
Happy Reading πΉπΉ
"Mah, kapan Briel keluar dari Rumah Sakit?" Tanya Briel kepada Ambar dengan wajah masam.
"Sabar, Briel. Sebentar lagi, jika pengobatan sudah selesai." Jawab Ambar enteng.
"Tapi ini sudah satu minggu lebih, Mah." Jawab Briel dengan frustasi.
"Baru satu minggu, belum satu bulan." Jawab Ambar santai.
"Mama." Gabriel menjatuhkan tubuhnya bebaring dan memunggungi Ambar.
Ambar hanya terkekeh melihat kelakuan Gabriel yang tengah merajuk.
"Mama, mau ke toilet dulu. Tolong ambilkan air putih kebawah ya sayang." Ucap Ambar yang kini sudah berjalan cepat menuju kamar mandi.
Briel menengok kebelakang terlihat pintu kamar mandi baru saja tertutup.
"Mana ada, orang sakit disuruh-suruh mengambil minum di lantai satu." Gerutu Gabriel yang tetap menjalankan perintang Ambar.
Dengan wajah yang masam dan sesekali masih keluar gerutuan dari bibir Gabriel, Briel tetap melangkah keluar dari ruangannya.
Klek
Tubuh Gabriel terpaku dengan tempat minum ditangan kirinya, terlihat gadis pendek berdiribtepat dihadapannya.
Keduanya saling menatap dalam diam, pandangan Gabriel turun hingga melihat sepasang tangan yang saling bertautan.
"Apa kau hanya akan diam saja." Ucap Dave kepada Gabriel.
Membuat Gabriel kembali sadar dari pikirannya.
"Masuklah." Jawab Briel acuh.
"Menyingkirlah, tubuhmu memenuhi pintu masuknya." Ucap Dave lagi.
Gabriel semakin kesal saja dibuatnya, segera Briel membuka pintu ruangannya selebar mungkin dan tubuhnya bergeser kesamping.
"Silahkan, masuk." Ucap Briel kepada Dave dan Rose.
"Telat."
"Terima kasih."
Dave dan Rose menjawab bersamaan tetapi dengan jawaban yang berbeda.
Dave masuk bersama Rose, "Ini untukmu." Ucap Dave menyerahkan parcel buah kepada Briel.
Gabriel tercengang, Dave itu menjenguk atau ikut menganiayanya.
Sedangkan Rose hanya dapat diam dan duduk di samping Dave, kedua netra Rose bergerak seiring pergerakan Gabriel.
Terlihat Gabriel kembali berjalan mendekat ke nakas yang berada di samping brangkarnya.
"Kakak sakit apa?" Akhirnya Rose bersuara.
"Kau, mau ambil minum. Sini biar aku ambilkan, daripada kamu pingsan dijalan." Dave memotong pembicaraan dengan cepat.
Dengan langkah lebarnya Dave menghampiri Gabriel dan mengambil teko kaca yang ada di atas nakas.
Cklek
Terdengar pintu dibuka, ternyata Ambar yang telah keliar dari dalam kamar mandi.
Ketiganya melihat ke sumber suara, dan Ambar juga melihat ketiganya secara bergantian.
__ADS_1
"Dave... Rose, sudah lama kalian datang?" Tanya Ambar yang menghampiri Rose dan melakukan cipika cipiki.
"Tidak, Tante. Baru saja kami datang." Jawab Rose sopan.
"Duduklah, Dave. Biar Tante yang mengambil airnya." Ucap Ambar kepada Dave.
"Bagaimana jika berdua, Tan. Dave juga sekalian mengambil barang yang tertinggal didalam mobil." Jawab Dave.
"Baiklah, ayo. Rose tante tinggal dulu ya." Ucap Ambar kepada Rose.
"Ya, Tante." Jawab Rose.
Rose melihat ke arah Dave, pria itu tidak memandangnya sama sekali.
"Ada apa dengan Kak Dave, kenapa dia jadi mengacuhkanku seperti ini." Gumam Rose dalam hati.
.
.
.
Kini hanya ada Rose dan Gabriel yang berada di kamar tersebut.
Rose masih duduk di sofa sedangkan Gabriel sudah duduk di atas brangkarnya.
"Kakak."
"Kamu."
Ucap mereka bersamaan.
"Kamu dulu." Ucap Briel kepada Rose.
"Kakak, sakit apa? Sejak kapan Kakak sakit? Kenapa tidak memberi tahuku?" Tanya Rose dengan banyak pertanyaan.
"Ck, tinggal jawab saja apa susahnya. Sih." Ucap Rose dengan wajah kesal.
"Tentu susah." Jawab Briel asal.
