Cinta Pertama Membawa Luka

Cinta Pertama Membawa Luka
Dua garis merah


__ADS_3

Happy Reading 🌹🌹


Terlihat seorang pria dengan celemek yang dia kenakan dengan duduk dengan tenang di meja makan. Tangan kanannya memegang buah naga sedangkan tangan kirinya memegang sebuah pinset untuk mencabuti biji-biji buah naga.


"Sayang, apakah sudah selesai?" Tanya Rose yang duduk termenung di depan suaminya.


"Belum." Jawab Briel serius.


Rose merebahkan kepalanya diatas meja makan dengan wajah yang sudah tidak sabar untuk memakan buah naga tanpa biji.


Kakek Kristoff dan Kristal mengintip dari balik pintu ruang makan, terlihat keduanya menatap prihatin ke arah Gabriel.


"Pah, apa El akan berhasil?" Tanya Kristal berbisik.


"Tidak tahu." Jawab Kakek Kristoff jujur.


"Kalian sedang apa?" Ucap seorang pria yang baru saja datang hingga mengagetkan keduanya.


"Astaga!"


"Mengagetkan saja." Gerutu Kakek Kristoff.


"Kakek, ada apa?" Tanya Rose yang berjalan mendekat.


"O-oh, tidak. Kami hanya ingin kedapur mengambil air dingin." Jawab Kakek Kristoff tertangkap basah.


"Rose akan ambilkan." Ucap Rose riang.


Rose berjalan melewati Gabriel yang mulai frustasi karena tidak kunjung berkurang pekerjaannya namun hancur buah naga tersebut ditangannya.


Kristal dan yang lainnya duduk dimeja makan, "Sudah letakkan saja. Biar mama yang lanjutkan." Kata Kristal pelan.


"Sebentar lagi selesai Mah." Jawab Briel.


Rose datang dengan satu teko air dingin ditangannya, segera menuangkannya ke gelas sesuai jumlah orang yang sedang duduk disana.


"Sudah cukup sayang." Ucap Rose menghentikan gerakan Gabriel.


Briel menaikkan sebelah alisnya heran, "Belum ada yang selesai." Jawa Gabriel.


"Aku sudah tidak ingin makan buah naga. Tapi, aku ingin strawberry." Ucap Rose dengan menunjukkan senyum pepsodentnya.


Gabriel menjatuhkan buah dan piset ditangannya dengan kasar, punggungnya disandarkan kesandaran kursi makan karena merasa Rose menguji emosinya.


"Rose." Geram Gabriel.


"Apa? Aku hanya meminta strawberry saja." Kata Rose tanpa dosa.


Gabriel menghembuskan nafasnya kasar, "Baiklah sayang, akan aku belikan strawberrynya." Jawab Briel mengalah.


Rose tersenyum lebar ke arah suaminya, "Terima kasih sayang, jika begitu segera pergilah pergi berbelanja strawberry untukku." Kata Rose yang kemudian melenggang pergi dari ruang makan.


Tanpa menunggu apapun, Briel segera pergi beranjak dari kursi makan. Langkah lebarnya berjalan keluar mansion untuk pergi ke swalayan.

__ADS_1


Ketiga orangtua hanya melihat kepergian kedua pasangan yang bwrbeda arah, "Stev, segera hubungi dokter kandungan untuk datang ke mansion." Ucap Kristal dengan menatap lekat punggung menantunya.


Stevan dan Kakek Keistoff langsung menatap Kristal. Kristal menyadari tatapan keduanya.


"Kristal yakin jika menantu kita sedang hamil."


...***...


"Bagaimana dok?" Tanya Kakek Kristoff dengan rasa tidak sabar.


"Kemungkinan Nona Rose hamil tuan, namun untuk memastikan akan saya beri tespec agar dapat meyakinkan." Jawab dokter kandungan tersebut.


Dokter kandungan merogoh tas kerjanya dan mengambil tiga alat tespec agar lebih terpercaya, "Silahkan Nona." Ucap sang dokter.


Rose masih bergeming duduk di atas kasurnya, dlihatnya benda kotak tersebut dan wajah sang dokter secara bergantian.


"Ayo Rose, kita uji dulu." Ajak Kristal.


Kristal menerima alat tespec tersebut dan mengajak Rose kekamar mandi, Kristal mencari sesuatu untuk menampung air senu dari sang menantu.


Terlihat pasta dan sikat gigi Gabriel tergeletak begitu saja karena tempatnya yang berbentuk cangkir diambil oleh Kristal. Beruntung cangkir tersebut dalam keadaan kering.


"Sayang, tampung air seni dicangkir ini kemudian celupkan ketiga alat ini hingga mengenai tanda biru diatasnya." Kristal menerangkan dan mulai meninggalkan sang menantu.


Rose masih terbengong ditempatnya karena merasa kaget dan bahagia, Rose mulai menampung air seninya dan mencelupkan alat tersebut ke dalam wadah.


