
Happy Reading πΉπΉ
π€ Halo.
π£οΈ Keluarlah.
π€ Kemana?
π£οΈ Aku sudah didepan rumahmu.
Langsung saja Rose yang tadinya bermalas-malasan di atas kasur langsung terbangun.
Srek
Rose membuka tirai jendelanya dengan kasar.
Terlihat Dave berdiri didepan mobilnya, Rose segera turun dan berlari.
Dave yang mendengarnya dari ujung telfon hanya tersenyum tipis, benar-benar gadis ini.
Sedangkan Kristal yang melihat Rose melesat dengan cepat melewatinya, hanya dapat bertanya dengan suara keras.
"Rose!!! Mau kemana!" Seru Kristal.
Kristal tidak mendapatkan jawaban, hanya angin lalu saja.
Segera Kristal melangkahkan kakinya cepat untuk menyusul Rose, tapi labgkahnya terhenti ketika Rose tengah berbicara dengan seorang pria.
"Apakah itu Dave." Ucap Kristal lirih.
Kristal meninggalkan keduanya dari kejauhan dan memilih kembali masuk membantu Bi Asih daripada terlibat kisah anak muda.
"Kakak, kenapa tidak memberikan kabar jika akan kesini?" Tanya Rose dengan nafas tidak beraturan.
Cup
Dave mencium bibir Rose dengan cepat.
Rose mendelik kesal dan memukul lengan Dave.
"Sudah aku bilang, jangan panggil Kakak." Ucap Dave mengingatkan.
"Lalu.apa hubungannya dengan, mencium." Tanya Rose sebal.
"Itu sebagai hukuman ringanmu." Jawab Dave tanpa dosa.
"Ishh... mana ada hukuman seperti itu, sangat menyebalkan." Sungut Rose kepada Dave.
Dave hanya tersenyum dengan mengacak rambut Rose.
__ADS_1
"Rambut Rose yang di acak-acak, tapi hati Rose yang berantakan." Ucap Rose menggoda Dave.
Dave tergelak, "Ayo, kita keluar." Ajak Dave yang sudah membukakan pintu untuk Rose.
"Keluar kemana?" Tanya Rose bingung.
"Hanya jalan-jalan saja, sudah cepat." Ucap Dave yang mendorong Rose untuk segera masuk kedalam mobil.
Dave menutup pintu mobil dan berlari memutari mobil untuk masuk ke pintu sisi mobil yang lain.
Terlihat mobil Dave bergerak perlahan dan menjauh dari mansion Amanda.
"Sayang." Ucap Rose takut-takut.
"Apa?" Jawab Dave dengan fokus menyetir.
"Apa, kamu sudah tidak marah denganku?" Tanya Rose pelan.
Dave menoleh ke arah Rose dan kemudian kembali fokus.
"Siapa yang marah?" Tanya Dave kembali.
"Kakak." Jawab Rose jujur.
"Ingin aku cium atau kamu yang menciumku." Tawar Dave dengan suara tenang.
"Ap...." Rose langsung menutup mulutnya setelah sadar memanggil Dave apa.
Hanya keheningan yang menemani keduanya, hingga mobil Dave berhenti di suatu tempat.
Rose melihat sekeliling dari dalam mobil Dave, tidak sadar jika Dave sudah mematikan mesin dan melepas seatbelt nya.
"Ayo, turun." Ajak Dave.
"Siapa yang sakit?" Tanya Rose yang kini menatap kekasihnya.
"Kita menjenguk, Gabriel." Jawab Dave jujur.
Rose melebarkan kedua matanya, "Kak Briel, memang sakit apa?" Tanya Rose semakin menuntut.
Dave menatap kedua mata Rose dengan tenang dan dalam.
"Asisten Sky sedang sakit, tentu saja sebagai rekan bisnis harus mengunjunginya." Jawab Dave apa adanya.
Rose mereka seatbelt nya, pikirannya menjadi linglung mendengar Briel sakit.
"Ayo, keburu jam kunjungannya habis." Ajak Dave lagi.
"Tap... tapi, kit... a belum membeli buah tangan." Ucap Rose dengan terbata dan suara yang semakin lirih.
__ADS_1
Dave menengok ke arah jok belakang, terlihat parcel buah berukuran sedang sudah ada disana.
Dave langsung membuka pintu dan keluar, sedangkan Rose masih terdiam ditempatnya.
Klek
Suara pintu mobil terbuka, Dave mencondongkan tubuhnya hingga masuk kedalam mobil setengah badannya.
Seakan tidak ada jarak diantara keduanya, hanya berjarak satu centimeter.
Tak
"Aku tahu, aku sangat tampan sayang. Sudah ayo segera turun." Ucap Dave yang segera mengeluarkan setengah tubuhnya tadi.
Rose mengerjakan kedua matanya cepat, tidak sadar jika Dave membukakam seatbelt untuknya.
Segera Rose menjejakkan kakinya ke plajaran Rumah Sakit.
Sudah ada buah tangan yang Dave bawa, Dave segera menggandeng tangan Rose dengan erat dan sedikit memaksanya untuk masuk.
Dave berjalan dengan tangan kiri membawa parcel buah dan tangan kanan menggenggam erat tangan Rose dengan wajah yang datar.
Sedangkan Rose sedikit terseok-seok mengikuti langkah Dave.
"Pencet tombol liftnya." Perintah Dave kepada Rose.
Rose menoleh ke arah Dave, Dave yang merasa diperhatikan menoleh ke arah Rose dengan tersenyum.
"Gabriel di rawat dilantai tiga, sayang. Jadi kita harus naik lift. Lihat tanganku sudah penuh." Ucap Dave lembut kepada Rose.
Rose mengangguk cepat dan menekan tombol lift, tidak membutuhkan waktu lama lift terbuka dan beberapa orang turun.
Setelah tidak ada yang turun, Dave langsung masuk dengan Rose. Hanya berdua saja didalam lift.
"Apa penyakit kak Gabriel parah?" Tanya Rose terlihat raut wajahnya sangat khawatir.
"Aku juga tidak tahu, sayang. Aku juga baru akan menjenguknya pertama kali denganmu." Jawab Dave dengan menampilkan senyum tipisnya.
Rose mengangguk cepat, "Darimana, sayang tahu jika Kak Gabriel sakit?" Tanya Rose kembali.
"Sayang, sudah aku bilang tadi. Jika kami ini rekan kerja, tentu saja dari Sky siapa lagi." Jawab Dave. mengingatkan Rose.
Rose hanya ber oh ria, hingga akhirnya lift berhenti dilantai yang mereka tuju.
Dave langsung keluar dan sedikit menyeret Rose agar segera keluar juga.
Rose berjalan cepat untuk mengimbangi langkah Dave. Dan kini keduanya sudah berada tepat didepan kamar rawat Gabriel.
Cklek
__ADS_1
Kedua mata saling bertubrukan, debaran hebat menghinggapi mereka.
...πΎπΎ...