Cinta Pertama Membawa Luka

Cinta Pertama Membawa Luka
Kondisi Daniel


__ADS_3

Happy Reading 🌹🌹


"Apa kau gila!" Seru Ketua Kim kepada Eve.


"Diamlah, ayah! Apa ayah ingin kerjakeras kita gagal karena Daniel." Jawab Eve dengan menyetir mobil.


"Kau gila Eve, bagaimana jika Daniel sampai mati. Semua kerjakeras kita akan sia-sia karena ulahmu, kau tidak akan pernah bisa menduduki kursi CEO!" Ucap Ketua Kim dengan frustasi.


Eve langsung mengerem mendadak hingga membuat tubuh Ketua Kim terhuyung kedepan.


"Eve bilang diam! Jika Eve tidak bisa mendudukin kursi CEO setidaknya Eve memiliki hak suara untuk menurunkan dan memilih CEO di perusahaan Krostoff." Jawab Eve panjang lebar.


Ketua Kim memukul dasbor mobil dengan kencang, "Benar kau bisa memilih dan menurukan CEO tapi kamu akan mendekam dipenjara." Ucap Ketua Kim dengan nafas memburu.


"Disana tidak ada bukti jika Eve yang menembaknya, selama Ayah tutup mulut dan tidak membenarkan saksi yang diberikan oleh Minzy. Ingat Ayah, jika sampai Eve masuk penajara Eve tidak akan sendirian. " Ucap Eve yang kemudian kembali menjalankan mobilnya lagi.


Ketua Kim menghela nafasnya panjang, Ketua Kom tidak masalah jika Daniel meninggal. Hanya saja Eve masih belum menduduki jabatan CEO dan sewaktu-waktu bisa di tendang dari keluarga tersebut.


Diwaktu yang sama, Stevan dan yang lainnya tengay berpacu dengan waktu. Stevan mengendarai mobil hingga pinggiran kota agar Daniel mendapatkan pertolongan pertama.


Kedua wanita yang berada dibelakang terisak melihat kondisi Daniel termasuk Kristal, yang beberapa saat lalu masih shock karenanya.


"El, bangun sayang. Jangan tinggalkan Mama." Ucap Kristal menangis.


"Tenanglah Kristal, Daniel pasti akan selamat." Ucap Stevan yang fokus menyetir.


"Apa kamu pikir bisa tenang di saat seperti ini, kenapa kamu lama sekali datang ketempatku hah! Hikss seaindanya aku tidak keluar apartemen ini semua tidak akan terjadi." Ucap Kristal yang meledakkan amarahnya kepasa Stevan juga dirinya.


Mobil yang Stevan kendarai berhenti dengan cepat, secepat Stevan keluar dari dalam mobil dan membuka pintu penumpang.


Minzy segera keluar setelah meletakkan kedua kaki Daniel dengan benar, terlihatMinzy berlari memanggi seorang perawat untuk membawa brangkar bersamanya.


Dengan dibantu beberapa perawat, mereka segera berlari dengan membawa brangkar ke arah mobil. Dengan di bantu oleh petugas medis, akhirnyaDaniel bisa dipindahkan ke brangkar.


Segera para perawat membawa masuk tubuh Daniel yang sudah tidak sadarkan diri di ikuti oleh Kristal, Minzy, dan Stevan.


Seorang dokter dengan cekatan memeriksa dan merobek pakaian yang dikenakan Daniel dengan gunti.


"Bawa ke ruang operasi, cepat!" Teriak dokter setelah memeriksa keadaan Daniel.


Terlihat dokter dan beberapa tenaga medis bergerak dengan cepat hingga terasa ruangan itu menjadi sibuk setelah kedatangam Daniel.


Kristal berlari kesamping brangkar Daniel yang didorong oleh dua orang perawat, terlihat Kristal begitu sedih melihat keadaan anaknya.


"Maaf Nyonya dilarang masuk." Ucap seorang perawat dengan menghalangi Kristal dan menutup pintu ruang operasi.


Terlihat Kristal tergugu menangis segera Stevan mmeluk tubuh mantan istrinya, Kristal tidak menolak karena dirinya memang butuh sandaran saat ini.


Sedangkan Minzy hanya menangis dalam diam namun air mata yang keluar dari kedua mata indahnya tidak berhenti menetes.


"El, bertahanlah demi aku." Ucap Minzy dalam hati.


