Cinta Pertama Membawa Luka

Cinta Pertama Membawa Luka
Obat Perangsang


__ADS_3

Happy Reading🌹🌹


"Kak, ada yang ingin Daniel bicarakan." Ucap Daniel mencegat jalan Briel.


"Apa." Tanya Briel dengan suara dinginnya.


"Kenapa kakak menolak kerjasama perusahaan Ayah Go Eun, dia itu sahabat Daniel saat ini sedang kesulitan Kak. Berikan mereka kerjasama dan bantu perusahaan Ayah Go Eun." Ucap Daniel dengan menggebu.


Briel tidak menunjukkan mimik muka apapun di depan saudara kembarnya, "Lalu kenapa jika dia sahabatmu, tidak ada hubunganny apapun dalam pekerjaan. Lalu, apa kamu yakin perusahaan Ayahnya tengah pailit?" Cecar Briel dengan dingin.


Daniel diam sesaat, benar selama ini Daniepun tidak tahu perusahaan Ayah Go Eun hanya sekedar bercerita saja, "Tapi kakak bantu Go Eun dulu, bagaimanapun ada saham Daniel di perusahaan Kristoff dan Daniel berhak untuk membuat kakak menerima kerjasama itu." Jawab Daniel dengan sengit.


"Baiklah, suruh dia datang ke perusahaan membawa proposal yang lebih baik lagi bukan tumpukan sampah seperti kemarin." Ucap Briel dingin.


"Tentu akan Daniel beritahu dia, terima kasih kak." Jawab Daniel dengan tersenyum senang.


Briel melangkah menuruni tangga namun berhenti, "Perbaiki hubunganmu dengan Minzy, aku tahu jika Go Eun adalah sahabatmu namun kamu juga harus bisa memilah mana yang tulus denganmu dan memanfaatkanmu." Ucap Gabriel yang melanjutkan langkahnya.


Daniel terpaku sesaat dan menghela nafasnya panjang, "Aku hanya menolong sahabatku kenapa aku menjadi tersangka di sini." Keluh Daniel.


Daniel berlalu menuju kamarnya untuk menghubungi Go Eun tentang pesang sang kakak, terlihat suara Go Eun yang sangat senang membuat Daniepun juga senang membantu sahabatnya itu. Setelah menutup panggilan Go Eun, Daniel memeriksa ponselnya tidak ada pesan apapun dari Minzy.


Sedangkan Go Eun terlihat berteriak kesenangan karena mendapatkan undangan dari Gabriel, "Aku harus memanfaatkan peluang dengan baik." Gumamnya.


Go Eun segera menyiapkan proposal dengan searching melalui internet, ya Go Eun hanyalah anak pemilik toko biasa yang menanamkan saham di sebuah pabrik kecil yang kini sudah gulung tikar. Harta benda keluarga Go Eun habis tanpa sisa karena kehidupan mereka yang mengikuti golongan sosialita.


Go Eun segera membersihkan diri dan memakai pakaian yang sexy menggoda iman seluruh pria yang melihatnya. Dengan tubuh yang bagus membuat Go Eun sangat cantik. Setelah memoleskan lipstik Go Eun segera melangkah keluar apartemen dengan membawa berkas yang sudah dia print sebelumnya.


Sedangkan kini Daniel mengendarai mobilnya menuju kediaman Kim untuk menemui Minzy, membicarakan pernikahan mereka. Daniel sudah merenung dan menetapkan hatinya jika dirinya memang mencintai Minzy namun juga tidak ingin membuat sahabatnya sedih karena keadaan Go Eun sedang tidak baik.


Mobil sport melaju kencang membelah jalan raya hingga kini Daniel telah sampai di kediaman Kin, penjaga keluarga Kim yang sudah mengetahui kedatangan Daniel segera membukakan gerbang agar mobil calon suami majikannya masuk.


Daniel segera turun dari mobil dan melangkah masuk ke mansion, terlihat Nyonya Kim tengah duduk membaca koran dengan di temani segelas teh hangat.


"Mah." Panggil Daniel.


