Cinta Pertama Membawa Luka

Cinta Pertama Membawa Luka
Pengacara Nyonya Kristoff


__ADS_3

Happy Reading 🌹🌹


Suara gemericik air perlahan mulai tak terdengar, terlihat pintu kamar mandi terbuka keluarlah Daniel dengan handuk kecil di tangannya.


Di rebahkannya tubuh jangkung tersebut diatas kasur berukuran king size milik Agung.


Perpahan kedua matanya terpejam, berharap hidupnya akan panjang agar dapat berkumpul dengan keluarganya.


Sedangkan diruang tengah, terlihatempat pria yang tengah membicarakan sesuatu denga wajah uang serius.


"Kapan mereka akan menjalankan rencana mereka?" Tanya Agung pada ketiganya.


"Tidak tahu Ayah, kapan mereka akan bergerak." Jawab Gabriel jujur.


"Kita harus mulai memberikan pengawalan kepada Kristal lebih ketat lagi, karena bom waktu sudah mulai dihidupkan." Ucap Agung dengan serius.


"Kami sudah menambahkan CCTV di apartemen dan mansion." Jelas Robby dengan sopan.


"Bagus, tapi kita jangan sampai lengah karena sesuatu yang berbau teknologi akan mudah diretas." Jawab Agung.


"Ya, aku setuju. Bahkan kami sudah memberikan pengawal bayangan kepada Minzy dan Nyonya Kim." Kakek Kim menimpali ucapan Agung.


"Mungkin kurang satu minggu lagi, mereka dan pengikutnya akan meggugat untuk melengserkan Tuan Kristoff dari jabatannya. Kami sudah mengadakan pertemuan beberapa hari lalu." Agung melaporkan apa yang terjadi pada pertemuan tersebut.


"Tapi, masalahnya kami belum menemukan pengacara kepercayaan dari mendiang Nyonya Kristoff." Ucap Robby jujur.


"Benar, bahkan petunjuk seperti apa wajahnya tidak ada." Timpal Kakek Kristoff.


"Apa Kakek tidak mengingat apapun, misal ketika Nenek berbicara sesuatu yang memberikan sebuaj petunjuk?" Tanya Gabriel kepada Kakek Kristoff.


"Tidak, Kakek dan Nenekmu jarang berbicara serius semenjak Nenekmu selalu membela Eve dan Kakek membela Kristal." Jawab Kakek Kristoff jujur.


"Petunjuk satu-satunya hanya Paman Seo berarti, karena dia pernah mengatakan jika orang tersebut berada disekitar kita." Ucap Gabriel dengan menjentikkan jarinya.


"Paman Seo sepertinya juga tidak tahu, karena dia hanya mengatakan apa yang mendiang Nyonya Krostoff ucapkan." Jelas Robby dengan wajah berfikir.


Semua orang yang ada diruangan itu menghela nafas, seakan belum menemukan jalan keluar dari siapa pengacara kepercayaan mendiang Nyonya Krostoff tersebut.


"Briel ingat, orang itu akan muncul disaat yang tepat. Apakah mungkin ketika rapat pemegang saham dia akan muncul?" Tanya Gabriel dengan menegakkan duduknya kembali.


Kegita orang menggelengkan kepalanya pelan karena mereka sendiri juga tidak tahu apakah akan muncul atau tidak.


"Kita tidak bisa berpegang pada ucapan Seo, karena tidak ada seorangoun dari kita yang mengetahui siapa pengacara tersebut." Ucap Kakek Kristoff.


"Setidaknya dengan saham Nyonya Kim dan juga investasi yang dilakukan oleh perusahaan Gandratama akan menggagalkan pengangkatan CEO tersebut." Kata Gabriel dengan menopang dagunya.


"Tidak semudah itu, Nyonya Kim masih bisa berubah haluan karena ada Minzy diantara keduanya. Sedangkan suntikan dana dari perusahaan Gandratama memang benar dapat ditarik sewaktu-waktu tentu membayar pinalty sesuai yang ada dikesepakatan." Jelas Agung panjang lebar dengan segala kemungkinan yang ada didepan mereka.


Disisi lain, terlihat Rose yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan mengeringkan rambut panjangnya menggunakan handuk.


"Kita cek dulu, apakah ada pesan masuk." Ucap Rose pada diri sendiri.


Segera langkah pendeknya berjalan menuju nakas, mengambilponsel yang tengah di isi daya olehnya tadi sebelum melakukan aktivitas mandi.

__ADS_1


Dijenda apung tidak ada pesan apapun, hanya satu pesan itu berasal dari Jin.


"Apakah dia benar-benar sibuk." Gumam Rose.


Rose meletakkan kembali ponselnya tanpa niatan membalas pesan seniornya, berjalan kearah meja rias yang berada disamping tempat tidurnya.


Mengambil haidraiyer berwarna merah muda dari dalam laci dan mencolokkannya pada sumber listrik (lupa autor namanya apa πŸ˜‚).


Menentukan panas dan mulai menyalakanbya, tidak ada suara bising seperti pengering rambut pada umumnya dan juga panas yang di hasilkan dari hairdraiyer juga masih manusiawi.


Dengan perlan Rose mengeringkan rambutnya yang kini sudah berwarna hitam, dengan menggerakkan kepala kekanan dan kekiri agar mudah menggapai rambut yang akan dikeringkan.


Setelah kering segera mematikan haidraiyer dan menaruhnya di sebelah kanan, tangan Rose meraih bandana berbentuk pita besar yang tergantuhg di sisi meja riasnya.


Dimasukkannya bandana tersebut hingga leher dan ditarik ke atas agar tidak ada rambut yang akan mengganggu make upnya hari ini.


