
Happy Reading πΉπΉ
Setelah selesai memasak, Rose segera berlari menuju kamarnya untuk berganti pakaian.
Secepat kilat Rose merubah penampilannya dan turun ke lantai satu dengan tergesa-gesa.
"Nona mau kepesta?" Tanya Bi Asih yang melihat penampilan Rose.
"Tidak Bi, Rose pergi dulu ya." Ucap Rose yang berlalu dengan membawa kotak bekal di tangannya
Di dalam ruangan terlihat Dave merebahkan tubuhnya di sofa, dia merasa sangat lelah karena semalam tidak mendapatkan pelepasan melainkan di seret oleh bodyguard Ayahnya.
Cukup lama, akhirnya Rose sampai di perusahaan Danuarta. Segera melangkahkan kakinya menuju meja resepsionis.
Terdengar suara tempat makan yang di letakkan di meja resepsionis, kedua resepsionis meneliti penampilan gadis yang ada di depannya.
"Cari siapa Nyonya?" Tanya sang resepsionis.
"Mbak, saya ingin bertemu Kak Dave." Jawab Rose dengan tersenyum.
"Apakah Nyonya sudah memiliki janji?" Tanya resepsionis lagi.
Rose menganggukkan kepala, "Panggil aku Rose saja mbak, ini aku yang biasanya menitipkan makan siang untuk Kak Dave." Jelas Rose yang kurang suka di panggil Nyonya karena dia masih muda.
"Ah, maaf Nona. Karena penampilan Anda berbeda. Sehingga kami hampir tidak mengenali Anda." Jawab resepsionis menutupi rasa kagetnya.
"Apa aku semakin cantik? Bagaimana penampilanku?" Tanya Rose terlihat antusias menunggu jawaban dari kedua resepsionis tersebut.
Kedua resepsionis mengangkat kedua jempolnya di depan Rose.
"Mari Nona saya antar," Sang resepsionis mengantarkan Rose menuju lift.
Rose mengikuti langkah resepsionis meskipun terkadang ingin jatuh karena tidak terbiasa mengenakan sepatu hak tinggi.
"Aku memberikan sepuluh jempol kepada wanita yang betah mengenakan sepatu hak tinggi." Gumam Rose dalam hati.
"Nona kita sudah sampai, langsung masuk saja di ruangan Pak Dave."
Rose mengangguk dan membuka pintu ruangan Dave, terlihat pria yang membuatnya menunggu semalaman tertidur di atas sofa.
Rose menutup pintu ruangan Dave pelan agar tidak. mengganggu tidur sang empunya ruangan.
Dengan langkah pelan, Rose mendekat. Kotak makannya dia letakkan di atas meja dengan rasa selempangnya.
Rose menundukkan tubuhnya agar dapat melihat wajah Dave lebih jelas, terlihat wajah yang tegas, hidung mancung, bulu mata lentik dan kulit bersih.
Dave yang merasa hembusan nafas seseorang menerpa wajahnya membuka matanya, cukup lama keduanya saling menatap dengan intes hingga akhirnya Rose berdiri untuk kesehatan jantungnya.
"Ekhm, maaf mengganggu tidur kakak." Ucap Rose kikuk dengan berjalan menuju sofa kosong untuk duduk.
Dave masih di posisinya, dia mengamati gerak gerik Rose dalam diam.
"Kak, makan dulu." Rose membuka kotak makannya dan menata masakannya di atas meja.
Dave bangun dan masih hanya diam.
"A.. ada apa kak? Apa kakak tidak suka makasannya?" Tanya Rose gugup.
"Tidak, duduklah." Dave mengambil kotak nasi dan mengambil lauk.
__ADS_1
Dave mengakui jika masakan Rose sangat enak, bahkan masakan Mamanya kalah dengan masakan Rose.
"Kakak kemana semalam?" Rose memberanikan diri untuk bertanya kepada Dave.
"Club malam." Jawab Dave jujur.
Rose mengedipkan kedua matanya cepat, "Tapi, kakak memiliki janji denganku bukan." Ucap Rose menatap intens pria yang masih makan itu.
"Ah, aku lupa. Apa kamu menungguku?" Tanya Dave kepada Rose.
"Emm, tidak. Setelah menonton filmnya aku langsung pulang kak." Jawab Rose berbohong.
"Em, bagus." Ucap Dave tanpa meminta maaf maupun rasa bersalah.
Hal itu membuat Rose merasakan nyeri di hatinya. Terlihat tangan gadis itu meremat tas yang tengah dia pangku guna menutupi paha mulusnya.
"Apa nanti malam kita bisa keluar?" Tanya Dave yang sudah selesai meminum air putih hingga tandas.
"Bi.. bisa bisa." Jawab Rose cepat.
"Baiklah, nanti kita bertemu di restoran X pukul tujuh malam. Berdandanlah yang cantik." Ucap Dave dengan menatap Rose.
Rose mengangguk dengan cepat, dia mengiyakan ucapan Dave.
"Terima kasih makanannya." Ucap Dave lagi dan berdiri menuju kursi kebesarannya.
Sedangkan Rose masih terpaku di tempat duduk yang karena mendengar ucapan yang keluar dari Dave, segera Rose tersadar dan membereskan bekas makan siang Dave dengan cepat.