Minzy berjalan gontai ke arah kursi tunggu pasien yang berada didepan ruang operasi, tidak ada yang dapat dia perbuat saat ini selain mendoakan sang pujaan hati agar selamat.


"Bagaimana jika terjadi sesuatu kepada Daniel, Stev." Ucap Kristal dengan menangis.


"Tenanglah, Daniel akan selamat. Dia putra kita yang hebat." Jawab Stevan memeluk erat tubuh Kristal.

__ADS_1


"Maafkan aku." Ucap Kristal.


"Tidak, aku yang meminta maaf. Maaf karena aku lama datang untuk menyelamatkanmu sehingga membuat putra kita terbaring di meja operasi." Jawab Stevan mengecup ujung kepala Kristal dengan air mata yang mengalir.


Kristal hanya menangis dalam dekapan mantan suaminya tersebut, hati Kristal begitu sakit melihat Daniel yang sudah tidak sadarkan diri.


Hampir dua jam lamanya operasi Daniel dilakukan, hingga dokter yang menangani Daniel keluar sari ruang operasi.


Semua orang yang melihatnya segera berdiri dan berjalan mendekat.


"Bagaimana dokter anak saya?" Tanya Stevan cepat.


"Operasi berjalan lancar dan pasien akan segera di pindahkan di ruang perawatan." Jawab dokter dengan tenang.


Ketiganya merasa bersyukur karena Daniel baik-baik saja.


"Untuk kedua orangtuanya, silahkan datang keruangan saya." Ucap dokter begitu melihat Daniel sudah dibawa keluar oleh perawatnya.


"Baik dok, terima kasih." Jawab Kristal dengan sopan.


Dokter segera melakukan bow dan meninggalkan keluarga pasien untuk menyiapkan semua hasil pemeriksaan Daniel tempo hari.


Ya, Daniel memeriksakan dirinya di Rumah Sakit pinggiran kota yang kemungkinan kecil dapat dilacak oleh sang Kakek.


Sedangkan kini Kristal dan yang lainnya masuk kedalam kamar Daniel, menunggu perawat selesai dengan peralatan yang dibutuhkan Daniel selama perawatan.


"Kami akan mengecek keadaan pasien setiap tiga puluh menit hingga satu jam sekali." Ucap perawat sebelum undur diri meninggalkan pasien dan kekuarga.


"Baik, terima kasih sus." Jawab Minzy sopan.


Kristal mengelus surai hitam Daniel dengan pelan, bibir Kristal bergetar menahan tangis. Stevan memeluk Kristal dari samping dengan mengelus lengannya.


Kristal mengangguk dan menyeka airmatanya.


"Minzy, tolong jaga Daniel sebentar ya. Tante akan keruangan dokter dulu." Ucap Kristal pelan.


"Baik Tante." Jawab Minzy mengangguk.


Kristal dan Stevan berjalan keluar dari ruang rawat Daniel untuk memenuhi panggilan sang dokter.


Minzy duduk di kursi yang berada di samping brangkar Daniel, tubuh Minzy bergetar karena menangisi Daniel.


"Hiks, terima kasih untuk perjuanganmu El. A---aku sangat merindukanmu." Ucap Minzy dalam isakannya.


Tangan Minzzy menggengam tangan Daniel pelan dan mengecup dahi Daniel penuh sayang.


Minzy masih terisak dengan tangan kanan yang meraba perban bekas operasi.


"Pasti sakit ya." Ucap Minzy yang masih menangis.


Minzy menelungkupkan kepalanya dan terisak lirih, dirinya begitu ketakutan kehilangan Daniel. Bahkan tangan dan pakaian Minzy masih berlumuran darah Daniel tidak dia hiraukan.


Kita tinggalkan Minzy dan Daniel kini beralih ke Stevan dan Kristal yang sudah duduk didepan dokter.


"Bagaimana dok keadaan anak saya yang sebenarnya?" Tanya Kristal dengan raut wajah khawatir.


Terlihat dokter menghela nafas berat dan membenarkan posisi kacamatanya.

__ADS_1


"Begini Nyonya, pasien tempo lalu sudah melakukan pemeriksaan di Rumah Sakit ini dengan saya. Ini adalah hasil pemerikaaan CT Scan saat itu." Jawab dokter yang kemudian menunjukkan CT Scan Daniel di atas meja.


Kristal dan Stevan menafao gambar berwarna hitam dan warna putih membentuk kerangka manusia.