"Sejak kapan, Kakak sakit?" Tanya Rose.
"Satu minggu." Jawab Briel cepat.
"Satu minggu, Kakak di Rumah sakit. Tidak memberitahuku?!" Ucap Rose kesal.
"Untuk apa?" Tanya Gabriel.
"Ya... ya, kitakan sudah saling kenal. Jadi Rose bisa menjenguk Kakak." Jawab Rose kelabakan karena mendapatkan jawaban dari Gabriel seperti itu.
"Tidak perlu kamu jenguk, aku juga akan sembuh." Jawab Gabriel dengan wajah menyebalkan.
Rose bersedekap dada dan membuang pandangannya asal.
"Dasar menyebalkan, tentu Rose khawatir." Ucap Rose lirih.
"Khawatir?" Ulang Gabriel takut salah dengar.
"Siapa?" Tanya Rose.
"Kau gadis pendek, baru saja yang mengucapkannya." Seru Gabriel tidak ingin malu.
"Kapan? Tidak pernah, Rose berkata seperti itu." Klah Rose cepat.
Gabriel turun dari brangkat menuju ke arah Rose. Rose yang melihat Gabriel semakin mendekat duduknya semakin merungsut ke pojok.
__ADS_1
"Ap... apa. Kembali." Ucap Rose terbata.
Gabriel langsung mencekik Rose dari belakang dengan lengannya (Kaya di ****** gitu lo, pie sih ya jelasne π)
Uhuk
Uhuk
"Lepaskan!" Ucap Rose meronta dan memukul lengan Gabriel.
"Mengaku saja, kau yang bilang khawatir kepadakukan." Ucap Briel memojokkan Rose agar berkata jujur.
"Tidak!" Jawab Rose menolak mengakuinya.
"Benar."
"Tidak."
"Tidak."
"Benar."
Wopsss!
Gabriel tersenyum lebar, "Seharusnya kau jujur sejak awal." Ucap Briel.
"Apa yang kalian lakukan?" Tanya Ambar yang sudah berdiri di depan pintu dengan Dave.
Rose dan Gabriel segera menoleh ke sumber suara dan dengan cepat Briel melepaskan pitingannya di leher Rose.
Sedangkan Rose membenahi rambutnya yang berantakan karena ulah Gabriel.
"Bu... bukan begitu, Kak." Ucap Rose terbata mencoba menjelaskan kepada Dave.
Gabriel segera berdiri dan merdehem, "Kami hanya bercanda saja, Mah." Ucap Briel dengan pandangan mengarah ke Dave.
"Kalian, tidak memiliki hubungankan?" Tanya Ambar menyelidik.
"Tentu saja tidak mungkin Tante, Rose dan Dave akan segera menikah." Jawab Dave cepat sebelum Rose dan Gabriel menjawab.
Rose dan Gabriel yang mendengar jawaban Dave, melebarkan kedua matanya.
"Menikah!" Ucap mereka bersamaan.
"Loh, bagaimana ini. Benarkah Dave kamu akan menikah dengan Rose?" Tanya Ambar lagi karena melihat reaksi Rose.
"Benar, Tante. Sebelum Dave kesini, Dave bertemu Ayah Nugroho dulu untuk meminta restu dan melamar Rose. Ayah Nugroho memberi restu dan mengijinkan Dave meminang anaknya." Jawab Dave lancar, tegas, dan lugas.
Kedua mata Rose bergetar, benarkah Ayahnya sudah memberikan mereka restu. Apakah secepat itu mereka akan menikah.
"Woah, selamat Dave. Kamu memang gantle sebagai pria." Ucap Ambar yang memeluk tubuh Dave.
Dave membalas pelukan Ambar, "Terima kasih, Tante." Jawab Dave lembut.
Ambar langsung berjalan meletakkan teko berisi air putih dan menghampiri Rose, terlihat Ambar juga memeluk Rose dan mengucapkan selamat atas pernikahan mereka nanti.
Sedangkan Gabriel, berasakan telinganya berdengung. Menikah, kalimat menikah seolah terus berputar ditelinganya.
Dave yang melihat Gabriel masih diam terpaku ditempatnya hanya tersenyum tipis.
"Kau tidak mengucapkan selamat kepadaku, Briel?" Ucap Dave membuyarkan lamunan Gabriel.
"Hah, selamat Dave." Ucap Gabriel yang masih setengah sadar dan tidak.
"Terima kasih, kamu harus hadir di acara pernikahanku dan Rose." Kata Dave dengan menepuk pundak Gabriel dan berjalan menghampiri kekasihnya.
__ADS_1
...πΎπΎ...