Dengan cekatan Rose mengambil praimer dengan satu kali pompa, diratakannya pada wajah setelah cukup rata mengambil foundation sedikit dan diratakan dengan brush.


Memberi concilear pada beberapa bagian yang terlihat ada kerutan, seperti kantung matanya hari ini. Karena terlalu bahagia membuat Rose tidak dapat tidur semalam suntuk.


Menaburkan bedak yang satu tone dengan kulitnya, merapikanalis jiga bulu matanya. Tidak lupa agar terlihat matanya terbuka menggunakan airliner tipis.


Di poleskannya blush on dikedua pipi dan dagu Rose langkah terakhir adalah lipstik yang diberikan liptint clear agar lebih berisi.


"Siap! Hari ini bertemu Mama mertua... oh my Mama mertua." Ucap Rose kegirangan bahkan wajahnya sudah merah padam memanggil Kristal Mama mertua.


Rose beranjak dari duduknya melangkah cepat menuju lemaribyang berada disamping kamar mandi.


"Oh tidak Rose, kamu harus terlihat anggun kali ini." Ucap Rose pada dirinya.


Rose membuka pintu lemari sebelah banyak dres yang baru-baru ini dia beli, Rose tersenyum dengan lebar dan segera memilih yang paling cantik.


Segera Rose melepas bathdropnya begitu saja hingga teronggok diatas lantai, dengan hati-hati memakai dresnya agar tidak terkena make up.


Beruntung kamar Rose tidak terpasang CCTV yang langsung dipantau oleh Gabriel, jika pria itu melihat mungkin akan langsung menyeretnya didepan pendeta untuk menikahkan mereka.


Rose berjalan kekaca berukuran panjang, memutar tubuhnya kekanan dan kekiri juga memajukan kakinya yang pendek itu.


Bandana yang sejak tadi bertengger dikepala segera dilepaskannya dan merapikan kembali rambutnya.


"Perfect." Ucap Rose.


Dengan cepat mencabut ponsel dari pengisi daya dan memasukkan ke dalam tas jinjingnya, mengenakan sepatu berhak rendah dirinya siap untuk berkunjung ke apartemen kekasihnya.


Tidak lupa Rose mengunci apartemennya, berjalan dengan perasaan bahagia menuju lift yang akan mengantarkannya kebasement.


Dengan bersenandung kecil dan sesekali menghentakkan ujung sepatunya menandakan betapa bahagianya Rose.


Tidak membutuhkan waktu lama, Rose telah sampai dibasement. Terlihat sopir sekaligus pengawal pribadi yang di utus oleh sang Ayah sudah menunggu seperti biasanya.


"Mau kemana kota hari ini, Nona?" Tanya sang pengawal.


"Ke alaman sini ya." Ucap Rose menunjukkan isi pesan dari Gabriel sang kekasih.

__ADS_1


"Baik, Nona." Jawab sang pengawal.


Dengan memasukkan alamat yang dituju pada navigasi mobil, segera sang pengawal menjalankan mobil setelah keduanya sudah berada didalam mobil.


Selama diperjalanan Rose selalu menyunggingkan senyumnya, tidak luntur sedetikpun.


"Pak, kita nanti mamoir di toko kue dulu ya." Ucap Rose.


"Baik Nona." Jawab sang pengawal.


Beruntung ditengah kota banyak toko kue berterbaran dimanapun sehingga mempermudah sang pengawal berhenti disalah satu toko kue.


"Tunggu sebentar." Ucap Rose.


Sang pengawal hanya mengangguk pelan, terdengar suara pintu mobil terbuka. Anak majikannya sudah keluar dan berjalan menuju toko kue.


Segera sang pengawal melaporkan kepada Ayah Handoko bagaimana perkembangan hubungan Rose dengan pria yang membuat anak majikannya jauh-jauh terbang meninggalkan negaranya.


"Baik Tuan." Ucap sang pengawal setelah melaporkan dan menerima jawaban dari Ayah Handoko.


Sedangkan Rose yang kininyang sudah berada didalam toko, terlihat tengah ikut mengantri karena banyak pengunjung.


Kepalanya menyembul diantara antrian orang-orang terlihat dirinya juga segera menginginkan mereka untuk dimakan.


Perlahan antrian mulai bergerak maju meski perlahan hingga kini giliran Rose.


"Ada yang bisa kami bantu?" Tanya pegawai.


"Ya, aku ingin kue strawberry ini dua." Ucap Rose menunjuk kue bulat utuh tersebut.


"Apakah ada pesanan lagi?" Tanya pegawai.


"Em, Blackforest satu slice juga coffe americano satu." Ucap Rose lagi.


Rose segera menyerahkan kartu atmnya kepada pegawai yang bertugas sebagai kasir tersebut. Pegawai tersebut terlihat menggesekkan kartu atm milik Rose.


Disodorkannya alat tersebut untuk Rose memasukkan pin atm miliknya.


"Silahkan bergeser dan tunggu pesanan Anda." Ucao sang pegawai dengan menyerahkan kembali atm. beserta bill.


Rose bergeser dan menunggu pegawai lainnya mengemas pesanan miliknya, terlihat tiga kantong yang berada di tangan Rose saat keluar dari dalam toko.


Suara pintu mobil terbuka dan sedikit bergoyang karena Rose baru saja duduk di kursi.


"Apakah sudah selesai Nona? Tidak ada yang dibeli lagi?" Tanya pengawal melohat dari kaca spion.


"Tidak Pak, jalan saja." Jawab Rose.


Pengawal mulai menyalakan mesin mobil dan perlahan roda bergerak bersamaan dengan sang pengawal yang menekan pedal gas mobil.


...🐾🐾...


__ADS_1


__ADS_2