Nyonya Kim menurunkan korannya dan melihat calon menantunya berjalan mendekat, "El, ada apa datang sepagi ini?" Tanya Nyonya Kim dengan membalas pelukan Daniel.


"Mau menjemput Minzy, Mah." Jawab Daniel pelan.

__ADS_1


Alis Nyonya Kim berkerut, "Minzy pergi ke luar negri, El. Apa kamu tidak tahu." Ucap Nyonya Kim jujur.


Tubuh Daniel membeku di tempat, pergi. Nyonya Kim yang melihat Daniel kaget memastikan jawabannya sendiri jika keduanya sedang ada masalah melihat Minzy yang semalam pulang dengan wajah kusut dan mata sembab.


"Duduk dulu, ada masalah apa kalian?" Tanya Nyonya Kim pelan.


Daniel duduk dengan menundukkan kepalanya, Nyonya Kim menepuk punggung Daniel pelan. "Ceritakan saja, kalian ada masalah apa? Tidak baik calon pengantin bertengar seperti ini." Ucap Nyonya Kim lagi.


"Minzy membatalkan perniakahn kami, Mah." Jawab Daniel lirih.


Nyonya Kim membelalakkan kedua matanya karena kaget, pernikahan keduanya hanya tinggal hitungan minggu saja namun apa ini.


"Masalah apa yang membuat Minzy membatalkan perniakahan El." Desak Nyonya Kim.


"Itu, karena Daniel hanya menolong sahabat Daniel Mah. Sahabat Daniel kembali ke Seoul dan meminta tolong ke Daniel untuk membantu keluarganya, karena orangtuanya sibuk bekerja sehingga sahabat Daniel selalu menghubungi Daniel setiap waktu saat membutuhkan. Daniel sudah mengatakannya kepada Minzy bahkan Daniel juga selalu bilang kepada Minzy jika menemui sahabat Daniel itu. Puncaknya kemarin ketika kami membeli cincin pernikahan, sahabat Daniel sakit dan menghubungi Daniel sehingga membuat Minzy sangat marah dan membatalkan perniakahan." Daniel bercerita dengan wajah kusut dan perasaan sedihnya.


"El, membantu orang lain tentu saja boleh. Tapi kamu juga harus dapat memposisikan diri di antara keduanya, kamu bisa menelfonkan dokter untuk sahabatmu itu. Kenapa Minzy yang harus selalu mengalah di saat sahabat membutuhkanmu? Apakah Minzy tidak lebih penting dari sahabatmu itu, entah sahabatmu perempuan ataupun laki-laki Mama tidak tahu. Jika kamu berada di posisi Minzy apakah kamu dapat terima selalu di nomor duakan setelah sahabat-sahabatnya?" Ucap Nyonya Kim panjang lebar.


Daniel menggeleng cepat, tentu saja dia tidak terima karena Daniel adalah tunangan Minzy yang akan menjadi suaminya. "Lalu Daniel harus bagaimana Mah?" Tanya Daniel lesu.


"Tegaskan kepada sahabatmu jika kamu membantu hanya sebatas itu dan meminta maaflah kepada Minzy dengan tulus jangan pernah mengulanginya. Kamu pasti tahu bagaimana rumah tanggaku dengan mendiang ayah Minzy tentu saja Minzy memiliki trauma." Jawab Nyonya Kim.


Perusahaan Kristoff, terlihat Gabriel tengah serius dalam mengerjakan berkas-berkas perusahaan, hingga seseorang mengetuk pintu ruangannya.


Tok


Tok


Tok


"Masuk!" Seru Gabriel.


Terlihat sekertarisnya masuk dengan seorang wanita di belakangnya. Gabriel menoleh dengan pandangan yang dingin tanpa ekspresi seperti biasanya.


"Tuan ada tamu dari Tuan Daniel." Ucap sekertaris tersebut dengan sopan.


"Keluarlah." Ucap Briel.


Sekertaris tersebut langsung undur diri dan menutup pintu ruangan Gabriel, Briel segera menekan telfon yang terhubung ke ruang OB untuk membuatkan minum Go Eun tanpa bertanya wanita tersebut ingin minum apa. Karena Briel juga akan membicarakan hal penting kepadanya.

