Cinta Pertama Membawa Luka

Cinta Pertama Membawa Luka
Mata-mata Keluarga Kristoff


__ADS_3

Happy Reading🌹🌹


Daniel dipindaj ruangannya menuju lantai tiga, dimana ruang VIP berada.


Terlihat banyak alat yang menempel di tubuhnya, terlihat kulit yang baru kemarin terlihat bersinar dan sehat kini berubah menjadi pucat.


Daniel hanya dapat pasrah menjalani setiap pemeriksaan yang di lakukan oleh dokter.


Dalam hatinya, Daniel sangat bersedih karena tidak bisa mencari keberadaan Mama dan saudara kembarnya.


Daniel hanya berharap, semoga Robby dapat menemukan Mamanya dan membawanya datang menemuinya saat ini.


Para bodyguard Kristoff telah sampai di Indonesia, langsung menaiki taxi untuk menghadap ke Robby dan kakek Kristoff.


Terlihat Robby dan kakek Kristoff tengah berkutat dengan pekerjaannya, besok mereka akan bertemu lagi dengan Gabriel untuk menandatangani surat perjanjian.


"Tuan, mereka telah sampai." Ucap Robby yang menerima kode pesan singkat dari bodyguard.


"Suruh ke atas, dan pesanlah unit apartment lain untuk mereka tempati selama di sini." Jawab kakek Kristoff tegas.


"Baik." Kata Robby.


Segera Robby menyuruh para bodyguard untuk menuju unit apartment mereka, kini semuanya telah berkumpul di ruang tengah.


"Kalian pasti tahu, menantuku Kristal." Kakek Kristoff membuka pembicaraan.


"Tahu, Tuan." Jawab bodyguard serentak.


"Cari menantuku saat ini juga, berpencarlah. Ingat, jangan sampai tertangkap CCTV jika sedang memantau. Dan, mulailah dari kediaman gadis ini." Ucap kakek Kristoff panjang dengan melempar foto Rose yang tertangkap CCTV di mansion Kristoff.


"Alamatnya, sudah ada di belakang foto. Dua orang berjagalah di Rumah Sakit karena Daniel sedang mendapatkan perawatan intensif di sana. Jangan biarkan siapapun masuk kecuali dokter dan perawat." Lanjut kakek Kristoff lagi.


"Siap, laksanakan." Ucap para bodyguard serentak.


"Setiap tiga puluh menit, laporkan hasil pemantauan kalian. Jangan membuat gaduh karena ini bukan negara kita." Kini Robby yang bersuara.


"Baik, Tuan."


"Sementara satu unit apartment untuk kalian tempati hari ini, besok akan ada unit lain dan mobil baru yang kalian gunakan untuk melakukan operasi pemantauan kali ini." Jelas Robby lagi.


"Baik, terima kasih." Jawab mereka.


Segera Robby membubarkan barisan bodyguard untuk menuju unit apartemen mereka.


.


.

__ADS_1


.


Pagi menjelang, para bodyguard telah siap dengan pakaian penyamanaran mereka.


Mereka terlihat seperti seorang turus yang tersesat, mendapatkan perintah dari ketua jika mobil telah sampai. Segera mereka memasukin mobil dinas masing-masing.


Sedangkan kakek Kristoff dan Robby, tengah bersiap untuk datang ke kantor Gandratama menandatangani surat kontrak kerjasama yang sudah disepakati.


"Bagaimana, Rob?" Tanya kakek Kristoff.


"Mereka sudah bergerak, Tuan." Jawab Robby.


"Bagus, semoga kita segera mendapatkan kabar." Ucap kakek Kristoff penuh harapan.


Robby mengangguk, dirinya juga berdoa agar mendapatkan titik terang dari kepergian Kristal di negara ini.


Di perusahaan Gandratama.


Terlihat sekertaris Sky tengah menyiapkan ruang rapat untuk pertemuan dua perusahaan besar yang akan bekerjasama.


"Padahal sudah hampir siang, kenapa Tuan Sky dan Tuan Gabriel belum datang?" Gumam sang sekertaris.


Sekertaris tersebut segera berjalan cepat meninggalkan ruang rapat untuk kembali kemeja kerjanya.


Segera sang sekertaris menefon nomor Gabriel selaku asisten sekaligus yang menangani kerjasama hari ini.


Sekertaris kembali mencoba menghubungi Sky, mungkin Sky dapat hadir lebih awal.


"Hal...."


"Kamu tangani pertemuan hari ini." Ucap Sky yang langsung mematikan sambungan telfonnya tanpa menunggu asistennya menyelesaikan ucapannya.


