
Happy Reading 🌹🌹
Terlihat Rose tengah duduk di ruang kerja Ayah Nugroho.
"Apa keputusanmu, Nak?" Tanya Ayah Nugroho kepada Rose.
"Bisakah Rose mengikuti perkuliahan hingga ujian besok Ayah? Rose mungkin akan berlibur di beberapa negara sambil melihat-lihat universitas disana." Jawab Rose menundukkan kepala dan memainkan kuku tangannya karena gugup.
Ayah Nugroho menghela nafas pelan, "Baiklah, kapan kamu akan pergi berlibur?" Tanya Ayah Nugroho lagi.
"Setelah ujian." Jawab Rose singkat.
"Jika begitu, Ayah akan ijinkan kamu mengikuti hingga semester ini. Setelah itu, Ayah akan mengirimmu belajar di luar negeri." Ucap Ayah Nugroho tegas.
Rose menganggukkan kepalanya pelan, "Baik Ayah, Rose pergi ke kamar dulu." Pamit Rose kepada Ayah Nugroho.
"Selamat istirahat, Rose." Ucap Ayah Nugroho dengan mengelus kepala anaknya.
Rose berdiri dari duduknya dan berjalan keluar ruangan Ayahnya, terlihat asisten sang Ayah sudah menunggu di luar.
"Paman Surya, ada apa malam-malam kesini?" Tanya Rose kepada asisten Ayahnya.
"Hanya urusan pekerjaan saja, naiklah." Ucap Surya kepada anak sahabatnya.
"Selamat malam, Paman." Pamit Rose kepada Surya dan mulai melangkah menaikki anak tangga.
Terdengar suara pintu terbuka, Ayah Nugroho mengalihkan pandangannya.
"Ada apa?" Tanya Surya kepada Ayah Nugroho.
"Kemarilah sebentar, aku ingin membicarakan sesuatu yang serius." Jawab Ayah Nugroho yang masih duduk di kursi kerjanya.
Paman Surya melangkah mendekat ke arah meja kerja Ayah Nugroho dan duduk di kursi dimana Rose tadi duduk.
"Apa aku salah jika menginginkan yang terbaik untuk Rose?" Tanya Ayah Nugroho dengan wajah serius.
"Tentu saja tidak, bukankah semua orang tua menginginkan yang terbaik untuk anaknya." Jawab Paman Surya.
"Aku ingin mengirim Rose keluar negri, bisakah kamu carikan aku seseorang yang dapat menjaganya disana?" Tanya Ayah Nugroho kepada Paman Surya.
"Kita bisa mengirimkan salah satu anak buah yang kita miliki disini, seperti biasa mereka hanya mengawasi dari jarak jauh." Jawab Paman Surya dengan menyenderkan punggungnya.
"Emm.. baiklah, jika begitu bantu urus kepindagan Rose secepatnya setelah dia selesai ujian. Dan satu lagi, jangan biarkan Dave mengetahui kepergian Rose. Aku tidak ingin Rose terganggu belajarnya di sana." Perintah Ayah Nugroho kepada sang asisten.
"Pasti, jika begitu aku pulang dulu. Aku hanya pamit kepada istriku pergi sebentar." Ucap Paman Surya dengan melihat jam yang melingkar di tangannya.
"Ck, kau ini SSTI." Ucap Ayah Nugroho dengan di akhiri tawa.
"Apa SSTI?" Tanya Paman Surya menaikkan sebelah alisnya.
"Suami Suami Takut Istri." Kelakar Ayah Nugroho.
"Dasar, menikahlah lagi. Aku yakin istrimu tidak masalah selama kamu memiliki pendamping yang baik untukmu juga Rose." Ucap Paman Surya yang langsung pergi meninggalkan Ayah Nugroho di ruang kerjanya.
__ADS_1
Sepeninggalan Paman Surya, Ayah Nugroho hanya termenung. Dibukanya laci dan mengambil satu lembar foto, foto yang sudah lama di ambil terlihat dari pakaian yang dikenakan.
"Tidak.. tidak, aku dan Rose baik-baik saja selama ini tanpa penggantimu bukan sayang. Hem..." Ucap Ayah Nugroho dengan bibir yang gemetar.
Malam itu, sekali lagi menjadi saksi bisu bagaimana kerinduan seorang suami terhadap istrinya yang sudah lama tidak pernah ia jumpai.
Tanpa Ayah Nugroho sadari, seorang gadis mengusap air matanya kasar mendengar ucapan sang Ayah.
"Apa keberadaanku membuat Ayah enggan menikah lagi? Tapi, apa Ayah akan bahagia seperti bersama Bunda dulu." Gumam Rose dalam hati.
Rose kembali naik ke lantai dua dengan jalan berjinjit agar tidak menimbulkan suara, niat hati Rose ingin mengingatkan Ayahnya agar tidak lembur bekerja tetapi Rose mendapati peristiwa yang tidak pernah di perlihatkan oleh sang Ayah di hadapannya.
Rose baru menyadari betapa rapuhnya sang Ayah semenjak kepergian Bundanya, tetapi sang Ayah berusaha baik-baik saja.
