
Happy Reading 🌹🌹
Waktu berlalu dengan cepat, semua orang silih
berganti menjenguk Daniel maupun Kakek Kristoff. Begitu juga Rose terlihat
Gabriel tengah mengelap tangan Rose dengan lembut.
Setiap pagi dan sore Briel akan datang
berkunjung dimana kekasihnya masih terbaring koma, memandikan sang kekasih
dengan penuh kasih sayang meski hanya di usap dengan kain lap hangat.
“Kapan kamu sadar sayang, apa kamu tidak
merindukanku?” Tanya Briel dengan mengusap jemari Rose.
“Apa kamu bertemu dengan Bundamu disana?
Baiklah tidak apa-apa kalian bertemu, namun jangan terlalu lama.” Ucap Briel
kemudian.
Briel mengusap air matanya dengan cepat yang
sudah hampir jatuh dari kedua mata tajamnya.
“Waktunya sudah habis, kamu harus banyak-banyak
beristirahat. Aku akan kembali nanti sore lagi ya.” Kata Briel dengan mengecup
dahi Rose penuh kasih sayang.
Gabriel mengigit bibirnya dalam untuk menahan
rasa sedihnya meski kedua matanya tidak dapat berbohong yang terus basah karena
air mata.
“Bagaimana, Rose. Apakah sudah ada perkembangan?”
Tanya Kristal kepada sang putra.
Gabriel menggeleng lemah, Kristal memeluk tubuh
Gabriel hingga tak kuasa pria jangkung yang terkenal dingin dan irit bicara itu
menumpahkan perasaan sedihnya.
Kristal menepuk punggung Gabriel pelan namun
kedua mata wanita itu juga basah karena air mata.
Di ruangan Daniel tidak kalah haru, hari ini
Stevan mendapatkan kabar jika sum-sum tulang keduanya cocok dan dalam satu
minggu Stevan harus melakukan rawat inap dan menjalankan kemoterapi untuk
__ADS_1
persiapan operasi.
“Apa ayah yakin?” Tanya Daniel lirih.
“Tentu saja, mungkin apa yang ayah lakukan
tidak akan dapat menebus kesalahan ayah selama ini setidaknya ayah berusaha
menjadi ayah yang baik untuk kalian.” Jawab Stevan dengan tersenyum simpul.
Daniel merasa terharu dan menangis lirih,
Stevan merengkuh tubuh Daniel pelan karena luka tembak yang disebabkan oleh Eve
masih basah.
“Terima kasih ayah.” Ucap Daniel.
“Ayah juga berterima kasih karena kalian masih
menerima ayah dengan baik.” Kata Stevan menghapus air mata Daniel.
Minzy yang melihat keduanya menyeka air
matanya, merasakan perasaan sesak didalam dadanya. Terbesit rasa iri melihat
Daniel dan Stevan, kenapa ayahnya tidak bisa seperti itu kepada dirinya juga
Mamanya.
“Minzy, paman tinggal dulu ke ruangan Kakek ya.”
“Baik paman.” Jawab Minzy.
Stevan berjalan keluar dari ruangan Daniel,
terlihat Minzy tersenyum lembut dihadapan sang kekasih.
“Apa kamu membutuhkan sesuatu?” Tanya Minzy
lembut.
“Tidak.” Jawab Daniel.
Minzy mengangguk dan hanya duduk diam di
samping brangkar Daniel.
“Zy.” Panggil Daniel.
“Ya, ada apa?” Jawab Minzy.
“Terima kasih.” Ucap Daniel.
“Untuk apa?” Tanya Minzy bingung.
“Karena kamu sudah mencintaiku.” Jawab Daniel
dengan tersenyum lembut.
__ADS_1
Bibir Minzy bergetar kedua matanya mulai
berembun, “Aku yang seharusnya berterima kasih, terima kasih karena masih
bertahan dan membuka mata sampai detik ini.” Ucap Minzy dengan suara serak.
“Jangan menangis, Zy.” Larang Daniel.
“A---aku menangis karena bahagia.” Jawab Minzy
yang akhirnya menangis seperti anak kecil.
Daniel yang melihatnya merasa kelimpungan
karena baru pertama kali melihat tunangannya menangis seperti anak kecil
kehilangan permen.
“Z---Zy, jangan menangis.” Ucap Daniel.
“Huaaa…. El aku sangat sedih dan bahagia.” Kata
Minzy yang menangis semakin kencang.
Daniel terlihat mencoba menghentikan tangisan
Minzy dengan mencoba mengelus dan memeluk tunangannya, beruntung keadaan Daniel
tidak separah Rose dan Jin.
Di ruang rawat Jin terlihat jika pria tampan tersebut juga sudah sadar dan berhasil melerati masa kritisnya.
Kedua orang tua Jin langsung kembali ke Korea begitu mendapat kabar kecelakaan sang putra tunggal, terlihat kedua orang tuanya yang begitu khawatir dan sedih selama perjalanan menuju Korea.
"Maafkan kami Nyonya-Tuan, karena kecerobohan kami membuat putra kalian terlibat kecelakaan." Ucap Roby yang menemui keluarga Jin.
"Apa kamu tidak memakai mata ketika menyetir, hah!" Seru ayah Jin.
"Maafkan kami, kami akan bertanggung jawab sepenuhnya dengan keadaan putra anda." Jawab Roby dengan nada rendah.
"Kami tidak butuh uangmu! jika sampai suatu hal buruk menimpa anakku, akan aku jebloskan kamu kepenjara!" Teriak Mama Jin.
"Baik Tuan-Nyonya, tapi sebelum itu. Kami sudah menangkap orang-orang yang membuat anak anda kecelakaan." Jawab Robby berusaha setenang mungkin.
"Apa makhsudmu?" Tanya Mama Jin yang bingung.
"Putra kalian sejanga dibuat kecelakaan oleh seseorang dan kami sudah menangkapnya." Jelas Roby.
Ya, Roby sebelumnya sudah mencari tahu latar belakang Jin, Ternyat salah satu keluarga konglomerat asli dari Korea yang bergerak di bidang fasion sehingga tidak begitu kenal dengan keluarga Kristoff.
"Tidak mungkin! Kami tidak memiliki musuh siapapun di dunia bisnis atau kamu hanya membohongi kami agar terhindar dari tuntutan." Ucap Ayah Jin.
"Tidak Tuan, saya adalah asisten Tuan Kristoff yang bergerak di bidang biji besi dan baja mungkin kalian jarang mendengar siapa beliau karena usaha kalian bergerak dibidang yang berbeda. Untuk itu akan saya jelaskan secara detai kepada kalian dan aku juga ingin meminta tolong kepada kalian." Jawab Roby panjang lebar.
"Apa." Ucap Ayah Jin
...🐾🐾...
...MAMPIR KE NOVEL TEMAN AUTOR YA...
__ADS_1