"Astaga! Ak... aku harus bagaimana, aku tidak bisa bahasa Mandarin." Ucap sang sekertaris panik.


Sekertaris yang panik sama halnya dengan Sky dan Agung, mereka panik pagi ini karena mendengar Gabriel pingsan.


Robby dan kakek Kristoff tengah berada di dalam mobil menuju perusahaan Gandratama tanpa mengetahui apapun.


Terlihat dari wajah tenang mereka, bahkan kakek Kristoff sudah tidak sabar untuk bertemu pria yang wajahnya sama dengan sang cucu Daniel.


Hingga mobil yang mereka tumpangi berhenti di depan bangunan pencakar langit, Robby segera turun dan membukakan pintu untuk kakek Kristoff.


Kakek Kristoff berjalan beriringan dengan Robby, disana sudah ada satu karyawan yang menunggu kedatangan keduanya.


"Selamat pagi, mari ikuti saya Tuan." Ucap seorang karyawan dengan sopan.


"Terima kasih." Jawab kakek Kristoff.

__ADS_1


Karyawan memimpin jalan menuju ruang rapat dengan menggunakan lift yang biasanya di gunakan oleh CEO dan para pejabat eksekutif lainnya.


Tanpa menunggu lama, lift berhenti di satu lantai yang menjadi tujuan mereka bertiga.


Karyawan berjalan dengan anggun dan sopan, di bukannya pintu ruang rapat dengan pelan.


Terlihat di ruangan tersebut hanya ada sekertaris Sky yang sudah berdiri dan menyambut kedatangan kakek Kristoff dan Robby.


"Silahkan duduk, Tuan." Ucap sekertaris dengan gugup.


Kakek Kristoff dan Robby segera duduk hingga posisi mereka bersebrangan.


"Dimana, Tuan Gabriel?" Tanya kakek Kristoff.


"Ah, it... itu. Mohon maaf Tuan. Tuan Sky dan Tuan Gabriel tidak dapat menghadiri pertemuan kali ini karena sesuatu hal." Jawab sang sekertaris dengan terbata karena di tatap tajam oleh Robby.


"Sesuatu hal apa, apa kalian pikir ini perjanjian main-main." Ucap kakek Kristoff garang.


Sekertaris kaget karena kakek Kristoff sedikit memukul meja, "Ba... baik, akan Saya hubungi beliau segera." Jawab sekertatis cepat.


Segera sang sekertaris menghubungi nomor Sky, tetapi sibuk. Mencoba lagi nomor Gabriel tetapi tidak di angkat.


Sekertaris Sky sesekali melihat ke arah kakek Kristoff dan Robby dengan senyum kaku, bahkan dahinya sudah keluar peluh.


Menunggu sekertatis Sky yang masih berusaha menghubungi salah satu orang penting di perusahaan Gandratama, ponsel Robby bergetar.


Segera Robby undur diri untuk mengangkat panggilan tersebut.


Terlihat wajah Robby yang berubah-ubah raut wajahnya, hingga para bodyguard mengirimkan banyak sekali foto-foto dimana terlihat Kristal dan dua pria asing keluar dari apartemen.


"Siapa mereka? Tidak mungkin, Nyonya Kristal bermain dengan dua pria bukan." Gumam Robby dengan berfikir.


Robby masih mengamati gambar demi gambar yang dikirimkan oleh bodyguard mereka, hingga kedua mata Robby membola.


Jarinya langsung meng-zoom sebuah gambar untuk memastikan jika matanya tidak salah melihat.


"Tuan Gabriel?? Apa hubungan mereka, bagaimana bisa Nyonya Kristal bersama Tuan Gabriel." Robby semakin dibuat pusing dengan suatu perihal yang masih abu-abu.


Hingga Robby memerintahkan untuk terus mengikuti Kristal, kemanapun Kristal melangkah.


Segera Robby kembali masuk kedalam ruangan, terlihat wajah sang sekertaris sudah pucat pasi.


Robby mendekat ke arah kakek Kristoff dan membisikkan sesuatu di telinga bosnya dengan oelan sehingga tidak dapat di dengarkan oleh orang lain.


Kakek Kristoff membelalakkan kedua matanya dan menoleh ke arah Robby, terlihat Robby memganggukkan kepalanya dengan pasti.


"Kita mulai saja, berikan berkas-berkasnya akan segera Saya tanda tangani." Ucap kakek Kristoff dengan cepat.

__ADS_1


Wajah sang sekertaris terlihat berbinar, dengan semangat segera menyerahkan berkas-berkas untuk kerjasama keduanya.


__ADS_2