__ADS_1


Kini Gabriel dan Go Eun sudah duduk berhadapan setelah OB masuk menyajikan minuman untuk tamu dan bosnya, terlihat Go Eun menyelipkan rambut ke belakang tenginga dengan wajah malu-malunya.


Sedangkan Briel hanya menatap jijik dengan wanita yang berada di depannya, Briel melempar proposal Go Eun di atas meja kaca dengan cukup keras.


"Ck, apa kamu bodoh atau memang tidak becus, sejak kemarin kamu hanya membawa sampah kertas di hadapanku." Ucap Briel tajam dengan bersedekap dada.


Go Eun tersentak kaget karena mendapati sikap Gabriel yang kasar dan dingin tersebut, "A-aku sudah memperbaikinya." Jawab Go Eun terbata.


"Ck, apa kamu pikir aku mudah kamu bodohi seperti saudara kembarku? Kamu tahu, kamu tidak lebih dari seorang pembohong ulung dan menjual kisah sedihmu kepada adikku. Seharusnya kamu berusaha bangkit sendiri bukan menjadi lintah yang menjijikkan itu." Ucap Gabriel dengan tajam.


Go Eun mengepalkan kedua tangannya dengan erat, "Kamu kasar sekali." Ucapnya dengan menangis.


"Buang air mata buayamu itu, aku sudah muak dengan wanita sejenismu ini. Lebih baik kamu pergi dari kehidupan Daniel baik-baik menghilang seperti angin tanpa meninggalkan jejak apapun atau aku akan melenyapkanmu dengan kedua tanganku sendiri." Jawab Gabriel dengan tajam.


"Aku dan Daniel hanya berteman, tidak ada maksud apapun." Elak Go Eun dengan tenang menekan emosinya.


"Tidak ada maksud? Jika begitu kembalikan ATM dan apartemen pemberian dari Daniel dan jangan meminta bantuan apapun padanya. Aku akan percaya ucapanmu jika kamu berani mengembalikan semua fasilitas yang di berikan oleh Daniel kepadamu." Tantang Gabriel.


Ponsel Gabriel berdering, terlihat nama sang kekasih yang berada di layar ponselnya. Briel berdiri menjauh dari Go Eun untuk mengangkat panggilan tersebut. Go Eun memanfaatkan situasi tersebut dengan membuka cairan bening menuangkan dalam cangkir Gabriel dan mengaduknya dengan jari.


Go Eun duduk dengan tenang menunggu Gabriel yang tengah berbicara melalui telfon, hingga Gabriel menyudahi panggilan tersebut dan berjalan mendekat ke arah Go Eun. Briel langsung meminum minumannya hingga tandas.


Go Eun tersenyum lebar di dalam hatinya menunggu obat tersebut bereaksi, keduanya terlihat berbincang dengan alot hingga Gabriel membuka dasirnya dengan kasar dan membuka kedua kancingnya. Go Eun mendekat dan langsung duduk di pangkuan Gabirel,


"Apa yang kamu lakukan!" Sentak Briel langsung mendorong tubuh Go Eun.


Go Eun bangkit dari atas ubin dan berdiri mendekati Gabriel lagi, "Jangan kasar-kasar sayang, aku tahu kamu membutuhkan penuntasan bukan." Ucap Go Eun dengan suara mendesah.


"****! menjauh dariku!" Seru Briel.


Di luar perusahaan terlihat Rose datang berbarengan dengan Daniel, Rose hanya menyerengit heran memandang wajah kusut kembaran kekasihnya tersebut.


"Kenapa dengan wajahmu? Apa kamu terlilit hutang?" Tanya Rose.


"Ck, anak kecil tidak perlu tahu." Jawab Daniel mencebik kesal.


"Huh, yasudah. Ada apa kamu datang ke kantor?" Tanya Rose mendengus kesal.


"Ingin menemui Kakaku, kamu mau mengirimkan makan siang?" Jawab Daniel.

__ADS_1


"Iya, yasudah ayo masuk. Kita makan bersama." Rose dan Daniel melangkah masuk bersama ke dalam lift untuk menuju ruangan Gabriel.


__ADS_2