dengan senyum lebarnya.
Rose beranjak dari duduknya dan memngangkat kaki Kristal hingga naik ke atas sofa.
"Tante ingin makan apa?" Tanya Rose yang kini sudah duduk di lantai dengan memainkan gawainya.
"Apapun, yang penting tidak pedas." Jawab Kristal lembut.
"Baiklah." Rose segera memerankan makanan yang ingin sekali Rose coba di negara Korea tersebut dengan mata yang berbinar.
...🐾🐾...
Di kediaman keluarga Kristoff.
Terlihat seorang wanita yang tengah tertawa bahagia.
"Akan aku pastikan, kau dan anakmu di tendang dari keluarga Kristoff." Gumamnya penuh kebencian.
Deru mobil terdengar memasuki pekarangan mansion mewah keluarga Kristoff.
El dan Kakek Kristoff turun dari dalam mobil secara bersama dari sisi yang berbeda.
El terlihat membenarkan jasnya dengan menunggu Kakek Kristoff berjalan mendekatinya.
__ADS_1
"Ayo." Ajak Kakek Kristoff kepada El.
El dan Kakek Kristoff berjalan beriringan dengan di ikuti asisten pribadi keluarga Kristoff.
"Ayah." Sambut seorang wanita yang sudah berusia namun tetap cantik.
Kakek Kristoff hanya mengangguk dan melewatinya begitu saja tanpa ingin berkata apapun.
"Ayah, sudah pulang?" Tanya seorang pria yang berstatus Ayah El.
"Seperti yang kalian lihat, aku masih sehat dan umur panjang." Jawab Kakek Kristoff sarkas.
"Ayah, kenapa Ayah berkata kasar seperti itu. Eve hanya ingin menyambut Ayah saja." Ucap Stevan.
"Ayah tidak menyuruhnya untuk menyambut, sudah banyak maid yang melakukannya. Ah, Ayah lupa jika itu pekerjaannya dulu jadi masih terbawa hingga puluhan tahun ya." Jawab Kakek Kristoff semakin menohok.
Eve yang mendapatkan ucapan tersebut hanya dapat meremat pakaiannya. Didalam hati gejolak amarah sudah meluap ingin sekali membunuh kakek tua yang ada di depannya.
"Ayah, maafkan Eve jika tidak membuat Ayah tidak nyaman... Sudah sayang, ini salahku." Jawab Eve dengan penuh tipu muslihat.
Stevan menghembuskan nafas kasar, "Maafkan Ayah ya sayang." Ucapnya dengan merangkul pundak Eve.
Kakek Kristoff yang melihat berapa bodohnya Stevan hanya tersenyum sinis.
"Puluhan tahun, tetapi kamu masih betah disangkar ular Stev." Ucap Kakek Kristoff yang langsung berlalu dari hadapan kedua manusia tersebut.
Sedangkan El melewati tubuh Eve dengan seringai tipisnya, langkah El berhenti.
"Sampah akan selalu menjadi sampah dimanapun berada." Ucap El yang langsung melenggang pergi meninggalkan Eve dan Stevan begitu saja.
"Daniel!!" Seru Stevan yang langsung memutar tubuhnya ke arah Daniel.
Langkah Daniel kembali berhenti dan memutar tubuhnya menghadap sang Ayah.
"Sopan Daniel, dia itu Mamamu!" Ucap Stevan kesal.
Daniel tersenyum miring, "Jangan bermimpi terlalu tinggi, Daniel hanya anak Mama Kristal. Bukan Anda dan wanita sampah itu." Jawab Daniel menggebu dengan menudingkan jarinya ke arah Stevan dan Eve.
Daniel langsung berlalu menuju kamarnya dan meninggalkan kedua insan tersebut di lantai satu, Kakek Kristoff hanya mendengatkannya dari dalam kamar.
"Bagus, Daniel. Cukup Ayahmu yang bodoh." Gumam Kakek Kristoff.
Dengan mengepalkan tangannya, Eve menatap nyalang ke arah punggung El.
"Ibumu sudah aku tendang, kini giliranmu El." Gumam Eve tersebut dengan tersenyum jahat.
Evelin Kristoff yang biasa di panggil Eve. Eve merupakan anak yang cerdas sehingga membuat putra dari keluarga Kristoff jatuh hati padanya.
Keluarga Evelin dulu adalah salah satu pekerja di mansion keluarga Kristoff, Ibunya seorang maid sedangkan Ayahnya seorang tukang kebun.
Eve merupakan Ibu tiri El karena Eve tidak dapat mengandung semenjak kecelakaan yang menimpanya.
Eve begitu membenci keberadaan El beserta Ibunya, karena Eve tau jika pria yang berstatus suaminya begitu mencintai Ibunya El yaitu Kristal.
...🐾🐾...
__ADS_1
Daniel biasa di panggil El.