"Akan saya jelaskan secara singkat, saat ini kondisi pasien termasuk kritis karena kangker yang menyerangnya sudah hampir mengenai organ yang lain. Untuk itu, pasien harus segera mendapatkan pendonor untuk sum-sum tulang belakang. Karena kemoterapi sudah tidak akan membantu lagi." Jelas dokter dengan tenang dan mudah dioahami orang awam.


Kristal terisak lirih, "Dimana saya bisa mencari pendonor itu dok. Putra saya tidak cocok dengan sumsum tulang belakang saya." Jawab Kristal menangis.


"Lakukan tes kepada saya dok, saya adalah ayahnya." Jawab Stevan tenang dan tegas.


Kristal menolehkan kepalanya hingga menatao Stevan dengan intens bagaimana bisa pria tersebut mendonorkannya. Bahkan selama ini Stevan begitu acuh dengan keadaan Daniel.


"Apa anda yakin?" Tanya dokter serius.


"Yakin." Jawab Stevan mantap.


"Baiklah, silahkan ikuti perawat saya untuk berganti pankaian terlebih dahulu dan kita akan melakukan pemerikaaan menyeluruh." Ucap sag dokter.


Stevan segera beranjak dari duduknya mengikuti perawat yang berjalan keluar, Kristal segera mengikuti Stevan dan mencekal pergelangan tangan kanan Stevan.


"Apa kamu yakin? Itu akan sangat menyakitkan." Ucap Kristal pelan.


Stevan menolehkan kepalanya dan memutar tubuhnya hingga keduanya berhadapan.


"Maafkan aku, aku adalah suami dan ayah yang paling buruk didunia ini. Biarkan aku menebus kesalahanku selama ini kepadamu dan Daniel, mungkin sebagian organku tidak akan dapat membayar kesakitan kalian tapi percayalah jika aku benar-benar tulus melakukannya jangan halangi aku." Jawab Stevan panjang lebar kepada Kristal.


Kristal terpaku mendengar jawaban mantan suaminya, setitik air mata kembali turun dan dengan lembut Stevan mengahapus airmata Kristal.


"Jangan pernah menangis lagi, maaf sudah membuatmu banyak mengeluarkan air mata sepanjang hidupmu." Ucap Stevan pelan.


Pembicaraan keduanya terhenti karena panggilan dari perawat agar segera datang.


"Aku tinggal dulu, kembalilah keruangan Daniel." Ucap Stevan dengan mengacak rambut Kristal dengan pelan.


Kristal masih berdiri di tempatnya dan menatap punggung Stevan dengan bahagia dan sedih secara bersamaa. Berharap sum-sum tulang belakang Stevan cocok dengan Daniel.


Terlihat Stevan berjalan bersama seorang perawat menuju ruangan CT Scan dimana sang dokter telah menunggu.


Ternyata Kristal tidak kembali keruangan Daniel, melainkan menunggu Stevan dan menemaninya melakukan pemeriksaan.


Sebelum Stevan masuk keruangan CT Scan, Kristal menghadangnya terlebih dahulu.


"Terima kasih." Ucap Kristal tulus.


Stevan hanya tersenyum ke arah Kristal dan mengacak rambut Kristal pelan kemudian masuk kesalam ruangan menyusul perawat.


Kristal berdiri didepan kaca sebagai pembatas dirinya dan Stevan, terlihat Stevan berbaring di sebuah alat besar dan perlahan tubuhnya masuk kedalam alat tersebut.


Stevan menjalani pemeriksaan lengkap dan tes penunjang sebelum tindakan. Tes penunjang yang dimaksud meliputi: EKG jantung, ekokardiografi, foto Rontgen, CT scan, dan tes darah.


Pengambilan sel punca, baik dari pendonor maupun dari organ tubuh sendiri. Sel punca dapat diekstraksi dari sel darah, dari jaringan sumsum tulang.


Cukup lama Kristal menemani Stevan, bahkan terlihat keduanya kelelahan namun tetap di tahan demi hasil yang sangat memuaskan.


"Kapan kami dapat menerima hasil pemeriksaannya dok?" Tanya Stevan antusias.


"Dalam beberapa hari Tuan, pemeriksaan tadi sudah kami kirimkan ke laboratorium terlebih dahulu." Jawab sang dokter halus.

__ADS_1


"Baiklah, usahakan secepatnya dok." Ucap Stevan dengan penuh harap.


...🐾🐾...


__ADS_2