
Happy Reading 🌹🌹
"Mas." Panggil Putri yang baru saja masuk kedalam ruangan Sky.
"Sayang, kamu sudah datang." Ucap Sky yang langsung bangkit dari duduknya.
"Kak Gabriel pergi ya?" Tanya Putri yang kini membalas pelukan sang suami.
"Tidak, dia baru saja sampai kantor mungkin. Tadi dia ada urusan meeting dengan kolega dari luar negri." Jawab Sky panjang.
Putri hanya ber oh ria saja.
"Kenapa kamu tanya tentang Gabriel, sayang? Atau jangan-jangan kamu.... "
Sky menyincingkan kedua matanya kearah Putri.
"Jangan berpikir macam-macam, tadi aku bertemu Rose didepan." Jawab Putri dengan mencubit lengan suaminya.
"Aduh... sshhhh, cubitanmu semakin hari semakin pedas." Ucap Sky dengan mengelus lengannya.
"Habis Mas menyebalkan... tunggu!"
Putri segera berjalan kearah pintu ruangan Sky, beruntung pintu ruangan belum Putri tutup.
Sky masih mengelus lengannya dan melihat sang istri yang menempelkan tubuhnya kepintu.
"Sayang, awas nanti dedeknya kepencet jadi pendek." Gerutu Sky yang menghampiri Putri.
"Ssttt... diam Mas. Lihat!" Ucap Putri tanpa melihat kearah Sky.
Sky mengikuti Putri, mengamati kedua manusia berbeda gender yang terlihat tengah berbincang didepan pintu ruangan Gabriel.
"Apakah mereka berpacaran, Mas?" Tanya Putri kepada Sky.
Sky menggendikkan kedua bahunya saja.
"Apa Mas tau sesuatu?" Tanya Putri lagi.
Posisi mereka saat ini bagaikan mata-mata profesional, Putri dan Sky bersembunyi di balik pintu ruangan Sky.
"Mas, ayo kita grebek mereka saja." Ucap Putri yang sudah siap keluar dari persembunyiannya.
"Sudah, cukup. Ayo cepat masuk sayang, biarkan mereka berdua jangan ikut campur." Tolak Sky tegas kepada istrinya.
"Sungguh tidak asik, aku hanya ingin tahu Rose itu berpacaran dengan Kak Dave atau Kak Gabriel." Sungut Putri yang sudah melangkah masuk kedalam ruangan dan duduk disofa.
"Ya terserah temanmu itu ingin berpacaran dengan siapa, memangnya ada apa sih sayang. Kamu cukup memikirkan aku dan bayi kita saja." Ucap Sky yang sudah duduk disamping Putri.
"Ya, hanya penasaran saja." Jawab Putri enteng.
"Jangan suka penasaran, nanti unurmu pendek sayang." Ucap Sky dengan terkekeh.
__ADS_1
Putri yang mendengar ucapan sang suami menoleh dan menatap tajam kearah Sky.
"Jadi, Mas mendoakan Putri cepat mati begitu!" Seru Putri dengan wajah yang memerah.
"Eh, bukan begitu sayang. Itu hanya kata-kata saja." Jawab Sky panik.
"Sudah, Putri mau pulang. Malam ini Mas tidur di kamar tamu." Ucap Putri yang sudah berdiri dan melangkah meninggalkan Sky.
"Sayang!! Bukan begitu, tidak serius.... sayang!!!" Sky mencoba mengikuti langkah istrinya karena jika sudah begini Sky akan berpuasa dengan waktu yang tidak dapat ditentukan.
"Stop! Jangan mendekat Mas, kamu jahat. Aku dan bayiku akan pergi pulang kerumah kamu bekerja saja." Jawab Putri terdengar lebay.
"Sayang, sudah aku bilang. Jangan menonton Mas Aris lagi." Sungut Sky kepada Putri.
Pasalnya semenjak Putri hamil, mama muda itu lebih banyak menonton sinetron dan selalu menuduh Sky yang tidak-tidak hingga membuat Sky berakhir tidur di sofa maupun kamar tamu.
Putri tidak menggubris ucapan Sky, dan langsung masuk kedalam lift meninggalkan Sky berdiri sendiri disana.
"Awas kalian." Gumam Sky yang menatap tajam kearah ruangan Gabriel.
Sedangkan didalam ruangan yang diumpat oleh Sky, hanya ada keheningan diantara Rose dan Briel.
"Apakah, kita perlu keluar dulu Kak?" Tanya Rose yang mendengar suara ribut-ribut didepan.
"Tidak perlu." Jawab Briel singkat.
Rose hanya diam, ini keadaan yang sangat canggung.
