
Happy Reading 🌹🌹
Daniel, Kakek Kristoff, dan asisten Robby kini telah menuju ke arah perusahaan dengan menggunakan satu mobil.
"Rob, apa jadwalnya hari ini?" Tanya Kakek Kristoff.
"Hari ini kita hanya meninjau pabrik saja, Tuan. Siang setelah makan siang kita sudah dapat terbang ke Indonesia." Jawab asisten Robby dengan tenang.
"Sudah menyiapkan hotel atau apartemen?" Tanya kakek Kristoff lagi.
"Dari pihak perusahaan Gandratama sudah menyediakan hotel dimana tempat kita untuk menginap selama berada di Indonesia, Tuan." Jawab asisten Robby kembali.
"Sepertinya kita harus meniru pelayanan mereka untuk para klien dari luar negri, Rob." Ucap kakek Kristoff dengan takjub.
"Baik, Tuan." Jawab asisten Robby memasukkan keinginan bosnya ke dalam draft didalam tablet.
Daniel hanya diam dengan bersedekap dada, pandangannya di buang memandangi jalanan yang biasa mereka lewati untuk ke kantor.
"El, apa yang kamu pikirkan?" Tanya kakek Kristoff membuyarkan lamunan Daniel.
"Tidak ada, Kek." Jawab Daniel dengan membenarkan posisi duduknya.
"Apa kamu merindukan, Mamamu?" Tanya kakek Kristoff.
Daniel menganggukkan kepalanya, memang benar dirinya begitu merindukan Mamanya.
"Tapi, Mamamu di hubungi Kakek sudah tidak aktif nomornya." Ucap Kakek Kristoff berubah jadi sendu.
Daniel hanya diam, dirinya juga sudah lama tidak menghubungi Mamanya setelah memberi ijin untuk pergi menemukan saudara kembarnya.
Asisten Robby hanya diam, mendengarkan dan fokus dengan jalan raya. Dirinya cukup melihat situasi saja, jika memang tidak membahayakan keluarga Kristoff.
Tidak butuh waktu lama, mobil yang di tumpangi oleh kakek Kristoff dan Daniel telah sampai di depan perusahaan.
Sedangkan di kediaman Kristoff, terlihan Stevan yang tengah berdiri di balkon kamarnya dengan memandang jauh kedepan.
Eve yang melihat suaminya, segera masuk dan. berjalan mendekat.
"Apa yang sedang kamu pikirkan, sayang?" Tanya Eve dengan suara mendayu.
Stevan masih tetap diam, dirinya memikirkan ucapan sang Ayah dan anak semata wayangnya Daniel.
"Apa kamu memikirkan ucapan, Ayah?" Tanya Eve seakan tahu isi pikiran Stevan.
"Tidak." Bohong Stevan.
"Apa kamu tidak merindukanku?" Tanya Eve dengan tangannya meraba dada bidang Stevan.
Stevan menghentikan gerakan tangan Eve, "Eve, apa aku keterlaluan dengan Kristal dan Daniel?" Tanya Stevan pelan.
__ADS_1
"Bukankah selama ini, kita menerima keduanya dengan tangan terbuka." Jawab Eve lembut.
"Ya, tapi... kita memperlakukan Kristal sebagai pembantu selama ini." Ucap Stevan seolah mengingat perilakunya.
"Bukankah itu memang tempatnya yang paling cocok, sayang kita sudah membiayai pengobatan untuk Daniel bukankah itu sudah setimpal dengan apa yang dia kerjakan." Jawab Eve panjang mengungkit budi mereka meskipun pada kenyataannya selama ini menggunakan uang kakek Kristoff.
"Benar apa yang kamu ucapkan sayang, kita sudah membiayai Daniel sejak kecil hingga sekarang. Jadi, kita tidak melakukan perbuatan yang salah bukan?" Tanya Stevan mulai terhasut lagi.
"Benar, kamu tidak salah sayang. Kamu sudah menjadi Ayah yang baik untuk Daniel selama ini." Ucap Eve menimpali.
Stevan membalikkan badannya, hingga menghadap ke arah Eve.
Meskipun sudah berusia, Eve tetap tidak pernah puas bermain ranjang dengan Stevan.
Eve berjinjit dan mencium bibir Stevan, Stevan tidak menolak. Di rapatkannya tubuh Eve hingga keduanya saling memempet tanpa sekat.
Dengan perlahan keduanya berjalan menuju kasur king size milik mereka, hingga pagi itu terjadilah pergulatan panas yang membuat Stevan tumbang pertama kali.
"Terima kasih." Ucap Stevan dengan menggulingkan tubuhnya di samping Eve.
