
Happy Reading 🌹🌹
"Undangannya, Tuan." Ucap penjaga acara.
Dave segera mengeluarkan kartu undangan yang ada didalam saku jasnya.
"Silahkan masuk." Ucap penjaga lagi setelah mengecek undangan yang diterimanya.
Dave mengangguk dan kaget karena Elsa sudah merangkul lengannya.
"Maaf sayang terlambat, tadi agak macet." Ucap Elsa dengan berbohong.
Dave menghempaskan tangan Elsa, "Menyingkirlah." Ucap Dave.
"Maaf, Tuan. Silahkan selesaikan masalah Anda di tempat lain. Karena masih banyak tamu yang akan masuk." Tegur penjaga kepada Dave.
Dave merapikan jasnya dan melangkah masuk kedalam gedung, Elsa dengan cepat bahkan berlari kecil untuk menyusul Dave.
...🐾🐾...
Mansion Amanda
Setelah melalui makan malam yang canggung, Rose segera naik ke lantai dua untuk bersiap-siap datang ke acara pernikahan Putri.
Sedangkan Ayah Nugroho sudah masuk diruang kerjanya, Kristal dan Bi Asih terlihat membereskan meja makan.
"Biar bibi saja." Ucap Bi Asih kepada Kristal.
"Tidak apa-apa Bi, Kristal sudah biasa membereskan seperti ini." Jawab Kristal pelan.
"Baiklah, ayo kita bawa ke belakang." Ucap Bi Asih dengan tersenyum hangat.
Kristal mengangguk dan mengikuti Bi Asih menuju dapur, diletakkannya piring-piring kotor kedalam wastafel sedangkan lauk pauk yang masih sisa di masukkan kedalam pastik.
"Sisa makanan ini mau di bawa kemana, Bi?" Tanya Kristal pelan.
"Biasanya di bawa Mang Asep ketika pulang, nanti diberikan orang yang suka tidur di emperan-emperan toko." Jawab Bi Asih yang sibuk membungkusnya.
Kristal mengangguk dan membantu Bi Asih, meskipun hanya sisa makanan tetapi masih sangat layak karena setiap sayur dan lauk yang ada di meja makan diberikan sendok masing-masing.
Sedangkan di dalam kamar, terdengar suara gemericik air.
Rose memutuskan mandi lagi karena tidak ingin menyisakan bau dari makan malamnya, dengan cepat Rose sudah selesai dan keluar dari dalam kamarnya hanya mengenakan handuk saja.
Terlihat langkah kecilnya menuju lemari pakaian, beruntung Rose menyempatkan membeli gaun untuk datang ke acara pernikahan Putri.
Rose mengeluarkan gaun berwarna biru tanpa lengan dengan kilauan permata di gaun tersebut. Mengingat ini adalah hari bahagia sahabatnya, membuat Rose tidak segan mengeluarkan kocek paling dalam.
Rose segera memakai gaunnya dengan perlahan, Rose tidak ingin merusak penampilannya malam ini.
Setelah Rose selesai memakai gaun, dengan mengangkat tinggi-tinggi gaunnya Rose segera berjalan dengan cepat ke meja riasnya.
Diariknya kursi yang berada dibawah meja riasnya dan segera Rose duduk.
Tangannya dengan cekatan mengambil dan memoleskan produk kecantikan yang dimilikinya, terlihat tangan yang begitu lincah memoles sana sini.
Hingga sentuhan terakhir adalah lipstik, "Perfect." Ucap Rose dengan senyum yang mengembang sempurna.
__ADS_1
Rose membuka laci sebelah kanan meja riasnya, diambilnya sepasang anting untuk menunjang penampilannya malam ini.
Karena gaun yang dikenakan sudah berkilauan, Rose memutuskan hanya menggunakan satu perhiasan, karena Rose tidak ingin di anggap sebagai toko mas berjalan jika berlebihan.
Sedangkan mobil Gabriel telah memasuki pekarangan mansion Amanda, setelah melapor jika Briel ingin menjemput Rose untuk datang ke acara Putri dan Sky.
Tak
Suara pintu mobil terbuka, Briel segera keluar dari dalam mobil dan menutupnya dengan cepat.
Dengan badan yang tegap berbalut jas mewah, Briel berjalan menuju pintu utama mansion Amanda.
"Cari siapa, Tuan?" Tanya Bi Asih yang kebetulan lewat.
"Rose." Jawab Briel singkat.
"Mari silahkan masuk." Ucap Bi Asih kepada Gabriel.