"Jika begitu, Rose pulang dulu kak." Pamit Rose kepada Dave.
Dave hanya menganggukkan kepalanya saja tanpa menjawab.
"Sampai jumpa nanti malam." Ucap Rose lagi yang langsung keluar dari ruangan Dave.
"Apakah sudah saatnya." Gumam Dave dalam hati.
Sekali lagi, Dave ragu dengan perasaan aneh yang menjalar di hatinya. Dave takut jika perasaan ini salah karena mengingat Rose adalah sahabat Putri.
...πΎπΎ...
Waktu sudah menunjukkan pukul enam sore, terlihat Rose tengah keluar dari dalam kamar mandi.
Tubuh kecil nanti rampkng itu terbalut dengan handuk berwarna pink yang hanya menutupi dada dan pahanya saja, sedangkan rambutnya di biarkan tergerai dengan kondisi basah.
Pria manapun akan meneguk ludahnya melihat pemandangan itu.
Rose melangkahkan kakinya menuju lemari pakaian, dia membuka di bagian gaun yang biasa dia kenakan jika menemani Ayahnya pergi ke pesta.
"Emm, aku pakai gaun apa." Rose terlihat berfikir dengan mencari gaun yang cocok dia kenakan malam ini.
"Aku pakai ini saja, sepertinya baru satu kali aku pakai." Ucap Rose dengan nada riang.
Rose menjatuhkan pilihan pada gaun berwarna putih berlengan panjang namun menunjukkan kemulusan pundaknya.
Cukup lama Rose merias dirinya di depan cermin, hingga akhirnya semuanya selesai.
"Apakah aku harus menyiksa kakiku lagi," Ucap Rose lirih dengan melihat sepatu hak tinggi yang berada di depan kakinya.
__ADS_1
Rose melangkah mengambil kotak obat, dia memakaikan obat merah dan menempelkan hansaplas pada bagian belakang kakinya.
Dengan menghela nafas panjang, Rose mengenakan sepatu hak tingginya itu.
"Aku harus segera berangkat, pasti Kak Dave menungguku." Gumam Rose ketika melihat waktu di jam tangannya.
Sang Ayah yang melihat Rose turun dari lantai dua menatap heran, tidak biasanya Rose berpenampilan seperti itu jika tidak menghadiri pesta dengannya.
"Mau kemana Rose?" Tanya sang Ayah.
"Eh, mau pergi makan malam Yah." Jawab Rose jujur.
"Mau Ayah antar?" Tawar sang Ayah.
"Tidak perlu Ayah, Rose berangkat sendiri saja." Tolak Rose halus.
"Apa kamu akan pergi berkencan?" Tanya sang Ayah dengan wajah menggoda.
Semburat merah muncul di pipinya, "Hehe.. sudah Rose pergi dulu Yah." Rose kemudian mengecup kedua pipi pria yang sudah tidak muda lagi itu.
Sang Ayah hanya menatap punggung Rose, tetapi pandangannya teralih di kaki anaknya.
"Ikuti Rose." Satu perintah sang Tuan yang mutlak.
Segera asisten kepercayaannya mengikuti putri dari majikannya itu.
Ayah Rose menatap tidak senang dengan apa yang dia lihat, sang Ayah tentu bahagia jika anaknya bahagia. Tetapi jika harus menyakiti dirinya sendiri tentu Ayah tidak akan terima.
Rose menghentikan mobilnya di parkiran restoran yang sudah mereka sepakati. Rose berjalan masuk setelah memarkirkan mobil miliknya.
"Silahkan Nona." Ucap sang pelayan kepada Rose.
"Pesanan meja atas nama Dave Danuarta." Ucap Rose kepada pelayan.
"Oh, mari ikut saya." Sang pelayan membawa Rose ke sebuah meja yang sudah di reservasi oleh Dave.
Rose mengucapkan terimakasih sebelum pelayan itu pergi. Terlihat Rose beberapa kali menarik nafasnya dalam, dia sangat gugup dengan penampilannya hari ini.
Sedangkan asisten Ayah Rose, sudah duduk di meja yang tidak jauh dari meja Rose. Sang asisten segera mengambil gambar anak bosnya dan mengirimkan kepada Ayah Rose.
"Tunggu sampai Rose pulang." Balas Ayah Rose kepada asistennya.
Sang Ayah terlihat mengguyar rambutnya kebelakang, dia tentu tahu Dave Danuarta karena sama-sama pengusaha di bidang yang sama.
Meskipun tidak bekerjasama, tetapi nama Dave tentu terkenal se antero pengusaha. Siapa yang tidak tahu Rudi Ayah dari Dave.
"Apa yang kau rencanakan Dave." Ayah Rose frustasi.
...πΎπΎ...
...READERS MISAL ADA YANG KURANG COCOK DENGAN VISUAL ROSE, DAVE ATAU GABRIEL...
...SILAHKAN DI BAYANGKAN SENDIRI SESUAI TOKOH YANG KALIAN INGINKAN YA....
Visual
Sung Dong Il aka Ayah Nugroho
__ADS_1
Pecinta drakor udah gak asing lagi sama bapack2 satu ini ya π selalu bersliweran dimanapun.