"Rose, apakah sudah selesai?" Panggil Kristal.


Tidak ada jawaban dari Rose, Kristal kembali masuk. Terlihat tangan Rose gemetar dengan hebat. Kristal segera berjongkok dan menutup mulutnya sendiri.


"Selamat sayang, kamu sebentar lagi akan menjadi ibu." Ucap Kristal yang langsung memeluk tubuh menantunya dengan perasaan yang membuncah bahagia.


Sedangkan kedua pria beda usia tengah gusar menunggu para wanita yang berada didalam kamar mandi.


Tok


Tok


Tok


"Rose! Kristal, kalian tidak apa-apa." Seru Stevan khawatir.


Kristal dan Rose langsung mengurai pelukan mereka, terlihat keduanya tersenyum penuh haru.


"Ayo keluar, pasti kakek akan sangat bahagia mendengarnya." Kata Kristal pelan.


Rose mengangguk dan segera bangkit berdiri untuk keluar dari dalam kamar mandi, Stevan yang di luar semakin mengetuk pintu dengan kencang karena tidak ada jawaban.


Cklek!


Tangan Stevan yang terkepal berhenti di udara, karena pintu sudah di buka. Terlihat dua orang wanita baru saja menangis.


"Ada apa? Kenapa kalian menangis?" Cecar Stevan khawatir.

__ADS_1


"Bagaimana Kristal?" Tanya Kakek Kristoff.


Bibir Rose bergetar seakan kelu berbicara. Dia hanya mampu menyodorkan alat tespec didepan kedua pria beda usia tersebut sang dokter segera mendekat saat keluarga pasien masih bingung.


"Kamu hamil? Benar, kamu hamil cicitku?" Tanya Kakek Krostoff dengan wajah tidak percaya.


"Hamil?" Beo Stevan.


Stevan nampak bingung karena belum pernah melihat benda pipih, kecil, dan panjang yang berada ditangannya tersebut. Karena memang belum pernah melihatnya.


"Benar tuan, Nona Rose saat ini tengah hamil muda. Usia kandungan sekitar dua bulan." Jelas sang dokter pelan.


Stevan mengerutkan dahinya begitu juga Kakek Kriatoff, "Mereka beru menikah dua bulan juga." Ucap keduanya bersamaan.


"Tidak masalah tuan, mungkin saat malam pertama keadaan Nona Rose tengah masa subur setelah menstruasi. Sehingga pembuahannya sangat cepat." Jawab sang dokter.


"Yes! Aku sebentar lagi memiliki cicit!" Seru Kakek Kristoff berjalan dengan merentangkan kedua tangannya untuk meneluk Rose.


Kakek Kristoff memeluk sang menantu dengan perasaan bahagia, "Selamat Rose, ternyata bibit keluarga Krostoff benar-bebar premium sejak dulu kala." Ucap Kakek Kristoff yang membuat semua orang terdiam dan sedetik kemudian tertawa.


"Terima kasih, kakek. Selamat sebentar lagi akan menjadi Kakek Buyut." Jawab Rose terharu.


"Kamu tidak ingin memberi selamat kepada menantumu." Tanya Kristal pelan pada stevan.


"Eh? Ya." Jawab Stevan kaget.


Kristal tersenyum melihat pemandangan didepannya, terlihat raut wajah Kakek Kristoff begitu bahagia terpancar jelas.


"Apa, dulu kamu juga melakukan tes seperti ini?" Tanya Stevan pelan.


Kristal menoleh ke arah Stevan, "Naksudmu tes kehamilan?" Ulang Kristal.


Stevan mengangguk kaku.


"Tentu saja." Jawab Kristal.


"Kenapa aku tidak pernah menerima alat seperti ini." Tunjuk Stevan dengan mengangkat tiga tespec ditangannya.


"Jika tidak dibuang oleh seseorang pasti kamu juga mendapatkannya." Kata Kristal.


Dokter terlihat menuliskan resep vitamin dan obat yang perlu dikonsumsi untuk ibu hamil.


"Tuan, ini adalah resep obatnya. Besok Nona bisa datang ke Rumah Sakit untuk melakukan USG agar tahu usia kandungan secara konkret." Ucap sang dokter.


"Baiklah, terima kasih dok." Jawab Stevan.


Dokter segera berkemas karena tugasnya telah selesai, terlihat dirinya melakukan bow sebelum pergi meninggalkan keluarga Kristoff.


"Gabriel pasti akan sangat gembira mensengar kabar ini sayang." Ucap Kristal yang duduk ditepi kasur Rose.


"Mah, apakah bisa jangan memberitahu Kak Gabriel?" Tanya Rose pelan.


"Kenapa." Kata Kristal heran.

__ADS_1


"Emm, Rose ingin merencanakan sesuatu." Jawab Rose pelan.


...🐾🐾...


__ADS_2