
Happy Reading 🌹🌹
Rose berlari mengikuti langkah suaminya yang meninggalkan balroom.
"Sayang!" Seru Rose berlari mencoba menggapai Gabriel.
Briel terus berjalan dengan langkah lebarnya telinganya ditulikan saat Rose memanggilnya. Perasaan Briel saat ini tengah marah karena istrinya mebuatnya kawatir namun Rose tidak merasa bersalah sedikitpun.
Rose dengan susah payah mengejar Briel, terlihat hanboknya diangkat tinggi karena mempersulit dirinya.
"Ya! Kalau tidak berheti aku akan marah!" Seru Rose di belakang.
Langkah lebar Gabriel terus berjalan tanpa memperdulikan seruan istrinya, terlihat wajah Rose yang sudah hampir menangis karena sikap Gabriel yang dulu pertama kali bertemu kembali lagi.
"Aduh!"
Rose terjerembab di lantai karena sepatu hak tingginya menginjak rok hanbok bagian belakang. Rose mengigit bibirnya agar tidak menangis, kedua netra Rose terus menatap punggung suaminya hingga menghilang di balik tembok.
"Jangan menangis Rose. Hikss, dia sangat jahat." Rose menguatkan dirinya namun juga menangis.
Kedua tangan Rose mengusap air matanya dengan kasar namun biburnya terus menggerutu seakan mengutuk Gabriel sang suami.
Hingga langkah kaki berjalan mendekat ke arah Rose, Rose yang melihatnya tersenyum cerah.
"Sayang."
Deg.
Kedua mata Rose membulat sempurna, terlihat pria yang sangat tidak asing bagi Rose.
"Apa kabar, Rose?" Tanya pria tersebut.
Rose hanya mendengus saja, "Baik, menyingkirlah." Usir Rose dengan jelas.
"Ayo aku bantu." Tawar pria tersebut.
"Tidak perlu, aku bisa sendiri." Tolak Rose lagi.
Pria itu berjongkok dan langsung menggendong Rose secara bridal, membuat Rose kaget dan langsung mengalungkan tangannya di leher pria tersebut.
Dari kejauhan Gabriel mengepalkan kedua tangannya, istrinya di sentuh oleh pria lain.
Ya, Briel yang berjalan cukup jauh dari tempat Rose jatuh langsung menghentikan langkahnya. Menoleh kebelakang tidak ada sang istri yang mengikutinya.
Briel akhirnya menurunkan egonya dan berjalan kembali, mungkin Rose kembali ke balroom acara pernikahan. Namun yang dia lihat Rose mengobrol dengan pria asing dan kini di gendong oleh orang itu.
Dengan langkah lebar Briel berjalan menghampiri kedua insan tersebut, Gabriel benar-benar ingin menghajar pria itu saat ini juga.
"Turunkan." Ucap Briel dingin.
__ADS_1
Rose dan pria tersebut langsung menolehkan kepalany ke arah sumver suara, Rose kaget kedatangan sang suami. Terlebih melihat wajah dan tatapan yang semakin menakutkan itu.
"Turunkan aku, Kay!" Seru Rose yang sudah melepaskan pegangan tangannya.
"Kamu siapa?" Tanya Kay tak kalah dingin dari Briel.
"Dia suamiku!" Seru Rose kesal.
"Suami?" Beo Kay.
Kay menurunkan Rose tanpa sadar karena kaget dengan jawaban dari mantan kekasihnya tersebut.
Briel dengan kasar menyeret Rose agar berada di sampingnya, Kay yang melihat sikap kasar Briel merasa tidak suka.
"Hey! Jangan kasar dengan Rose!" Sentak Kay.
"Tidak ada urusannya denganmu, dia istriku. Kamu pergi sejauh mungkin jangan pernah muncul di depanku." Jawab Gabriel dengan tegas.
Gabriel langsung menarik Rose agar mengikutinya, namun langkahnya terhenti karena Kay memegang salah satu lengan Rose lainnya hingga membuat tubuh Rose berada di tengah-tengah kedua pria dingin tersebut.
Briel menoleh dengan menatap tajam Kay begitu juga sebaliknya, "Lepaskan, akan aku patahkan tanganmu." Ucap Briel dingin.
"Kau yang lepaskan! Kau menyakiti Rose." Jawab Kay tegas.
"Dia istriku." Briel menarik tangan Rose hingga sedikit mendekat ke arahnya.
