Cinta Pertama Membawa Luka

Cinta Pertama Membawa Luka
Pertengkaran Hebat


__ADS_3

Happy Reading 🌹🌹


Hubungan Daniel dan Minzy semakin dingin dan renggang, sekali lagi semua karena Go Eun memonopoli Daniel yang selalu hadir ketika dirinya membutuhkan.


Daniel selalu memberikan hadiah kepada Minzy setelah dirinya pergi menemui Go Eun. Awalnya Minzy senang karena Daniel masih memiliki rasa bersalah kepadanya, namun semua sirna saat Minzy mulai mengetahui jika Daniel akan memberinya hadiah selepas bertemu dengan Go Eun.


Seperti hari ini, Daniel dan Minzy tengah berada di sebuah hotel untuk mensurvei ballroom hotel yang akan di gunakan untuk pernikahan mereka nanti.


"Bagaimana dengan ballroom yang ini Tuan?" Tanya pelayan hotel.


"Bagus dan sangat luas, bagaimana menurutmu sayang?" Tanya Daniel kepada Minzy.


"Bagus, aku menurut saja sesuai keinginanmu." Jawab Minzy mengangguk dan mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru arah.


"Kami ambil ballroom ini." Ucap Daniel kepada pelayan hotel.


"Baik, mari kita ke kantor untuk mengurusnya. Apakah kalian memakai WO untuk menghias ruangan atau mengambil paket dari kami?" Tanya pegawai tersebut dengan berjalan menuju ruangan.


"Keluarga kami sudah memakai WO mungkin nanti orang-orang WO yang akan sering datang ke sini." Jawab Minzy dengan tenang.


Daniel dan Minzy segera mengurus penyewaan ballroom yang akan menjadi saksi pernikahan mereka, terlihat Daniel dan Minzy saling melempar senyum meskipun hanya senyum simpul.


"Terima kasih tuan." Ucap karyawan dengan menjawabbtangan Daniel dan Minzy bergantian.


Keduanya keluar untuk menuju suatu tempat lagi, karena Daniel memutuskan untuk mempercepat pernikahan mereka.


"Kita ke toko perhiasan ya." Ucap Daniel yang berjalan beriringan dengan Minzy.


Minzy menoleh ke arah Daniel terlihat wajah tegas nan lembut yang sudah membuatnya jatuh cinta, "Hem, baiklah." Jawab Minzy singkat.


Keduanya menaiki mobil menuju toko perhiasan yang sudah menjadi langganan para bangsawa dan konglomerat di Korea.


Tidak membutuhkan waktu lama keduanya telah sampai, Daniel dan Minzy segera keluar. Terlihat bangunan klasik bergaya eropa dengan berjejer berlian yang menghiasi etalase toko itu.


Daniel dan Minzy masuk dengan di sambut baik oleh para pelayan, terlihat cicin yang bertahtakan berlian murni terpajang disana.


"Bisa keluarkan koleksi cincin pernikahan terbaru?" Tanya Daniel.


"Bisa tuan, tunggu sebentar." Pegawai yang memakai sarung tangan hitam tersebut mengambilkan satu set cincin pernikahan koleksi terbaru.


Daniel mengambilnya dan menyematkan di jari manis Minzy, terlihat sangat cantik.


"Apa kamu suka?" Tanya Daniel.

__ADS_1


"Suka." Jawab Minzy singkat.


Daniel menghela nafasnya panjang dirinya sasar jika Minzy masih marah kepadanya, namun Daniel juga sudah berkata jujur kepada Minzy jika Go Eun tengah mengalami kesusahan saat ini.


"Kami ambil ini." Ucap Daniel kepada pelayan.


Pelayan segera mengambil dan membawanya ke belakang untuk di bungkus.


"Apa kamu masih marah?" Tanya Daniel pelan.


"Tidak." Jawab Minzy sungkat.


Baru saja Daniel akan mengatakan sesuatu kepada Minzy ponselnya kembali berdering, terlihat nama Go Eun di layar ponselnya. Daniel diam sesaat dengan melihat mimik wajah Minzy yang datar tanpa Ekspresi.


"Angkat saja, dia ingin apa lagi darimu." Ucap Minzy.


"Sebentar ya." Jawab Daniel.


Daniel segera mengangkat telfon Go Eun dan menjauh dari Minzy, Minzy hanya menatap Daniel datar tanpa ekspresi meski dalan hatinya sakit.


Terlihat wajah Daniel yang berubah menjadi khawatir, sangat khawatir. Bagaimana bisa calon suaminya begitu khawatir dengan wanita lainnsedangkan kepada calon istrinya selalu membohongi.


"Sayang, kita pulang sekarang. Go Eun sedang sakit." Ucap Daniel.


"Lalu? Apa kamu tidak dapat menelfonkan dokter untuknya, apa harus kamu yang datang kesana! Apa di negara maju ini dia tidak memiliki nomor Rumah Sakit." Ucap Minzy dengan emosi.


"Minzy, cukup! Jangan kekanakan, Go Eun adalah sahabatku." Jawab Daniel tegas.