Rose merasa sedang berdiri didepan benteng yang sangat tinggi dan tebal.
"O... oh, itu. Hanya ingin datang saja kemari." Jawab Rose gugup.
Briel melihat ke arah jam yang melingkat ditangannya, "Aku sibuk, bisakah kamu pergi." Ucap Briel datar.
Perasaan Rose menjadi tidak menentu, kenapa rasanya sakit dan sedih.
"Bisakah Kakak memperkejakan Tante Kristal?" Tanya Rose dengan menekan perasaan tidak nyamannya.
Briel menaikkan sebelah alisnya, tangannya bersedekap dan perlahan punggungnya bersandar disofa.
"Memperkejakan? Bagaimana maksudnya?" Tanya Briel.
"Be... begini Kak, Tante Kristal tidak nyaman tinggal di kediaman Amanda. Tadi pagi, Tante Kristal ingin mencari pekerjaan. Bisakah Tante Kristal bekerja bersama Kakak?" Jelas Rose dengan perasaan was-was.
"Memperkejakan sebagai apa? Dia orang mana, jika tidak jelas asal-usulnya aku tidak akan pernah mau membantunya." Jawab Briel tegas.
"Jelas Kak... Tante Kristal membawa semua dokumen asli miliknya, saat ini masih proses perpindahan kewarganegaraan saja." Ucap Rose cepat.
"Dia, ingin pekerjaan apa?" Tanya Briel.
"Menjadi ART, Kakak." Cicit Rose pelan.
__ADS_1
"Aku tidak membutuhkan ART, sudah ada yang membersihkan setiap paginya. Lagipula, aku hanya tinggal di apartemen." Tolak Briel gamblang.
"Rose mohon Kak, hanya Kak Gabriel yang dapat Rose percaya tentang Tante Kristal." Ucap Rose memelas.
"Kenapa tidak meminta tolong kekasihmu saja? Aku yakin, Dave akan cepat membantumu menangani wanita itu." Jawab Briel telak.
Mata Rose terlihat memerah dan berkaca-kaca, kenapa penolakan Gabriel kali ini sangat sakit di hatinya.
Benar, Rose memiliki Dave bahkan pemilik perusahaan Danuarta. Jadi, kenapa harus sampai memohon kepada Gabriel dengan jabatan sekertaris.
Gabriel yang melihat Rose ingin menangis, rasanya Gabriel ingin memeluk dan meminta maaf. Bukan maksud Briel ingin melukai, hanya saja Briel sadar akan posisinya saat ini.
"Ah, iya aku sampai lupa jika memiliki kekasih yang akan lebih cepat membantuku. Baiklah Kak, jika memang Kakak tidak bisa membantu Rose. Maka Rose akan datang ke kekasih Rose." Jawab Rose dengan bibir yang bergetar.
Rose langsung berdiri dari duduknya, "Permisi." Ucap Rose sebelum berlalu dari hadapan Briel.
Cklek
Pintu ruangan Gabriel terdengar terbuka dan tertutup begitu cepat.
Briel menghela nafasnya panjang dan kepalanya ditengadahkan keatas. Tidak terasa, disudut matanya telah basah karena air mata.
Siapa gerangan yang tidak sedih melihat wanita yang dicintainya sedih, terutama karena perbuatan kita sendiri.
"Seharusnya kamu kejar dia, kenapa malah seperti ini." Ucap seseorang yang bersandar di pintu kerja Gabriel.
Kepala Briel diangkat sedikit, terlihat pria arrogant didepannya dengan senyum yang mengejek.
"Pergilah, aku lelah." Usir Briel yang kembali menengadahkan kepalanya.
Tak
Tak
Tak
Suara sepatu pantofel menggema diruangan Briel, Sky berjalan mendekat ke arah saudara angkatnya tersebut.
"Jika ingin kejam tak perlu menangis, apa kamu begitu mencintai gadis cerewet itu?" Tanya Sky yang sudah duduk di meja depan Briel.
"Dia kembali bersama Dave." Jawab Briel lemas.
"Lalu? Kamu menyerah begitu saja?" Tanya Sky dengan suara santai.
"Aku harus apa, lagipula itu sudah pilihannya. Sejak awal memang Rose ditakdirkan untuk Dave." Jawab Briel semakin lemah.
"Oh, come on. Kamu bisa menikungnya di sepertiga malam atau kamu buat hamil saja Rose." Solusi Sky dengan dua jalur keyakinan berbeda.
Briel mengangkat kepalanya dan mengambil bantal sofa, dilemparkannya bantal tersebut ke arah Sky.
"Breng*sek kau, apa bedanya aku dan Dave jika begitu." Umpat Briel kepada Sky.
__ADS_1
...🐾🐾...