"Dia mantan kekasihku." Jawab Kay dengan menarik Rose hingga menjauh dari Gabriel.
Keduanya kembali cekcok hingga membuat Rose yang sejak tadi diam dan menjadi terombang ambing ke depan dan ke belakang menjadi tidak kuat.
"Cukup! Lepaskan semuanya."
Rose berteriak dan menyentak setiap cekalan di tangannya, Briel dan Kay membeliak kaget karena lengan Rose sedikit membiru karena ulah mereka.
Kepala Rose berdenyut karena merasa kakinya terkilir dan kedua pergelangan tangannya yang sakit.
Rose memanggil seorang Office Boy yang terlihat membawa peralatannya.
"Saya Nyonya." Ucap OB tersebut.
"Tolong bantu saya sampai depan." Ucap Rose.
Rose memegang lengan OB tersebut dan berjalan meninggalkan kedua pria yang masih terpaku di tempatnya.
Briel menatap tajam Kay, "Jika karena kemunculanmu membuat hubunganku dengan Rose rusak, akan aku kubur kau hidup-hidup." Ancam Gabriel dengan penuh amarah.
"Jika kalian berpisah maka aku yang menjadi sandarannya kembali." Jawab Kay tanpa takut.
OB hotel memanggil sopir hotel untuk mengantar tamu mereka pulang, Rose meminta tolong kepada OB untuk menyediakan salah satu fasilitas hotel.
__ADS_1
Terlihat Rose mengucapkan terima kasih kepada OB tersebut dan memberika gelang emasnya sebagai tanda terima kasih, meski OB tersebut menolak namun tetap Rose paksa.
Terlihat Rose terisak lirih bukan karena sakit yang dia alami, namun sakit karena suaminya kembali bersikap dingin dan kasar kepadanya.
"Nona, apakah ingin saya antar ke Rumah Sakit?" Tanya sang sopir hotel.
"Tidak perlu pak, antar saja ke alamat tujuan." Jawab Rose dengan suara seraknya.
Gabriel yang berlari mengejar Rose bertanya kepada OB yang terlihat kembali ingin mengambil peralatannya.
"Kemana istriku pergi." Ucap Briel.
"Nyonya tadi pulang dengan di antarkan mobil hotel, Tuan." Jawab sang OB jujur.
Briel yang melihat sang OB membawa gelang emas hanya melihat kemudian berlalu begitu saja Briel tahu mungkin istrinya tidak membawa dompet karena tasnya juga tidak ada.
Briel juga menggunakan mobil hotel untuk mengantarkannya ke kediaman Kristoff karena kunci mobilnya di bawa oleh Robby.
Tidak membutuhkan waktu lama, mobil yangbdi tumpangi Rose telah sampai di mansion Kristoff. Segera sopir hotel membantu pelanggannya untuk turun.
Para bodyguard yang melihat kedatangan Rose dengan kaki pincang segeraberlari mendekat, dan menggendong majikan mereka untuk masuk ke dalam.
Para maid yang mendapatkan laporan dari bodyguard lain segera mengambilkan air dingin untuk mengompres kaki Rose.
"Sshhh... Sakit bi." Ucap Rose dengan mata berkaca-kaca.
"Tahan dulu Nyonya, kami sudah menelfon dokter keluarga untuk segera datang." Jawab maid tersebut.
Rose hanya mengangguk, terasa kakinya berdenyut-denyut karena terkilir. Terlihat dari pergelangan kaki yang membiru dan sedikit bengkak.
"Anda habus jatuh darimana Nyonya, kenapa pergelangan anda juga membiru?" Tanya maid dengan wajah khawatir.
"Tadi terlalu senang di acara pernikahan Daniel sehingga aku jatuh dan terkilir." Jawab Rose pelan.
"Istirahat dulu Nyonya, selagi menunggu dokter keluarga datang." Ucap maid sopan.
"Bisakah bibi membantuku untuk ganti baju?" Tanya Rose.
"Baik, akan saya ambilkan pakaian anda." Jawab maid.
"Emm, terima kasih. Ambilkan piyama tidur lengan panjang saja." Ucap Rose pelan.
"Ini memang sudah tugas saya Nyonya." Jawab maid tersenyum.
Rose dibantu oleh seorang maid ganti pakaiannya, karena pakaian tradisional korea cukup berat dan gerah.
...🐾🐾...
^^^JANGAN LUPA VOTENYA, OTW BAB BARU 🌹^^^
__ADS_1