...🐾🐾...
Pagi telah datang, sang mentari nampak masih malu-malu menampakkan dirinya.
Terlihat seorang gadis tengah menyeret sebuah koper yang cukup besar di tangan kecilnya.
"Bi Asih!!" Seru Rose kepada maid.
Bi Asih lari tergopoh-gopoh mendengar teriakan Rose, "Ada apa, Non?" Tanya Bi Asih yang baru saja sampai dengan nafas terengah-engah.
"Bi, tolong bawakan koperku dan taruh di bagasi mobil." Ucap Rose kepada Bi Asih.
"Loh, Non mau pergi kemana?" Tanya Bi Asih heran.
Bi Asih hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
Segera Bi Asih membawa koper Rose turun dan menyerahkan kepada Asep, sedangkan Ayah Nugroho yang baru saja keluar dari dalam kamar menatap heran ke arah Bi Asih.
"Pagi-pagi bawa koper, Bi Asih mau pulang kampung?" Tanya Ayah Nugroho yang berjalan mendekat.
"Tidak Tuan, ini koper Nona Rose. Katanya mau berlibur." Jawab Bi Asih yang ikut bingung.
Ayah Nugroho berhenti, kepalanya menoleh ke arah lantai dua. Terlihat Rose mengambil tas ranselnya dan menutup pintu kamarnya.
Bi Asih kembali berjalan menuju bagasi mobil agar dapat segera menyerahkan koper yang berat itu.
"Pagi, Ayah!" Teriak Rose dengan suara riang.
"Pagi, Rose. Kenapa kamu berlibur sekarang. Bukannya setelah selesai ujian?" Tanya Ayah Nugroho yang langsung mengecam pertanyaan kepada Rose.
"Rose sudah berfikir, sepertinya Rose tidak mengikuti ujian saja. Rose akan pergi berlibur mulai hari ini hingga beberapa bulan kedepan." Jawab Rose dengan memeluk sang Ayah.
"Kamu tidak apa-apa Rose?" Tanya Ayah Nugroho.
"Aku baik-baik saja Ayah." Jawab Rose dengan tersenyum.
"Apa benar?" Tanya Ayah Nugroho dengan menatap wajah Rose seksama.
"Benar Ayah, Rose ingin lebih merasakan healing lebih dahulu sebelum pindah ke kampus yang baru." Jawab Rose dengan senyum lebarnya.
__ADS_1
Ayah Nugroho terdiam, mata pria tua itu menatap lekat wajah anaknya yang menyimpan sesuatu.
"Ayah, ayo kita sarapan." Ajar Rose yang menggandeng lengan Ayah Nugroho.
Di meja makan, Rose melayani sang Ayah dengan telaten seperti mendiang Bundanya. Nugroho hanya melihat gerak-gerik sang Rose.
"Selamat makan, Ayah." Ucap Rose yang menyodohkan satu piring nasi lengkap dengan lauk pauknya.
Ayah Nugroho memakan sarapannya pagi ini dengan lahap, meskipun dalam hati ada sesuatu yang gemetar.
Rose juga makan dalam diam, terlihat gadis dengan tubuh kecil itu sangat lahap menyantap sarapannya pagi ini.
"Kamu ingin berlibur kemana Rose?" Tanya Ayah Nugroho.
"Rose sudah membeli tiket ke Korea, Rose ingin melihat konser Ayah." Jawa Rose dengan perasaan antusias.
"Baiklah, kabari Ayah apapun yang terjadi. Satu hari akan Ayah telfon tiga kali sehari emm... tidak lima kali sehari." Ucap Ayah Nugroho dengan wajah berfikir.
"Ayah... Rose hanya liburan, Ayah bisa menempatkan pengawas atau bodyguard kepadaku." Rengek Rose kepada Ayah Nugroho.
"Bagus juga." Jawab Ayah Nugroho.
Kini Rose sudah masuk di dalam mobil dengan di antarkan Ayah Nugroho dan Mang Asep.
"Rose pergi dulu Bi Asih, tolong jaga Ayah." Pamit Rose kepada maidnya.
"Iya Non, Nona juga hati-hati." Jawab Bi Asih dengan lembut.
Segera mobil yang mereka tumpangi meninggalkan kediaman Amanda.
Baru saja Bi Asih akan menutup gerbangnya, ada mobil mewah berhenti.
"Cari siapa, Tuan?" Tanya Bi Asih.
"Rose nya ada Bi?" Tanya orang tersebut.
"Oh, Non Rose baru saja pergi Tuan." Jawab Bi Asih sopan.
"Baiklah, saya akan ke kampusnya Bi." Kata pria tersebut.
"Eh, Nona tidak kekampus Tuan." Jawab Bi Asih cepat.
"Kemana Bi!" Seru pria itu karena panik.
Bi Asih kaget karena perubahan pria tersebut.
"Bibi!!" Teriak pria itu yang sudah mengguncang lengan Bi Asih.
"Ba.. bandara." Jawab Bi Asih terbata karena masih kaget.
"Apa." Ucap Dave lirih.
...🐾🐾...
__ADS_1