Gabriel mengikuti langkah Bi Asih yang membawanya ke ruang tamu.
"Silahkan duduk, Tuan. Saya panggilkan Nona Rose dulu." Kata Bi Asih sopan.
Briel segera mendudukkan dirinya setelah Bi Asih berlalu dari hadapannya, Briel baru pertama kali masuk ke dalam mansion Amanda meskipun beberapa kali mengantarkan Rose pulang.
Bi Asih terlihat menaiki anak tangga untuk mencapai kamar Rose.
Tok
Tok
Tok
Cklek
Terdengar suara pintu terbuka, Rose melihat Bi Asih menyembulkan kepalanya dari luar.
"Ada apa, Bi?" Tanya Rose yang memutar tubuhnya.
"Non, teman Non sudah datang." Jawab Bi Asih.
"Baik Bi, tolong buatkan minum dulu. Rose sebentar lagi selesai." Jawab Rose yang kini sudah kembali menghadap kearah cermin.
"Baik Non, Nona sudah cantik. Pasti pacar Non tidak akan jelalatan matanya." Ucap Bi Asih menggoda yang di iringi tawa pelan.
Rose yang mendengarnya entah kenapa membuat wajahnya menjadi panas, "Ishh, Bi Asih. " Ucap Rose.
Bi Asih hanya tertawa pelan dengan menutup pintu kamar Nona Mudanya.
Sedangkan Rose memukul kepalanya pelan, "Oh my, Rose kenapa dengan dirimu. Tidak mungkin berpacaran dengan pria kaku itu, kau pasti akan tambah tua." Ucap Rose pelan.
Terdengar sayup suara langkah kaki mendekat, Briel menolehkan kepalanya ke arah sumber suara.
Gluk
Gabriel menelan ludahnya susah payah, ternyata suara langkah kaki itu adalah Ayah Nugroho.
__ADS_1
Terlihat Ayah Nugroho berdiri tegap dengan kedua tangan yang masuk didalam saku celana santainya.
Wajah datar dan tatapan tajam Ayah Nugroho seketika membuat nyali Gabriel menciut, Briel teringat kejadian ditaman waktu lalu.
"Selamat malam, Tuan Nugroho." Ucap Briel sopan dengan wajah datar.
"Malam, cari siapa?" Tanya Ayah Nugroho to the point.
"Saya ingin menjemput Rose, Tuan." Jawab Briel yang sudah mati-matian menekan rasa takutnya.
"Bawa pulang dengan selamat, jika sampai tergores maka." Ayah Nugroho mempraktekkan seakan menyembelih leher manusia.
Briel dengan kasar menelan ludahnya, "Ya, Tuhan. Apa seorang CEO memang suka memenggal kepala manusia." Jerit Gabriel dalam hati.
Gabriel teringat Sky yang pernah mengancam dengan mematahkan lehernya, sekarang Ayah Rose yang akan memotong lehernya.
"Baik, Tuan." Jawab Gabriel singkat.
"Siapa namamu?" Tanya Ayah Nugroho.
"Gabriel." Jawab Briel singkat.
Tak
Tak
Tak
Terdengar suara sepatu highhiles menggema di ruangan tersebut.
"Ayah, Rose pergi dulu ke acara pernikahan Putri." Pamit Rose yang terlihat terburu-buru.
Ayah Nugroho menelisik penampilan Rose, terlihat sangat cantik. Ayah Nugroho melirik ke arah Gabriel yang terlihat tidak berkedip memandang Rose.
"Kamu." Ucap Ayah Nugroho.
"Sa... saya?" Tanya Gabriel yang menunjuk kearahnya.
"Siapa lagi, cepat lepaskan jasmu." Perintah Ayah Nugroho.
"Ada apa?" Tanya Gabriel yang bingung.
"Apa kamu mau tubuh anakku di lihat banyak orang dengan mengenakan pakaian seperti ini?" Tanya Ayah Nugroho kepada Briel.
"Ayah, gaun Rose hanya tanpa lengan saja. Lihat bahkan gaun ini dapat menyapu lantai karena terlalu panjang." Gerutu Rose yang tidak setuju dengan usul Ayahnya.
"Bukan salah gaunnya, tapi salahmu memiliki tubuh pendek." Ucap Briel otomatis.
Ayah Nugroho menatap horor ke arah Gabriel, sedangkan Gabriel langsung membuang pandangannya kesembarang arah.
Hingga perdebatan mereka terputus karena terdengar suara benda jatuh.
Pyar
...🐾🐾...
__ADS_1