Eve hanya dapat terseyum, tetapi dalam hati mengumpat karena Stevan sejak dulu tidak pernah dapat bertahan lama.
"Aku, ke toilet dulu." Ucap Eve yang berjalan meninggalkan Stevan yang sudah terkapar di atas kasur.
Eve yang sudah berada didalam kamar mandi segera menyalakan shower, "Sejak muda hingga sekarang, kenapa pria itu tidak pernah dapat memuaskanku." Umpat Eve pelan.
"Apakah, pihak perusahaan Kristoff sudah sampai di Indonesia?" Tanya Gabriel kepada sekertaris Sky.
"Belum, Tuan. Asisten mereka menghubungi jika akan melakukan penerbangan siang ini." Jawab asisten sopan.
"Siapkan hotel terbaik untuk mereka selama mereka berada di negara ini." Ucap Gabriel yang langsung berlalu menuju ruangan Sky.
Cklek
Terlihat pria yang tengah berkutat dengan tumpukan dokumen dimeja kerjanya. Bahkan nyaris wajahnya tertutupi dengan berkas-berkas pekerjaan.
"Ada apa, datang kesini?" Tanya Sky dingin.
"Aku hanya ingin memastikan keberadaanmu." Jawab Briel tanpa beban.
"Ck, kau senang. Sekarang aku meninggalkan istriku di rumah sendiri dan anakku pasti sangat merindukan Ayahnya." Ucap Sky dengan suara yang memelas.
Gabriel hanya memutar bolanya malas, "Putri dirumah bersama Ayah dan Mama, apanya yang sendiri." Kata Briel membantah ucapan Sky.
Sky merebahkan punggungnya di sandaran kursi, "Kamu tidak tahu Briel, bagaimana rasanya memiliki istri." Ucap Sky dengan nada mengejek.
Gabriel tidak memperdulikan ucapan Sky, terlihat Briel melihat arloji miliknya yang melingkar indah di pergelangan tangan.
"Jangan lupa, besok kita akan menyambut tamu dari Korea. Siang ini mereka akan terbang ke Indonesia." Lapor Briel kepada Sky selalu atasannya.
__ADS_1
"Ck, tidak bisakah membicarakan hal yang lain." Sungut Sky.
"Tidak." Jawab Briel singkat.
"Dasar mata duitan." Umpat Sky kesal.
"Hidup butuh uang." Jawab Briel tanpa beban.
Sky hanya mendengus kesal, berbicara dengan saudaranya hanya membuatnya kalah telak.
Benar hidup memang butuh uang, tapi maksud Sky setidaknya mengobrol dengan Gabriel selain pekerjaan.
"Cepat selesaikan, Sky. Pekerjaan kita masih banyak." Ucap Briel yang berjalan mendekat ke meja Sky.
Sky melempar penanya di atas meja dengan wajah merengut kesal, dirinya tidak mau jika harus lembur.
Pagi-pagi sudah harus dipaksa sang istri untuk berangkat ke kantor tanpa kecupan, sekarang apalagi yang di inginkan pria menyebalkan di depannya ini.
"Jangan mengumpatku." Ucap Briel dengan membantu membukakan dokumen Sky.
"Ck." Sky segera menegakkan duduknya dan mengambil pena dengan kasar.
Briel hanya tersenyum miring dan tipis, karena melihat wajah kesal saudaranya.
Tidak terasa waktu sudah menunjukkan siang hati, Gabriel segera menghentikan pekerjaannya bersama Sky.
"Aku lapar sekali." Ucap Sky dengan meregangkan ototnya.
Gabriel segera beranjak dari duduknya dan melengkungkan badannya ke kanan dan ke kiri.
"Ayo, makan." Ajak Briel kepada Sky.
Sky juga beranjak dari kursinya untuk menuju kantin, keduanya keluar beriringan.
Sky berjalan didepan dan di ikuti Gabriel, kini keduanya sudah masuk didalam lift.
"Bagaimana gadis pendekmu?" Tanya Sky yang ingin mengobrol antar saudara.
"Apanya." Jawab Gabriel singkat.
"Kisah kalian." Ucap Sky.
Gabriel hanya diam, "Kisah pantatmu, belum berjuang saja sudah kembali lagi." Gerutu Briel dalam hatinya.
"Jangan bilang, kamu gagal lagi." Ucap Sky dengan memandang ke arah Gabriel dengan gelak tawanya.
Hap.
Briel menutup mulut Sky dengan tangannya, dan segera mendorongnya keluar dari dalam lift.
__ADS_1
...🐾🐾...