Minzy tertawa sinis dengan air mata yang sudah mengalir, "Kekanakan,aku? Sahabat? Kamu bilang sahabat! Sahabat macam apa yang selalu menghubungi 24jam, bahkan aku yang calon istrimu saja tidak seperti itu! Apa tidak cukup apartemen dan uang yang kamu berikan kepadanya! Kurang apa aku padamu Daniel! Aku selalu ada di sampingmu saat kamu membutuhkanku, aku selalu merawatmu dengan tulus. Jangankan uang, aku meminta barang murah di pasar saja tidak pernah! Kalian mengatasnamakan sahabat, sahabat macam apa yang seperti itu!" Ucap Minzy dengan mengeluakan luapan perasaannya.


Daniel mengepalkan kedua tangannya, terlihat sangat emosi karena Minzy berkata seakan Go Eun wanita murahan.


"Apa! Kamu marah, silahkan aku tidak peduli. Kita batalkan saja pernikahan ini, karena aku mencintaimu namun aku tidak dapat memiliki hatimu." Ucap Minzy tegas.


Minzy langsung meninggalkan Daniel yang masih termagu di tempatnya, Daniel merasa sangat sakit mendengarkan ucapan Minzy.


Daniel langsung berbalik keluar mengejar Minzy, beruntung Minzy masih berjalan mencari taxi yang akan mengantarkan dia pulang.


"Minzy." Panggil Daniel dengan mencekal pergelangan tangan Minzy.


Minzy menyentak tangan Daniel dengan kasar, "Jangan menyentuhku!" Seru Minzy.


"Minzy, ap-apa maksudmu. Batal? Tidak Minzy kita akan tetap menikah." Ucap Daniel tegas.

__ADS_1


"Dalam mimpimu, apa kamu pikir aku ingin hidup berdua dengan pria yang lebih mementingkan wanita lain! Aku pastikan Daniel, kamu akan bersujud di depanku!" Jawab Minzy tegas dengan sorot mata tajam.


Minzy langsung masuk ke dalam dalam taxi yang sudah berhenti di depannya. Taxi meninggalkan Daiel yang masih berdiri di pinggir jalan dengan menatap nanar taxi yang membawa Minzy pergi.


Minzy menumpahkan tangisnya di dalam taxi, terlihat gadis itu memukul dadanya karena sesak.


"Hiks, Mama." Panggil Minzy lirih.


Minzy lebih baik sakit hati daripada hidup bersama pria yang masih memiliki bayangan wanita lain di hidupnya, Minzy tidak ingin seperti Mama dan mendiang ayahnya yang saling menyakiti. Minzy belajar dari pengalaman hidup kedua orangtuanya.


"Argh!" Daniel menendang kerikil menumpahkan rasa kesalnya.


Bukan maksud Daniel menyakiti Minzy, namun Go Eun sedang membutuhkan dirinya saat ini. Daniel mengingat bagaimana Go Eun selalu ada untuknya di saat dirinya membutuhkannya hingga tanpa kabar keluarga Go Eun pergi dari Seoul.


Kembali ponsel Daniel bergetar, terlihat nama Go Eun di sana. Daniel mengguyar rambutnya kasar.


Segera Daniel meninggalkan toko perhiasan seorang diri tanpa Minzy di sampingnya. Daniel segera melaju ke apartemen Go Eun untuk menemui gadis itu.


Ting Tong!


Daniel memencet bel apartemen Go Eun setelah dirinya sampai di sana, terlihat Go Eun yang membukakan pintu dengan raut wajah yang pucat.


"El, kamu sudah datang." Ucap Go Eun lirih.


"Ayo kita ke dokter." Ucap Daniel.


Go Eun menggeleng lemah, dirinya melangkah maju dan memeluk tubuh Daniel. "Hiks, El. Kakakmu tidak ingin bekerjasama dengan perusahaan ayahku, aku sungguh sangat pusing memikirkannya hingga membuatku sakit." Adu Go Eun kepada Daniel.


Daniel menyerengit heran, "Tidak mungki Go Eun aku sudah sampaikan kepada Kak Gabriel untuk bekerjasama dengan perusahaan ayahmu." Jawab Daniel jujur.


"Hiks, itu hanya di depanmu El. Nyatanya aku di usir dari perusahaan padahal aku belum sempat bertemu dengan Kakamu." Ucap Go Eun lagi.


Daniel membalas pelukan Go Eun, "Tenang saja, aku pastikan Kak Gabriel akan bekerjasama dengan perusahaan ayahmu. Aku juga memiliki saham di sana." Kata Daniel menenangkan Go Eun.


"Benarkah?" Tanya Go Eun menengadahkan kepalanya.


"Benar, tenang saja." Jawab Daniel yakin.


"Terima kasih El." Ucap Go Eun dengan kembali memeluk tubuh Daniel.


Go Eun tersenyum lebar penuh arti dalam pelukan Daniel.


...🐾🐾...

__ADS_1


__ADS_2